Kesehatan Tubuh
Kenali Perbedaan Sprain dan Strain, Cedera Akibat Olahraga

Table of Contents
Sprain maupun strain adalah dua kondisi yang dapat terjadi saat berolahraga. Biasanya, kedua kondisi tersebut dipicu oleh kurangnya pemanasan sebelum memulai aktivitas fisik. Namun, perlu diketahui bahwa sprain dan strain merupakan dua kondisi yang berbeda. Mari kenali perbedaan sprain dan strain selengkapnya dalam ulasan di bawah ini.
Perbedaan Sprain dan Strain
Beberapa orang mungkin masih belum memahami perbedaan sprain dan strain sepenuhnya. Sprain (keseleo) maupun strain (salah urat) sama-sama menggambarkan kondisi peregangan berlebih atau robekan pada jaringan lunak di sekitar sendi.
Meski begitu, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Ada beberapa hal yang mendasari perbedaan sprain dan strain mulai dari penyebab, gejala, penanganan, hingga pencegahannya, berikut masing-masing penjelasannya.
1. Penyebab
Perbedaan sprain dan strain yang pertama terletak pada penyebabnya. Sprain, keseleo, atau terkilir adalah kondisi cedera pada sendi yang disebabkan oleh robekan atau peregangan berlebih pada ligamen dan kapsul sendi.
Ligamen sendiri merupakan jaringan ikat yang menghubungkan dua tulang dalam tubuh. Sprain biasanya terjadi karena terjatuh, terpelintir, atau penggunaan sendi secara berlebihan. Adapun bagian tubuh yang sering mengalami sprain adalah pergelangan kaki, lutut, dan ibu jari.
Sementara itu, strain adalah cedera yang terjadi pada otot atau tendon yang juga disebabkan oleh robekan atau tarikan berlebih. Tendon merupakan jaringan ikat padat yang menghubungkan otot ke tulang.
Tidak jauh berbeda dengan sprain, cedera yang dikenal juga dengan istilah salah urat ini biasanya disebabkan oleh aktivitas melompat, berlari, terjatuh, atau gerakan berulang dan mendadak. Strain paling sering terjadi pada otot hamstring (berada di bagian belakang paha) dan lumbar (berada di bagian punggung bawah).
2. Gejala
Gejala sprain dan strain cukup mirip, tak heran bila kedua kondisi ini sering dianggap sama. Namun sebenarnya terdapat perbedaan sprain dan strain dalam hal gejala yang ditimbulkan. Ini dia masing-masing penjelasannya.
Gejala Sprain
Beberapa gejala umum dari sprain atau keseleo adalah sebagai berikut:
-
Memar di sekitar sendi.
-
Nyeri pada area sendi yang terdampak.
-
Bengkak.
-
Mati rasa.
-
Fleksibilitas sendi terbatas.
-
Rentang gerak sendi berkurang.
Gejala Strain
Sementara itu, sejumlah gejala yang ditimbulkan strain, antara lain:
-
Ketegangan otot (spasme otot).
-
Nyeri pada sendi yang terdampak.
-
Bengkak.
-
Fleksibilitas sendi terbatas.
-
Rentang gerak sendi terbatas.
Jadi, perbedaan utama sprain dan strain dalam hal gejala adalah pada sprain (keseleo) penderita mungkin mengalami memar di sekitar sendi yang terkena. Sedangkan pada kondisi strain, penderita biasanya mengalami ketegangan pada otot yang terdampak.
3. Penanganan
Pada dasarnya, penanganan pertama dalam mengatasi keseleo maupun salah urat sama, yakni menggunakan metode RICE (rest, ice, compresion, dan elevation).
-
Rest: Mengistirahatkan bagian tubuh yang cedera dengan tidak menggunakannya secara berlebihan selama proses penyembuhan. Hal ini bertujuan untuk memberikan waktu pada sendi dan jaringan lainnya yang terdampak agar lebih cepat putih.
-
Ice: Memberikan kompres es pada bagian tubuh yang mengalami cedera dapat meredakan rasa nyeri, peradangan, dan pembengkakan. Namun, jangan langsung meletakkan es batu atau plastik berisi air dingin di atas kulit. Bungkus es batu atau plastik berisi air dingin dengan handuk atau kain terlebih dahulu, kemudian baru meletakkannya pada kulit di atas bagian tubuh yang mengalami cedera selama kurang lebih 20 menit. Ulangi setiap 2–3 jam sekali dalam sehari hingga kondisinya membaik.
-
Compression: Menekan bagian tubuh yang mengalami cedera untuk mengurangi pembengkakan. Cara ini bisa dilakukan dengan membalut bagian tersebut menggunakan perban. Namun, hindari membalut terlalu ketat atau kencang agar tidak menghambat aliran darah.
-
Elevation: Memosisikan bagian tubuh yang mengalami cedera, misalnya kaki, lebih tinggi dari dada atau jantung. Hal ini bertujuan untuk mengurangi pembengkakan.
Pada beberapa kasus, baik sprain maupun strain bisa jadi memerlukan tindakan operasi untuk memperbaiki ligamen atau tendon. Prosedur ini biasanya dilakukan bila sprain atau strain disertai dengan gejala berikut ini:
-
Kesulitan berjalan dan berdiri.
-
Tidak bisa menggerakkan atau melenturkan sendi yang terdampak.
-
Kesemutan atau mati rasa di sekitar sendi.
-
Rasa nyeri yang hebat dan pembengkakan yang tidak kunjung menurun.
-
Mendengar atau merasakan sensasi seperti robekan, terlepas, atau berderak saat pergerakan sendi.
4. Pencegahan
Dalam hal pencegahan, tidak ada perbedaan antara sprain maupun strain. Kedua kondisi ini bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, bahkan cenderung tidak dapat diprediksi. Namun, untuk mengurangi risiko terjadinya kedua cedera tersebut, beberapa cara yang bisa dilakukan, antara lain:
-
Meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas otot dengan berolahraga secara rutin. Olahraga juga bermanfaat untuk meningkatkan stabilitas dan kekuatan struktur tulang serta sendi.
-
Melakukan pemanasan sebelum olahraga dan tidak lupa melakukan pendinginan setelahnya. Pasalnya, pemanasan dan pendinginan bermanfaat dalam meningkatkan kelenturan otot serta dapat meningkatkan rentang gerak sendi. Sementara itu, pendinginan dapat membantu otot beralih dari kontraksi yang intens menuju kondisi istirahat.
-
Selalu berhati-hati saat menjalankan aktivitas.
-
Menggunakan alas kaki yang sesuai dengan ukuran kaki dan terasa nyaman.
-
Hindari duduk, berdiri, atau melakukan gerakan berulang secara terus-menerus dan dalam waktu yang lama. Istirahat sebentar dan biarkan otot menjadi lebih rileks untuk sementara waktu.
Itulah tadi penjelasan mengenai perbedaan sprain dan strain yang penting untuk dipahami. Jika Anda mengalami gejala atau tanda-tanda yang mengarah pada sprain maupun strain, sebaiknya segera konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter spesialis ortopedi.
Hindari melakukan pijat atau urut saat keseleo maupun salah urat. Pasalnya, tindakan tersebut justru berpotensi memperburuk kondisi dan dapat memicu terjadinya cedera lain. Selain itu, pijat juga dapat meningkatkan risiko trauma pada ligamen, otot, maupun tendon jika tidak dilakukan dengan tepat.
Oleh karenanya, Anda dapat mengunjungi Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan penanganan yang tepat dari dokter spesialis tulang. Atau, Anda juga bisa memesan paket Fisioterapi dari Siloam at Home yang praktis dan mudah karena dilayani langsung di rumah Anda sehingga Anda tidak perlu keluar rumah.
Manfaatkan pula aplikasi MySiloam yang bisa memudahkan Anda dalam melihat informasi jadwal praktik, membuat appointment dengan dokter terkait, hingga antre secara online sebelum mengunjungi Siloam Hospitals terdekat. Nikmati akses layanan kesehatan Anda dengan lebih mudah #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed
Ortopedi (Tulang)
Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Fisioterapi (1x kunjungan) - Homecare
Rehabilitasi Medis Homecare
Rp399.000
TERPOPULER
Fisioterapi (6x kunjungan) - Homecare
Rehabilitasi Medis Homecare
Rp3.300.000
TERPOPULER
Ankle / Rontgen Pergelangan Kaki
Rontgen / X-Ray
Rp289.000
TERPOPULER
Rontgen Tangan/Manus
Rontgen / X-Ray
Rp382.000
MRI Pergelangan Kaki/Ankle Non-Kontras (1 Sisi)
MRI / MRA
Rp2.870.000







