Kesehatan Tubuh
Panduan Puasa untuk Penderita Kanker dan Manfaatnya

Table of Contents
Penting bagi penderita kanker untuk menjaga pola hidup sehat, termasuk memenuhi kebutuhan nutrisi dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang setiap harinya. Lantas, bolehkah puasa untuk penderita kanker? Hal ini banyak menimbulkan dilema karena dikhawatirkan puasa justru dapat memengaruhi kondisi penderita kanker. Untuk mengetahui jawaban selengkapnya, Anda dapat menyimak ulasan di bawah ini sampai tuntas.
Bolehkah Puasa untuk Penderita Kanker?
Puasa, khususnya dalam waktu yang lama, dapat menyebabkan perubahan pola makan. Di mana, perubahan pola makan tersebut bisa saja memengaruhi kondisi fisik seseorang, terlebih lagi penderita kanker yang umumnya memerlukan nutrisi melebihi orang yang sehat.
Pada dasarnya, kondisi penyakit setiap penderita kanker berbeda-beda, mulai dari ringan hingga berat. Bagi penderita kanker yang kondisinya baik dan stabil atau masih bisa rawat jalan, biasanya diperbolehkan untuk berpuasa.
Selama beberapa dekade, para peneliti telah menyadari manfaat dari membuat sel-sel kanker ‘kelaparan’ dengan cara tidak memberikannya makan atau berpuasa. Tanpa nutrisi yang adekuat untuk tumbuh dan berkembang, sel-sel kanker menjadi lebih rentan terhadap kemoterapi dan pengobatan yang ditargetkan (targeted therapy).
Pada saat yang sama, sel-sel normal menjadi lebih tidak aktif, yang membantu melindungi sel-sel sehat dari toksisitas atau keracunan pengobatan kanker. Studi juga menunjukkan bahwa puasa dapat berpengaruh pada tiga hal berikut:
-
Mengurangi tingkat pertumbuhan insulin (IGF-1) yang merupakan penanda peningkatan risiko kanker.
-
Meningkatkan pertahanan sel-sel normal.
-
Meningkatkan autophagy, yaitu mekanisme pembersihan seluler tubuh kita dengan ‘memakan’ sel-sel yang rusak dan menggantinya dengan sel baru.
Penelitian dalam Cell & Bioscience yang diterbitkan tahun 2021, menyebutkan bahwa autofagi dapat membantu menghambat pertumbuhan sel kanker selama masih berada pada tahap awal. Sebaliknya, autofagi justru dapat mempercepat penyebaran sel-sel abnormal ketika kanker atau tumor sudah berkembang ke stadium lanjut dan menyebar ke organ lainnya dalam tubuh (metastasis).
Pada akhirnya, penderita kanker sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu guna memastikan apakah kondisinya memungkinkan untuk menjalani puasa.
Panduan Puasa untuk Penderita Kanker
Meski puasa dapat memberikan efek positif terhadap penderita kanker, namun tidak semua penderita bisa menjalankan puasa dengan aman, tergantung dari kondisi kesehatan serta status gizi masing-masing. Sebaiknya, lakukan konsultasi dengan dokter jauh-jauh hari sebelum mulai berpuasa.
Apabila dokter telah memperbolehkan berpuasa (dengan anjuran tertentu), berikut adalah beberapa panduan umum yang perlu diterapkan oleh penderita kanker.
1. Memenuhi Kebutuhan Gizi
Meski sedang berpuasa, kebutuhan nutrisi untuk penderita kanker perlu dipenuhi agar sistem kekebalan tubuh mampu melawan sel kanker. Tentu hal ini akan cukup sulit untuk dilakukan, mengingat saat berpuasa, seseorang hanya memiliki waktu makan dan minum saat berbuka hingga berakhirnya sahur, yang mana terbilang cukup singkat.
Dalam hal ini, penderita kanker dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis onkologi maupun ahli gizi untuk menentukan pola makan yang tepat selama berpuasa. Pastikan untuk tetap mengonsumsi makanan bergizi dan menghindari mengonsumsi makanan atau minuman tidak sehat, seperti processed meat (sosis, nugget, smoked beef, pastrami, salami).
Adapun makanan yang direkomendasikan adalah buah-buahan, sayur, kacang, gandum utuh, daging putih seperti ayam dan ikan, telur, dan produk susu (dairy) yang mengandung protein tinggi.
2. Tidur yang Cukup
Selain memperhatikan pola makan, penderita kanker juga dianjurkan untuk tidur yang cukup saat berpuasa. Pasalnya, jam tidur yang optimal dapat membantu memperkuat sistem imun tubuh penderita kanker dalam melawan sel kanker. Agar tidur tercukupi, penderita sebaiknya mulai tidur lebih awal dan tidur sebentar di siang hari.
3. Mencukupi Kebutuhan Cairan Tubuh
Salah satu risiko saat berpuasa adalah dehidrasi ringan. Dehidrasi berisiko menyebabkan sel-sel di dalam tubuh tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Agar kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi, penderita disarankan untuk banyak minum air putih selama berbuka hingga berakhirnya sahur.
Adapun anjuran waktu minumnya untuk tetap memenuhi jumlah minimal cairan dalam tubuh harian adalah sebagai berikut:
-
1 gelas setelah bangun sahur.
-
1 gelas selepas sahur.
-
1 gelas saat berbuka puasa.
-
1 gelas setelah sholat maghrib.
-
1 gelas setelah makan malam.
-
1 gelas setelah sholat isya.
-
1 gelas setelah sholat tarawih.
-
1 gelas sebelum tidur.
Cairan yang cukup memungkinkan tubuh untuk mentransportasikan nutrisi ke sel-sel di tubuh, menyeimbangkan elektrolit dan asam tubuh, meregulasi hormon, dan mengeliminasi ‘racun’ dan sisa metabolisme melalui urin.
Diare, mual dan muntah setelah radioterapi atau kemoterapi, dan demam adalah beberapa efek samping dari pengobatan kanker. Obat-obatan yang dikonsumsi pun dapat menyebabkan dehidrasi, sehingga, penting untuk pasien memastikan tubuhnya tetap terhidrasi.
4. Tidak Perlu Memaksakan Diri
Meski diperbolehkan untuk berpuasa, sebaiknya penderita kanker tidak perlu memaksakan diri untuk puasa penuh, misalnya selama 30 hari selama bulan Ramadan, jika dirasa kondisi tubuhnya tidak memungkinkan. Segera batalkan puasa bila di tengah puasa penderita merasakan beberapa gejala kanker, seperti demam, diare terus menerus, mual muntah dan nyeri perut, serta lemas.
Manfaat Puasa untuk Penderita Kanker
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, puasa untuk penderita kanker dapat memberikan efek positif, salah satunya menghambat pertumbuhan sel kanker (bila masih pada tahap awal). Namun, tidak hanya itu, puasa untuk penderita kanker juga memberikan manfaat lain, di antaranya:
-
Membuat sel-sel tubuh lebih efisien dalam menggunakan hormon insulin. Dengan begitu, kadar glukosa darah dalam tubuh bisa terkontrol dengan baik dan sel kanker menjadi sulit berkembang.
-
Ketika berpuasa, tubuh membutuhkan gula, sehingga tingkat hormon insulin di darah menurun, sedangkan glukagon meningkat. Hal ini menyebabkan penghancuran glikogen (lemak yang disimpan) di hati dan dipecah menjadi glukosa dan trigliserida untuk dipakai tubuh. Hal ini baik untuk otak, otot, hati, dan sel lemak.
-
Mengombinasikan puasa dan kemoterapi atau obat anti kanker lainnya dapat membantu mengaktifkan sel-sel imun untuk melawan sel abnormal di dalam tubuh. Pasalnya, hal tersebut dapat meningkatkan kadar sel progenitor limfoid umum yang diubah menjadi sel darah putih (limfosit) untuk menghancurkan sel kanker. Penelitian juga menyebabkan bahwa efikasi dan toleransi obat anti kanker juga meningkat ketika berpuasa.
-
Meningkatkan respons tubuh terhadap kemoterapi serta obat kanker lainnya, sehingga efek samping akibat pengobatan kanker bisa diminimalisasi.
-
Puasa dapat meningkatkan kesehatan seseorang secara umum dengan menurunkan stres oksidatif dan inflamasi, memperlambat proses penuaan, menginisiasi mekanisme perbaikan sel, dan meningkatkan fungsi otak dan jantung.
Dapat disimpulkan bahwa puasa untuk penderita kanker diperbolehkan. Namun, seperti yang sudah dijelaskan di atas, perlu dipastikan bahwa kondisi penderita benar-benar mampu dan memenuhi syarat menjalankan puasa. Itulah sebabnya, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter guna memastikan hal tersebut.
Jika ingin mendapatkan perawatan yang efektif, tepercaya, serta berkualitas prima terhadap kanker, Anda dapat mengunjungi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi. Sebagai pusat unggulan kanker, MRCCC menyediakan beragam layanan kesehatan untuk menangani kanker, mulai dari deteksi dini, onkologi bedah, kemoterapi, radioterapi, dan lain sebagainya.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals TB Simatupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
Dr. dr. Samuel Oetoro, MS, SpGK (K)
Gizi Klinik
Subspesialis Nutrisi pada Kelainan Metabolisme Gizi
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals TB Simatupang
Tersedia :
Tersedia hari ini








