Kesehatan Mental
Chromophobia - Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasinya

Table of Contents
Chromophobia adalah suatu kondisi ketika seseorang merasakan ketakutan berlebih saat melihat warna tertentu. Bagi sebagian besar orang, melihat warna tertentu tidak akan menimbulkan efek negatif. Namun, pada penderita chromophobia, melihat warna tertentu akan membuatnya ketakutan. Hal ini bisa dipicu oleh berbagai faktor. Simak ulasan selengkapnya di bawah ini.
Apa itu Chromophobia?
Seperti yang sudah dijelaskan, chromophobia adalah jenis fobia spesifik yang membuat penderitanya merasa cemas atau takut berlebih saat melihat warna tertentu. Penderita chromophobia biasanya memiliki ketakutan terhadap satu atau dua warna tertentu, bisa juga hanya takut terhadap warna-warna cerah saja. Jenis fobia warna tertentu meliputi:
-
Chrysophobia: Takut pada warna jingga atau emas.
-
Cyanophobia: Takut pada warna biru.
-
Kastanophobia: Takut pada warna cokelat.
-
Leukophobia: Takut pada warna putih.
-
Prasinophobia: Takut pada warna hijau.
-
Rhodophobia: Takut pada warna merah muda.
-
Melanophobia: Takut pada warna hitam.
-
Xanthophobia: Takut pada warna kuning.
Penyebab Chromophobia
Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan chromophobia. Namun, sama halnya dengan fobia spesifik lainnya, kondisi ini mungkin disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Orang dengan gangguan kecemasan atau memiliki keluarga yang mengidap masalah mental tertentu juga lebih berisiko mengembangkan fobia.
Beberapa gangguan mental yang lain seperti panic attack, obsessive compulsive disorder (OCD), depresi, dan riwayat penyalahgunaan obat-obatan terlarang juga dapat meningkatkan seseorang untuk dapat mengidap fobia.
Selain itu, chromophobia bisa terjadi bersamaan dengan post-trauma stress disorder (PTSD). Seseorang yang memiliki pengalaman traumatis yang berkaitan dengan warna tertentu bisa mengembangkan rasa takut terhadap warna tersebut. Hal ini bisa terjadi karena saat penderita melihat warna tersebut, perasaan buruk akibat pengalaman traumatis itu akan kembali.
Gejala Chromophobia
Anak-anak dan orang dewasa yang mengidap chromophobia memiliki beberapa gejala, mulai dari rasa tidak nyaman yang hebat hingga serangan panik ketika melihat warna yang ditakuti. Di samping itu, beberapa gejala lain yang bisa ditimbulkan adalah sebagai berikut:
-
Merinding.
-
Gemetar.
-
Keringat berlebih.
-
Jantung berdebar-debar.
-
Pusing dan sakit kepala.
-
Mual.
-
Sesak napas (dispnea).
Gejala lain chromophobia adalah kecenderungan untuk tinggal di dalam rumah karena khawatir akan melihat warna yang bisa memicu fobia. Ketakutan terhadap warna bisa mengembangkan jenis gangguan fobia lainnya, yaitu agoraphobia (gangguan yang membuat orang menghindari situasi tertentu dan menjauh dari tempat ramai).
Diagnosis Chromophobia
Untuk mendiagnosis chromophobia, psikolog atau psikiater akan melakukan evaluasi kesehatan secara menyeluruh, dimulai dengan melakukan anamnesis (wawancara medis) terkait gejala dan riwayat kesehatan pasien. Umumnya, orang akan didiagnosis menderita chromophobia atau gangguan fobia spesifik lainnya jika:
-
Mengalami kecemasan ekstrem atau serangan panik yang berlangsung selama enam bulan atau lebih.
-
Berusaha keras untuk menghindari situasi atau objek yang menyebabkan tekanan.
-
Mengalami gejala yang secara signifikan memengaruhi kualitas hidup pasien atau merusak hubungannya dengan orang lain.
Cara Mengatasi Chromophobia
Chromophobia adalah kondisi yang bisa memengaruhi kualitas hidup penderitanya secara keseluruhan sehingga perlu mendapatkan penanganan segera. Adapun beberapa terapi atau perawatan yang bisa membantu menangani chromophobia adalah sebagai berikut:
-
Psikoterapi, yaitu berbicara dengan tenaga medis profesional mengenai ketakutan yang dirasakan dan mencari solusi yang lebih baik dalam menghadapi masalahnya. Salah satu psikoterapi yang umumnya digunakan adalah terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy atau CBT).
-
Terapi pemaparan atau exposure therapy.
-
Hipnoterapi.
-
Merekomendasikan pasien menerapkan teknik relaksasi, latihan pernapasan, dan meditasi untuk mengendalikan kecemasan.
-
Obat-obatan untuk meredakan serangan panik atau gangguan kesehatan mental lainnya.
Perlu diketahui bahwa penyebab dan gejala yang telah disebutkan di atas tidak semerta-merta merepresentasikan kondisi chromophobia. Artinya, penyebab serta gejalanya tersebut mungkin mirip dengan kondisi medis lainnya.
Bila mengalami gejala yang mengarah pada kondisi ini, hindari melakukan self-diagnosis dan segera berkonsultasi dengan Psikiatri di Siloam Hospitals terdekat agar memperoleh diagnosis sekaligus pengobatan yang tepat.
Tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang direkomendasikan oleh dokter atau tenaga medis lainnya terkait dengan kondisi ini juga bisa berbeda-beda setiap rumah sakit, tergantung dari fasilitas yang tersedia. Kendati demikian, tenaga medis akan memastikan tahapan pemeriksaan dan pengobatan sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.
Jika ingin berkonsultasi dari rumah, manfaatkan layanan Telekonsultasi yang tersedia di aplikasi MySiloam. Layanan tersebut memungkinkan dokter untuk meresepkan obat-obatan sesuai kondisi pasien, dan pasien pun bisa memperoleh obat-obatan tersebut tanpa harus keluar rumah. Namun jika diresepkan beberapa jenis obat, seperti antipsikotik dan antidepresan, pasien wajib mengambilnya secara langsung.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini







