Mengenal Gejala Diare pada Anak dan Cara Mengatasinya
Ibu dan Anak

Mengenal Gejala Diare pada Anak dan Cara Mengatasinya

21 Agustus 2025 5 menit waktu baca
diare pada anak & derajat keparahannya

 

Diare pada anak adalah kondisi ketika frekuensi buang air besar (BAB) anak meningkat hingga tiga kali sehari atau lebih, disertai dengan tekstur feses yang cair atau encer. Kondisi ini cukup umum dialami anak-anak. Diare pada anak dapat disertai gejala lain, seperti demam, muntah, atau lemas. Mari kenali lebih lanjut tentang gejala diare pada anak dan bagaimana cara mengatasinya dalam artikel berikut ini.

 

Penyebab Diare pada Anak

 

Diare pada anak umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri yang menyerang saluran pencernaan. Infeksi ini sering menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dan biasanya berlangsung selama beberapa hari sebelum sembuh. Anak-anak lebih rentan terkena infeksi ini jika memiliki daya tahan tubuh yang rendah, misalnya akibat kurangnya asupan ASI eksklusif hingga usia enam bulan.  

 

Selain infeksi, diare juga dapat dipicu oleh faktor lain seperti keracunan makanan, alergi, gangguan penyerapan nutrisi, efek samping obat-obatan, serta faktor perilaku dan lingkungan, seperti sanitasi yang buruk.

 

Gejala Diare pada Anak

 

Selain meningkatnya frekuensi BAB, beberapa gejala lain yang biasanya menyertai diare pada anak adalah sebagai berikut:

 

  • Perut kembung.

  • Mual dan muntah.

  • Demam.

  • Nafsu makan menurun.

  • Tubuh lemas dan tidak aktif seperti biasanya.

  • Nyeri perut dan kram.

 

Kemudian, ketika mengalami diare, tubuh si kecil akan kehilangan cairan dan elektrolit lebih cepat dikarenakan saluran cerna kesulitan menyerap air dan meningkatnya cairan yang keluar bersama feses. Itulah sebabnya, diare yang tidak segera diatasi dapat memicu kondisi dehidrasi. Pada kondisi tersebut, hal terpenting adalah memberikan cairan rehidrasi untuk mengembalikan cairan yang hilang.

 

Perlu diketahui, anak-anak lebih rentan terkena dehidrasi saat diare dibandingkan dengan orang dewasa. Adapun beberapa gejala dehidrasi pada anak saat diare adalah sebagai berikut:

 

  • Kehausan atau enggan minum sama sekali.

  • Tubuh terasa dingin saat disentuh.

  • Mudah mengantuk dan lemas.

  • Bibir kering.

  • Mata cekung.

  • Jumlah urine sedikit.

  • Warna urine menjadi lebih pekat atau kecokelatan.

  • Tidak keluar air mata saat menangis atau hanya keluar sedikit.

 

Derajat Dehidrasi Diare pada Anak

 

Berdasarkan derajat keparahannya, dehidrasi pada diare dibedakan menjadi tiga jenis. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

1. Tanpa Dehidrasi

 

Anak yang mengalami diare tanpa dehidrasi cenderung tetap aktif beraktivitas secara normal, mampu minum seperti biasanya, mata tidak tampak cekung, dan frekuensi buang air kecilnya normal.

Meski begitu, kebutuhan cairan tubuh anak tetap perlu diperhatikan. Berikan ASI, makanan, atau susu formula yang biasa dikonsumsi anak serta cairan oralit 5–10 mililiter setiap kali diare kambuh. Pada kondisi tanpa dehidrasi ini, anak hanya akan kehilangan cairan <5% dari berat badan.

 

2. Dehidrasi Ringan-Sedang

 

Jika diare disertai dengan dehidrasi ringan-sedang, anak akan terlihat kehausan dan frekuensi buang air kecil pada anak juga berkurang. Selain itu, anak juga bisa mengalami gejala lain, seperti kekenyalan kulit (turgor) menurun, mata cekung, dan bibir kering.

 

Apabila hal ini terjadi, sebaiknya orang tua segera membawa si kecil ke fasilitas kesehatan terdekat atau rumah sakit agar mendapatkan penanganan yang tepat dari dokter. Pada kondisi dehidrasi ringan-sedang ini, anak bisa kehilangan cairan 5–10% dari berat badan.

 

3. Dehidrasi Berat

 

Ketika sudah mengalami dehidrasi berat, anak akan merasakan gejala-gejala pada dehidrasi ringan-sedang disertai dengan menurunnya kesadaran, tubuh menjadi sangat lemas, serta denyut nadi dan laju pernapasan meningkat. Pada kondisi ini, anak perlu mendapatkan cairan infus di rumah sakit secepatnya karena anak bisa kehilangan cairan >10% dari berat badannya.

 

Cara Mengatasi Diare pada Anak

 

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi diare pada anak-anak secara mandiri di rumah, terutama untuk mencegah dehidrasi adalah sebagai berikut:

 

  • Memastikan kebutuhan cairan anak terpenuhi dengan memberikan cairan oralit dan ASI (terutama pada anak di bawah usia 6 bulan).

  • Memberikan suplemen zinc selama 10 hari berturut-turut. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki lapisan usus yang mengalami kerusakan akibat diare.

  • Hindari memberikan obat-obatan ke anak tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

  • Memberikan anak makanan yang mudah dicerna, seperti pisang, pasta, telur, kacang hijau, kentang, dan sebagainya.

 

Diare yang tergolong ringan, misalnya karena infeksi virus umumnya akan sembuh dengan sendirinya setidaknya dalam waktu tiga hari. Sementara itu, diare yang disebabkan oleh infeksi parasit atau bakteri biasanya membutuhkan pengobatan medis, misalnya obat-obatan antibiotik dan antiparasit.

 

Cara Mencegah Diare pada Anak

 

Kasus diare yang menyerang anak-anak di Indonesia masih cukup tinggi. Jadi, sebagai langkah atau upaya pencegahan diare pada anak, berikut adalah beberapa pencegahan yang bisa dilakukan:

 

  • Mengajarkan anak agar terbiasa mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun. Kebiasaan cuci tangan ini sebaiknya perlu rutin dilakukan sebelum dan sesudah makan, setelah memegang benda kotor, dan setelah buang air kecil atau air besar.

  • Pemberian vaksin rotavirus untuk anak sebanyak 3 dosis pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

  • Memastikan makanan dan cairan yang dikonsumsi anak sudah matang dan terjaga kebersihannya.

  • Mencukupi kebutuhan ASI eksklusif pada anak, setidaknya hingga berusia dua tahun agar daya tahan tubuhnya kuat.

  • Memberikan makanan sehat dengan gizi seimbang serta bermanfaat bagi kesehatan sistem pencernaannya.

  • Menjaga kebersihan lingkungan rumah.

 

Anjuran Makan untuk Anak dengan Diare 

 

Pemberian makanan pada anak yang dianjurkan ketika anak sedang mengalami diare adalah sebagai berikut:

 

  • Apabila anak masih mengonsumsi ASI, berikan ASI lebih sering dan lebih lama pada pagi, siang, dan malam.

  • Apabila anak sudah mendapatkan susu selain ASI, ibu bisa mengurangi pemberian susu lain dan meningkatkan asupan ASI pada si kecil. Ibu dapat memberikan bubur nasi dan tempe sebagai pengganti susu formula.

 

Itulah penjelasan seputar diare pada anak yang penting untuk dipahami. Jika anak mengalami gejala diare dan tidak kunjung membaik selama lebih dari seminggu, segera berkonsultasi langsung dengan Dokter Spesialis Pediatrik (Anak) Konsultan Gastrohepatologi di Siloam Hospitals Kebon Jeruk atau di Siloam Hospitals terdekat dari kota Anda. 

 

Perlu diketahui, gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi diare pada anak. Artinya, penyebab atau gejala tersebut bisa serupa dengan kondisi medis atau penyakit lainnya. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien dan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing rumah sakit.

 

Untuk mengakses layanan kesehatan secara praktis, gunakan aplikasi MySiloam yang memudahkan Anda menemukan jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online.

 

telechat (1)

Dokter Kami
dr-himawan-aulia-rahman-spa-k

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Himawan Aulia Rahman, SpA (K)

Pediatrik (Anak)

Subspesialis Gastrohepatologi


Siloam Hospitals Kebon Jeruk

Tersedia :

-

dr-liem-eremius-arifin-spa

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Liem Eremius Arifin, SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ifo-faujiah-sihite-mked-ped-spa

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Jambi

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail