Kesehatan Tubuh
Wellens’ Syndrome - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Sindrom Wellens atau Wellens’ syndrome adalah kondisi yang ditandai pola abnormal pada hasil pemeriksaan EKG (elektrokardiogram). Kondisi ini bisa menjadi tanda dari gangguan jantung, termasuk serangan jantung (infark miokard) yang perlu diwaspadai. Mari simak informasi selengkapnya mengenai penyebab, gejala, hingga pengobatan Wellens’ syndrome dalam pembahasan berikut ini.
Apa itu Wellens’ Syndrome?
Wellens’ syndrome adalah perubahan tidak normal pada pola aktivitas listrik jantung yang terdeteksi melalui pemeriksaan elektrokardiogram (EKG).
Secara umum, Wellens’ syndrome dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
-
Wellens’ syndrome tipe A: Ditandai dengan gelombang T biphasic atau tidak stabil pada V2–V3 (dan mungkin bisa meluas ke V1, V4, V5, serta V6) dari hasil pemeriksaan EKG.
-
Wellens’ syndrome tipe B: Ditandai dengan gelombang T yang terbalik secara simetris pada V2–V3.
Sindrom Wellens adalah kondisi prainfark pada penyakit arteri koroner. Oleh karena itu, faktor risiko sindrom Wellens serupa dengan faktor risiko penyakit arteri koroner, termasuk dislipidemia, hipertensi, diabetes, sedentari atau gaya hidup yang tidak banyak bergerak, obesitas, riwayat keluarga dengan penyakit jantung, dan kekbiasaan merokok.
Pola EKG sindrom Wellens relatif umum ditemukan pada pasien yang menunjukkan gejala yang sesuai dengan angina tidak stabil. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dr. Wellens dan rekan-rekannya, pola EKG muncul pada 14–18% pasien yang dirawat karena angina tidak stabil (unstable angina pectoris).
Penyebab Wellens’ Syndrome
Sindrom Wellens umumnya terjadi akibat adanya penyumbatan pada arteri koroner left anterior descending (LAD), yaitu salah satu arteri yang berfungsi mengalirkan darah ke sisi anterior atau bagian depan jantung. Hal ini kerap terjadi karena terdapat plak yang pecah dan menyumbat LAD, kemudian diikuti dengan terbentuknya gumpalan darah.
Tidak diketahui secara pasti apa penyebab terjadinya perubahan pola EKG pada sindrom ini. Namun, para ahli meyakini bahwa spasme atau kejang pada otot-otot di arteri koroner dan miokardium menjadi faktor pemicunya. Di samping itu, beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami Wellens’ syndrome adalah sebagai berikut:
-
Faktor usia. Risiko terjadinya Wellens’ syndrome dapat meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
-
Riwayat diabetes.
-
Memiliki keluarga dengan riwayat penyakit jantung.
-
Kolesterol tinggi (hiperlipidemia).
-
Menerapkan pola hidup tidak sehat, seperti merokok, mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, dan lain sebagainya.
Gejala Wellens’ Syndrome
Pasien dengan sindrom Wellens umumnya menunjukkan gejala nyeri dada (angina pectoris) yang serupa dengan sindrom koroner akut (acute coronary syndrome). Angina dapat menimbulkan gejala yang berbeda-beda, namun gejala umumnya meliputi:
-
Nyeri dada seperti sesak, berat, dan tertekan.
-
Nyeri yang biasanya disebabkan atau diperberat oleh aktivitas dan dapat menghilang saat beristirahat.
-
Rasa nyeri yang menjalar ke leher, rahang, atau bahu.
-
Dapat disertai keluhan lain, seperti keringat berlebih, mual, muntah, dan lelah.
Diagnosis Wellens’ Syndrome
Pada dasarnya, dokter dapat mencurigai terjadinya Wellens’ syndrome setelah melihat hasil pemeriksaan EKG yang sudah dijalani oleh pasien. Kemudian, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait dengan keluhan serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasari terjadinya sindrom ini.
Pemeriksaan fisik, seperti pemeriksaan dada menggunakan stetoskop juga dapat dilakukan untuk mengevaluasi kondisi pasien secara keseluruhan. Dokter juga dapat melakukan beberapa pemeriksaan penunjang sebagai tes tambahan pada pasien yang diduga menderita penyakit arteri koroner (CAD), sindrom koroner akut (ACS), dan sindrom Wellens:
-
Hitung darah lengkap (complete blood count/CBC), untuk memastikan bahwa anemia tidak memicu angina, transfusi sel darah merah (red blood cell/RBC) mungkin diperlukan.
-
Profil metabolisme dasar, seperti kadar elektrolit, nitrogen urea darah (BUN), kreatinin, dan glukosa.
-
Biomarker jantung. Pada sindrom Wellens, biomarker jantung dapat memberikan kesan yang salah, karena biasanya hasil pemeriksaan menunjukkan kadar normal atau hanya sedikit meningkat. Hanya sekitar 12% pasien dengan sindrom ini mengalami peningkatan kadar biomarker jantung.
Adapun pemeriksaan pencitraan dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis sindrom Wellens dan menyingkirkan diagnosis lainnya adalah:
-
Radiografi dada harus dilakukan untuk mencari efek samping iskemia, seperti edema paru. Selain itu, tes ini harus dilakukan untuk membantu menyingkirkan kemungkinan penyebab nyeri dada lainnya, seperti aneurisma aorta, pneumonia, dan keluhan muskuloskeletal (tulang atau otot).
-
Computed tomography (CT scan) dada dilakukan hanya sesuai indikasi untuk membantu menyingkirkan penyebab nyeri dada lainnya, seperti diseksi aorta atau emboli paru. Nilai CT angiografi dada dalam evaluasi nyeri dada, CAD, dan ACS saat ini sedang diselidiki.
Karena Wellens’ syndrome berkaitan dengan penyempitan pada arteri LAD, treadmill test perlu dihindari dalam prosedur penegakan diagnosis sindrom ini. Pasalnya, pemeriksaan tersebut dikhawatirkan dapat memicu terjadinya serangan jantung mendadak.
Pengobatan Wellens’ Syndrome
Penemu sindrom Wellens, Hein J.J Wellens, bersama rekannya, Drs. De Zwann, mendapati bahwa 75% kasus Wellens’ syndrome di tahun 1980-an berkembang menjadi infark miokard akut dalam beberapa minggu pascapemeriksaan, terutama jika hanya mendapatkan penatalaksanaan medis sederhana.
Selain itu, kondisi ini juga berisiko tinggi memicu terjadinya serangan jantung STEMI anterior karena kerap terjadi akibat penyempitan atau stenosis pada arteri left anterior descending (LAD) yang berperan penting dalam sirkulasi darah di jantung.
Oleh karenanya, sangat penting untuk segera menindaklanjuti Wellens’ syndrome dengan tepat, utamanya melalui penanganan definitif, guna menghindari risiko terjadinya masalah jantung yang lebih serius. Adapun beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menangani Wellens’ syndrome adalah sebagai berikut:
-
Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti:
-
Antiplatelet, misalnya aspirin.
-
Antikoagulan, misalnya heparin.
-
Beta-blocker, misalnya acebutolol atau atenolol. Obat ini dapat digunakan jika pasien tidak menderita hipotensi.
-
Percutaneous coronary intervention, yaitu prosedur medis yang dilakukan dengan memasukkan tabung kecil (stent) ke dalam pembuluh darah untuk melebarkan pembuluh darah yang menyempit.
Perlu diketahui bahwa tanda dan gejala yang dijelaskan di atas tidak dapat digunakan untuk memastikan seseorang benar-benar menderita Wellens’ syndrome. Pasalnya, hal tersebut juga bisa terjadi pada kondisi medis lainnya. Selain itu, informasi yang disebutkan juga hanya untuk tujuan edukasi sehingga tidak bisa menggantikan diagnosis dan saran medis dari dokter.
Jika Anda atau kerabat mengalami gejala tidak biasa yang berkaitan dengan kondisi jantung, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Siloam Hospitals terdekat guna memperoleh diagnosis yang akurat dan penanganan yang tepat.
Sebagai informasi, setiap tahapan prosedur pemeriksaan dan pengobatan yang dilakukan di masing-masing rumah sakit mungkin akan berbeda, sesuai dengan fasilitas kesehatan yang tersedia. Namun, tenaga medis profesional akan merencanakan seluruh prosedur medis tersebut sesuai dengan kondisi pasien.
Apabila direkomendasikan oleh dokter, Anda juga dapat memesan Paket Skrining Jantung dari Siloam Hospitals sebagai upaya deteksi dini berbagai gangguan jantung. Pemesanan paket tersebut dapat dilakukan dengan mudah melalui fitur dalam aplikasi MySiloam.
Sumber
National Library of Medicine. Wellens Syndrome. Diakses pada 2024 | Powerful Medical. Wellens’ Syndrome: Are You Prepared to Prevent Acute Coronary Occlusions?. Diakses pada 2024 | Medscape. Wellens Syndrome Clinical Presentation. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP
Kardiologi (Jantung)
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP
Kardiologi (Jantung)
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K), FIHA, FESC
Kardiologi (Jantung)
Subspesialis Kardiologi Intervensi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Skrining Premium Gagal Jantung
Skrining Jantung
13 Service/Item
Rp6.000.000
TERPOPULER
Paket Spesial Skrining Jantung
Skrining Jantung
6 Service/Item
Rp1.200.000
TERPOPULER
Jantung Kuat
Skrining Jantung
2 Service/Item
Rp499.000
TERPOPULER
Jantung Sehat
Skrining Jantung
6 Service/Item
Rp999.000
TERPOPULER
Jantung Prima
Skrining Jantung
7 Service/Item
Rp1.399.000






