Sindrom Rapunzel - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Kesehatan Mental

Sindrom Rapunzel - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

22 Agustus 2024 4 menit waktu baca
sindrom Rapunzel

Rapunzel, nama ini tentu sudah tidak asing, bukan? Rapunzel adalah tokoh kartun yang memiliki rambut panjang sebagai ciri khasnya. Masih berkaitan dengan rambut, sindrom Rapunzel adalah sekelompok masalah kesehatan yang disebabkan oleh kebiasaan mencabut rambut sendiri dan memakannya.

 

Jenis sindrom ini sering kali dikaitkan dengan gangguan mental lain, khususnya trikotilomania dan trikofagia. Lantas, apa saja gejala sindrom Rapunzel? Lalu bagaimana cara mengatasinya? Mari simak pembahasan selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Sindrom Rapunzel?

 

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa sindrom Rapunzel atau Rapunzel syndrome adalah masalah kesehatan yang timbul karena penderitanya gemar mencabut, memakan rambutnya sendiri, kemudian rambut yang dimakan tersebut lambat laun akan membentuk sebuah gumpalan atau bola besar rambut di lambung (trichobezoar) hingga ke usus halus. Bila hal ini terus berlanjut, gumpalan rambut yang masuk ke dalam sistem pencernaan tersebut akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan, bahkan dapat mengancam nyawa.

 

Penyebab Sindrom Rapunzel

 

Sindrom Rapunzel kerap dikaitkan dengan kondisi mental tertentu, seperti trikotilomania (dorongan untuk mencabuti rambut terus-menerus) dan trikofagia (dorongan untuk memakan rambut secara kompulsif). Bila dibiarkan, kondisi tersebut akan mendorong penderitanya untuk terus mencabut dan memakan rambutnya sendiri sehingga terjadi sindrom Rapunzel. Padahal, rambut sulit dicerna oleh sistem pencernaan karena memiliki permukaan yang licin sehingga sulit mengikuti gerak peristaltik usus.

 

Hal tersebut mengakibatkan rambut tersangkut di sistem pencernaan dan lama-kelamaan membentuk gumpalan bola rambut (trichobezoar). Gumpalan bola tersebut bisa semakin berat dan besar saat bercampur dengan lendir serta makanan dari saluran cerna sehingga dapat menyumbat usus 12 jari (usus halus) atau lambung.

 

Gejala Sindrom Rapunzel

 

Kebiasaan memakan rambut biasanya dimulai sejak masa kanak-kanak yang bila tidak diatasi dapat berlanjut hingga penderitanya dewasa. Kondisi ini lebih sering dialami oleh wanita daripada pria. Bila sudah terbentuk gumpalan di dalam perut akibat tumpukan rambut tersebut, sejumlah gejala yang bisa muncul adalah sebagai berikut:

 

  • Rasa nyeri dan tidak nyaman di perut.

  • Mual.

  • Perut kembung.

  • Muntah sesudah makan.

  • Cepat merasa kenyang meski hanya makan sedikit, atau bahkan tidak makan sama sekali.

  • Rasa tidak nyaman di bagian bawah tulang rusuk.

  • Botak (alopecia areata).

  • Bau mulut (halitosis).

  • Berat badan menurun.

  • Anemia.

 

Adapun beberapa kondisi mental yang biasanya juga dialami oleh penderita Rapunzel syndrome adalah sebagai berikut:

 

 

Diagnosis Sindrom Rapunzel

 

Pertama-tama, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis), termasuk menanyakan apakah pasien pernah menelan benda-benda yang bukan makanan, misalnya rambut manusia, rambut hewan, atau rambut boneka. Kemudian, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh untuk mengecek beberapa tanda fisik seperti kerontokan rambut dan bau mulut.

 

Guna menegakkan diagnosis Rapunzel syndrome, dokter biasanya memerlukan beberapa pemeriksaan penunjang untuk mengetahui ukuran pertumbuhan bola rambut dan seberapa jauh jangkauannya dalam sistem pencernaan. Pemeriksaan tersebut, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Sinar-X.

  • Ultrasonografi (USG).

  • CT scan.

  • Fluoroscopy barium study.

  • Endoskopi.

 

Cara Mengatasi Sindrom Rapunzel

 

Dalam mengatasi sindrom Rapunzel biasanya diperlukan kerja sama antara dokter penyakit dalam, dokter bedah, dan psikiater. Guna menangani gejala pada pasien, dokter akan terlebih dahulu melakukan tindakan medis untuk menghilangkan gumpalan rambut dalam tubuh pasien. Adapun tindakan medis tersebut, meliputi:

 

  • Laparotomi. Pada prosedur ini, dokter akan membuat sayatan di perut untuk membuka dan memeriksa rongga perut, lalu mengambil gumpalan bola.

  • Laparoskopi. Prosedur bedah minimal invasif dengan alat bernama ‘laparoskop” (alat yang berbentuk seperti tabung kecil dengan kamera di ujungnya) yang dilakukan dengan membuat sayatan kecil di perut untuk mengangkat bola rambut. Metode ini memerlukan masa pemulihan pascaoperasi yang lebih singkat dibandingkan laparotomi.

 

Setelah menangani permasalahan bola rambut dalam tubuh pasien, dokter akan mengarahkan pasien untuk melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk menghentikan kebiasaan buruknya memakan rambut agar gangguan kesehatan tidak terjadi lagi. Upaya ini biasanya dilakukan melalui:

 

  • Terapi, seperti terapi perilaku kognitif. Terapi ini bertujuan untuk mengatasi gangguan mental pada pasien yang mendasari kebiasaannya memakan rambut.

  • Pemberian obat-obatan untuk mengendalikan kondisi kesehatan mental pasien.

 

Komplikasi Sindrom Rapunzel

 

Sindrom Rapunzel bisa sangat berbahaya bila tidak segera diatasi. Bila ukuran gumpalan bola rambut di dalam perut terus bertambah besar, maka akan timbul komplikasi yang lebih parah. Adapun beberapa komplikasi akibat Rapunzel syndrome adalah sebagai berikut:

 

  • Ikterus obstruktif (penyakit kuning yang disebabkan oleh penyumbatan pada saluran empedu atau pankreas).

  • Pembentukan lubang (perforasi) di usus.

  • Gangguan pencernaan akibat obstruksi di lambung atau usus halus.

  • Peritonitis.

  • Peradangan pankreas akut.

 

Apabila Anda atau kerabat tanpa sadar memiliki kebiasaan mencabuti dan memakan rambut sendiri, jangan ragu untuk segera mengunjungi Psikiatri di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat guna mencegah terjadinya gejala seperti mual, perut kembung, atau rasa nyeri dan tidak nyaman di perut.

 

Anda juga bisa memanfaatkan layanan Telekonsultasi yang memungkinkan Anda untuk berkonsultasi dan mendapatkan resep obat-obatan resmi dari dokter. Anda pun bisa memperoleh obat-obatan tersebut tanpa harus keluar rumah. Namun, jika diresepkan jenis obat antipsikotik dan antidepresan, pasien wajib melakukan self pick up.

 

telechat

 

message

ArticleDetail