Memahami Frekuensi Pernapasan Normal berdasarkan Usia
Kesehatan Tubuh

Memahami Frekuensi Pernapasan Normal berdasarkan Usia

05 Mei 2025 4 menit waktu baca
Memahami frekuensi pernapasan normal

Memiliki frekuensi pernapasan normal merupakan salah satu indikator yang menandakan kondisi kesehatan tubuh. Namun, frekuensi atau laju pernapasan pada setiap orang bisa berbeda-beda, tergantung dari usia seseorang. Dengan kata lain, frekuensi napas bayi, orang dewasa, dan lansia tidaklah sama.

 

Mari pahami lebih lanjut mengenai frekuensi pernapasan normal dan apa yang terjadi bila seseorang memiliki frekuensi pernapasan yang tidak normal melalui artikel di bawah ini.

 

Apa itu Frekuensi Napas?

 

Frekuensi napas diukur dengan menghitung jumlah napas yang dihirup dan diembuskan seseorang per menitnya dalam keadaan istirahat. Pernapasan atau respirasi merupakan proses yang melibatkan banyak organ, mulai dari otak, batang otak, otot pernapasan, saluran udara, paru-paru, dan pembuluh darah.

 

Jumlah napas yang diambil per menit merupakan tanda seberapa sering otak memerintahkan tubuh untuk bernapas. Apabila kadar oksigen dalam darah lebih rendah dan kadar karbon dioksidanya tinggi, misalnya karena infeksi, biasanya otak akan memerintahkan tubuh untuk lebih sering bernapas guna membersihkan karbon dioksida.

 

Adapun beberapa faktor yang memengaruhi frekuensi pernapasan adalah sebagai berikut:

 

  • Usia.

  • Jenis kelamin.

  • Suhu tubuh.

  • Posisi tubuh.

  • Penyakit tertentu.

  • Emosi.

  • Kadar karbon dioksida dalam darah.

 

Frekuensi Pernapasan Normal Berdasarkan Usia

 

Meski frekuensi pernapasan normal pada setiap orang bisa berbeda-beda, terdapat rentang frekuensi pernapasan yang sudah ditetapkan untuk masing-masing kelompok usia. Frekuensi pernapasan normal pada orang dewasa (usia 19–59 tahun) adalah 12–20 napas per menit.

 

Sementara itu, frekuensi pernapasan normal pada bayi baru lahir sampai usia 1 tahun adalah 30–60 napas per menit. Sedangkan, frekuensi pernapasan normal untuk anak-anak hingga remaja adalah sebagai berikut.

 

  • Usia 1–3 tahun : 24–40 napas per menit.

  • Usia 3–6 tahun : 22–34 napas per menit.

  • Usia 6–12 tahun : 18–30 napas per menit.

  • Usia 12–18 tahun : 12–16 napas per menit.

 

Di sisi lain, frekuensi pernapasan normal pada lansia (usia 60 tahun ke atas) cenderung lebih cepat daripada orang dewasa, yaitu 28 napas per menit. Seiring dengan bertambahnya usia, frekuensi pernapasan normal pasti akan berubah dan terus berkurang sampai usia dewasa, namun kembali meningkat saat memasuki usia lansia.

 

Frekuensi Pernapasan Normal saat Olahraga

 

Frekuensi pernapasan normal dapat diukur saat seseorang dalam keadaan istirahat. Pasalnya, frekuensi pernapasan pada orang yang sedang beraktivitas fisik, seperti saat sedang berolahraga, akan cenderung meningkat. Namun, hal ini bukan berarti menandakan penyakit tertentu.

 

Perlu diketahui bahwa saat tubuh sedang berolahraga, otot-otot tubuh harus bekerja lebih keras. Dan agar tubuh bisa bekerja lebih keras, diperlukan jumlah oksigen ekstra untuk menghasilkan lebih banyak energi.

 

Hal tersebut dapat menyebabkan frekuensi pernapasan menjadi meningkat, misal pada orang dewasa, yang sebelumnya 18 napas per menit menjadi 40–60 napas per menit. Hal ini memungkinkan lebih banyak oksigen untuk mencapai paru-paru. Jadi, peningkatan frekuensi pernapasan saat berolahraga merupakan hal yang normal.

 

Penyebab Frekuensi Pernapasan Tidak Normal

 

Frekuensi pernapasan yang berada di atas maupun di bawah rentang normal bisa menjadi tanda dari masalah kesehatan tertentu. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan frekuensi pernapasan menurun (bradipnea). Berikut adalah uraian selengkapnya.

 

  • Konsumsi minuman beralkohol. Alkohol diketahui dapat memengaruhi sistem saraf pusat, sehingga menurunkan laju pernapasan dan detak jantung.

  • Penggunaan opioid. Jenis obat ini dapat memengaruhi seluruh sistem dalam tubuh, mulai dari tekanan darah hingga laju pernapasan.

  • Pengaruh obat-obatan lainnya, seperti benzodiazepines, barbiturates, dan obat tidur tertentu. Pasalnya, menggabungkan obat-obatan tersebut memiliki pengaruh yang sama dengan alkohol dan opioid bagi tubuh.

  • Masalah metabolik, seperti hipotiroidisme (kekurangan hormon tiroid) yang dapat melemahkan otot-otot pernapasan di paru-paru dan menyebabkan kesulitan bernapas.

  • Cedera otak atau stroke. Kondisi ini diketahui dapat menyebabkan disfungsi sistem pernapasan, sehingga laju pernapasan tubuh menurun.

  • Gangguan tidur, seperti sleep apnea.

 

Sementara itu, beberapa kondisi yang dapat menyebabkan frekuensi pernapasan meningkat (takipnea) adalah sebagai berikut:

 

  • Demam, kondisi ini menandakan bahwa tubuh sedang bertarung melawan infeksi, di mana salah satu gejalanya adalah meningkatnya laju pernapasan.

  • Dehidrasi, kondisi ketika tubuh kekurangan cairan. Salah satu komplikasi dari dehidrasi adalah meningkatnya frekuensi pernapasan.

  • Asma, kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan laju pernapasan karena tubuh berusaha mengimbangi kurangnya pertukaran udara akibat penyempitan saluran pernapasan.

  • Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kondisi yang ditandai dengan adanya peradangan pada lapisan paru-paru yang telah berlangsung dalam jangka panjang, sehingga tubuh kesulitan mendapatkan oksigen yang cukup. Adapun beberapa kondisi yang termasuk dalam PPOK adalah:

    • Emfisema.

    • Bronkitis kronis.

    • Asma refrakter (jenis asma yang tidak merespons terhadap pengobatan asma biasa).

  • Penyakit jantung, kondisi jantung yang memburuk dan tidak dapat memompa banyak darah membuat kebutuhan oksigen meningkat, sehingga laju pernapasan pun menjadi lebih cepat.

  • Mengonsumsi obat golongan stimulan, di mana salah satu efek sampingnya adalah peningkatan laju pernapasan.

  • Infeksi paru-paru, dapat menyebabkan peradangan pada saluran napas dan paru-paru, sehingga tubuh kesulitan bernapas.

 

Itulah penjelasan mengenai frekuensi pernapasan normal berdasarkan setiap usia, mulai dari bayi hingga lansia yang penting untuk diketahui. Apabila Anda atau kerabat merasakan frekuensi pernapasan abnormal atau tidak seperti biasanya, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat guna berkonsultasi dengan dokter.

 

Selain itu, Anda juga bisa memesan layanan Homecare - Kunjungan Dokter Umum dan Perawat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dari rumah. Layanan ini sudah mencakup 1x kunjungan dokter dan perawat, serta pemeriksaan tanda-tanda vital. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Siloam at Home (1)

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail