Pola Hidup Sehat
Malnutrisi Energi Protein (MEP) - Penyebab dan Pengobatannya

Table of Contents
Malnutrisi energi protein (MEP) adalah salah satu jenis gangguan gizi yang terjadi ketika tubuh kekurangan energi dan protein. Kondisi ini bisa terjadi pada berbagai kalangan usia, namun lebih sering dialami oleh anak-anak yang dapat memengaruhi proses tumbuh kembangnya. Mari kenali penyebab, gejala, hingga pengobatan MEP selengkapnya melalui artikel berikut ini.
Apa itu Malnutrisi Energi Protein (MEP)?
Seperti yang sudah dijelaskan bahwa malnutrisi energi protein (MEP) adalah kondisi ketika seseorang mengalami kekurangan energi dan protein. Kondisi ini merupakan permasalahan gizi pada anak yang sering terjadi. Namun, tidak menutup kemungkinan juga dialami oleh orang dewasa.
Pada dasarnya, malnutrisi energi protein dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu MEP tingkat sedang (dikenal sebagai kurang gizi) dan MEP tingkat parah (dikenal sebagai gizi buruk). Gizi buruk sendiri dapat dibagi kembali menjadi tiga jenis, yaitu:
-
Kwashiorkor: Jenis malnutrisi yang terjadi karena dominan kekurangan asupan protein dalam jangka waktu yang lama walaupun konsumsi energinya cukup. Contoh gejala kekurangan protein adalah wajah bulat dan sembap (moon face), bengkak seluruh tubuh terutama di punggung kaki, dan asites (perut membengkak karena adanya cairan berlebih pada rongga perut).
-
Marasmus: Jenis malnutrisi yang terjadi karena kekurangan asupan karbohidrat, protein, dan kalori. Adapun gejala kekurangan energi berat di antaranya anak tampak sangat kurus, tampak seolah tulang belulang dibungkus kulit, wajah seperti orang tua (old man face).
-
Marasmus-kwashiorkor: Jenis malnutrisi berat yang merupakan kombinasi dari kwashiorkor dan marasmus.
Penyebab Malnutrisi Energi Protein
Secara umum, penyebab utama malnutrisi energi protein adalah kurangnya asupan kalori dan protein tubuh. Di samping itu, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami malnutrisi energi protein (MEP) adalah sebagai berikut.
-
Kemiskinan.
-
Kurangnya pengetahuan mengenai kebutuhan gizi tubuh dan cara mengolah makanan yang baik.
-
Terkena dampak perang atau bencana alam.
-
Penyalahgunaan NAPZA atau kecanduan minuman beralkohol.
-
Menderita penyakit yang mengganggu proses penyerapan nutrisi, seperti infeksi saluran cerna, diare kronis, atau penyakit celiac.
-
Menderita penyakit yang mengganggu proses metabolisme tubuh atau menurunkan nafsu makan, seperti tuberkulosis (TB), HIV/AIDS, atau kanker.
-
Mengalami gangguan mental, seperti skizofrenia atau depresi.
-
Mengalami kondisi medis tertentu, seperti penyakit jantung bawaan atau gagal ginjal kronis.
-
Sindrom malabsorpsi, yaitu kumpulan gejala akibat gangguan penyerapan satu atau beberapa nutrisi di usus halus.
Gejala Malnutrisi Energi Protein
Malnutrisi energi protein dapat membuat penderitanya tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari secara optimal karena kekurangan nutrisi. Selain itu, kondisi ini juga dapat menimbulkan berbagai gejala, mulai dari berat badan di bawah normal, kehilangan nafsu makan, hingga diare kronis. Berikut beberapa gejala malnutrisi energi protein.
-
Berat badan di bawah normal, ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) kurang dari 18,5 kg/m².
-
Kehilangan nafsu makan.
-
Mudah lelah atau lemas terus-menerus.
-
Mudah kedinginan.
-
Penyusutan otot dan kadar lemak di dalam tubuh.
-
Sering gelisah, sedih, dan mudah marah.
-
Kesulitan untuk berkonsentrasi.
-
Kulit kering dan pucat.
-
Mudah sakit.
-
Luka lebih lama sembuh.
-
Rambut rontok.
-
Kesemutan atau mati rasa.
-
Diare kronis.
Sementara itu, beberapa gejala malnutrisi energi protein yang kerap dialami oleh anak-anak adalah sebagai berikut.
-
Cenderung rewel.
-
Proses tumbuh kembang yang terlambat daripada anak seusianya.
-
Mudah lelah dan tidak aktif.
-
Rentan terserang penyakit.
Komplikasi Malnutrisi Energi Protein
Apabila tidak segera ditangani dengan tepat, defisiensi nutrisi dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, mulai dari hipotermia hingga penurunan kesadaran yang berujung koma. Simak selengkapnya terkait komplikasi malnutrisi energi protein di bawah ini.
-
Kerusakan jaringan otak atau ensefalopati.
-
Hipoalbuminemia (kekurangan protein albumin di dalam darah).
-
Gangguan fungsi organ tubuh, seperti penyakit jantung atau gagal ginjal.
-
Gagal tumbuh, seperti stunting pada anak.
-
Gangguan belajar.
-
Penurunan kesadaran hingga koma.
Selain itu, penderita MEP juga rentan mengalami berbagai kondisi medis, seperti dermatitis seboroik, beri-beri (penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B1 atau tiamin, demensia, serta gangguan kesehatan tulang.
Diagnosis Malnutrisi Energi Protein
Untuk mendiagnosis MEP, dokter dapat melakukan wawancara medis (anamnesis) dengan pasien dan keluarganya untuk mengetahui keluhan, pola makan, dan riwayat kesehatan pasien. Lalu, dokter akan melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
Kemudian, dokter akan melakukan pengukuran berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) pasien untuk disesuaikan dengan kurva berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dari WHO (World Health Organization). Jika perbandingan BB/TB pasien berada di bawah nilai -3 SD pada kurva WHO,dapat dipastikan pasien mengalami MEP.
Selain itu, beberapa prosedur pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk membantu mengonfirmasi diagnosis MEP adalah:
-
Tes darah untuk mengetahui penyebab yang mendasari malnutrisi serta menilai kadar glukosa, protein, vitamin, dan mineral dalam tubuh pasien.
-
Pemeriksaan kadar protein serum total dan rasio albumin-globulin untuk melihat jumlah kadar protein pada anak.
-
Tes enzim atau faal hati untuk mengetahui apakah terdapat gangguan pada organ hati anak.
-
Tes uji tuberkulin untuk mengetahui apakah anak mengalami penyakit tuberkulosis yang bisa menjadi penyebab MEP.
-
Pemeriksaan feses untuk mendeteksi keberadaan parasit yang dapat menyebabkan MEP.
-
Foto rontgen dada untuk mendeteksi infeksi atau peradangan pada paru-paru yang mendasari terjadinya MEP.
Pengobatan Malnutrisi Energi Protein
Pada dasarnya, pengobatan malnutrisi energi protein (MEP) dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu stabilisasi, transisi, serta rehabilitasi. Beberapa langkah dalam tatalaksana malnutrisi energi protein adalah sebagai berikut:
-
Memberikan asupan makanan untuk mencegah dan mengatasi penurunan kadar gula dalam darah (hipoglikemia).
-
Menyelimuti tubuh pasien untuk mencegah dan mengatasi hipotermia.
-
Mencukupi kebutuhan cairan tubuh pasien untuk mencegah dan mengatasi terjadinya dehidrasi.
-
Memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit.
-
Mengobati infeksi dengan memberikan antibiotik.
-
Memperbaiki kekurangan zat gizi mikro dengan memberikan suplemen vitamin A, zat besi, dan mikronutrien lainnya seperti asam folat, zink, tembaga.
-
Memberikan asupan makanan khusus untuk mendorong proses pertumbuhan.
-
Merangsang atau menstimulasi perkembangan anak.
-
Merencanakan tindakan lanjutan untuk mencegah malnutrisi berulang.
Selain itu, dokter juga akan meningkatkan asupan kalori dan protein pasien, serta menangani kondisi medis yang mendasari MEP. Jika pasien tidak bisa mengonsumsi makanan atau minuman sama sekali, dokter akan memberikan asupan nutrisi melalui infus atau selang makan.
Dokter akan memberikan asupan nutrisi berupa suplemen atau makanan cair sedikit demi sedikit dan bertahap untuk mencegah refeeding syndrome, yaitu komplikasi malnutrisi yang terjadi akibat adanya perubahan mendadak pada metabolisme tubuh. Lalu, ketika kondisi tubuh pasien sudah siap, dokter akan memberikan makanan padat yang mengandung gizi seimbang, di antaranya karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.
Pada kasus yang lebih parah, terutama pada pasien anak-anak, dokter akan memberikan ready-to-use therapeutic food (RUTF), yaitu formula khusus berbentuk pasta yang kaya akan gizi. Dokter juga dapat meresepkan multivitamin dan obat-obatan tertentu untuk membantu meningkatkan nafsu makan pasien.
Pencegahan Malnutrisi Energi Protein
Malnutrisi energi protein dapat dicegah dengan cara menerapkan pola makan sehat dengan gizi seimbang pada si kecil. Pastikan untuk menyediakan sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, serta mineral guna memenuhi kebutuhan nutrisi anak sebaik mungkin.
Selain itu, penting pula untuk memenuhi asupan cairan tubuh sesuai dengan kebutuhan anak. Pastikan untuk menerapkan pola makan gizi seimbang. Jika si kecil menderita kondisi medis tertentu yang berisiko menyebabkan MEP, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan menjalani pengobatan hingga tuntas.
Apabila si kecil mengeluhkan gejala-gejala MEP seperti ulasan di atas, sebaiknya segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan medis yang tepat dari dokter kami.
Anda dapat memanfaatkan aplikasi fitur Cari Dokter atau aplikasi MySiloam untuk menemukan informasi jadwal praktik dan membuat janji temu dengan dokter. Mari jaga selalu kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals TB Simatupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
Dr. dr. Samuel Oetoro, MS, SpGK (K)
Gizi Klinik
Subspesialis Nutrisi pada Kelainan Metabolisme Gizi
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals TB Simatupang
Tersedia :
Tersedia hari ini








