Kesehatan Tubuh
Moluskum Kontagiosum: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Moluskum kontagiosum atau molluscum contagiosum adalah penyakit kulit yang ditandai dengan munculnya bintil-bintil di permukaan kulit. Kondisi ini sering kali terjadi pada anak-anak, namun tidak menutup kemungkinan juga dialami oleh orang dewasa.
Lantas, apakah moluskum kontagiosum berbahaya? Bagaimana cara mengobatinya? Mari simak ulasan selengkapnya melalui artikel berikut ini.
Apa itu Moluskum Kontagiosum?
Moluskum kontagiosum adalah penyakit kulit berupa munculnya bintil di kulit yang disebabkan oleh infeksi virus. Kondisi ini biasanya berlangsung dalam jangka waktu lama (kronis) atau menahun dan mudah menyebar jika terdapat kontak langsung dengan bintil atau benda yang telah terkontaminasi, misalnya handuk atau pakaian. Kendati demikian, moluskum kontagiosum biasanya bersifat jinak dan jarang menimbulkan komplikasi berbahaya.
Penyebab Moluskum Kontagiosum
Penyebab utama moluskum kontagiosum adalah infeksi virus dari famili pox-virus, yaitu M. contagiosum. Pada seseorang yang sudah terinfeksi, virus tersebut bisa menyebar ke bagian tubuh lain ketika penderita menggaruk bintil pada kulit yang terdapat virus, lalu menyentuh bagian tubuh lainnya. Kemudian, pada lokasi yang baru, virus akan berkembang biak dan menimbulkan gejala.
Virus penyebab molluscum contagiosum juga bisa menyebar dari penderita ke orang lain melalui kontak langsung kulit ke kulit, penggunaan barang yang sudah terkontaminasi virus secara bersama-sama, ataupun saat melakukan aktivitas seksual. Selain itu, sejumlah faktor lainnya yang dapat meningkatkan risiko seseorang terinfeksi penyakit kulit ini adalah:
-
Anak-anak berusia 1–10 tahun. Pada usia ini virus sangat mudah menyebar, terutama ketika sedang bermain bersama teman-teman, di mana kontak fisik sangat mudah terjadi.
-
Orang yang tinggal di daerah beriklim tropis.
-
Memiliki sistem imun tubuh yang lemah, seperti pada penderita HIV/AIDS, pasien yang sedang menjalani pengobatan kanker, atau orang yang menjalani transplantasi organ tubuh.
-
Mengalami malnutrisi.
-
Penderita dermatitis atopik atau eksim.
-
Atlet olahraga yang sering kontak fisik dengan orang lain, seperti gulat atau sepak bola.
-
Penderita penyakit kronis tertentu.
Gejala Moluskum Kontagiosum
Gejala utama molluscum contagiosum adalah munculnya bintil-bintil yang berkumpul di satu area kulit ataupun tersebar di beberapa bagian tubuh. Gejala ini baru muncul 2–7 minggu setelah kontak dengan virus. Bintil tersebut biasanya memiliki karakteristik sebagai berikut:
-
Berukuran kecil, berdiameter 2–5 mm, menyerupai kacang tanah atau biji kacang hijau.
-
Muncul di area wajah, leher, ketiak, perut, organ intim, dan tungkai, kecuali di telapak tangan dan kaki.
-
Menyerupai warna kulit, putih, kemerahan, atau merah muda.
-
Tidak terasa nyeri, namun menimbulkan rasa gatal.
-
Terdapat titik berwarna putih kekuningan di bagian tengah bintil.
-
Jumlah bintil yang muncul biasanya sekitar 20–30 bintil. Namun, pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, jumlahnya bisa lebih banyak.
-
Awalnya terasa keras jika diraba, namun bisa melunak seiring waktu.
Komplikasi Moluskum Kontagiosum
Molluscum contagiosum biasanya menimbulkan gejala yang tergolong ringan dan bisa sembuh dengan sendirinya. Kendati demikian, kondisi ini tetap dapat menimbulkan sejumlah komplikasi, terutama jika bintil pada kulit digaruk, lalu menimbulkan luka dan terinfeksi. Beberapa komplikasi tersebut di antaranya sebagai berikut:
-
Impetigo, yaitu infeksi kulit yang terjadi setelah menggaruk bintil.
-
Konjungtivitis dan keratitis jika bintil tumbuh di area kelopak mata.
-
Persebaran bintil-bintil dapat meluas hingga ke seluruh tubuh, bahkan hingga ke wajah.
-
Disseminated secondary eczema, terjadi akibat reaksi imunitas tubuh berlebih karena virus penyebab moluskum kontagiosum.
-
Tumbuhnya bekas luka atau jaringan parut pada area kulit yang terdampak.
Diagnosis Moluskum Kontagiosum
Diagnosis penyakit kulit ini dapat ditegakkan dengan melakukan wawancara medis (anamnesis) dan mengevaluasi bentuk bintil yang tumbuh pada permukaan kulit, sehingga dokter biasanya tidak memerlukan pemeriksaan penunjang lebih lanjut. Namun, jika diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan wood lamp, diaskopi, serta biopsi untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit kulit lainnya.
Pengobatan Moluskum Kontagiosum
Secara umum, molluscum contagiosum dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu 6 bulan sampai 2 tahun. Namun, pada beberapa kasus, terutama jika pasien memiliki sistem imun tubuh yang lemah, penyakit kulit ini bisa berlangsung dalam waktu yang lebih lama.
Dokter biasanya tidak menyarankan pengobatan tertentu pada pasien anak-anak. Sementara pada pasien dewasa, terdapat beberapa metode yang bisa dilakukan untuk membantu mempercepat proses pemulihan kondisi ini, di antaranya sebagai berikut:
-
Pemberian salep atau krim yang mengandung asam trikloroasetat, asam salisilat, atau tretinoin.
-
Prosedur kuret atau scraping untuk mengikis bintil pada kulit menggunakan alat medis khusus.
-
Terapi sinar laser untuk membakar bintil menggunakan sinar laser.
-
Diathermy, yaitu prosedur medis untuk menghancurkan bintil menggunakan energi panas.
-
Krioterapi, yaitu prosedur medis yang menggunakan nitrogen cair untuk membekukan bintil.
Apabila memiliki kondisi sistem imun tubuh yang lemah, seperti menderita penyakit HIV/AIDS, diabetes melitus, atau sedang menjalani kemoterapi, penyakit ini menjadi lebih sulit untuk diobati. Sementara bagi pasien yang sedang hamil, merencanakan untuk hamil, maupun sedang menyusui, disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter terkait terapi yang akan dilakukan.
Pencegahan Moluskum Kontagiosum
Perlu diketahui, moluskum kontagiosum dapat menyebar ke bagian tubuh lain yang lebih luas. Bahkan, kondisi ini juga bisa ditularkan dari penderita ke orang lain. Oleh karenanya, sangat penting untuk mengetahui cara mencegah penularan moluskum kontagiosum untuk menghindari risiko penyakit kulit tersebut.
Adapun beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan kondisi ini adalah sebagai berikut:
-
Menghindari menggaruk, menyentuh, atau memencet bintil pada kulit.
-
Rutin mencuci tangan, terutama jika tidak sengaja menyentuh bintil pada kulit.
-
Selalu menutupi bintil dengan pakaian atau perban.
-
Menghindari penggunaan barang pribadi secara bersama-sama atau bergantian, seperti handuk, pakaian, sisir, dan lain-lain.
-
Menghindari kontak langsung terlebih dahulu, termasuk berhubungan seksual, terutama jika terdapat bintil di area organ intim.
Jika Anda atau si kecil mengalami gejala yang mengarah pada kondisi tersebut, Anda dapat memanfaatkan layanan Telekonsultasi, yaitu sebuah layanan kesehatan yang memungkinkan pasien untuk berkonsultasi dengan dokter dari mana saja dan kapan saja. Layanan tersebut dapat ditemukan melalui aplikasi MySiloam yang bisa diunduh secara gratis pada smartphone Anda.
Apabila si kecil diarahkan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dari dokter, segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat di kota Anda. Untuk memudahkan, jadwalkan terlebih dahulu pertemuan Anda dengan dokter terkait melalui fitur yang tersedia pada aplikasi MySiloam. Mari jaga selalu kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Marsia Rusfianti, SpKK, M.Kes
Dermatologi (Kulit)
Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Armina Haramaini, SpKK
Dermatologi (Kulit)
Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Epi Panjaitan, MSc, SpKK
Dermatologi (Kulit)
Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini








