Kesehatan Tubuh
Psittacosis - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Table of Contents
Psittacosis adalah penyakit yang ditularkan dari burung ke manusia dan menginfeksi paru-paru. Kondisi ini bisa menimbulkan gejala berupa demam, batuk, dan nyeri otot. Penyakit ini cukup langka, namun pengobatan dengan antibiotik biasanya dapat menyembuhkan psittacosis sepenuhnya. Ingin tahu lebih lanjut tentang apa itu psittacosis? Simak penjelasannya melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Psittacosis?
Seperti yang sudah dijelaskan, psittacosis adalah penyakit infeksi bakteri yang ditularkan dari burung ke manusia. Infeksi ini dipicu oleh bakteri bernama Chlamydia psittaci. Sebagai catatan, psittacosis disebabkan oleh spesies bakteri yang berbeda dengan bakteri penyebab klamidia pada manusia. Saat ditularkan ke manusia, psittacosis dapat menimbulkan gejala infeksi saluran pernapasan, seperti demam dan batuk.
Sementara pada burung, kondisi ini bisa menyebabkan burung terkena diare, mata dan hidung berair, atau gejala lainnya. Namun, sebagian burung yang membawa bakteri ini mungkin juga tidak mengalami gejala apa pun. Kendati demikian, burung tetap bisa menularkannya kepada manusia. Psittacosis disebut juga dengan ornithosis atau demam burung beo (meski tidak hanya burung beo yang bisa menularkan bakteri ini).
Penyebab Psittacosis
Seperti yang telah disebutkan di atas, psittacosis adalah kondisi yang terjadi ketika seseorang tertular infeksi bakteri Chlamydia psittaci (C. psittaci) yang dibawa oleh burung. Bakteri C. psittaci biasanya terdapat pada kotoran atau percikan cairan atau lendir yang dihasilkan dari pernapasan burung yang terinfeksi.
Percikan cairan atau lendir tersebut bisa mengering, lalu melepaskan bakteri ke udara sebagai partikel debu yang dapat terhirup oleh burung lain ataupun manusia. Selain itu, burung juga bisa menyebarkan partikel yang terkontaminasi bakteri saat sedang mengepakkan sayapnya.
Adapun beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami psittacosis adalah sebagai berikut:
-
Membersihkan sangkar burung yang terinfeksi.
-
Melakukan kontak singkat dengan burung yang terinfeksi, misalnya saat mengunjungi taman burung.
-
Terkena gigitan burung.
-
Memiliki pekerjaan yang rentan terkena paparan partikel dari burung, seperti:
-
Dokter hewan atau staf kesehatan di klinik hewan.
-
Staf kebun binatang.
-
Staf laboratorium.
-
Petani.
-
Peternak unggas.
-
Bekerja di pusat karantina burung.
Pada dasarnya, semua jenis burung dapat terkena infeksi bakteri C. psittaci sekaligus menularkan penyakit psittacosis, termasuk:
-
Burung peliharaan, seperti burung beo, kakaktua, dan lain-lain.
-
Burung ternak atau unggas, seperti bebek, kalkun, angsa, dan lain-lain.
-
Burung liar, seperti burung merpati, camar, dan sebagainya.
Gejala Psittacosis
Psittacosis adalah infeksi yang dapat menyebabkan gejala yang bervariasi, mulai dari gejala yang bersifat ringan hingga berat. Bahkan, beberapa di antaranya mungkin tidak mengalami gejala. Biasanya, gejala muncul 5–14 hari setelah seseorang terpapar bakteri C. psittaci, dimulai dengan demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Seiring waktu, beberapa gejala lain yang bisa ditimbulkan oleh psittacosis adalah sebagai berikut:
-
Menggigil.
-
Batuk.
-
Kelelahan.
-
Mual.
-
Muntah.
-
Ruam kulit (jarang terjadi).
Jika dibiarkan terlalu lama dan tidak mendapatkan penanganan apa pun, gejala tersebut bisa semakin parah, bahkan dapat menimbulkan komplikasi, seperti:
-
Hepatitis (peradangan hati).
-
Acute respiratory distress syndrome (ARDS).
Diagnosis Psittacosis
Chlamydia psittaci adalah bakteri yang tidak biasa karena mereka tumbuh di dalam sel inang.
Untuk menegakkan diagnosis psittacosis, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) terlebih dahulu untuk mengetahui tentang gejala, riwayat kesehatan pasien, dan informasi lainnya, misalnya apakah pasien memiliki hewan peliharaan di rumah serta riwayat paparan burung atau unggas pada pasien.
Selain itu, dokter juga akan mengambil sampel, kemudian mengirimnya ke laboratorium untuk memastikan jenis bakteri yang menginfeksi penderita. Sampel tersebut bisa berupa:
-
Dahak (lendir yang dikeluarkan dari paru-paru).
-
Darah.
-
Lendir yang diseka dari hidung atau tenggorokan.
Pada beberapa kondisi, dokter mungkin juga memerlukan pemeriksaan tambahan, seperti rontgen dada, tergantung dari gejala yang dialami pasien.
Cara Mengatasi Psittacosis
Pengobatan utama untuk psittacosis adalah pemberian antibiotik. Jenis antibiotik yang biasanya diresepkan oleh dokter adalah doxycycline atau tetracycline. Namun, jika keduanya tidak efektif dalam menangani penyakit atau jika pasien tidak dapat mentoleransi kedua obat-obatan tersebut (misalnya karena muncul reaksi alergi), maka dokter dapat memberikan alternatif obat antibiotik lain, seperti erythromycin, azithromycin, chloramphenicol, atau rifampin.
Meski termasuk dalam penyakit langka, Anda tetap harus mewaspadai terjadinya psittacosis, terutama jika memiliki peliharaan burung di rumah atau memiliki pekerjaan yang melibatkan kontak langsung dengan burung atau unggas.
Jangan lupa untuk menjaga kebersihan diri, seperti mencuci tangan dengan sabun antiseptik dan air mengalir setelah memegang burung atau membersihkan sangkar burung. Sebaiknya, segera kunjungi Siloam Hospitals untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Pulmonologi (Paru) jika Anda atau kerabat merasakan sejumlah gejala yang mengarah pada kondisi ini atau gangguan pada sistem pernapasan lainnya.
Kemudian, sebagai langkah lebih lanjut untuk mencegah atau melakukan deteksi dini terhadap kelainan pada paru-paru, Anda juga bisa melakukan Skrining Kesehatan Paru di Siloam Hospitals. Pemeriksaan ini meliputi tes darah lengkap, foto rontgen, dan spirometri.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini







