Kesehatan Mental
Mengenal Terapi EMDR untuk Trauma, Cara Kerja dan Manfaatnya

Table of Contents
Terapi EMDR (eye movement desensitization and reprocessing) adalah jenis psikoterapi yang efektif untuk menangani masalah trauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD). Pada mulanya, terapi ini diperuntukkan bagi pasien dewasa, namun kini sudah mulai diterapkan juga pada anak-anak.
Singkatnya, terapi ini dapat menguatkan sistem berpikir positif di dalam tubuh untuk mengatasi trauma, sehingga secara mental dan emosional dapat menjadi lebih kuat saat menghadapi trauma. Lantas, bagaimana cara kerja terapi EMDR? Mari simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.
Apa itu Terapi EMDR?
Eye movement desensitization and reprocessing (EMDR) adalah terapi perawatan kesehatan mental yang melibatkan gerakan mata dengan cara tertentu untuk memproses ingatan traumatis. Tujuan utama terapi EMDR adalah membantu pengidap post-traumatic stress disorder (PTSD) sembuh dari trauma masa lalu.
Meski EMDR termasuk dalam metode yang relatif baru, terapi ini dinilai lebih cepat dan efektif dalam mengatasi trauma dibandingkan dengan metode lainnya. Bahkan tidak hanya untuk pengobatan PTSD, terapi ini juga dapat digunakan dalam mengatasi sejumlah masalah kesehatan mental lainnya, seperti:
-
Anxiety disorder, seperti fobia dan panic disorder.
-
Gangguan makan, termasuk anoreksia nervosa, bulimia, dan binge-eating disorder.
-
Gender dysphoria.
-
Gangguan kepribadian.
Cara Kerja Terapi EMDR
Terapi EMDR atau EMDR therapy terdiri dari 8 fase, di mana fase-fase ini terbagi lagi menjadi beberapa sesi. Fase 1–2 biasanya dilakukan pada sesi pertama, sedangkan fase 3–8 dilakukan pada sesi-sesi selanjutnya.
Seseorang yang memiliki satu pengalaman traumatis biasanya membutuhkan 3–6 sesi. Sementara untuk pemilik trauma yang lebih kompleks, biasanya memerlukan 8–12 sesi. Namun, terapi ini umumnya dilakukan sebanyak 12 sesi. Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing fase dalam terapi EMDR.
-
Fase 1: Riwayat masa lalu pasien
Pada fase pertama terapi EMDR, terapis akan mengumpulkan informasi tentang riwayat masa lalu pasien untuk menemukan penyebab trauma. Sehingga di fase ini, dokter hanya fokus menanyakan tentang peristiwa atau kenangan yang membuat pasien mengalami trauma selama ini.
-
Fase 2: Persiapan
Pada fase kedua, terapis akan menjelaskan tentang prosedur terapi serta ekspektasi/tujuan dilakukannya terapi ini. Terapis juga akan berbicara mengenai hal-hal yang perlu disiapkan agar emosi pasien tetap stabil selama menjalani sesi terapi.
-
Fase 3: Penilaian
Di fase selanjutnya, terapis akan mulai mengaktifkan memori yang menjadi target atau memori yang menyebabkan trauma pada pasien. Kemudian, terapis juga akan membantu pasien dalam mengidentifikasi efek negatif dari trauma tersebut, termasuk bagaimana respons pasien terhadap trauma tersebut serta meyakinkan pasien bahwa ia bisa sembuh dari situasi ini.
-
Fase 4: Desensitisasi
Selama fase ini, terapis akan meminta pasien untuk berfokus pada memori traumatis sambil melakukan gerakan mata spesifik. Kemudian, dokter akan memberikan stimulasi bilateral, seperti menepuk bahu pasien dan meminta pasien untuk mengosongkan pikiran sejenak. Lalu, pasien diminta melaporkan pikiran baru yang muncul setelah mengosongkan pikiran. Proses ini akan terus berlangsung hingga pasien tidak lagi terganggu dengan ingatan buruknya.
-
Fase 5: Instalasi
Pada fase kelima terapi EMDR ini, pasien akan diminta untuk fokus terhadap pikiran-pikiran positif yang ingin dibangun untuk menghadapi ingatan traumatis. Pembentukan pikiran positif ini merupakan tujuan dari dilakukannya terapi, seperti yang sudah didiskusikan dengan dokter pada fase sebelumnya.
-
Fase 6: Pemindaian tubuh
Fase keenam dari terapi EMDR adalah pemindaian tubuh. Dokter akan meminta pasien untuk merasakan gejala-gejala fisik yang dialami ketika sedang mengingat kejadian traumatis. Fase ini dapat membantu dokter dalam melakukan evaluasi terhadap hasil terapi selama sesi-sesi sebelumnya. Tujuan utama dari fase ini adalah menghilangkan gejala fisik yang muncul ketika pasien sedang mengingat pengalaman buruknya.
-
Fase 7: Penutupan
Pada dasarnya, fase ini merupakan jembatan ke sesi selanjutnya. Pada fase ini, dokter akan mengaplikasikan beberapa teknik untuk mengurangi stres agar kondisi emosional pasien dapat menjadi lebih stabil, terutama ketika pasien mengalami gejala stres ketika sesi sedang berlangsung. Fase ini tidak akan diberhentikan sebelum pasien merasa tenang.
-
Fase 8: Evaluasi
Fase terapi EMDR yang terakhir adalah evaluasi. Pada fase ini, dokter akan memeriksa perkembangan mental dan emosional pasien untuk menentukan apakah diperlukan sesi tambahan atau tidak. Dokter juga akan memberi tahu tentang beberapa risiko yang mungkin akan terjadi di masa depan (yang berkaitan dengan trauma) dan bagaimana cara mengatasinya.
Manfaat Terapi EMDR
Tujuan utama dari terapi EMDR adalah membantu kondisi emosional pengidap trauma agar tetap stabil walau terpapar pikiran atau memori tertentu yang menyebabkan trauma. Lebih lengkapnya, berikut adalah beberapa manfaat terapi EMDR:
-
Pengidap dapat mengenang masa lalu, namun dengan respon yang lebih baik.
-
Efektivitasnya dapat bertahan dalam waktu yang lama meski terapi sudah berakhir.
-
Pengidap menjadi lebih sadar akan pikirannya sendiri.
-
Dapat membantu mengatasi rasa cemas berlebih dan depresi.
-
Metode untuk mengatasi serangan panik, gangguan makan, dan ketergantungan pada substansi tertentu.
Efektivitas Terapi EMDR
Terapi EMDR adalah metode yang paling efektif dalam mengatasi trauma. Terapi ini diketahui juga dapat membantu berbagai masalah psikologis, seperti halusinasi, delusi, dan rasa cemas berlebih. Bahkan, gejala depresi juga dapat berkurang melalui metode ini.
Terlebih lagi, jika dibandingkan dengan terapi lainnya, seperti terapi paparan (exposure therapy) berkelanjutan, EMDR lebih efektif dalam meredakan gejala trauma. Manfaat terapi ini juga bisa bertahan dalam jangka panjang.
Apabila Anda atau kerabat dekat merasakan sejumlah gejala yang mengarah pada PTSD maupun gangguan kesehatan mental lainnya, segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Anda juga dapat melakukan konsultasi secara virtual dengan psikolog atau psikiater melalui layanan Telekonsultasi yang tersedia di aplikasi MySiloam. Layanan ini memungkinkan Anda untuk berdiskusi dengan psikolog atau psikiater dari mana dan kapan saja.
Psikiater dapat meresepkan obat-obatan sesuai kondisi pasien, dan pasien pun bisa memperoleh obat-obatan tersebut tanpa harus keluar rumah. Namun jika diresepkan beberapa jenis obat, seperti antipsikotik dan antidepresan, pasien wajib mengambilnya secara langsung atau self pick up. Mari jaga kesehatan mental Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
MENTAL - Skrining Mental health (MMPI)
Lainnya
2 Service/Item
Rp880.000
TERPOPULER
Paket Siloam Ruby
Skrining Umum
21 Service/Item
Rp1.000.000
TERPOPULER
Paket Siloam Silver
Skrining Umum
22 Service/Item
Rp1.900.000
TERPOPULER
Paket Siloam Pearl
Skrining Umum
31 Service/Item
Rp4.300.000
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp650.000
TERPOPULER
Brain Check Up
Penawaran Spesial, Skrining Stroke
19 Service/Item
Rp9.000.000
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum dan Perawat - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp1.100.000







