Kesehatan Mental
Mengenal Perilaku Impulsif, Ini Penyebab & Cara Mengatasinya

Table of Contents
Perilaku impulsif adalah tindakan ketika seseorang melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang atau mempertimbangkan konsekuensinya terlebih dahulu. Umumnya, setiap individu mungkin pernah berperilaku impulsif pada kondisi tertentu, baik secara sadar maupun tidak.
Perlu diketahui, jika perilaku impulsif dilakukan secara terus-menerus dan semakin sulit dikendalikan, hal ini bisa menjadi gejala dari gangguan mental yang dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya.
Mari kenali penyebab, ciri-ciri, serta cara mengatasi perilaku impulsif selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Perilaku Impulsif?
Seperti yang telah dijelaskan di atas, perilaku impulsif adalah tindakan yang dilakukan tanpa berpikir panjang atau mempertimbangkan konsekuensinya di awal. Impulsif sering ditunjukkan oleh anak-anak dan remaja, karena mereka belum paham cara meredam dorongan dan emosi yang muncul. Namun, perilaku impulsif juga bisa terjadi pada siapa saja tanpa terkecuali.
Pada dasarnya, perilaku impulsif dibutuhkan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat sedang menghadapi stres atau situasi genting yang memerlukan respons cepat. Namun, jika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus atau telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, perilaku ini bisa menjadi gejala dari suatu gangguan mental.
Penyebab Perilaku Impulsif
Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti apa penyebab seseorang berperilaku impulsif. Namun, diduga penyebab utama dari perilaku impulsif adalah kontrol diri yang tidak baik. Selain itu, perilaku impulsif juga dianggap sebagai gangguan psikologis jika perilaku tersebut semakin sering muncul atau cenderung sulit dikendalikan.
Di samping itu, sejumlah kondisi yang dapat memicu seseorang berperilaku impulsif adalah sebagai berikut.
-
Gangguan kepribadian, seperti gangguan kepribadian antisosial atau borderline personality disorder.
-
Kecanduan minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang.
Ciri-Ciri Perilaku Impulsif
Jika seseorang melakukan suatu hal secara spontan dan tanpa berpikir panjang, hal tersebut dapat dikatakan sebagai ciri-ciri utama perilaku impulsif. Selain itu, sejumlah ciri-ciri lainnya yang menandakan seseorang memiliki perilaku impulsif adalah sebagai berikut.
-
Sering memanjakan diri dengan melakukan suatu hal secara berlebihan, seperti menghamburkan uang untuk berbelanja atau mengonsumsi makanan secara berlebihan.
-
Mudah marah atau tersinggung tanpa penyebab yang jelas.
-
Kesulitan untuk mengontrol emosi, sehingga menyebabkan seseorang cenderung merusak barang atau berteriak secara berlebihan saat sedang marah.
-
Kesulitan untuk memusatkan fokus dan konsentrasi saat sedang menyelesaikan pekerjaan.
-
Sering melakukan suatu hal dengan terburu-buru.
-
Berbicara tanpa mempertimbangkan akibat dari perkataannya.
-
Melakukan aktivitas seksual yang berisiko tinggi.
-
Mempunyai keinginan untuk melukai diri sendiri (self harm) saat sedang marah, sedih, atau kecewa.
-
Suka mengambil sesuatu atau kepunyaan orang lain secara paksa tanpa menunggu atau meminta izin terlebih dahulu.
Sementara pada anak-anak atau remaja, perilaku impulsif juga bisa ditandai dengan kecenderungan untuk mengganggu teman dan orang di sekitarnya, tidak bisa diam, serta sulit berkonsentrasi saat sedang belajar di kelas.
Cara Mengatasi Perilaku Impulsif
Sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut, penting untuk memastikan apakah perilaku impulsif disebabkan oleh gangguan psikologis atau tidak. Untuk memastikannya, psikolog atau psikiater dapat melakukan evaluasi terhadap kondisi psikologis pasien melalui wawancara medis (anamnesis) dan observasi.
Pada dasarnya, perilaku impulsif baru bisa dianggap sebagai gejala dari gangguan psikologis apabila sudah terjadi berulang kali, semakin tidak terkendali, dan telah merugikan banyak pihak. Beberapa cara penanganan yang dapat dilakukan untuk mengatasi perilaku impulsif adalah sebagai berikut.
1. Penggunaan Obat-obatan
Perilaku impulsif adalah tindakan yang bisa disebabkan oleh gangguan psikologis, seperti attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), borderline personality disorder, atau gangguan bipolar. Jika perilaku impulsif disebabkan oleh ADHD, dokter dapat meresepkan obat stimulan sistem saraf pusat, seperti amphetamine, dextroamphetamine, atau methylphenidate.
Dokter juga dapat meresepkan obat-obatan antidepresan, antipsikotik, atau mood stabilizer jika perilaku impulsif terjadi karena borderline personality disorder. Selain itu, perilaku impulsif yang disebabkan oleh gangguan bipolar juga dapat ditangani dengan pemberian obat-obatan antimania (mood stabilizer) untuk membantu mengendalikan suasana hati atau mood.
2. Terapi Psikologis (Psikoterapi)
Cara berikutnya adalah dengan menjalani terapi psikologis (psikoterapi), terutama dialectical behavior therapy (DBT) dan cognitive behavioral therapy (CBT). Melalui terapi ini, dokter akan membimbing dan melatih pasien untuk mengubah perilaku impulsif dan meningkatkan kemampuannya dalam berpikir sebelum bertindak atau melakukan suatu hal.
Selain itu, dokter juga dapat merekomendasikan terapi kelompok atau terapi keluarga yang dinilai efektif dalam menangani perilaku impulsif pada anak-anak dan remaja.
3. Melakukan Coping Mechanism yang Sehat
Coping mechanism adalah strategi yang dilakukan seseorang ketika sedang menghadapi situasi atau kondisi yang membuatnya merasa tidak nyaman, seperti stres atau cemas. Selain itu, strategi ini juga dapat membantu mengurangi risiko seseorang untuk melakukan tindakan impulsif.
Terdapat sejumlah coping mechanism yang sehat dan dapat direkomendasikan untuk membantu seseorang dalam mengurangi perilaku impulsif dan mengalihkan perilaku tersebut ke suatu hal yang lebih sehat, di antaranya sebagai berikut.
-
Berolahraga ringan, seperti bersepeda, yoga, atau mendaki gunung.
-
Journaling.
-
Melakukan teknik relaksasi, seperti bernapas dalam-dalam dan diembuskan secara perlahan.
-
Berbagi cerita dengan orang terdekat.
Dapat disimpulkan, perilaku impulsif adalah tindakan yang dapat berdampak buruk baik bagi diri sendiri maupun orang lain jika dilakukan secara terus-menerus dan tidak terkendali. Untuk mengatasi kondisi tersebut, tak ada salahnya untuk melakukan konseling dengan psikolog atau psikiater melalui layanan Telekonsultasi. Melalui layanan ini, pasien dapat berkonsultasi langsung dengan dokter secara virtual.
Layanan Telekonsultasi juga memungkinkan pasien untuk mendapatkan resep obat-obatan dari dokter dan memperoleh obat tersebut tanpa perlu keluar rumah. Namun, ada beberapa jenis obat tertentu, seperti antipsikotik dan antidepresan, yang jika diresepkan harus diambil secara langsung oleh pasien (self pick up) untuk mencegah penyalahgunaan obat-obatan.
Anda bisa memanfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai layanan kesehatan, mulai dari check in mandiri dan antre secara online sebelum mengunjungi Siloam Hospitals terdekat di kota Anda. Mari unduh aplikasinya sekarang dan jaga kesehatan fisik serta mental Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
MENTAL - Skrining Mental health (MMPI)
Lainnya
2 Service/Item
Rp880.000
TERPOPULER
Paket Siloam Ruby
Skrining Umum
21 Service/Item
Rp1.000.000
TERPOPULER
Paket Siloam Silver
Skrining Umum
22 Service/Item
Rp1.900.000
TERPOPULER
Paket Siloam Pearl
Skrining Umum
31 Service/Item
Rp4.300.000
TERPOPULER
Brain Check Up
Penawaran Spesial, Skrining Stroke
19 Service/Item
Rp9.000.000







