Kesehatan Tubuh
Sering Pusing Setelah Makan? Hati-Hati Hipotensi Postprandial

Table of Contents
Hipotensi postprandial adalah kondisi ketika tekanan darah menurun secara signifikan setelah makan. Kondisi ini biasanya ditandai dengan pusing, lemas, hingga pingsan, pada 1–2 jam setelah makan. Hipotensi postprandial lebih umum terjadi pada orang yang memiliki kondisi tertentu atau berusia di atas 65 tahun. Mari ketahui penyebab hingga cara mengatasi hipotensi postprandial melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Hipotensi Postprandial?
Seperti yang sudah dijelaskan, hipotensi postprandial adalah kondisi ketika tekanan darah menurun secara signifikan pada sekitar dua jam setelah makan. Biasanya, detak jantung memang meningkat setelah makan agar sistem pencernaan memiliki cukup darah untuk mencerna makanan. Sementara itu, pembuluh darah lain di tubuh mengencang untuk menjaga tekanan darah tetap normal.
Hipotensi postprandial terjadi pada sekitar 24–33% populasi lansia yang menerima perawatan di panti wreda, sekitar 67% pasien geriatri, dan sekitar 50% individu yang mengalami sinkop (pingsan) tanpa penyebab yang dapat dijelaskan. Sebagai informasi, kondisi ini juga dapat terjadi pada 33% populasi sehat.
Penyebab Hipotensi Postprandial
Penyebab hipotensi postprandial belum sepenuhnya diketahui. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini berkaitan dengan penumpukan darah di organ perut selama proses pencernaan. Hal ini berhubungan dengan beberapa faktor berikut ini:
-
Komposisi makanan dan jenis makanan, serta nutrisi yang dikonsumsi.
-
Pengosongan lambung atau seberapa cepat makanan bergerak dari lambung ke usus.
-
Seberapa baik nutrisi diserap dari saluran pencernaan.
-
Akibat penumpukan darah di organ perut, jumlah darah yang tersedia untuk sirkulasi umum menjadi berkurang sehingga menyebabkan penurunan tekanan darah. Berdiri dapat meningkatkan efek ini.
Pada dasarnya, penumpukan darah di organ perut setelah makan merupakan hal yang normal. Hal ini terjadi karena proses pencernaan makanan memerlukan aliran darah yang lebih banyak ke organ pencernaan. Untuk mengimbanginya, tubuh mengaktifkan mekanisme barorefleks, yaitu dengan meningkatkan tahanan (resistensi) pembuluh darah di bagian tubuh lain dan meningkatkan denyut jantung, sehingga tekanan darah tetap terjaga di kisaran normal.
Peningkatan tahanan pembuluh darah perifer (tepi) terjadi melalui proses vasokonstriksi, yaitu penyempitan pembuluh darah sebagai respons refleks tubuh. Namun, respons ini tidak selalu terjadi pada orang dewasa yang lebih tua, yang mungkin telah menderita gangguan aktivitas refleks simpatis, atau pasien yang menderita disfungsi saraf otonom. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya hipotensi postprandial.
Hipotensi postprandial bisa terjadi ketika arteri yang semakin mengeras seiring bertambahnya usia dan di sisi lain seseorang kesulitan menyesuaikan diri dengan faktor-faktor yang memengaruhi tekanan darah. Faktor-faktor tersebut, di antaranya:
-
Makan dalam porsi besar.
-
Tidak cukup mengonsumsi garam.
-
Berada di cuaca panas.
-
Mengonsumsi obat hipertensi.
Sementara itu, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko hipotensi postprandial, di antaranya:
-
Berusia 65 tahun atau di atasnya.
-
Memiliki tekanan darah tinggi.
-
Memiliki penyakit Parkinson.
-
Memiliki diabetes.
-
Memiliki gagal jantung.
-
Memiliki penyakit ginjal stadium akhir.
-
Memiliki multiple system atrophy.
-
Faktor genetik.
Gejala Hipotensi Postprandial
Hipotensi postprandial sering kali menyebabkan penderitanya mengalami pusing, pening, lemah, atau bahkan sinkop (pingsan) saat berdiri dalam waktu 1–2 jam setelah makan. Gejala cenderung bisa lebih parah saat mengonsumsi makanan berat atau makanan yang mengandung banyak karbohidrat. Gejala ini mungkin juga bisa memburuk di pagi hari.
Diagnosis Hipotensi Postprandial
Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) mengenai gejala (serta timbulnya gejala) dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dokter akan mengukur tekanan darah sebelum makan dan mengukurnya lagi setelah makan.
Pemantauan tersebut dilakukan dalam beberapa hari, bukan dalam satu hari pemeriksaan. Misalnya, selain pemeriksaan tekanan darah sebelum dan sesudah makan, dokter mungkin menyarankan pemantauan tekanan darah dengan alat khusus selama 24 jam untuk melihat pola penurunan tekanan darah.
Pada hipotensi postprandial, tekanan darah pasien turun sekitar 20 mmHg setelah makan. Bagi kebanyakan orang dengan kondisi ini, tekanan darah biasanya turun dalam waktu 30–60 menit setelah makan. Jika diperlukan, dokter mungkin juga akan melakukan pemantauan tekanan darah ambulasi selama 24 jam untuk menegakkan diagnosis. Tes ini memeriksa tekanan darah setiap 10–15 menit.
Pengobatan Hipotensi Postprandial
Tidak ada pengobatan khusus untuk menghilangkan hipotensi postprandial. Namun, kondisi ini dapat dikendalikan dengan menerapkan gaya hidup berikut ini:
-
Makan dalam porsi kecil, namun lebih sering. Pasalnya, makan dalam porsi besar dapat menyebabkan penumpukan darah yang lebih banyak di perut.
-
Menghindari makanan tinggi karbohidrat, seperti roti, pasta, dan kentang.
-
Tetap duduk setelah makan jika gejalanya semakin berat.
-
Menghindari minuman beralkohol.
Jika upaya tersebut tidak cukup efektif untuk mengurangi gejala hipotensi postprandial, dokter dapat menganjurkan beberapa terapi berikut ini:
-
Mengonsumsi NSAID (nonsteroidal anti-inflammatory drugs): Obat ini dapat menyebabkan garam tertahan di dalam tubuh sehingga meningkatkan volume darah.
-
Midodrine: Ini adalah obat yang diubah dalam tubuh menjadi bentuk aktifnya, yaitu desglymidodrine. Obat ini bekerja dengan merangsang reseptor alpha-1 adrenergik, yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi) vena. Hal ini dapat membuat tekanan darah meningkat.
-
Kafein: Obat ini dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit dan mengurangi gejala.
-
Guar gum: Zat pengental ini bisa membantu memperlambat pengosongan lambung setelah makan sehingga dapat meredakan gejala.
-
Olahraga: Melakukan olahraga di antara waktu makan, misalnya berjalan, dapat membantu meningkatkan tonus pembuluh darah dan mengurangi gejala hipotensi postprandial.
Itulah penjelasan mengenai hipotensi postprandial yang perlu Anda ketahui. Namun, perlu diingat bahwa informasi di atas hanya bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan diagnosis yang akurat secara medis. Oleh sebab itu, bila Anda mengalami sejumlah gejala, seperti pusing dan lemas setelah makan, jangan ragu berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat.
Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.
Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Cureus. Postprandial Hypotension: An Underreported Silent Killer in the Aged. Diakses pada 2024 | Very Well Health. Postprandial Hypotension: Blood Pressure Drops After Eating. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Postprandial Hypotension. Diakses pada 2024 | Australian Prescriber. Midodrine for orthostatic hypotension. Diakses pada 2025 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini






