Mengenal Penyebab Intoleransi Makanan dan Penanganannya
Kesehatan Tubuh

Mengenal Penyebab Intoleransi Makanan dan Penanganannya

19 Mei 2025 4 menit waktu baca
intoleransi makanan

Gejala perut kembung, sakit perut, atau diare setelah mengonsumsi makanan dan minuman bisa menjadi tanda-tanda intoleransi makanan (food intolerance). Kondisi ini terjadi ketika sistem pencernaan tidak dapat mencerna makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh dengan baik. Lantas, apa penyebabnya? Mari simak penjelasan selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Intoleransi Makanan?

 

Intoleransi makanan adalah gangguan pencernaan yang terjadi ketika sistem pencernaan tidak bisa mencerna atau memecah makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh. Kondisi ini disebut juga dengan sensitivitas makanan (food sensitivity). Pada kondisi ini, usus sensitif terhadap makanan sehingga tidak bisa menoleransi makanan yang masuk.

 

Perbedaan Alergi dan Intoleransi Makanan

 

Meski gejalanya hampir mirip, intoleransi makanan dan alergi makanan merupakan dua kondisi yang berbeda. Perbedaan yang pertama bisa dilihat dari penyebabnya. Alergi disebabkan oleh reaksi sistem imun yang berlebihan terhadap makanan tertentu. Sedangkan, intoleransi makanan terjadi ketika tubuh tidak bisa mencerna makanan atau bahan makanan tertentu.

 

Selain itu, alergi makanan dapat menimbulkan gejala yang serius atau parah, bahkan bisa mengancam nyawa dan muncul seketika setelah penderita mengonsumsi makanan pemicu (meski dalam jumlah yang sedikit). Sedangkan, gejala yang disebabkan oleh intoleransi makanan cenderung lebih ringan dan biasanya baru muncul beberapa jam setelah makan.

 

Berbeda dengan food intolerance yang umumnya tidak berbahaya, alergi makanan bisa tergolong dalam kondisi yang berbahaya karena dapat menyebabkan reaksi parah hingga memicu anafilaksis yang mengancam nyawa.

 

Penyebab Intoleransi Makanan

 

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, food intolerance disebabkan oleh ketidakmampuan sistem pencernaan dalam memecah atau mencerna makanan maupun bahan makanan tertentu yang masuk ke dalam perut. Terdapat beberapa hal yang bisa menyebabkan sistem pencernaan tidak bisa mencerna makanan, di antaranya yaitu:

 

  • Kekurangan enzim pencernaan, seperti intoleransi laktosa, yaitu kondisi ketika sistem pencernaan tidak dapat mencerna laktosa (sejenis gula yang ditemukan pada susu dan produk turunannya). Kondisi ini adalah intoleransi laktosa yang paling sering terjadi.

  • Kondisi medis tertentu, seperti penyakit celiac atau irritable bowel syndrome.

  • Keracunan makanan.

  • Adanya zat aditif dalam makanan. Seseorang mungkin memiliki sensitivitas terhadap suatu bahan tambahan makanan. Salah satu contoh nya adalah zat aditif sulfit yang digunakan untuk mengawetkan buah kering, makanan kaleng, dan anggur dapat memicu serangan asma pada orang yang sensitif terhadap bahan tambahan makanan.

  • Stres berat.

  • Memiliki riwayat operasi pada saluran cerna.

 

Berikut adalah beberapa bahan makanan yang dapat menyebabkan intoleransi makanan:

 

  • Gluten (gandum, gandum hitam, dan barley) yang ditemukan dalam makanan seperti roti dan pasta.

  • Histamin, ditemukan dalam makanan dan minuman, seperti wine dan keju.

  • Kafein, ditemukan dalam kopi, teh, dan beberapa minuman bersoda.

  • Alkohol.

  • Sulfit, ditemukan dalam sari buah apel, bir, dan anggur.

  • Salisilat, ditemukan dalam beberapa buah, sayuran, dan rempah-rempah.

  • Monosodium glutamat (MSG), ditemukan dalam buah matang, daging olahan, dan makanan gurih.

 

Gejala Intoleransi Makanan

 

Gejala yang dialami pengidap food intolerance sering kali muncul beberapa jam setelah penderitanya mengonsumsi makanan yang tidak dapat dicerna oleh tubuhnya. Adapun sejumlah gejala umum intoleransi makanan, di antaranya adalah sebagai berikut:

 

 

Diagnosis Intoleransi Makanan

 

Untuk mendiagnosis food intolerance, dokter biasanya akan melakukan anamnesis atau wawancara medis mengenai keluhan dan gejala pasien. Dokter juga akan bertanya mengenai riwayat kesehatan pasien dan keluarga pasien.

 

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada pasien secara menyeluruh, terutama pada bagian perut (abdomen). Dokter juga dapat beberapa melakukan pemeriksaan penunjang, seperti menggunakan tes napas hidrogen (hydrogen breath test). 

 

Pada pemeriksaan tersebut, pasien akan diminta meminum cairan yang mengandung laktosa, lalu bernapas ke dalam wadah seperti balon setiap 30 menit selama beberapa jam. Jika pasien tidak toleran (intoleran) terhadap laktosa, laktosa yang tidak tercerna akan membuat kadar hidrogen dalam napas lebih tinggi. Pasien juga akan mengalami beberapa gejala setelah mengonsumsi larutan laktosa.

 

Sementara itu, tidak ada tes untuk sensitivitas gluten dan histamin. Dokter dapat meminta pasien untuk membuat buku harian makanan guna melacak apa saja makanan yang memicu timbulnya gejala.

 

Pasien juga bisa mencoba diet eliminasi untuk menghilangkan makanan tertentu yang dicurigai sebagai pemicu gejala selama 2–6 minggu. Jika saat menghentikan konsumsi makanan pasien tidak gejala, namun gejala kembali lagi setelah pasien mengonsumsi makanan tersebut, pasien mungkin memiliki food intolerance.

 

Penanganan Intoleransi Makanan

 

Intoleransi terhadap makanan tertentu tidak bisa disembuhkan, namun ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah munculnya gejala sehingga penderita bisa mengonsumsi makanan dan minumannya dengan nyaman. Upaya tersebut, di antaranya:

 

  • Menghindari makanan yang memicu gejala atau mengurangi porsinya. Bila sulit untuk menghentikan konsumsinya sekaligus, pasien bisa mencoba secara bertahap dengan mengurangi porsinya.

  • Membaca keterangan pada kemasan makanan untuk memastikan bahwa produk tersebut tidak mengandung komposisi yang memicu gejala intoleransi.

  • Mengonsumsi suplemen enzim pencernaan sesuai dengan anjuran dokter.

 

Penting untuk diketahui bahwa penyebab serta gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi intoleransi makanan. Artinya, penyebab atau gejala tersebut bisa serupa dengan kondisi medis atau penyakit lainnya. Oleh karenanya, sangat penting untuk memperoleh diagnosis yang tepat dan akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi intoleransi makanan dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien. 

 

Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

Aplikasi My Siloam (1)

 

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail