Kesehatan Tubuh
Kolitis Mikroskopis - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Kolitis mikroskopis adalah peradangan pada usus besar (kolon) yang dapat menyebabkan penderitanya mengalami diare cair. Kondisi ini termasuk dalam penyakit radang usus, namun tidak berpotensi menjadi kanker usus besar. Lantas, apa penyebab kolitis mikroskopis? Bisakah kondisi ini disembuhkan? Simak penjelasan selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Kolitis Mikroskopis?
Kolitis mikroskopis (microscopic colitis) adalah pembengkakan dan iritasi, atau dengan kata lain peradangan, yang terjadi di lapisan dalam usus besar. Kondisi ini disebut sebagai kolitis mikroskopis karena dokter perlu memeriksa jaringan usus besar di bawah mikroskop untuk bisa mendiagnosisnya. Jaringan tersebut akan tampak khas saat dilihat melalui pemeriksaan kolonoskopi atau sigmoidoskopi fleksibel.
Kolitis mikroskopis terbagi menjadi dua jenis, yaitu kolitis kolagen dan kolitis limfositik. Berikut masing-masing penjelasannya:
-
Kolitis kolagen: Kondisi saat lapisan tebal protein yang disebut dengan kolagen di dalam jaringan usus besar.
-
Kolitis limfositik: Kondisi saat jumlah salah satu jenis sel darah putih, yaitu limfosit, di dalam lapisan dinding usus besar meningkat.
Kendati terbagi menjadi dua jenis, para peneliti berpendapat bahwa kolitis kolagen dan kolitis limfositik merupakan bentuk dari kondisi yang sama sehingga gejala, pemeriksaan, dan pengobatannya pun sama untuk kedua subtipe tersebut.
Penyebab Kolitis Mikroskopis
Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab peradangan pada usus besar. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beragam faktor, seperti obat-obatan yang bisa menyebabkan peradangan di lapisan usus besar, serta beberapa faktor lain, di antaranya:
-
Empedu yang tidak terserap dengan baik sehingga menyebabkan lapisan usus besar meradang.
-
Bakteri yang menghasilkan toksin atau virus yang berinteraksi dengan lapisan usus besar.
-
Penyakit autoimun (kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat), seperti rheumatoid arthritis, penyakit celiac, gangguan kelenjar tiroid, diabetes tipe 1, dan psoriasis.
Gejala Kolitis Mikroskopis
Gejala utama kolitis mikroskopis adalah diare cair kronis yang tidak disertai perdarahan. Gejala tersebut biasanya muncul secara tiba-tiba. Diare mungkin berlangsung lama atau hilang-timbul. Di samping diare, gejala lain yang menyertai kondisi ini, antara lain:
-
Nyeri dan kram perut.
-
Kelelahan.
-
Mual.
-
Sensitif terhadap gluten (protein yang bisa ditemukan pada biji-bijian dan serealia tertentu, salah satunya adalah gandum).
-
Penurunan berat badan.
-
Inkontinensia alvi (sulit mengendalikan BAB).
Di samping itu, sejumlah faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya kolistis mikroskopis adalah sebagai berikut:
-
Berusia di atas 60 tahun. Usia rata-rata orang yang terdiagnosis menderita kolitis mikroskopis adalah 60 hingga 65 tahun. Namun, kolitis mikroskopis dapat terjadi pada orang-orang dari segala usia, termasuk anak-anak.
-
Jenis kelamin wanita. Wanita lebih mungkin menderita kolitis mikroskopis dibandingkan pria. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara terapi hormon pascamenopause dan kolitis mikroskopis.
-
Menderita penyakit autoimun.
-
Terdapat keluarga dengan riwayat irritable bowel syndrome (IBS).
-
Memiliki kebiasaan merokok.
Diagnosis Kolitis Mikroskopis
Guna mendiagnosis kolitis mikroskopis, dokter akan melakukan tanya jawab medis (anamnesis) mengenai gejala, riwayat kesehatan, dan riwayat obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh terutama pada area abdomen (perut).
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kolitis mikroskopis baru bisa didiagnosis melalui mikroskop. Jadi, guna mengonfirmasi diagnosis kondisi ini, dokter umumnya akan melakukan serangkaian pemeriksaan berikut:
-
Kolonoskopi: Pemeriksaan ini memungkinkan dokter untuk melihat seluruh usus besar menggunakan alat seperti tabung tipis, fleksibel, dan dilengkapi lampu serta kamera yang disebut kolonoskop. Melalui metode ini, dokter juga akan mengambil sampel jaringan usus (biopsi) untuk diuji di laboratorium.
-
Sigmoidoskopi fleksibel: Prosedur ini sebenarnya mirip dengan kolonoskopi, namun tidak menunjukkan seluruh bagian usus besar, melainkan hanya sepertiga bagian terakhir dari usus besar atau yang disebut sebagai sigmoid. Dokter juga akan mengambil sampel jaringan (biopsi) pada metode ini.
Selain kolonoskopi dan sigmoidoskopi, pemeriksaan lain yang mungkin juga diperlukan oleh dokter untuk mendukung diagnosis kolitis mikroskopis adalah:
-
Tes darah.
-
Endoskopi bagian atas (upper endoscopy) dan biopsi.
Pengobatan Kolitis Mikroskopis
Pada beberapa kasus, kolitis mikroskopis bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, semakin parah gejalanya, akan lebih sulit untuk sembuh sendiri sehingga dibutuhkan pengobatan medis yang tepat guna mengatasinya. Dalam hal ini, beberapa metode pengobatan yang biasanya digunakan oleh dokter adalah sebagai berikut:
-
Menerapkan diet sehat dan menghentikan konsumsi obat tertentu yang dapat memicu terjadinya gejala. Adapun rencana diet yang dianjurkan adalah:
-
Mengonsumsi makanan rendah lemak dan rendah serat.
-
Membatasi produk olahan susu, gluten, kafein, dan gula.
-
Memperbanyak minum air putih.
-
Mengonsumsi makanan yang lembut dan mudah dicerna.
-
Makan dengan porsi sedikit namun lebih sering daripada sekali makan dalam porsi banyak.
-
Menghindari makanan yang dapat memicu iritasi, seperti makanan pedas dan berlemak.
-
Berhenti mengonsumsi obat apa pun yang mungkin menjadi penyebab gejala kolitis mikroskopis.
-
Pemberian obat-obatan untuk mengatasi gejala, seperti obat antidiare, steroid, obat-obatan yang menekan sistem imun tubuh, serta obat-obatan biologis.
-
Pada kasus yang sangat jarang terjadi, dokter akan melakukan operasi pengangkatan usus besar untuk mengatasi kolitis mikroskopis. Metode pengobatan ini merupakan pilihan terakhir jika obat-obatan tidak memberikan pengaruh yang positif.
Komplikasi Kolitis Mikroskopis
Dibandingkan dengan jenis inflammatory bowel disease (IBD) lainnya, kolitis mikroskopis memiliki lebih kecil kemungkinan untuk menyebabkan komplikasi. Ketika terjadi diare parah akibat kolitis mikroskopis, penderitanya berisiko mengalami penurunan berat badan dan dehidrasi. Pada kasus yang jarang terjadi, kolitis mikroskopis dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti perforasi usus besar.
Kolitis mikroskopis bisa disembuhkan sepenuhnya melalui perawatan yang tepat. Oleh karena itu, jika mengalami gejala yang mengarah pada kondisi ini, seperti nyeri dan kram perut, segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Siloam Hospitals.
Menjaga kesehatan sistem pencernaan sangat penting agar aktivitas sehari-hari dapat berjalan dengan lancar. Untuk mewujudkan hal tersebut, Anda dapat melakukan medical check up secara rutin menggunakan paket Skrining Sistem Pencernaan Lengkap di Siloam Hospitals. Paket pemeriksaan tersebut bisa Anda pesan secara praktis melalui aplikasi MySiloam.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Anik Widajati, M.Kes, SpMK
Laboratorium Medis
Spesialis Mikrobiologi Klinik
Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Surabaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Feme Faeces / Feses Lengkap
Feses, Pencernaan
1 Service/Item
Rp144.900
TERPOPULER
Routine Faeces / Feses Rutin
Feses, Pencernaan
1 Service/Item
Rp112.500
TERPOPULER
Complete Blood Count + Diff / Pemeriksaan Darah Lengkap
1 Service/Item
Rp123.300
TERPOPULER
Occult Blood (Faeces) / Tes Darah Samar (Feses)
1 Service/Item
Rp148.500
TERPOPULER
USG LOWER ABDOMEN
USG
Rp543.000







