Ruptur Tendon Achilles - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya
Kesehatan Tubuh

Ruptur Tendon Achilles - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

09 Oktober 2025 4 menit waktu baca
mengenal Ruptur tendon Achilles

Achilles tendon rupture atau ruptur tendon Achilles adalah salah satu gangguan muskuloskeletal yang terjadi pada tendon Achilles yang terletak di bagian belakang pergelangan kaki. Pada dasarnya, cedera tendon Achilles dapat dialami oleh siapa saja, namun lebih sering terjadi pada seseorang yang sering melakukan latihan fisik, seperti atlet olahraga.

 

Mari simak informasi lengkap mengenai penyebab, faktor risiko, gejala, hingga penanganan ruptur tendon Achilles selengkapnya melalui artikel berikut ini.

 

Apa itu Ruptur Tendon Achilles?

 

Achilles tendon rupture atau ruptur tendon Achilles adalah kondisi yang terjadi ketika tendon Achilles yang berada di belakang pergelangan kaki mengalami robekan akibat cedera. 

 

Tendon Achilles sendiri merupakan jaringan ikat yang menghubungkan tulang tumit dengan tiga otot besar di betis, yaitu otot gastroknemius medial, otot gastroknemius lateral, serta otot soleus. Fungsi utama dari tendon Achilles adalah untuk menggerakkan dan mengangkat tumit, serta menunjang berbagai gerakan tubuh seperti melompat, berlari, dan berjalan.

 

Penyebab Ruptur Tendon Achilles

 

Ruptur tendon Achilles biasanya terjadi karena peningkatan intensitas pergerakan secara tiba-tiba yang dapat menyebabkan tendon Achilles meregang secara berlebihan. Kondisi ini biasanya dapat terjadi karena beberapa faktor, di antaranya sebagai berikut.

 

  • Melakukan olahraga yang berintensitas tinggi, terutama olahraga yang dilakukan dengan berlari atau melompat.

  • Terjatuh dari ketinggian.

  • Kecelakaan lalu lintas.

  • Melangkah masuk ke dalam lubang secara tidak sengaja yang membuat pergelangan kaki terkilir.

 

Faktor Risiko Ruptur Tendon Achilles

 

Adapun sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya ruptur tendon Achilles adalah sebagai berikut.

 

  • Pria berusia 30–40 tahun.

  • Mendapatkan suntik steroid atau mengonsumsi obat antibiotik tertentu, seperti ciprofloxacin atau levofloxacin. Pasalnya, obat-obatan tersebut dapat melemahkan tendon Achilles sehingga meningkatkan risiko terjadinya cedera pada tendon tersebut.

  • Obesitas. Kelebihan berat badan dapat membebani tendon Achilles sehingga berisiko menyebabkan terjadinya cedera.

 

Gejala Ruptur Tendon Achilles

 

Ruptur tendon Achilles biasanya menimbulkan rasa nyeri secara tiba-tiba hingga menyebabkan penderitanya kesulitan berjalan. Selain itu, sejumlah gejala umum dari cedera tendon Achilles adalah sebagai berikut.

 

  • Rasa nyeri hebat yang semakin memburuk saat sedang menggerakkan kaki.

  • Terdapat sensasi seperti tertendang di betis.

  • Pembengkakan di bagian belakang kaki, terutama di antara tumit dan betis.

  • Kesulitan mengangkat jari kaki.

  • Terdengar suara seperti bunyi “pop” pada bagian kaki yang mengalami ruptur tendon.

  • Bagian tendon yang mengalami cedera terasa kaku saat bangun dari posisi berbaring.



Diagnosis Ruptur Tendon Achilles

 

Dalam menegakkan diagnosis cedera tendon Achilles, dokter dapat melakukan wawancara medis (anamnesis) dengan pasien terlebih dahulu untuk mengetahui keluhan, riwayat konsumsi obat-obatan, riwayat kesehatan, dan kronologi kecelakaan yang menyebabkan terjadinya cedera.

 

Selain itu, pemeriksaan fisik juga dapat dilakukan untuk memantau kondisi pada area tendon yang mengalami cedera dan kemampuan pasien dalam menggerakkan kaki. Lalu, sejumlah prosedur pemeriksaan yang dapat dilakukan dokter untuk mengonfirmasi diagnosis cedera tendon Achilles adalah sebagai berikut.

 

 

Penanganan Ruptur Tendon Achilles

 

Pada dasarnya, penanganan ruptur tendon Achilles perlu disesuaikan dengan tingkat keparahan, intensitas kegiatan, serta usia pasien. Secara umum, berikut adalah beberapa tindakan medis yang dapat dilakukan untuk menangani kondisi tersebut.

 

1. Perawatan Nonbedah

 

Perawatan nonbedah merupakan tindakan medis yang dilakukan untuk menangani cedera tendon Achilles tanpa melalui prosedur pembedahan terbuka. Adapun sejumlah perawatan nonbedah yang dapat dilakukan dokter untuk menangani cedera tendon Achilles adalah:

 

  • Mengistirahatkan tendon dengan menggunakan kruk untuk membantu pasien dalam bergerak dan berjalan.

  • Menyarankan pasien untuk menggunakan sepatu boot atau gips pada pergelangan kaki saat beraktivitas selama beberapa minggu pertama setelah cedera.

  • Meletakkan kompres dingin pada bagian tubuh yang mengalami cedera.

  • Memberikan obat analgesik, seperti ibuprofen atau parasetamol untuk membantu meredakan rasa nyeri.

 

2. Tindakan Operasi

 

Apabila cedera tendon Achilles tergolong parah, dokter dapat menyarankan pasien untuk menjalani prosedur pembedahan terbuka guna memperbaiki dan menjahit tendon yang robek agar dapat tersambung kembali. Namun, perlu diketahui bahwa prosedur ini berisiko menimbulkan sejumlah komplikasi pascaoperasi, salah satunya adalah infeksi dan kerusakan saraf.

 

3. Rehabilitasi

 

Setelah menjalani pengobatan, pasien juga dianjurkan untuk melakukan fisioterapi dan terapi fisik secara rutin guna membantu menguatkan otot kaki dan tendon Achilles. Umumnya, kekuatan tendon Achilles akan kembali normal setelah menjalani terapi rehabilitasi selama 4–6 bulan pascacedera.

 

Pencegahan Ruptur Tendon Achilles

 

Pencegahan ruptur tendon Achilles dapat dilakukan dengan menghindari faktor risikonya. Adapun sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko terjadinya cedera tendon Achilles adalah sebagai berikut.

 

  • Lakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum berolahraga.

  • Lakukan peregangan secara rutin untuk membantu menjaga fleksibilitas otot tubuh, terutama otot betis dan tendon Achilles.

  • Variasikan jenis olahraga yang dilakukan, mulai dari olahraga dengan intensitas rendah, seperti berenang atau jalan kaki hingga olahraga dengan intensitas tinggi, seperti jogging atau lari.

  • Berhati-hati saat melangkah.

 

Bila mengeluhkan gejala yang mengarah pada ruptur tendon Achilles seperti ulasan di atas, sebaiknya segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh diagnosis, penanganan medis, dan saran perawatan yang tepat serta sesuai dengan kondisi tubuh.

 

Untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, Anda dapat mengunjungi Siloam Hospitals Mampang dan Siloam Hospitals Jember yang menjadi pusat unggulan dalam menangani gangguan tulang, jaringan ikat, dan sendi yang dilengkapi dengan fasilitas medis modern dan tim ahli ortopedi berpengalaman sehingga dapat memberikan diagnosis, perawatan, serta terapi rehabilitasi gangguan ortopedi secara optimal.

 

Sebelum itu, jadwalkanlah terlebih dahulu pertemuan Anda dengan dokter melalui fitur Cari Dokter atau aplikasi MySiloam. Download aplikasinya sekarang dan nikmati kemudahan akses layanan kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Aplikasi My Siloam (1)

Dokter Kami
dr-made-o-mahendra-spot-mbiomed

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed

Ortopedi (Tulang)

Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-su-djie-to-rante-m-biomed-spot

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-henry-tanzil-spotk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail