Kesehatan Tubuh
Mengenal Manfaat Diet Ketogenik untuk Epilepsi & Panduannya

Table of Contents
Diet ketogenik atau yang dikenal juga dengan diet keto adalah diet yang dilakukan dengan mengurangi asupan karbohidrat per hari, yaitu tidak lebih dari 50 gram. Sering kali, dokter merekomendasikan diet ketogenik untuk epilepsi guna meningkatkan efektivitas pengobatannya. Lantas, sebenarnya apa manfaat diet keto untuk pengobatan epilepsi? Bagaimana cara melakukannya? Dapatkan jawaban selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.
Manfaat Diet Ketogenik untuk Epilepsi
Epilepsi adalah suatu penyakit kronis di mana sistem saraf pusat mengalami gangguan akibat adanya pola aktivitas listrik yang berlebihan di otak. Kondisi ini dapat menyebabkan penderitanya mengalami kejang kambuhan yang muncul secara tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas.
Pada dasarnya, pengobatan utama untuk epilepsi adalah mengonsumsi obat antiepilepsi, seperti sodium valproate, carbamazepine, lamotrigine, dan lain sebagainya. Namun, pada beberapa kasus, penderita epilepsi tidak merespons obat-obatan tersebut. Bila hal ini terjadi, dokter biasanya akan merekomendasikan penderita menjalani terapi diet ketogenik.
Diet ketogenik sudah lama digunakan sebagai terapi epilepsi bagi pasien yang resisten terhadap obat-obatan atau tidak memungkinkan untuk menjalani operasi. Pasalnya, bila tidak dilakukan pengobatan, epilepsi dapat membahayakan nyawa.
Diet ketogenik sendiri merupakan diet rendah karbohidrat tapi tinggi lemak. Dengan menjalani diet keto, tubuh akan mendapatkan sumber energi utama dari karbohidrat yang diubah menjadi lemak sehingga memicu terjadinya ketosis.
Ketosis adalah kondisi ketika tubuh kekurangan karbohidrat sebagai sumber energi atau bahan bakar. Kurangnya asupan karbohidrat dapat menyebabkan tubuh memecah lemak menjadi energi yang kemudian menghasilkan zat keton.
Panduan Diet Ketogenik untuk Epilepsi
Diet ketogenik untuk epilepsi harus dilakukan sesuai panduan dan di bawah pengawasan dokter. Jumlah kalori makanan, asupan cairan, dan jumlah protein harus benar-benar diukur. Biasanya, penderita memulai diet di rumah sakit. Pada pasien epilepsi, diet dilakukan dengan aturan 70–80% lemak, 20% protein, serta 5–10% karbohidrat.
Pada kondisi normal, lemak yang dibutuhkan oleh tubuh adalah 25–40% dari kebutuhan kalori per hari. Namun, anak yang menderita epilepsi membutuhkan 80–90% lemak setiap harinya. Misalnya, jika mengonsumsi 1 gram karbohidrat dan protein, harus diikuti dengan 3–4 gram lemak.
Dikarenakan harus mengonsumsi makanan rendah karbohidrat, maka penderita tidak dianjurkan mengonsumsi nasi, pasta, roti, kentang, maupun jagung. Beberapa menu tinggi lemak yang diberikan adalah sosis, ikan, keju, daging, mentega, sayuran berserat, heavy whipping cream, minyak (kanola atau zaitun), dan lain-lain.
Diet ketogenik untuk epilepsi sering kali diterapkan pada anak-anak atau bayi. Namun, penerapannya harus berada di bawah pengawasan ahli gizi. Hal ini dapat membantu menentukan makanan yang aman dikonsumsi, terutama bila penderita memiliki alergi terhadap makanan tertentu.
Pertama-tama, dokter akan menginstruksikan pasien untuk puasa (kecuali air mineral) selama 18–24 jam. Diet kemudian dimulai dengan meningkatkan kalori dan rasio makanan secara bertahap. Selama 48 jam pertama, dokter akan memantau kadar gula darah pasien secara ketat. Pasalnya, memulai diet keto dapat meningkatkan risiko terjadinya hipoglikemia. Selama proses pengawasan, dokter atau ahli gizi juga akan menyiapkan kebutuhan suplemen pasien.
Apakah Diet Keto Efektif untuk Epilepsi?
Sebenarnya, belum diketahui secara pasti bagaimana mekanisme diet ketogenik untuk epilepsi. Akan tetapi, terdapat dugaan bahwa kejang dapat berkurang karena perubahan metabolisme dalam darah dan cairan serebrospinal selama menjalani diet. Dugaan lainnya adalah zat keton yang dihasilkan dari diet keto dapat membantu aktivitas listrik di otak kembali normal.
Namun, dalam jurnal berjudul Ketogenic Diet and Epilepsy: What We Know So Far, disebutkan bahwa 70% pasien epilepsi mendapatkan manfaat dari diet keto, salah satunya frekuensi kejang berkurang. Meski begitu, pasien epilepsi tetap disarankan untuk minum obat antiepilepsi. Setelah 1 bulan menjalankan program diet, akan dilakukan evaluasi kembali apakah dosis atau jenis obatnya dapat dikurangi.
Efek Samping Diet Ketogenik untuk Epilepsi
Penderita epilepsi yang baru menjalani diet ketogenik mungkin akan merasa lesu selama beberapa hari pertama. Hal ini bisa saja memburuk bila penderita sakit atau tidak fit di saat yang sama ketika diet dimulai. Meski sedang sakit, pasien tetap disarankan untuk mengonsumsi makanan tanpa karbohidrat. Beberapa efek samping lain yang dapat terjadi akibat diet ketogenik adalah:
-
Menurunnya kepadatan tulang sehingga rentan mengalami patah tulang (fraktur).
-
Mempunyai kadar kolesterol yang tinggi.
-
Flu keto (kelelahan, sakit kepala, pusing, dan sakit perut).
-
Penurunan berat badan.
-
Meningkatnya risiko batu ginjal.
-
Tumbuh kembang anak menjadi lebih lambat.
Namun, beberapa efek samping tersebut dapat diminimalkan bila penderita epilepsi menerapkannya dengan pengawasan ketat dari dokter dan ahli gizi. Untuk itu, bila Anda ingin tahu lebih banyak mengenai diet ketogenik untuk epilepsi, Anda bisa berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi (Dietetik) dengan mengunjungi Siloam Hospitals atau secara virtual melalui aplikasi MySiloam.
Anda juga bisa memesan paket Catering Sehat dari Siloam Hospitals. Paket makanan ini bisa disesuaikan dengan kondisi kesehatan Anda. Bahkan, paket ini sudah dilengkapi dengan sesi konsultasi gratis bersama ahli gizi kami.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals TB Simatupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
Dr. dr. Samuel Oetoro, MS, SpGK (K)
Gizi Klinik
Subspesialis Nutrisi pada Kelainan Metabolisme Gizi
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals TB Simatupang
Tersedia :
Tersedia hari ini








