Mengenal Hypophrenia, Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasinya
Kesehatan Mental

Mengenal Hypophrenia, Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasinya

17 Oktober 2025 3 menit waktu baca
hypophrenia adalah

Hypophrenia adalah kondisi ketika seseorang merasa sangat emosional hingga membuat mereka menangis tanpa sebab yang jelas. Perlu diluruskan, hypophrenia sering kali disalahartikan sebagai keterbelakangan mental yang berhubungan dengan gangguan fungsi emosional. 

 

Untuk mengenal lebih dalam tentang hypophrenia, mari simak selengkapnya melalui artikel berikut ini. 

 

Apa itu Hypophrenia?

 

Seperti yang telah disebutkan di atas, hypophrenia adalah istilah medis untuk menyebut seseorang yang tiba-tiba menangis tanpa alasan atau penyebab yang jelas. Penderita hypophrenia bisa merasakan perasaan sedih tidak normal sehingga membuatnya menangis tanpa alasan yang jelas dan membawa dampak negatif pada kehidupan pribadinya.

 

Penyebab Hypophrenia

 

Secara umum, penyebab seseorang mengalami hypophrenia masih belum diketahui secara pasti. Namun, sejumlah kondisi yang diduga bisa memicu seseorang mengalami hypophrenia adalah sebagai berikut.

 

  • Perubahan hormon: Kondisi ini biasanya terjadi selama hamil, menopause, atau sedang mengalami menstruasi.

  • Post traumatic stress disorder: Gangguan mental yang terjadi karena seseorang karena dipicu oleh kejadian traumatis masa lalu.

  • Gangguan cemas: Kondisi ini dapat membuat seseorang terlalu cemas pada suatu masalah sehingga dapat menyebabkan kelelahan mental. Kondisi inilah yang bisa memicu seseorang menangis tanpa alasan.

  • Depresi: Gangguan suasana hati yang membuat seseorang merasa sedih terus-menerus dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang awalnya disukainya.

  • Organic Brain Syndrome (OBS): Kerusakan otak yang dapat menyebabkan gangguan mental. Kondisi ini biasanya dialami oleh lansia.

  • Pseudobulbar affect (PBA): Gangguan neurologis yang terjadi karena terputusnya hubungan atau koneksi antara batang otak, lobus frontal otak besar, dan otak kecil. Perlu diketahui, lobus frontal merupakan bagian otak besar yang berfungsi untuk mengontrol emosi. Sementara itu, otak kecil dan batang otak adalah bagian yang bertugas mengatur refleks dan keseimbangan tubuh. Ketiga terjadi gangguan koneksi antara ketiga bagian tersebut, maka hal ini dapat menyebabkan terjadinya disregulasi emosional.

 

Selain itu, terdapat beberapa kondisi yang bisa meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami hypophrenia, seperti:

 

  • Menderita penyakit keturunan, seperti penyakit Tay-Sachs atau fenilketonuria.

  • Down syndrome.

  • Cedera otak.

  • Malnutrisi.

  • Keracunan senyawa kimia berbahaya, seperti timbal atau merkuri.

  • Gangguan janin selama dalam kandungan, seperti infeksi serta terpapar zat beracun, obat-obatan terlarang atau minuman beralkohol yang masuk ke dalam tubuh ibu hamil.

  • Gangguan pada bayi saat lahir akibat kekurangan oksigen atau kelahiran prematur.

 

Gejala Hypophrenia

 

Diketahui, kondisi hypophrenia juga dapat menunjukkan sejumlah gejala. Di samping menangis tanpa sebab atau alasan yang jelas, gejala-gejala lain yang dapat dialami oleh penderita hypophrenia adalah sebagai berikut.

 

  • Mempunyai perasaan yang sangat sensitif sehingga mudah tersinggung oleh berbagai hal.

  • Sulit untuk diajak berkomunikasi.

  • Bersifat introvert sehingga sulit untuk diajak bersosialisasi.

  • Perubahan emosi yang cenderung tidak terkontrol.

  • Memiliki pemikiran yang dikuasai dengan pikiran negatif.

  • Merasa malas, mempunyai banyak pikiran, dan tidak bergairah dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

  • Merasa kelelahan karena berusaha menebak apa yang membuatnya merasa sedih.

  • Tidak nafsu makan.

  • Mengalami gangguan tidur.

 

Cara Mendeteksi Hypophrenia

 

Dalam menegakkan diagnosis hypophrenia, dokter biasanya akan melakukan wawancara medis atau anamnesis dengan pasien atau keluarga pasien untuk mengetahui keluhan serta keadaan psikologis pasien. Dokter juga dapat melakukan tes laboratorium dan tes pencitraan untuk mendeteksi gangguan struktural pada otak pasien guna mencari tahu penyebab hypophrenia.

 

Setelah diagnosis ditegakkan, dokter dapat merujuk pasien untuk mengunjungi psikolog atau psikiater untuk penanganan hypophrenia selanjutnya.

 

Cara Mengatasi Hypophrenia

 

Pada dasarnya, hypophrenia adalah kondisi yang dapat ditangani dengan bantuan obat-obatan, psikoterapi, atau kombinasi dari keduanya. Adapun terapi psikoterapi yang dimaksud, di antaranya seperti terapi perilaku kognitif, terapi interpersonal, problem solving therapy, dan lain-lain.Sementara itu, kondisi ini juga dapat ditangani dengan pemberian obat antidepresan untuk meningkatkan suasana hati.

 

Jika Anda mempunyai gejala-gejala yang mengarah pada kondisi hypophrenia seperti yang telah dijelaskan di atas, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter Siloam Hospitals menggunakan layanan Telekonsultasi, yaitu layanan yang memungkinkan pasien untuk berdiskusi dengan psikolog atau psikiater secara virtual.

 

Anda juga dapat menggunakan aplikasi MySiloam yang menyediakan berbagai fitur untuk memesan paket kesehatan, menemukan informasi jadwal praktik, hingga membuat janji temu dengan psikolog atau psikiater di Siloam Hospitals terdekat. Mari jaga selalu kesehatan fisik dan mental Anda #BersamaSiloam!

 

telechat

message

ArticleDetail