Kateter Urine, Kondisi Apa yang Membutuhkan Alat Ini?
Kesehatan Tubuh

Kateter Urine, Kondisi Apa yang Membutuhkan Alat Ini?

03 Juni 2025 4 menit waktu baca
mengenal kateter urine

 

Kateter urine adalah alat medis berupa selang kecil, tipis, dan fleksibel yang terbuat dari karet atau plastik. Alat medis ini biasanya digunakan untuk membantu mengeluarkan urine dari dalam kandung kemih pada pasien yang kesulitan buang air kecil. Mari kenali tujuan, jenis, dan prosedur penggunaan kateter urine selengkapnya melalui artikel di bawah ini.

 

Apa itu Kateter Urine?

 

Kateter urine adalah alat medis yang dapat digunakan untuk membantu mengosongkan kandung kemih pada penderita retensi urine. Fungsi kateter urine adalah untuk meminimalkan risiko kerusakan ginjal akibat penumpukan urine di dalam kandung kemih yang tidak segera dikosongkan.

 

Untuk menggunakannya, dokter dapat memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra. Alat ini biasanya digunakan oleh pasien selama 3–8 hari saat sedang menjalani prosedur pengobatan lainnya. Namun, pada beberapa kasus, kateter perlu digunakan lebih lama sehingga alat kateter harus diganti secara berkala setiap 1–2 minggu guna menghindari risiko terjadinya infeksi.

 

Kondisi Medis yang Memerlukan Pemasangan Kateter Urine

 

Pada dasarnya, tujuan pemasangan kateter urine adalah untuk membantu mengeluarkan urine serta mengosongkan kandung kemih pada pasien yang mengeluhkan kesulitan buang air kecil (retensi urine). Selain itu, sejumlah kondisi yang menjadi indikasi pemasangan kateter urine adalah:

 

 

Jenis-Jenis Kateter Urine

 

Berdasarkan bahannya, kateter urine dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, di antaranya sebagai berikut.

 

  • Kateter plastik: Jenis kateter yang hanya dapat digunakan dalam jangka waktu pendek karena cenderung lebih mudah rusak dan tidak selentur bahan lainnya.

  • Kateter logam: Hanya digunakan untuk jangka waktu pendek. Kateter logam biasanya digunakan pascapersalinan.

  • Kateter lateks: Dapat digunakan dalam jangka waktu kurang dari 3 minggu.

  • Kateter silikon murni: Jenis kateter yang dapat digunakan selama 2–3 bulan karena cenderung lebih lentur.

 

Selain itu, jenis kateter urine juga dapat dibedakan berdasarkan kebutuhan dan waktu penggunaannya. Berikut penjelasan lengkapnya.

 

  • Intermittent catheter: Kateter yang digunakan untuk sementara. Penggunaan kateter ini dapat segera dihentikan dan kateter dilepas saat urine sudah berhenti mengalir. Intermittent catheter biasanya digunakan oleh pasien pascaoperasi atau sedang menjalani kemoterapi.

  • Indwelling catheter/kateter Foley: Jenis kateter yang dapat digunakan dalam jangka waktu lebih lama. Kateter ini biasanya dilengkapi balon pada bagian ujungnya untuk menahan posisi kateter tetap berada di dalam kandung kemih. Pemasangan indwelling catheter dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dari lubang saluran kemih atau dari lubang kecil yang dibuat pada perut melalui tindakan pembedahan.

  • Condom catheter: Kateter yang digunakan pada bagian luar penis untuk menangani pasien pria yang tidak mampu buang air kecil dengan normal akibat masalah fisik atau mental. Kateter ini memiliki bentuk menyerupai kondom dan terdapat selang yang berfungsi untuk menghubungkan kondom ke kantung penampung urine.

 

Prosedur Pemasangan Kateter Urine

 

Umumnya, pemasangan kateter atau kateterisasi urine dapat dilakukan oleh perawat atau tenaga medis lainnya berdasarkan instruksi dari dokter. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memasang kateter dengan benar adalah sebagai berikut.

 

  • Dokter mungkin dapat memberikan anestesi lokal terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa nyeri selama pemasangan kateter urine.

  • Perawat akan membersihkan peralatan kateterisasi dan alat kelamin pasien.

  • Melumuri kateter dengan cairan pelumas khusus untuk memudahkan proses kateterisasi atau masuknya kateter urine ke dalam saluran kemih.

  • Memasukkan selang kateter urine ke dalam uretra secara perlahan hingga mencapai leher kandung kemih.

  • Setelah itu, pasien sudah dapat buang air kecil melalui kateter. Nantinya, urine akan mengalir melalui selang kateter menuju kantung urine.

  • Khusus untuk pemasangan kateter Foley, pastikan selang kateter telah mencapai kandung kemih yang ditandai dengan adanya urine mengalir keluar melalui selang kateter, sebelum mengembangkan balon kateter. 

  • Dokter akan mengarahkan pasien untuk mencatat volume urine sebelum mengosongkan kantung urine setiap 6–8 jam sekali.

 

Efek Samping Penggunaan Kateter Urine

 

Pada dasarnya, pemasangan kateter urine adalah prosedur medis yang tergolong aman dilakukan. Namun, penting untuk menjaga kebersihan dan mengganti kateter secara rutin guna menghindari risiko infeksi saluran kemih. Selain itu, sejumlah efek samping yang perlu diwaspadai selama menggunakan kateter urine adalah sebagai berikut:

 

  • Spasme kandung kemih.

  • Kebocoran atau obstruksi kateter.

  • Cedera dan penyempitan uretra.

  • Batu kandung kemih.

 

Penting untuk diketahui bahwa pemasangan kateter urine hanya direkomendasikan bagi pasien setelah diagnosis ditegakkan. Dokter akan terlebih dahulu mempertimbangkan kondisi medis pasien untuk memastikan pasien telah memenuhi persyaratan dalam menjalani prosedur ini.

 

Apabila Anda memiliki keluhan terkait fungsi kandung kemih atau mengalami hal tak biasa saat berkemih, segera konsultasikan kondisi tersebut dengan Dokter Spesialis Urologi di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh diagnosis dan penanganan lebih lanjut.

 

Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk mendapatkan berbagai kemudahan akses, mulai dari melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang dan nikmati fitur-fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

Aplikasi My Siloam

message

ArticleDetail