Daftar Imunisasi Tambahan untuk Anak yang Direkomendasikan
Ibu dan Anak

Daftar Imunisasi Tambahan untuk Anak yang Direkomendasikan

20 Agustus 2025 6 menit waktu baca
imunisasi tambahan untuk anak

Imunisasi adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk melindungi tubuh dari berbagai penyakit. Imunisasi dapat diberikan untuk berbagai kalangan, termasuk anak-anak. Selain imunisasi wajib, anak-anak juga disarankan untuk mendapatkan imunisasi tambahan agar mendapatkan perlindungan ekstra. Mari ketahui apa saja jenis imunisasi tambahan untuk anak selengkapnya dalam artikel berikut ini.

 

Daftar Imunisasi Tambahan untuk Anak

 

Karena sistem kekebalan tubuhnya masih belum terbentuk dengan sempurna, anak-anak cenderung lebih rentan terserang penyakit. Maka dari itu, anak-anak direkomendasikan untuk memperoleh imunisasi dasar lengkap guna meminimalkan risiko terjadinya berbagai jenis gangguan kesehatan.

 

Dalam hal ini, terdapat dua jenis imunisasi anak yang bisa didapatkan, yaitu imunisasi wajib dan tambahan. Imunisasi wajib terdiri dari vaksin hepatitis B, polio, BCG, campak rubella (MR), DPT-HB-HiB, HPV, pneumokokus (PCV), dan rotavirus. Sementara itu, beberapa jenis imunisasi tambahan untuk anak adalah sebagai berikut: 

 

1. MMR

 

Vaksin MMR (measles, mumps, and rubella) adalah jenis imunisasi tambahan untuk anak yang dapat diberikan setelah si kecil memperoleh vaksin wajib MR (measles and rubella) pada usia 9 bulan secara subkutan. Setelah itu, anak akan mendapatkan dosis kedua umur 15–18 bulan, dosis ketiga umur 5–7 tahun. Pemberian vaksin MMR bertujuan untuk melindungi anak dari campak, penyakit gondongan, serta campak Jerman. 

 

2. Hepatitis A

 

Jenis imunisasi tambahan untuk anak berikutnya adalah vaksinasi hepatitis A. Sesuai dengan namanya, imunisasi ini dapat melindungi tubuh dari infeksi virus hepatitis A yang mengganggu fungsi hati. Vaksin hepatitis A untuk anak dapat diberikan mulai usia ≥ 12 bulan sebanyak dua dosis dengan interval 6–18 bulan yang disuntikkan secara intramuskular.

 

3. Varisela

 

Salah satu imunisasi tambahan untuk anak yang direkomendasikan adalah vaksinasi varisela. Imunisasi ini dapat melindungi tubuh anak dari penyakit cacar air. Pada dasarnya, cacar air bukan penyakit yang bisa mengancam jiwa, namun penularannya dapat terjadi dengan mudah dan cepat. Karena itulah, anak-anak direkomendasikan untuk memperoleh vaksin varisela.

 

Vaksin ini dapat diberikan mulai dari usia 12–18 bulan sebanyak 2 dosis. Pada usia 1–12 tahun diberikan vaksin varisela sebanyak dua dosis dengan interval 6 minggu sampai 3 bulan. Selanjutnya, di usia 13 tahun ke atas, vaksinasi ini dilakukan sebanyak 2 dosis dengan interval 4–6 minggu.

 

4. Tifoid

 

Vaksin tifoid adalah jenis vaksin yang dapat memberikan perlindungan pada anak terhadap penyakit demam tifoid, yaitu kondisi medis yang terjadi akibat infeksi bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini dapat menimbulkan gejala berupa demam, mual dan muntah, penurunan nafsu makan, gangguan buang air besar, dan lain sebagainya. Secara umum, vaksin tifoid polisakarida yang disuntikkan secara intramuskular dapat diberikan mulai dari usia 2 tahun. Kemudian, pemberian vaksin ini dapat diulang setiap 3 tahun sekali.

 

5. Japanese Encephalitis (JE)

 

Japanese encephalitis (JE) adalah salah satu jenis radang otak yang terjadi akibat infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Culex yang banyak terdapat di area irigasi dan persawahan. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala berupa demam tinggi, sakit kepala, gangguan bicara, muntah, hingga penurunan kesadaran.

 

Japanese encephalitis tergolong sebagai penyakit endemik. Artinya, kondisi ini cenderung terjadi secara konsisten di wilayah tertentu. Maka dari itu, anak yang tinggal di wilayah endemis JE disarankan untuk memperoleh imunisasi japanese encephalitis. Di Indonesia sendiri kasusnya sudah pernah ditemukan di provinsi Bali, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah.

 

Imunisasi JE disuntikkan secara subkutan. Untuk anak yang tinggal di daerah endemis atau yang akan bepergian ke daerah endemis selama 1 bulan atau lebih, dosis pertama diberikan mulai usia 9 bulan, dosis penguat atau booster (untuk yang tinggal di daerah endemis) diberikan 1–2 tahun kemudian untuk perlindungan jangka panjang. 

 

6. Influenza

 

Jenis imunisasi tambahan untuk anak berikutnya adalah vaksin influenza. Imunisasi ini direkomendasikan untuk dilakukan setiap satu tahun sekali ketika anak sudah berusia di atas 6 bulan. Secara umum, vaksin ini dapat memberikan perlindungan terhadap serangan virus influenza yang kerap menyerang saluran pernapasan atas.

 

Vaksin influenza disuntikan intramuskular mulai usia 6 bulan. Untuk suntikan pertama pada usia 6 bulan–8 tahun, berikan 2 dosis vaksin yang berisi antigen yang sama dengan interval 4 minggu. Sedangkan pemberian vaksin influenza untuk anak usia 9 tahun ke atas cukup sebanyak satu kali. Selanjutnya pengulangan setiap tahun satu kali pada bulan yang sama menggunakan vaksin yang tersedia, tanpa memperhatikan jenis vaksin.

 

7. Pneumokokus (PCV) Tambahan

 

Jenis imunisasi tambahan untuk anak selanjutnya adalah pneumokokus (PCV). Vaksin ini dapat melindungi tubuh dari infeksi bakteri pneumokokus yang bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, di antaranya adalah meningitis, pneumonia, radang telinga, serta bakteremia.

 

Dalam program imunisasi nasional, pemberian imunisasi pneumokokus untuk anak dilakukan dengan jadwal seperti berikut ini:

 

  • Dosis pertama: Usia 2 bulan.

  • Dosis kedua: Usia 4 bulan.

  • Dosis ketiga: Usia 6 bulan.

  • Dosis keempat (booster): Usia 12–15 bulan.

 

Program imunisasi nasional PCV adalah pemberian pada usia 2, 3 dan 12 bulan. Namun, jika anak belum mendapatkan vaksin pada usia 7–12 bulan, vaksin PCV dapat diberikan sebanyak 2 kali dengan jarak minimal 1 bulan dan booster pada usia 12–15 bulan dengan jarak 2 bulan dari dosis sebelumnya. 

 

Jika PCV belum diberikan pada usia 1–2 tahun, berikan PCV 2 kali dengan jarak minimal 2 bulan. Jika belum diberikan pada usia 2–5 tahun, PCV10 diberikan 2 kali dengan jarak 2 bulan, PCV13 diberikan 1 kali. Untuk anak berusia di atas 5 tahun yang berisiko tinggi mengalami infeksi pneumokokus dan belum pernah mendapat vaksin PCV, sangat direkomendasikan mendapat 1 dosis PCV13. 

 

8. DPT Tambahan

 

Imunisasi DPT adalah jenis vaksinasi yang digunakan untuk meminimalkan risiko terjadinya difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan). Vaksinasi DPT merupakan imunisasi yang diberikan sebanyak 5 dosis (3 dosis primer dan 2 dosis booster) sampai anak berusia 7 tahun.

 

Namun, guna mendapatkan perlindungan ekstra, anak kembali memperoleh vaksin booster Td atau Tdap saat berusia 10–12 tahun. Kemudian, vaksin tersebut juga dapat diulangi setiap 10 tahun sekali.

 

9. HiB Tambahan

 

Imunisasi HiB adalah jenis vaksinasi yang dapat meminimalkan risiko infeksi virus Haemophilus influenzae. Secara umum, virus Haemophilus influenzae bisa menyebabkan terjadinya berbagai gangguan kesehatan, mulai dari infeksi pada pita suara, infeksi paru, hingga meningitis.

 

Pada dasarnya, vaksin HiB untuk bayi bisa diperoleh melalui jadwal imunisasi wajib sebanyak 3 dosis ketika anak berusia 2, 4, 6 bulan atau 2, 3, 4 bulan. Kemudian, vaksin HiB juga dapat diberikan sebagai imunisasi tambahan (booster) pada usia 18 bulan.

 

10. Hepatitis B Tambahan

 

Serupa dengan DPT dan HiB, imunisasi hepatitis B utamanya juga diberikan sebagai imunisasi wajib ketika anak berusia di bawah 6 bulan. Namun, ketika sudah memasuki masa remaja dan beranjak dewasa, ia bisa mendapatkan vaksin hepatitis B tambahan (booster), terutama jika cenderung berisiko tinggi (misalnya, bekerja sebagai tenaga medis).

 

Perlu diketahui bahwa informasi yang disebutkan di atas tidak dapat menggantikan saran atau diagnosis dari tenaga medis profesional. Oleh karenanya, jika si kecil baru mau menjalani imunisasi tambahan namun Anda membutuhkan informasi yang lebih detail, disarankan untuk segera mengunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Pediatri (Anak).


Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

Aplikasi My Siloam (1)

Dokter Kami
dr-liem-eremius-arifin-spa

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Liem Eremius Arifin, SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ifo-faujiah-sihite-mked-ped-spa

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Jambi

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-anggun-kusumasari-spa-msc

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Balikpapan

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail