Mengenal Apa itu Stoma, Jenis, Prosedur, dan Perawatannya
Kesehatan Tubuh

Mengenal Apa itu Stoma, Jenis, Prosedur, dan Perawatannya

02 Juni 2025 5 menit waktu baca
stoma adalah


Stoma adalah lubang buatan pada lapisan perut yang digunakan sebagai jalur pembuangan zat sisa pencernaan, seperti feses. Nantinya, feses tersebut akan keluar melalui stoma, lalu masuk ke dalam kantong khusus yang menempel dengan lubang buatan tersebut. Lantas, siapa yang membutuhkan prosedur pembuatan stoma dan bagaimana perawatannya? Mari simak informasinya dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Stoma?

 

Stoma adalah lubang yang dibuat oleh dokter bedah di area perut pasien yang berfungsi sebagai jalur pembuangan  zat sisa pencernaan, seperti urine atau feses. Lubang buatan ini biasanya diperlukan apabila bagian dari sistem pencernaan sedang dalam masa pemulihan atau telah diangkat sebagian untuk menangani kondisi medis tertentu.

 

Nama lain dari stoma adalah ostomi, yang berarti ‘pembukaan’. Lubang tersebut bisa bersifat sementara maupun permanen, tergantung dari tujuan pembuatannya. Misalnya, dokter bedah umumnya membuat ostomi sementara pada pasien yang baru saja menjalani operasi usus. Sementara itu, ostomi permanen dapat dibuat untuk menangani pasien kanker anus, meski jarang dilakukan.

 

Jenis-Jenis Stoma dan Prosedurnya

 

Operasi pembuatan stoma dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, di mana hal tersebut tergantung pada kondisi medis pasien dan bagian sistem pencernaan yang perlu ditangani. Beberapa prosedur operasi yang umum dilakukan dokter bedah untuk membuat stoma adalah kolostomi, urostomi, dan ileostomi. Berikut penjelasan lengkap mengenai masing-masing jenis stoma.

 

1. Kolostomi

 

Kolostomi adalah prosedur yang dilakukan dengan cara membuat lubang pada usus besar melalui perut. Prosedur ini dapat dilakukan pada empat bagian usus besar, di antaranya adalah asendens, transversal, desendens, maupun sigmoid. Prosedur kolostomi biasanya diperlukan untuk menangani pasien dengan kondisi medis berikut ini:

 

 

Kolostomi dapat dilakukan untuk membuat stoma yang bersifat sementara ataupun permanen, namun lebih sering bersifat sementara. Dalam proses pembuatan stoma sementara pada usus besar, dokter akan membuat lubang untuk mengistirahatkan bagian usus besar dan dubur yang mengalami gangguan dalam jangka waktu tertentu. Setelah pulih, dokter dapat kembali menyambungkan usus besar, sehingga feses bisa keluar melalui dubur secara normal.

 

Sementara itu, kolostomi yang bersifat permanen akan dilakukan dengan mengangkat atau memotong bagian bawah usus besar serta menutup dubur. Namun, pasien tidak perlu khawatir karena masih bisa makan serta beraktivitas secara normal, seperti bekerja, berolahraga, dan lain-lain.

 

2. Urostomi

 

Urostomi adalah prosedur pembuatan stoma di perut yang dihubungkan pada bagian tertentu pada saluran kemih untuk dijadikan sebagai jalan keluar urine. Prosedur urostomi biasanya dilakukan secara permanen. Melalui tindakan ini, pasien mungkin perlu menjalani prosedur operasi untuk mengangkat sebagian atau seluruh kandung kemih yang bermasalah. 

 

Selain itu, dokter mungkin juga akan mengangkat organ tubuh lain, seperti kelenjar getah bening, usus buntu, atau bagian tertentu dari sistem reproduksi. Adapun beberapa kondisi medis yang memerlukan prosedur urostomi, di antaranya:

 

 

3. Ileostomi

 

Ileostomi adalah tindakan operasi untuk membuat stoma pada dinding perut yang dihubungkan dengan ileum, yaitu bagian akhir dari usus halus. Prosedur ini biasanya dilakukan oleh dokter bedah melalui tindakan laparoskopi. 

 

Dalam prosedur laparoskopi, dokter dapat memasukkan laparoskop (tabung tipis yang dilengkapi dengan cahaya dan lensa kamera) ke dalam sayatan di area perut untuk memandu tindakan operasi. Ileostomi umumnya dilakukan untuk menangani pasien dengan kondisi-kondisi berikut ini:

 

  • inflammatory bowel disease, seperti penyakit Crohn dan kolitis ulseratif.

  • Kanker anus.

  • Infeksi di area usus.

  • Bowel obstruction.

  • Iskemia usus.

  • Megakolon.

  • Inkontinensia tinja.

  • Penyakit Hirschsprung.

  • Kanker usus besar.

  • Dismotilitas kolon.

  • Familial polyposis (kondisi bawaan yang mempengaruhi saluran pencernaan yang dapat menyebabkan polip di dalam usus besar atau rektum).

 

Pasien yang telah menjalani prosedur ileostomi biasanya sudah melalui prosedur pengangkatan usus besar akibat penyakit Crohn atau kolitis ulseratif. Dengan ileostomi, pasien tidak lagi bisa mengontrol pembuangan gas dan feses. Prosedur ini dapat dilakukan secara sementara maupun permanen.

 

Efek samping Prosedur Pembuatan Stoma

 

Secara umum, prosedur pembuatan stoma adalah tindakan medis yang tergolong aman untuk dilakukan. Kendati demikian, terdapat beberapa risiko efek samping yang mungkin bisa terjadi dalam prosedur medis ini. Adapun beberapa risiko efek samping dari prosedur pembuatan stoma adalah sebagai berikut:

 

  • Iritasi kulit karena penggunaan alat perekat di area ostomi.

  • Dehidrasi karena cairan yang keluar dari ostomi terlalu banyak.

  • Kebocoran kotoran dari kantong stoma.

  • Keluar lendir dari anus.

  • Penyumbatan stoma.

  • Prolaps ostomi.

  • Retraksi ostomi.

  • Perdarahan.

  • Hematoma (penumpukan darah secara abnormal di luar pembuluh darah).

  • Hernia parastomal (menonjolnya bagian usus pada stoma).

  • Fistula (pembentukan saluran abnormal).

  • Nekrosis (kematian jaringan).

 

Langkah Perawatan Stoma

 

Stoma pada dasarnya akan terhubung dengan sebuah kantong untuk menampung zat sisa pencernaan dari dalam tubuh. Kantong tersebut terdiri dari dua bagian, yaitu wafer serta kantong plastik penampung limbah. Wafer sendiri merupakan bagian penghalang yang menempel pada kulit perut. Fungsinya adalah untuk melindungi stoma dari kotoran.

 

Kantong penampung kotoran perlu dilepas atau diganti secara rutin saat sudah penuh. Sementara itu, wafer bisa diganti jika kotoran (feses atau urine) mulai masuk di antara wafer dan permukaan kulit perut. Pasien juga bisa mengganti wafer setiap 3–7 hari untuk menjaga kebersihannya. 

 

Lama penggunaan wafer tersebut akan tergantung pada beberapa hal, di antaranya:

 

  • Kondisi kulit di sekitar stoma.

  • Kecocokan wafer yang digunakan dengan permukaan kulit perut.

  • Makanan yang dikonsumsi oleh pasien.

  • Aktivitas fisik pasien.

 

Di samping itu, ada pula jenis kantong stoma yang bagian wafer dan kantong penampungnya tidak terpisah satu sama lain. Pada jenis kantong stoma ini, bagian wafer juga akan ikut diganti saat melepas kantong penampungnya.

 

Untuk mengganti kantong stoma, terdapat langkah-langkah yang perlu diperhatikan oleh pasien, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Cuci tangan dengan bersih.

  • Lepaskan kantong stoma yang lama dengan berhati-hati, lalu buang ke kantong plastik

  • Membersihkan lendir yang keluar dari stoma.

  • Membersihkan permukaan kulit di sekitar stoma menggunakan kain bersih dan air hangat atau NaCl 0.9%.

  • Membilas kulit secara perlahan sampai bersih.

  • Kulit juga bisa dibersihkan dengan sabun. Namun, pastikan untuk memilih sabun yang tidak mengandung minyak dan pewangi guna meminimalkan risiko terjadinya iritasi.

  • Amati area sekitar stoma apakah terdapat tanda-tanda iritasi atau tidak

  • Mengeringkan kulit di sekitar stoma.

  • Memasang kantong stoma yang baru sesuai dengan posisi yang dikehendaki.

 

Selama mengganti kantong penampung, periksalah kondisi stoma secara keseluruhan. Jika stoma mengalami perubahan ukuran, bentuk, dan warna, sebaiknya segera kunjungi dokter guna memperoleh penanganan yang tepat.

 

Dapat disimpulkan bahwa pembuatan stoma adalah salah satu tindakan medis yang bisa dilakukan untuk menangani masalah dalam sistem pencernaan. Dalam hal ini, apabila Anda mengalami kondisi yang berkaitan dengan masalah pencernaan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Siloam Hospitals.

 

Selain itu, Anda juga dapat memesan paket Skrining Sistem Pencernaan Lengkap sebagai upaya pencegahan hingga deteksi dini masalah pencernaan. Pemesanan paket tersebut dapat dilakukan secara praktis melalui fitur pada aplikasi MySiloam.

 

Aplikasi My Siloam (1)

 

message

ArticleDetail