Apa Itu Dispepsia? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
Kesehatan Tubuh

Apa Itu Dispepsia? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

30 Januari 2026 4 menit waktu baca
dispepsia adalah

Dispepsia adalah suatu sindrom atau sekumpulan gejala yang mengakibatkan gangguan pada sistem pencernaan. Adapun beberapa gejala dispepsia dapat berupa perut terasa penuh terutama saat sedang mengonsumsi makanan, sensasi panas pada area perut, serta nyeri pada ulu hati.

 

Dispepsia cukup umum terjadi dan bisa dialami oleh siapa saja. Kendati demikian, kondisi ini tidak boleh dianggap remeh karena berpotensi menyebabkan komplikasi yang serius bagi penderitanya. Mari tingkatkan kewaspadaan akan dispepsia dengan memahami penyebab, gejala, dan cara mengobati dispepsia dalam artikel berikut ini.

 

Apa Itu Dispepsia?

 

Dispepsia adalah kondisi berupa gangguan pencernaan kronis yang ditandai dengan perut terasa nyeri, kembung, dan begah terutama setelah mengonsumsi makanan. Dispepsia adalah sebuah sindrom. Artinya, kondisi ini bukan termasuk ke dalam jenis penyakit struktural.

 

Dispepsia merupakan sekumpulan gejala dari gangguan kesehatan yang terjadi pada sistem pencernaan. Dokter terkadang tidak menemukan masalah kesehatan tertentu ketika memeriksa tubuh penderita sindrom dispepsia yang mengeluhkan gejala gangguan pencernaan.

 

Gejala Dispepsia

 

Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, dispepsia adalah sekumpulan gejala yang memengaruhi sistem pencernaan. Adapun sejumlah gejala yang termasuk ke dalam sindrom dispepsia adalah sebagai berikut:

 

  • Cepat merasa kenyang.

  • Perut terasa begah atau penuh dan kembung setelah makan.

  • Nyeri dan perih pada bagian ulu hati.

  • Sensasi panas dan terbakar pada ulu hati yang bisa menjalar hingga ke kerongkongan.

  • Mual.

 

Penyebab Dispepsia

 

Masih belum diketahui secara pasti apa penyebab dispepsia. Namun, ada beragam faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami sindrom dispepsia, yaitu:

 

  • Berjenis kelamin perempuan.

  • Stres atau depresi.

  • Gangguan cemas.

  • Kebiasaan merokok.

  • Kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol.

  • Infeksi bakteri Helicobacter pylori pada saluran pencernaan.

  • Pola makan yang tidak baik, seperti makan tidak teratur atau mengonsumsi makanan pedas dan berlemak secara berlebihan.

  • Obesitas atau berat badan berlebih.

  • Mengidap penyakit pencernaan, seperti GERD, pankreatitis, radang lambung, atau tukak lambung.

  • Efek samping obat-obatan tertentu, seperti kortikosteroid, OAINS (ibuprofen atau aspirin), atau antibiotik.

 

Diagnosis Dispepsia

 

Dokter biasanya akan melakukan sejumlah tindakan medis untuk memeriksa serta mengetahui penyebab dispepsia yang dialami oleh pasien. Sejumlah prosedur pemeriksaan untuk mendiagnosis dispepsia adalah:

 

  • Pemeriksaan darah.

  • Pemeriksaan feses untuk mendeteksi keberadaan bakteri Helicobacter pylori yang memicu terjadinya dispepsia.

  • Endoskopi, yaitu prosedur pemeriksaan dengan memasukkan selang elastis yang dilengkapi oleh kamera ke dalam tubuh melalui mulut atau anus. Prosedur ini dilakukan untuk memastikan adanya infeksi atau peradangan dalam saluran cerna yang menyebabkan dispepsia.

 

Cara Mengobati Dispepsia

 

Apakah dispepsia bisa sembuh? Dispepsia bisa sembuh apabila penderitanya menjalani gaya hidup yang lebih sehat serta mengobati gangguan pencernaan yang dialami dengan tepat. Adapun langkah pengobatan dispepsia adalah sebagai berikut:

 

1. Mengonsumsi Obat-obatan

 

Jika dispepsia disebabkan oleh kondisi kesehatan tertentu, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter guna mendapatkan perawatan medis yang sesuai. Umumnya, dokter akan meresepkan obat-obatan untuk mengatasi penyebab dispepsia, seperti obat antagonis H2 yang bertujuan mengurangi produksi asam lambung, atau PPI. Dokter juga akan meresepkan antibiotik apabila dispepsia disebabkan oleh infeksi bakteri.

 

2. Menjaga Berat Badan Ideal

 

Berat badan rupanya juga memiliki peran terhadap kesembuhan dispepsia. Pengidap dispepsia yang memiliki berat badan berlebih akan dianjurkan untuk menjalani diet sehat, seperti rutin berolahraga, membatasi asupan kalori harian, serta tidur yang cukup.

 

3. Menjaga Pola Makan

 

Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya dispepsia adalah pola makan yang tidak baik. Oleh karenanya, pengidap dispepsia sebaiknya menjaga pola makan dengan mengonsumsi makanan secara perlahan dan teratur. Selain meredakan gejala dispepsia, menjaga pola makan diketahui juga dapat membantu mencegah terjadinya gangguan pencernaan lain, seperti GERD, tukak lambung, dan infeksi lambung.

 

Pengidap dispepsia juga disarankan untuk menghindari atau membatasi konsumsi beberapa jenis makanan, seperti:

 

  • Makanan berlemak tinggi.

  • Makanan pedas.

  • Minuman bersoda.

  • Minum yang mengandung kafein.

  • Minuman beralkohol.

 

4. Kelola Stres

 

Stres merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan produksi asam lambung. Maka dari itu, pengidap dispepsia disarankan untuk mengelola stres sebaik mungkin guna mencegah naiknya asam lambung yang dapat menyebabkan terjadinya kekambuhan dispepsia.

 

5. Hindari Berbaring Setelah Makan

 

Kebiasaan berbaring setelah makan diketahui dapat memperburuk gejala dispepsia. Hal ini dikarenakan berbaring tepat setelah mengonsumsi makanan dapat menekan lambung yang memicu naiknya asam lambung. Seseorang disarankan untuk menunggu kurang lebih 3 jam setelah makan sebelum tidur atau berbaring.

 

Komplikasi Dispepsia

 

Bila tidak segera ditangani, dispepsia berisiko menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius. Beberapa komplikasi dispepsia adalah sebagai berikut:

 

 

Penting untuk diketahui bahwa informasi dalam artikel ini bertujuan untuk edukasi semata dan tidak dapat menggantikan diagnosis resmi serta saran perawatan dari tenaga medis profesional. Beberapa gejala yang disebutkan pun tidak secara spesifik mewakili dispepsia mengingat gejala-gejala tersebut juga dapat mengindikasikan kondisi medis lainnya.

 

Oleh karena itu, apabila Anda kerap mengalami perut kembung setelah makan disertai rasa nyeri dan panas pada ulu hati, segera kunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterohepatologi di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh diagnosis yang akurat serta penanganan yang tepat.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan tindakan medis yang dijalani terkait dispepsia akan disesuaikan dengan fasilitas kesehatan yang tersedia sehingga bisa saja berbeda di setiap rumah sakit. Tenaga medis profesional akan memastikan seluruh tahapan pemeriksaan dan pengobatan telah sesuai dengan kondisi medis spesifik pasien.

 

Gunakan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan dengan mudah, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam dan nikmati berbagai fitur untuk mempermudah perjalanan kesehatan Anda.

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 2

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail