Dispepsia Fungsional Terjadi Tanpa Sebab? Kenali Gejalanya!
Kesehatan Tubuh

Dispepsia Fungsional Terjadi Tanpa Sebab? Kenali Gejalanya!

06 Agustus 2025 4 menit waktu baca
dispepsia fungsional

 

Dispepsia fungsional adalah gangguan pencernaan yang umum dengan gejala yang bisa ditemukan pada kondisi medis lainnya. Beberapa gejalanya termasuk nyeri atau sensasi terbakar pada epigastrium atau area ulu hati dan rasa kembung setelah makan.

 

Kondisi dispepsia fungsional tidak disertai dengan kelainan struktural yang dapat dideteksi melalui pencitraan atau endoskopi. Apabila tidak ditemukan penyebab langsung dari gejala yang dialami, dokter dapat mendiagnosis pasien dengan dispepsia fungsional. Untuk mengetahui gejala hingga cara mengatasinya dispepsia fungsional, mari simak pembahasan di bawah ini.

 

Apa Itu Dispepsia Fungsional?

 

Dispepsia fungsional adalah gangguan pencernaan kronis yang ditandai dengan sakit perut berkepanjangan tanpa penyebab fisik yang jelas. Kondisi ini dapat muncul secara berulang, namun gejalanya tidak selalu muncul setiap hari. Setiap orang dapat mengalami kombinasi gejala dispepsia fungsional yang berbeda. Berikut klasifikasinya:

 

  • Sindrom nyeri epigastrium yang ditandai dengan nyeri pada perut bagian ulu hati dan mulas, namun tidak selalu terjadi saat makan. Gejala-gejala ini menyerupai penyakit GERD.

  • Sindrom gangguan postprandial yang ditandai dengan rasa kenyang lebih awal, kembung, dan nyeri perut setelah makan. Gejala-gejala ini menyerupai penyakit tukak lambung.

  • Kombinasi dari keduanya.

 

Penyebab Dispepsia Fungsional

 

Seperti yang disebutkan sebelumnya, dokter akan mendiagnosis pasien dengan dispepsia fungsional apabila tidak ditemukan penyebab langsung dari gejala-gejala yang dialami. Dispepsia fungsional termasuk gangguan fungsional yang melibatkan sistem saraf dan bagaimana seseorang merasakan nyeri atau ketidaknyamanan. Meskipun penyebabnya tidak dapat diketahui secara pasti, terdapat beberapa faktor yang berkontribusi dalam kondisi ini:

 

  • Hipersensitivitas viseral: Dalam kondisi stres, sistem saraf enterik akan terpengaruh sehingga dapat menimbulkan munculnya gejala seperti nyeri ulu hati melalui peningkatan sensitivitas dan gangguan motilitas.

  • Disbiosis usus: Ketidakseimbangan mikroba dalam usus yang dapat menyebabkan gejala dispepsia fungsional. Infeksi H. Pylori dapat menyebabkan peradangan pada mukosa lambung yang mungkin meningkatkan sensitivitas lambung terhadap asam.

  • Gangguan motilitas: Gangguan yang memengaruhi cara saluran pencernaan menggerakkan makanan melalui proses pencernaan. Akibatnya, saraf dalam saluran pencernaan mungkin gagal mengaktifkan otot-otot dalam organ tubuh dengan benar. Organ-organ tubuh pun mungkin menahan makanan terlalu lama atau tidak bisa cukup rileks agar makanan bisa masuk ke dalamnya.

 

Selain faktor-faktor tersebut, terdapat beberapa faktor risiko tambahan yang dapat membuat seseorang mengalami dispepsia fungsional:

 

  • Terdapat anggota keluarga yang menderita gangguan saraf atau gangguan saluran pencernaan fungsional lainnya, seperti IBS.

  • Faktor psikologis, seperti kecemasan (anxiety) dan depresi.

  • Mengidap beberapa kondisi alergi atau atopi.

  • Kebiasaan merokok.

  • Mengonsumsi obat pereda nyeri tanpa resep yang dapat menyebabkan masalah pencernaan, seperti aspirin dan ibuprofen.

 

Dispepsia fungsional lebih sering ditemukan pada perempuan daripada laki-laki. Hal ini disebabkan oleh hormon estrogen yang memiliki pengaruh terhadap persepsi nyeri dan fungsi motilitas saluran cerna pada perempuan. 

 

Gejala Dispepsia Fungsional

 

Dispepsia fungsional tidak memiliki penyebab secara pasti, namun kondisinya bisa dikenali dari beberapa gejala berikut:

 

  • Perut kembung setelah makan.

  • Rasa cepat kenyang selama atau setelah makan.

  • Kehilangan nafsu makan.

  • Nyeri perut di area ulu hati (epigastrium) yang merupakan tempat terletaknya organ lambung.

  • Sensasi terbakar di area dada.

  • Mual dan muntah.

  • Sendawa berlebihan.

  • Perubahan dalam pola buang air besar, seperti diare atau sembelit.

  • Sedang mengalami kondisi stres atau gangguan emosional.

 

Diagnosis Dispepsia Fungsional

 

Dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) terlebih dahulu untuk menanyakan pasien tentang durasi gejala dan keparahan kondisi yang dirasakan. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, terutama pada area perut (abdomen).  

 

Proses diagnosis dispepsia fungsional dilakukan dengan memperhatikan riwayat pasien dan mengeliminasi penyakit lain dengan gejala serupa. Pada orang dewasa, dispepsia fungsional dapat dinyatakan jika pasien tidak memiliki kondisi medis lain namun setidaknya mengalami satu dari gejala-gejala berikut:

 

  • Nyeri epigastrium.

  • Rasa kenyang setelah makan (postprandial).

  • Sensasi terbakar pada epigastrium.

  • Cepat kenyang.

 

Pemeriksaan kemudian dapat dilanjutkan dengan tes laboratorium, salah satunya yaitu dengan pemeriksaan darah lengkap. Selain itu, pemeriksaan lain berikut ini mungkin direkomendasikan:

 

  • Tes bakteri H. Pylori yang dapat dilakukan dengan beberapa metode, seperti tes sampel feses atau tes napas (urea breath test).

  • Studi pengosongan lambung (gastric emptying studies).

  • Endoskopi bagian atas.

 

Pengobatan Dispepsia Fungsional

 

Prosedur untuk mengobati dispepsia fungsional utamanya ditujukan untuk mengendalikan gejalanya. Dokter akan merekomendasikan pengobatan berdasarkan gejala yang dialami pasien. Beberapa obat-obatan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

 

  • Antibiotik untuk menangani infeksi bakteri apabila terbukti ada infeksi bakteri H. Pylori.

  • Penghambat asam, seperti PPI (proton pump inhibitors) atau H2 blocker.

  • Prokinetik untuk mendukung pergerakan saluran pencernaan.

  • Antidepresan trisiklik dalam dosis rendah untuk membantu menenangkan sistem saraf.

  • Obat-obatan untuk meredakan mual (antiemetik).

 

Dispepsia fungsional merupakan kondisi yang umum terjadi, namun sulit diketahui penyebabnya secara pasti. Rekomendasi pengobatan oleh dokter hanya bisa dilakukan setelah diagnosis. Namun, tidak semua gejala yang disebutkan di atas mengindikasikan dispepsia fungsional dan mungkin bisa mengacu pada kondisi medis lainnya.

 

Kendati demikian, jika Anda merasakan nyeri perut bagian dan perut kembung setelah makan, konsultasikan kondisi Anda dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterohepatologi di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan diagnosis yang pasti.

 

Dokter akan memulai diagnosis dengan anamnesis sebelum merekomendasikan sejumlah tes dan memberikan penanganan sesuai dengan kondisi medis setiap pasien. Perlu diketahui bahwa tahapan pemeriksaan hingga perawatan akan disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing lokasi.

 

Jika membutuhkan pemeriksaan pencernaan secara lengkap, Anda bisa memesan Skrining Sistem Pencernaan melalui aplikasi MySiloam. Pada aplikasi ini, Anda juga bisa menggunakan fitur membuat janji temu dengan dokter hingga mengecek hasil tes kesehatan secara online. Mari unduh MySiloam segera dan manfaatkan berbagai fiturnya untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Cleveland Clinic. Functional Dyspepsia. Diakses pada 2025 | Mayo Clinic. Functional dyspepsia. Diakses pada 2025 | StatPearls. Functional Dyspepsia. Diakses pada 2025 |

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail