Depresi saat Hamil, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Kesehatan Mental

Depresi saat Hamil, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

21 Oktober 2025 5 menit waktu baca
depresi saat hamil

Depresi adalah gangguan mental yang ditandai dengan perasaan sedih mendalam serta kehilangan minat terhadap hal-hal yang awalnya disukai. Kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja, bahkan pada ibu hamil sekalipun. Lantas, apa penyebab depresi saat hamil dan bagaimana cara mengatasinya?

 

Mari simak lebih lanjut mengenai penyebab depresi saat hamil, gejala, hingga cara mengatasinya melalui ulasan di bawah ini.

 

Mengenal Depresi saat Hamil

 

Kehamilan merupakan kondisi yang dapat menyebabkan perubahan besar bagi ibu, baik secara fisik maupun mental. Bahkan, tak jarang ibu hamil juga mengalami depresi akibat perubahan besar tersebut.

 

Secara umum, depresi selama kehamilan atau dikenal dengan istilah depresi perinatal adalah kondisi perubahan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih dan putus asa pada ibu hamil, biasanya berlangsung selama lebih dari dua minggu. Bila tidak segera ditangani dengan cepat dan tepat, depresi pada ibu hamil bisa berdampak pada perkembangan janin di dalam rahim.

 

Penyebab Depresi pada Ibu Hamil

 

Belum diketahui secara pasti apa kondisi yang menyebabkan depresi saat hamil. Kendati demikian, para ahli menduga bahwa kondisi ini terkait dengan perubahan hormon, faktor genetik, dan perubahan bentuk fisik.

 

Pada dasarnya, hormon merupakan senyawa kimia pada otak yang memiliki peran penting dalam mengatur suasana hati. Pada ibu hamil, terdapat peningkatan kadar hormon, terutama hormon estrogen yang dapat menyebabkan emosi cenderung tidak stabil dan sulit dikendalikan.

 

Selain itu, sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi saat hamil adalah sebagai berikut.

 

  • Mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

  • Memiliki masalah finansial.

  • Pernah menjalani perawatan karena gangguan kesuburan (infertilitas).

  • Memiliki trauma tertentu, seperti pernah mengalami keguguran atau riwayat pelecehan seksual.

  • Hamil di usia muda, yaitu saat berusia di bawah 20 tahun.

  • Memiliki riwayat komplikasi kehamilan.

 

Gejala Depresi pada Ibu Hamil

 

Depresi saat hamil mungkin akan sulit dideteksi karena gejalanya serupa dengan gejala kehamilan pada umumnya, seperti perubahan suasana hati secara drastis (mood swing), merasa tidak bertenaga, terdapat perubahan nafsu makan, dan perubahan pola tidur.

 

Namun, dokter dapat mencurigai adanya depresi pada ibu hamil apabila perubahan mood tersebut sudah terjadi selama lebih dari dua minggu dan disertai dengan beberapa gejala berikut ini.

 

  • Emosi yang cepat berubah-ubah, seperti sering marah dan gelisah.

  • Rasa cemas berlebih.

  • Rasa sedih dan putus asa.

  • Kehilangan minat untuk melakukan aktivitas yang sebelumnya disukai.

  • Penurunan berat badan secara drastis.

  • Sulit untuk memusatkan fokus dan konsentrasi.

  • Merasa bahwa dirinya tidak mampu merawat janin dalam kandungan.

  • Mengalami panic attack yang berulang.

  • Mengabaikan kesehatan diri sendiri dan janin.

  • Mempunyai keinginan untuk menyakiti diri sendiri (self harm) hingga  bunuh diri.

 

Dampak Depresi pada Ibu Hamil

 

Depresi adalah kondisi yang bisa memicu ibu hamil untuk melakukan hal-hal yang tidak sehat, seperti merokok, mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, makan tidak teratur, atau tidak melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.

 

Jika tidak segera ditangani dengan tepat, berbagai aktivitas yang tidak sehat tersebut dapat berisiko menimbulkan sejumlah komplikasi, seperti:

 

  • Berat badan lahir rendah (BBLR).

  • Kelahiran prematur.

  • Gangguan perkembangan dan pertumbuhan pada anak, baik saat masih berada dalam kandungan maupun saat sudah dilahirkan.

  • Kesulitan dalam membangun ikatan batin dengan janin selama kehamilan.

  • Keguguran, terutama jika depresi terjadi pada trimester pertama kehamilan.

  • Meningkatkan risiko komplikasi selama persalinan, contohnya seperti persalinan macet atau partus macet (distosia).

  • Depresi pascapersalinan (postpartum depression).

  • Bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengalami depresi saat hamill, cenderung memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena depresi di kemudian hari.

 

Cara Mengatasi Depresi pada Ibu Hamil

 

Untuk menghindari risiko komplikasi di atas, penting untuk segera mengatasi depresi saat hamil dengan tepat. Adapun sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi depresi pada ibu hamil adalah sebagai berikut:

 

1. Melakukan Konseling dengan Psikolog atau Psikiater

 

Depresi saat hamil adalah kondisi yang perlu ditangani dengan segera oleh tenaga medis profesional. Karena itu, ada baiknya untuk segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater jika mencurigai adanya gejala depresi saat hamil. Psikolog atau psikiater nantinya akan mengarahkan ibu hamil untuk melakukan psikoterapi guna membantu meredakan gejala depresi.

 

2. Rutin Berolahraga

 

Cara mengatasi depresi saat hamil yang selanjutnya adalah dengan melakukan olahraga ringan secara rutin. Pasalnya, rutin berolahraga dapat meningkatkan produksi hormon endorfin yang dapat memperbaiki suasana hati sekaligus menurunkan hormon stres (hormon kortisol).

 

Sebelum memulai olahraga, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu guna mengetahui jenis olahraga yang tepat dan sesuai dengan kondisi ibu hamil.

 

3. Menerapkan Sleep Hygiene

 

Cara mengatasi depresi saat hamil berikutnya adalah dengan menerapkan sleep hygiene, yaitu praktik untuk membangun kebiasaan tidur yang sehat. Cara ini dapat dilakukan dengan tidur dan bangun di waktu yang sama setiap harinya guna membantu meningkatkan kualitas tidur. Selain itu, pastikan juga untuk mencukupi waktu tidur minimal 7–9 jam setiap malamnya.

 

4. Mengonsumsi Makanan Sehat dengan Gizi Seimbang

 

Sebaiknya, hindari konsumsi makanan yang mengandung tinggi kafein dan gula secara berlebihan guna mengatasi serta mencegah risiko depresi saat hamil. Alih-alih memilih makanan tidak sehat, ibu hamil lebih dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang, seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan lain sebagainya.

 

Selain itu, ibu hamil juga dapat mengonsumsi makanan yang mengandung asam lemak omega-3, seperti ikan yang mengandung lemak baik (ikan kembung, sarden, tenggiri, cakalang, atau tuna), alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun guna membantu meningkatkan suasana hati. Namun, pastikan untuk memilih jenis ikan yang mengandung rendah merkuri.

 

5. Melakukan Meditasi

 

Untuk membantu meredakan stres yang dapat memicu terjadinya depresi saat hamil, ibu dianjurkan untuk melakukan teknik relaksasi, seperti bermeditasi secara rutin. Selain dapat menenangkan suasana hati, meditasi juga bisa membantu meningkatkan kualitas tidur pada ibu hamil.

 

6. Berbagi Cerita dengan Pasangan atau Orang Terdekat

 

Untuk membantu mengatasi depresi saat hamil, cobalah untuk menjadi lebih terbuka dan berbagi cerita dengan pasangan, keluarga, atau orang terdekat. Selain itu, cara ini juga bisa membantu ibu untuk mendapatkan dukungan yang berdampak positif terhadap kesehatan mental saat hamil.

 

Jika memiliki keluhan terkait dengan gangguan suasana hati, jangan ragu untuk melakukan konseling dengan psikolog atau psikiater menggunakan layanan Telekonsultasi. Layanan ini dapat memudahkan pasien untuk mendapatkan saran perawatan serta konsultasi langsung dengan dokter dari mana pun dan kapan pun.

 

Layanan telekonsultasi juga memungkinkan pasien untuk mendapatkan resep obat-obatan dari dokter sesuai kondisi kesehatannya. Pasien pun bisa memperoleh obat tersebut tanpa keluar rumah, namun untuk beberapa jenis obat, seperti antipsikotik dan antidepresan, pasien wajib mengambil secara langsung atau self pick up. 

 

Selain itu, manfaatkan juga aplikasi MySiloam yang dilengkapi dengan fitur pemesanan paket kesehatan serta pembuatan janji temu dengan dokter Siloam Hospitals terdekat. Mari unduh aplikasinya dan jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan fisik serta mental Anda #BersamaSiloam!

 

telechat

message

ArticleDetail