Amankah Puasa Bagi Penderita Penyakit Jantung? Ini Tipsnya
Kesehatan Tubuh

Amankah Puasa Bagi Penderita Penyakit Jantung? Ini Tipsnya

13 Maret 2026 5 menit waktu baca
puasa bagi penderita penyakit jantung

Momen puasa sering kali dianggap sebagai kesempatan untuk memperbaiki pola hidup sekaligus menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Namun, orang dengan penyakit jantung mungkin memiliki keraguan mengenai keamanan puasa bagi kondisi jantungnya. Mengingat kondisi ini membutuhkan perhatian khusus, puasa perlu dipertimbangkan secara lebih hati-hati.

 

Meski perlu perhatian khusus, tidak semua penderita penyakit jantung dilarang berpuasa. Banyak pasien dengan kondisi yang stabil tetap bisa menjalankan puasa sesuai dengan saran medis agar tidak memperburuk kesehatannya. Mari simak ulasan selengkapnya mengenai puasa bagi penderita penyakit jantung di bawah ini.

 

Apakah Penderita Penyakit Jantung Boleh Puasa?

 

Selama berpuasa, tubuh tidak mendapat asupan makanan dan minuman selama beberapa jam.  Kondisi ini dapat memengaruhi tekanan darah, keseimbangan cairan, serta respons tubuh terhadap obat-obatan yang dikonsumsi pasien penyakit jantung.

 

Pada pasien dengan kondisi jantung yang telah dinyatakan stabil oleh dokter, puasa umumnya aman dijalani setelah mendapat evaluasi dan persetujuan dari dokter. Namun, keputusan ini tetap harus mempertimbangkan jenis penyakit jantung, tingkat keparahan, serta terapi yang sedang dijalani.

 

Selain kondisi penyakit, jenis puasa yang dijalani (misalnya puasa harian lebih dari 12 jam atau pola intermittent fasting tertentu), durasi puasa, serta pengaturan jadwal minum obat juga perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk berpuasa. Oleh sebab itu, saran dari dokter sangat diperlukan agar pasien bisa mengambil keputusan yang tepat. 

 

Manfaat Puasa Terhadap Kesehatan Jantung

 

Beberapa penelitian seperti dalam JAMA Network (2021) menunjukkan bahwa pada individu dengan kondisi stabil, puasa dapat membantu mengontrol berat badan, meningkatkan efektivitas insulin, serta memperbaiki kadar kolesterol. Namun, manfaat ini sangat bergantung pada pola makan saat berbuka dan sahur, kepatuhan minum obat, serta kondisi dasar penyakit jantung yang dimiliki pasien.

 

Perlu diketahui bahwa tidak semua bentuk puasa memberikan manfaat yang sama. Oleh karena itu, puasa tidak dapat dianggap sebagai terapi utama untuk penyakit jantung, melainkan bagian dari pola hidup yang harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

 

Risiko Puasa Bagi Penderita Penyakit Jantung

 

Hasil penelitian berjudul Review on the Effects of Fasting on Cardiac Patients (2025) menunjukkan bahwa sebagian besar pasien dengan berbagai kondisi jantung tidak mengalami efek samping yang berarti sehingga umumnya tetap dapat menjalankan puasa dengan aman.

 

Meski begitu, puasa juga berpotensi menimbulkan efek samping jika dijalani oleh pasien yang berisiko tinggi atau tanpa mengikuti anjuran dari dokter. Adapun beberapa risiko yang perlu diwaspadai, antara lain:

 

  • Dehidrasi yang berisiko menimbulkan gangguan elektrolit. Kondisi ini bisa berbahaya, terutama pada pasien dengan aritmia tidak stabil dan kelainan jantung bawaan (misalnya long QT syndrome), atau pasien yang mengonsumsi obat-obatan, seperti antiaritmia.

  • Tekanan darah rendah (hipotensi) yang bisa menyebabkan pingsan. Beberapa obat jantung seperti diuretik atau antihipertensi dapat meningkatkan risiko tekanan darah turun saat puasa. Risiko ini bisa semakin meningkat jika pasien mengalami depresi atau mengubah jadwal minum obat tanpa berkonsultasi dengan dokter selama berpuasa.

 

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Penderita Penyakit Jantung Saat Puasa

 

Tingkat risiko menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam memutuskan apakah pasien bisa berpuasa atau tidak. Penderita penyakit jantung memiliki tingkat risiko yang berbeda saat menjalani puasa. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui kategori risiko berdasarkan kondisi masing-masing sebelum memutuskan berpuasa. Secara umum, pasien jantung dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori risiko, yaitu:

 

  • Kelompok pasien dengan risiko rendah-sedang (umumnya boleh berpuasa dengan pengawasan medis):

    • Menggunakan alat pacu jantung permanen.

    • Memiliki penyakit katup jantung ringan hingga sedang.

    • Hipertensi stabil.

    • Angina stabil, yaitu nyeri dada akibat berkurangnya aliran darah ke otot jantung yang biasanya muncul saat aktivitas dan membaik dengan istirahat atau obat.

    • Gagal jantung stabil dan gejala ringan sehingga aktivitas harian masih bisa dilakukan.

    • Gangguan irama jantung (aritmia) yang terkontrol.

    • Memiliki hipertensi pulmonal ringan hingga sedang.

  • Kelompok pasien dengan risiko tinggi (tidak dianjurkan berpuasa):

    • Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol atau tidak konsumsi obat.

    • Memiliki penyakit katup jantung berat.

    • Mengalami serangan jantung atau sindrom koroner akut berulang dalam waktu kurang dari 6 minggu.

    • Aritmia tidak terkontrol.

    • Bergantung pada alat pacu jantung atau baru memasang alat pacu jantung.

    • Memiliki risiko tinggi gangguan irama jantung berat.

  • Kelompok pasien dengan risiko sangat tinggi (tidak diizinkan berpuasa):

    • Gagal jantung tingkat lanjut, yaitu gagal jantung dengan gejala berat dan tidak stabil. Sesak bisa muncul saat istirahat/aktivitas ringan dan sering kambuh hingga membutuhkan perawatan.

    • Hipertensi pulmonal berat, yaitu tekanan pembuluh darah paru yang sangat tinggi hingga menimbulkan sesak berat dan tanda-tanda jantung kanan bekerja terlalu keras, seperti mudah pingsan dan bengkak.

 

Tips Puasa yang Aman Bagi Penderita Penyakit Jantung

 

Agar puasa tetap aman dan tidak memperburuk kondisi jantung, penting untuk memperhatikan pola makan, asupan cairan, serta kebiasaan saat sahur dan berbuka. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:

 

  • Memilih makanan yang mengenyangkan saat sahur.
    Konsumsi karbohidrat utuh, seperti oat, roti gandum, atau nasi merah, serta tambahkan buah, sayur, dan sumber protein agar energi bertahan lebih lama.

  • Merancang menu berbuka yang seimbang.
    Memilih karbohidrat yang dicerna lebih lambat (seperti nasi merah, ubi, kentang, jagung, dan kacang-kacangan), banyak buah dan sayur, serta protein rendah lemak. Pilih metode memasak yang lebih sehat, seperti memanggang atau merebus dibandingkan menggoreng.

  • Makan secara perlahan dan terkontrol.
    Hindari makan berlebihan dengan memperhatikan porsi dan rasa kenyang. Batasi makanan tinggi lemak dan gula agar berat badan tetap terjaga.

  • Menjaga hidrasi tubuh.
    Perbanyak minum air putih atau minuman tanpa gula saat sahur dan berbuka untuk mencegah dehidrasi, terutama saat cuaca panas atau banyak berkeringat.

  • Mengurangi makanan tinggi garam.
    Hindari makanan asin karena dapat meningkatkan rasa haus dan berdampak kurang baik pada tekanan darah. Contoh makanan tinggi garam adalah mi instan, sosis atau nugget frozen, snack, kornet, makanan kaleng, ikan asin, dan makanan cepat saji. 

  • Menyesuaikan konsumsi obat rutin.

Pastikan jadwal minum obat disesuaikan dengan waktu sahur dan berbuka sesuai anjuran dokter.

 

Itulah penjelasan mengenai puasa bagi penderita penyakit jantung yang perlu diketahui. Informasi di atas bersifat edukatif dan tidak menggantikan diagnosis medis. Oleh sebab itu, jika ingin berkonsultasi mengenai kesehatan jantung, jangan ragu mengunjungi Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Siloam Hospitals terdekat.

 

Penanganan penyakit jantung harus dilakukan secara cepat dan tepat karena setiap detik sangat berharga dalam mencegah kerusakan organ yang lebih luas. Karenanya, dalam memilih rumah sakit jantung terbaik, penting bagi pasien dan keluarga untuk mempertimbangkan referensi, rekam jejak, serta layanan kesehatan unggulan sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan.

 

Siloam International Hospitals juga memiliki layanan Chest Pain Ready Hospitals yang membantu Anda mendapatkan penanganan penyakit jantung secara cepat dan tepat dengan 24/7 unit terintegrasi, dokter spesialis jantung siaga, cath lab, dan perawat bersertifikasi untuk menangani kegawatan jantung. Kunjungi Siloam Hospitals terdekat atau hubungi emergensi 1-500-911 untuk pelayanan #CepatTepat.

 

kv cardiac ramadhan

Sumber

BMJ Journals. Ramadan fasting: recommendations for patients with cardiovascular disease. Diakses pada 2026 | JAMA Network Open. Intermittent Fasting and Obesity-Related Health Outcomes. Diakses pada 2026 | Cleveland Clinic. What Intermittent Fasting Can Do for Your Heart. Diakses pada 2026 | British Heart Foundation. How to have a heart-healthy Ramadan when you’re fasting. Diakses pada 2026 | Kemenkes. Bolehkan Pasien dengan Penyakit Jantung Berpuasa?. Diakses pada 2026 | American Heart Journal Plus: Cardiology Research and Practice. Review on the effects of fasting on cardiac patients. Diakses pada 2026 | American Heart Association. 8-hour time-restricted eating linked to a 91% higher risk of cardiovascular death. Diakses pada 2026 |

Dokter Kami
dr-kadek-satrya-kurnia-suratna-spjp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ronald-a-ulaan

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-magma-purnawan-putra-spjp

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K), FIHA, FESC

Kardiologi (Jantung)

Subspesialis Kardiologi Intervensi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail