Kesehatan Tubuh
Sindrom Dumping - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Table of Contents
Sindrom dumping atau dumping syndrome adalah kondisi ketika makanan, terutama makanan yang tinggi gula, bergerak dari lambung ke usus kecil terlalu cepat setelah makan. Kondisi ini umumnya ditandai dengan terjadinya mual, pusing, kram perut, dan diare dalam 10–30 menit setelah penderitanya makan. Lantas, apa penyebab sindrom dumping? Bagaimana pengobatannya? Mari simak penjelasan selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Sindrom Dumping?
Sindrom dumping (dumping syndrome) adalah suatu kondisi ketika durasi pengosongan lambung ke bagian duodenum lebih cepat dari seharusnya sehingga bisa menyebabkan rasa mual dan kram pada perut. Terkadang, kondisi ini disebut juga dengan rapid gastric emptying.
Ketika lambung mengosongkan isi perut terlalu cepat, maka usus kecil akan menerima makanan dalam jumlah besar sehingga kesulitan untuk mencernanya. Selain dapat menyebabkan mual, kram perut, perut kembung, dan diare, dumping syndrome juga bisa memicu perubahan gula darah secara tiba-tiba.
Penyebab Sindrom Dumping
Pada kondisi dumping syndrome, makanan dan cairan lambung dari perut bergerak ke usus dengan cara yang tidak terkendali serta abnormal. Di mana, kondisi ini paling sering disebabkan oleh perubahan pada lambung setelah penderita menjalani pembedahan, seperti:
-
Gastrektomi (operasi pengangkatan seluruh lambung).
-
Pyloroplasty (operasi pada katup pilorus di bagian bawah lambung).
-
Vagotomi (operasi pemotongan saraf vagus di lambung untuk mengurangi asam lambung).
-
Esofagektomi (pengangkatan sebagian atau seluruh esofagus).
-
Fundoplikasi (operasi untuk menjahit bagian atas lambung di sekitar kerongkongan).
Metode operasi di atas biasanya digunakan untuk mengatasi obesitas serta beberapa jenis kanker, seperti kanker lambung dan kanker esofagus. Namun, pada kasus yang jarang terjadi, dumping syndrome juga bisa muncul tanpa adanya riwayat pembedahan atau tanpa penyebab yang jelas.
Gejala Sindrom Dumping
Pada sebagian besar kasus, penderita sindrom dumping biasanya mengalami tanda dan gejala dalam 10–30 menit setelah makan (early dumping syndrome). Namun, beberapa orang lainnya mungkin mengalami gejala dalam 1–3 jam setelah makan (late dumping syndrome). Tetapi, bisa juga keduanya.
Adapun sejumlah gejala awal sindrom dumping (early dumping syndrome), di antaranya:
-
Merasa terlalu kenyang setelah makan.
-
Mual atau muntah.
-
Kram atau nyeri perut.
-
Pusing.
-
Denyut jantung cepat.
Gejala akhir sindrom dumping (late dumping syndrome) dimulai dalam waktu 1–3 jam setelah penderita mengonsumsi makanan tinggi gula atau tinggi karbohidrat. Late dumping syndrome dikenal juga sebagai postprandial hyperinsulinemic hypoglycemia.
Timbulnya gejala membutuhkan waktu karena setelah makan, tubuh akan melepaskan insulin dalam jumlah besar untuk menyerap gula yang masuk ke dalam usus kecil. Alhasil, kadar gula darah kembali rendah dengan cepat. Adapun beberapa gejala akhir sindrom dumping (late dumping syndrome) adalah sebagai berikut:
-
Berkeringat.
-
Wajah memerah.
-
Pusing atau kepala terasa ringan.
-
Pingsan.
-
Lemah.
-
Denyut jantung cepat.
Diagnosis Sindrom Dumping
Pada tahap awal, dokter akan bertanya terlebih dahulu (anamnesis) terkait gejala yang dialami pasien, riwayat penyakit, pengobatan, dan operasi. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada pasien.
Dokter mungkin dapat mendiagnosis sindrom dumping hanya berdasarkan gejala yang dialami pasien bila ia pernah menjalani operasi lambung, meski sudah bertahun-tahun yang lalu. Dokter biasanya juga memberikan kuesioner penilaian yang dikenal dengan dumping symptom rating scale untuk menilai seberapa parah gejala tersebut.
Di samping itu, dokter mungkin juga akan melakukan serangkaian tes untuk memastikan diagnosis atau menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari gejala yang dikeluhkan pasien, terutama jika pasien tidak pernah menjalani operasi lambung. Serangkaian tes tersebut, di antaranya:
-
Tes toleransi glukosa oral, untuk mengukur kadar gula darah sebelum dan sesudah minum larutan glukosa.
-
Tes napas hidrogen, untuk mengukur kadar hidrogen dalam napas setelah minum larutan glukosa. Jika hasilnya positif, artinya glukosa tidak terserap dengan baik dalam usus.
-
Upper endoscopy, untuk memeriksa bagian dalam kerongkongan, lambung, dan usus dua belas jari menggunakan endoskopi.
-
Upper GI series, yaitu tes pencitraan yang memungkinkan dokter untuk melihat larutan kontras cairan berjalan melalui kerongkongan, lambung, dan usus kecil bagian atas (duodenum).
-
Tes pengosongan lambung, untuk melihat seberapa cepat makanan bergerak melalui perut dengan menambahkan sejumlah kecil bahan radioaktif pada makanan.
Cara Mengatasi Sindrom Dumping
Beberapa orang berhasil mengatasi sindrom dumping dengan melakukan perubahan pola makan. Namun, apabila gejalanya cukup parah dan tidak merespons diet, obat-obatan dapat menjadi pilihan terapi. Akan tetapi, obat-obatan bisa memicu efek samping dan tidak ideal digunakan dalam jangka panjang.
Rencana pola makan yang disarankan untuk penderita sindrom dumping adalah sebagai berikut:
-
Makan dalam porsi yang lebih kecil namun dengan frekuensi yang sering. Misalnya, makan 6 kali dalam sehari dengan porsi kecil.
-
Makan secara perlahan dan mengunyahnya dengan saksama (mindful eating).
-
Menghindari gula sederhana, karbohidrat, dan produk susu untuk mencegah perubahan gula darah yang cepat. Penderita kondisi ini sebaiknya mengonsumsi karbohidrat kompleks, seperti biji-bijian.
-
Mengonsumsi lebih banyak protein dan lemak sehat untuk menggantikan karbohidrat dalam diet. Lemak dapat membantu memperlambat pencernaan dan memberikan energi yang lebih stabil.
-
Mengonsumsi lebih banyak serat.
-
Berbaring telentang selama 30 menit setelah makan untuk memperlambat pengosongan lambung dan menjaga tekanan darah selama proses pencernaan.
-
Hindari minum cairan dalam waktu 30 menit sebelum dan sesudah makan.
Sementara itu, jenis obat yang biasanya diresepkan oleh dokter untuk mengatasi gejala dumping syndrome, antara lain octreotide dan acarbose. Pada kasus yang jarang terjadi, dumping syndrome mungkin saja memerlukan pembedahan. Pembedahan biasanya dilakukan jika tidak ada cara lain yang dapat membantu dan sudah sangat mengganggu kualitas hidup penderitanya.
Kondisi ini bisa sangat mengganggu bila tidak segera diobati. Oleh karenanya, bila Anda merasakan sejumlah gejala yang mengarah pada sindrom dumping, segera konsultasikan dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals.
Kemudian, selain menerapkan beberapa gaya hidup di atas, Anda juga dapat menjaga kesehatan sistem pencernaan dengan memesan paket Skrining Sistem Pencernaan Lengkap dari Siloam Hospitals sebagai langkah pencegahan lebih lanjut dan deteksi dini masalah pencernaan.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Skrining Sistem Pencernaan Lengkap
Skrining Lite
13 Service/Item
Rp2.000.000
Kunjungan Dokter Spesialis Penyakit Dalam - Homecare
Rp640.000
TERPOPULER
Glucose Fasting & Glucose 2 Hours Post Prandial / Gula Darah Puasa dan Gula Darah 2 Jam Setelah Makan
1 Service/Item
Rp72.900
Glucose POCT / POCT Glukosa
1 Service/Item
Rp40.500
TERPOPULER
Glucose Tolerance Test (GTT) / Tes Toleransi Glukosa
1 Service/Item
Rp99.000







