Kesehatan Tubuh
Tumor Neuroendokrin - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Tumor neuroendokrin atau neuroendocrine tumors (NET) adalah tumor langka yang berasal dari sel neuroendokrin. Tumor ini dapat terjadi di mana saja, namun sebagian besar menyerang paru-paru, usus buntu, usus halus, rektum, dan pankreas.
Lantas, apa penyebab tumor langka ini? Bagaimana cara menanganinya? Mari simak informasi selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Tumor Neuroendokrin?
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, neuroendocrine tumors (NET) atau tumor neuroendokrin adalah tumor yang tumbuh di dalam sel neuroendokrin. Sel neuroendokrin adalah sel khusus yang merupakan bagian dari sistem saraf dan sistem kelenjar hormon (endokrin) yang terletak menyebar di seluruh tubuh.
Tumor neuroendokrin ada yang tumbuh lambat maupun tumbuh sangat cepat. NET juga dapat bersifat agresif hingga bisa menyebar (metastasis) ke organ lainnya dengan cepat, namun sebagian lainnya mungkin berkembang secara lambat.
Jenis tumor ini dapat mengakibatkan tubuh memproduksi hormon berlebih yang disebut juga dengan NET fungsional. Namun, pada sebagian kasus lainnya, NET bisa menyebabkan tubuh tidak dapat memproduksi hormon sama sekali atau disebut juga dengan NET nonfungsional.
Berdasarkan lokasi dan hormon yang diproduksi, tumor neuroendokrin terbagi menjadi beberapa jenis. Berikut adalah yang paling umum terjadi:
-
Gastrointestinal: Tumbuh di dalam perut, usus kecil, usus besar, dan usus buntu.
-
Paru-paru: Tumbuh di paru-paru biasanya bersifat nonfungsional dan kemungkinan tumbuh menjadi kanker (karsinoid).
-
Pankreas: Dibandingkan NET pada paru-paru dan gastrointestinal, NET di pankreas lebih jarang terjadi. Jenis tumor ini biasanya bersifat nonfungsional serta tidak menimbulkan gejala.
Pada kasus yang langka, NET juga bisa menyebar atau berkembang di bagian tubuh lain, seperti karsinoma sel Merkel (berkembang pada sel Merkel di lapisan terluar kulit), kanker tiroid meduler (berkembang di kelenjar tiroid), serta feokromositoma dan paraganglioma (berkembang di kelenjar adrenal).
Penyebab Tumor Neuroendokrin
Tumor ini bermula ketika sel neuroendokrin mengalami perubahan atau mutasi DNA. Mutasi ini membuat sel-sel neuroendokrin berkembang biak secara cepat dan tidak terkendali hingga membentuk tumor. Namun, belum diketahui dengan pasti apa yang menyebabkan terjadinya mutasi DNA tersebut.
Meski belum diketahui penyebabnya, para ahli percaya bahwa terdapat beberapa kondisi genetik yang berperan dalam terjadinya tumor ini. Sejumlah kondisi genetik tersebut, di antaranya:
-
Multiple endocrine neoplasia, type 1 (MEN 1): Kondisi yang dapat menyebabkan kelenjar tiroid, paratiroid, atau adrenal terlalu aktif hingga membentuk tumor.
-
Multiple endocrine neoplasia, type 2 (MEN 2): Kondisi ini bisa menyebabkan pankreas, hipofisis, atau paratiroid menjadi terlalu aktif dan membentuk tumor.
-
Penyakit Von Hippel-Lindau: Kondisi langka di mana tumor jinak tumbuh di berbagai bagian tubuh.
-
Tuberous sclerosis: Kondisi ini dapat menimbulkan gejala berupa epilepsi, autisme, keterlambatan perkembangan, dan munculnya tanda lahir pada kulit di masa kanak-kanak.
-
Neurofibromatosis tipe 1: Kondisi langka ketika tumor tumbuh pada kulit dan saraf, hingga memengaruhi mata serta bagian tubuh lainnya.
Adapun beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena neuroendokrin tumor adalah sebagai berikut:
-
Usia: Seseorang dari segala usia dapat terkena NET, namun kondisi ini sangat jarang pada anak-anak.
-
Jenis kelamin: Tumor ini sedikit lebih banyak pada wanita daripada pria, namun alasannya belum diketahui secara pasti.
-
Kondisi medis lain: Seseorang yang memiliki penyakit tertentu dapat memiliki risiko terkena NET jenis tertentu. Misalnya, seseorang dengan penyakit lambung dan terjadi penurunan produksi asam lambung akan memiliki risiko lebih besar untuk terkena NET pada lambung.
Gejala Tumor Neuroendokrin
Tumor neuroendokrin tidak selalu menunjukkan gejala tertentu pada tahap awal. Namun, ketika gejala terjadi, biasanya berbeda-beda pada setiap individu, tergantung dari lokasi dan jenisnya (fungsional atau nonfungsional). Secara umum, beberapa gejala yang dapat ditimbulkan oleh tumor neuroendokrin adalah:
-
Nyeri akibat tumor.
-
Tumbuhnya benjolan di bawah kulit.
-
Kelelahan.
-
Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Pada NET fungsional yang menyebabkan tubuh memproduksi hormon berlebih, penderita dapat mengalami sejumlah gejala yang disebut dengan sindrom karsinoid. Gejala tersebut, di antaranya:
-
Kram perut dan diare.
-
Kulit memerah.
-
Sering buang air kecil.
-
Sering merasa haus.
-
Gemetar atau tremor.
-
Ruam pada kulit.
-
Feses berlemak dan berbau tidak sedap.
-
Edema kaki dan tungkai.
-
Sesak napas dan mengi.
-
Disfungsi ereksi atau kehilangan gairah seksual.
-
Penyakit kuning (jaundice).
Diagnosis Tumor Neuroendokrin
Dalam menegakkan diagnosis tumor neuroendokrin, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui gejala yang dialami pasien serta riwayat kesehatan pasien dan keluarganya. Lalu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik seperti memeriksa benjolan yang muncul di bagian tubuh tertentu.
Guna mengonfirmasi diagnosis, dokter dapat melakukan pemeriksaan penunjang. Dokter akan menyesuaikan pemeriksaan yang dibutuhkan dengan jenis NET yang dicurigai. Misalnya, menggunakan USG endoskopi untuk mendeteksi tumor di pankreas. Adapun beberapa pemeriksaan lain yang umum dilakukan adalah:
-
Biopsi (pengambilan sampel jaringan untuk dilihat di bawah mikroskop).
-
Tes pencitraan. Umumnya meliputi rontgen, USG, MRI, PET scan, dan CT scan untuk menentukan lokasi dan ukuran tumor, serta melihat apakah tumor sudah mengalami metastasis.
-
Tes urine atau tes darah. Dilakukan untuk melihat kadar hormon, seperti serotonin, insulin, dan lain-lain.
-
Biomarker atau penanda spesifik tumor. Tumor dapat menghasilkan suatu produk khas yang disebut sebagai biomarker. Beberapa biomarker pada NET adalah chromogranin A (CgA), pancreatic polypeptide (PP), 5HIAA: 5-Hydroxyindoleacetic acid, Neuron-specific enolase (NSW), dan neurokinin A (NKA).
Pengobatan Tumor Neuroendokrin
Pengobatan yang paling umum dilakukan untuk menangani tumor neuroendokrin adalah operasi atau pembedahan mengangkat tumor. Jika memungkinkan, dokter bedah akan berupaya mengangkat seluruh tumor dan beberapa jaringan sehat di sekitarnya.
Namun, ketika tumor sudah membesar dan menyebar ke organ tubuh lainnya, dokter akan merekomendasikan pasien menjalani sejumlah prosedur lain, seperti:
-
Kemoterapi: Pemberian obat-obatan khusus untuk membunuh sel kanker dengan mencegah sel kanker tumbuh, membelah, dan membuat lebih banyak sel. Prosedur ini dapat berupa obat yang diminum (oral) atau pemberian injeksi melalui pembuluh darah di lengan.
-
Terapi target: Pemberian obat-obatan yang menargetkan gen atau protein tertentu untuk membunuh sel kanker.
-
PRRT (peptide receptor radionuclide therapy): Terapi ini menggabungkan obat yang menargetkan sel kanker dengan zat radioaktif dalam jumlah kecil.
-
Analog somatostatin: Somatostatin adalah hormon dalam tubuh yang mengontrol pelepasan beberapa hormon lain, seperti insulin dan glukagon. Analog somatostatin adalah obat yang mirip dengan somatostatin dan digunakan untuk mengontrol gejala yang ditimbulkan oleh zat mirip hormon yang dilepaskan oleh NET. Obat ini juga dapat memperlambat pertumbuhan NET, meskipun secara umum tidak mengecilkan tumor.
-
Terapi radiasi: Terapi ini bertujuan membunuh sel kanker menggunakan sinar energi yang kuat, seperti sinar-X dan proton. Terapi ini biasanya direkomendasikan ketika pasien tidak memungkinkan melakukan operasi.
-
Immunotherapy: Imunoterapi menggunakan pertahanan alami tubuh untuk melawan kanker dengan meningkatkan kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk menyerang sel kanker. Interferon alfa-2b (Intron A) adalah jenis imunoterapi yang untuk mengobati NET. Interferon dapat membantu sistem kekebalan tubuh bekerja lebih baik dan dapat mengurangi gejala diare dan kemerahan, serta dapat mengecilkan tumor.
Apabila ingin mendapatkan perawatan komprehensif untuk kanker, Anda dapat mengunjungi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi. MRCCC Siloam Hospitals menyediakan berbagai layanan kesehatan untuk penanganan kanker, mulai dari deteksi dini, onkologi, kemoterapi, radioterapi, dan berbagai prosedur lain beserta tim dokter yang berpengalaman.
Apabila memerlukan perawatan dari rumah, Anda dapat memesan layanan Homecare - Coordinated Care dari Siloam Hospitals melalui aplikasi MySiloam. Layanan ini memungkinkan Anda untuk mendapatkan pendampingan perawat secara langsung di rumah (menginap atau pulang pergi), serta pemantauan berkala oleh dokter umum dan dokter spesialis jika diperlukan. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!




