7 Jenis Skrining Kanker Kolorektal yang Perlu Anda Ketahui
Kesehatan Tubuh

7 Jenis Skrining Kanker Kolorektal yang Perlu Anda Ketahui

20 Mei 2025 6 menit waktu baca
skrining kanker kolorektal

Kanker kolorektal sering kali berkembang tanpa gejala pada tahap awal, sehingga skrining kanker kolorektal menjadi langkah penting dalam mendeteksi dini kanker usus besar. Kanker usus besar yang ditemukan lebih awal bisa meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan. Terdapat berbagai jenis metode skrining kanker kolorektal yang tersedia, mulai dari tes noninvasif hingga prosedur lebih lanjut. Simak selengkapnya melalui artikel di bawah ini.

Jenis Skrining Kanker Kolorektal  

 

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, skrining kanker kolorektal atau kanker usus besar dapat mendeteksi dini kanker sehingga keberhasilan pengobatan dan harapan hidup pasien lebih besar. Berikut adalah informasi jenis skrining kanker kolorektal yang perlu diketahui.  

1. Guaiac-Based Fecal Occult Blood Test (gFOBT)

 

Guaiac-based fecal occult blood test (gFOBT) adalah salah satu metode pemeriksaan feses yang dilakukan untuk mendeteksi darah yang tidak terlihat dalam feses. Pemeriksaan ini menggunakan zat natural dari tanaman yang disebut guaiac, yang akan bereaksi jika ditemukan darah dalam sampel feses.

 

Metode gFOBT sering digunakan sebagai skrining awal untuk mendeteksi perdarahan pada saluran pencernaan yang bisa menjadi salah satu tanda dari kanker kolorektal atau gangguan pencernaan lainnya. Tes ini disarankan untuk dilakukan setahun sekali sebagai bagian dari pemeriksaan rutin, terutama bagi orang dengan risiko yang lebih tinggi untuk mengidap kanker usus besar.

 

Skrining dengan metode gFOBT bisa dilakukan secara mandiri di rumah. Pasien akan diberikan peralatan uji (test kit) untuk mengambil sedikit sampel feses, yang kemudian dikembalikan ke dokter atau laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut. 

 

2. Fecal Immunochemical Test (FIT)

 

Fecal immunochemical test (FIT) adalah tes yang juga digunakan untuk mendeteksi darah yang tidak terlihat dalam feses, yang dapat menjadi tanda awal kanker kolorektal. Berbeda dengan guaiac-based fecal occult blood test (gFOBT), FIT menggunakan antibodi untuk mendeteksi hemoglobin (protein dalam darah) yang berasal dari saluran pencernaan bagian bawah, seperti usus besar dan rektum. Tes ini lebih akurat dan tidak memerlukan perubahan diet sebelum dilakukan, karena tidak bereaksi terhadap makanan atau obat-obatan tertentu.

 

FIT sering digunakan sebagai alat skrining untuk mendeteksi kanker usus besar atau polip yang berisiko berkembang menjadi kanker. Sama seperti gFOBT, tes ini juga bisa dilakukan secara mandiri di rumah, yang kemudian sampel feses perlu dikirimkan ke laboratorium untuk dianalisa.

3. FIT-DNA Test

 

FIT-DNA test adalah tes yang menggabungkan fecal immunochemical test (FIT) dengan analisis DNA. Tes ini tidak hanya mendeteksi darah dalam feses, tetapi juga mencari perubahan atau mutasi DNA yang berhubungan dengan kanker atau polip pada usus besar. Sel kanker atau polip sering kali melepaskan DNA yang tidak normal ke dalam feses, dan tes ini dapat mendeteksi kelainan tersebut.

 

FIT-DNA test digunakan untuk skrining kanker usus besar pada orang berusia di atas 45 tahun dengan risiko sedang terhadap kanker usus besar. Tes ini lebih sensitif daripada FIT biasa dan bisa dilakukan di rumah.

 

Berbeda dari kedua tes sebelumnya yang hanya membutuhkan sampel atau feses dalam jumlah yang sedikit, FIT-DNA test memerlukan feses secara keseluruhan dari sekali BAB. Keseluruhan feses dikirim ke laboratorium untuk diperiksa, dan hasilnya dapat membantu mengidentifikasi potensi risiko kanker usus besar lebih dini. Tes ini disarankan untuk dilakukan setiap 3 tahun, berbeda dengan FIT yang dilakukan setiap tahun.

4. Flexible Sigmoidoscopy

Flexible Sigmoidoscopy atau sigmoidoskopi fleksibel adalah prosedur medis yang digunakan untuk memeriksa sebagian usus besar dan bagian ujung usus besar, termasuk kolon sigmoid, rektum, dan anus dengan menggunakan tabung tipis dan fleksibel yang dilengkapi kamera di ujungnya, yang disebut sigmoidoskop.

 

Kamera pada sigmoidoskop memungkinkan dokter untuk melihat jaringan yang tidak normal. Ini dapat mencakup kanker atau pertumbuhan jaringan kecil, seperti polip, yang bisa berkembang menjadi kanker. Jika kanker atau polip ditemukan, pasien mungkin perlu menjalani pemeriksaan lanjutan dengan prosedur kolonoskopi, untuk memeriksa seluruh bagian kolon.

 

Prosedur sigmoidoskopi fleksibel umumnya dilakukan sebagai bagian dari skrining kanker usus besar atau untuk mengevaluasi gejala seperti perdarahan rektum, perubahan kebiasaan buang air besar, nyeri perut jangka panjang, atau perubahan berat badan tanpa penyebab yang jelas. 

5. Kolonoskopi

Kolonoskopi adalah prosedur medis yang menjadi gold standard atau tolak ukur terbaik dari seluruh metode skrining kanker kolorektal atau kanker usus besar. Prosedur ini digunakan untuk memeriksa seluruh bagian dalam usus besar (kolon) dan rektum menggunakan alat yang disebut kolonoskop, yaitu tabung panjang dan fleksibel yang dilengkapi dengan kamera kecil di ujungnya.

 

Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan kolonoskop melalui anus yang memungkinkan dokter untuk melihat seluruh bagian dalam usus besar guna mendeteksi iritasi, polip, kanker, atau masalah lain seperti peradangan atau perdarahan.

 

Kolonoskopi umumnya dilakukan sebagai pemeriksaan lanjutan jika pemeriksaan lain menunjukkan hasil abnormal, atau untuk mendiagnosis penyebab dari perdarahan rektum, nyeri perut, atau perubahan kebiasaan buang air besar. Kolonoskopi dapat digunakan sebagai prosedur pengangkatan polip, menghentikan perdarahan, atau pengambilan sampel jaringan (biopsi) untuk analisis lanjutan.

6. CT Colonography (Virtual Colonoscopy)

CT colonography, juga dikenal sebagai virtual colonoscopy adalah prosedur noninvasif yang menggunakan pemindaian CT scan untuk menghasilkan gambar tiga dimensi (3D) dari usus besar dan rektum. Tes ini dilakukan untuk mendeteksi polip, kanker, atau gangguan lainnya di usus besar.

 

Selama prosedur, usus besar akan diisi dengan udara atau gas karbon dioksida melalui selang kecil yang dimasukkan ke dalam rektum, sehingga gambar yang dihasilkan menjadi lebih jelas. CT scan kemudian memindai seluruh usus besar dan menghasilkan gambar detail yang memungkinkan dokter memeriksa kondisi usus secara virtual.

7. Colon Capsule Endoscopy (CCE)

Colon capsule endoscopy atau endoskopi kapsul adalah prosedur medis noninvasif yang digunakan untuk memeriksa bagian saluran pencernaan yang sulit dijangkau oleh endoskopi konvensional, seperti usus halus, namun juga dapat dilakukan untuk mengevaluasi kondisi usus besar (kolon).

 

Prosedur ini dilakukan dengan cara menelan kapsul kecil yang dilengkapi kamera. Kapsul ini dapat ditelan oleh pasien dan kamera akan mengambil gambar di sepanjang saluran cerna yang dilewati. Gambar-gambar yang diambil oleh kamera ini akan dikirimkan secara nirkabel ke alat perekam yang dikenakan oleh pasien.

 

Gambar-gambar tersebut kemudian dianalisis oleh dokter untuk mendeteksi polip, kanker, atau masalah lain di usus besar. Prosedur ini bersifat aman dan efektif. Jika ditemukan kelainan, pasien mungkin tetap memerlukan kolonoskopi tradisional atau tindakan medis lainnya untuk pengangkatan polip, pengobatan kanker, atau menangani masalah lain dalam saluran cerna.

 

Penting untuk diketahui bahwa skrining kanker kolorektal hanya direkomendasikan bagi pasien yang memiliki risiko atau sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin. Dokter akan terlebih dahulu mengevaluasi kondisi pasien secara menyeluruh dan menilai faktor risiko pasien, hal ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan pasien untuk menjalani skrining ini.

 

Oleh karena itu, jika memiliki gejala atau keluhan yang berkaitan dengan sistem pencernaan, terutama jika memiliki faktor risiko mengembangkan kanker saluran cerna, Anda dapat langsung mengunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals Kebon Jeruk atau Siloam Hospitals terdekat lainnya untuk mendapatkan evaluasi, diagnosis, serta saran perawatan yang tepat sesuai kondisi Anda.

 

Sebagai informasi, setiap tahapan skrining, jenis pemeriksaan, ataupun metode pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi kanker saluran cerna dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.

 

Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

CDC. Screening for Colorectal Cancer. Diakses pada 2024 | MedlinePlus. Fecal immunochemical test (FIT). Diakses pada 2024 | MedlinePlus. Stool Guaiac Test. Diakses pada 2024 | Mayo Clinic. Flexible Sigmoidoscopy. Diakses pada 2024 | Mayo Clinic. Virtual Colonoscopy. Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-hasan-maulahela-sppd-kgeh

Kunjungi Rumah Sakit

DR. dr. Hasan Maulahela, SpPD-KGEH

Penyakit Dalam

Subspesialis Gastroenterohepatologi


Siloam Hospitals Kebon Jeruk

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail