Kesehatan Tubuh
Mengenal Penyebab Narkolepsi, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Narkolepsi adalah suatu kondisi ketika otak tidak bisa mengendalikan kemampuan untuk tidur atau tetap terjaga. Orang dengan kondisi ini sering tertidur di siang hari, disertai dengan beberapa gejala lainnya. Bila tidak segera diatasi, narkolepsi dapat mengganggu produktivitas sehari-hari penderitanya. Simak penyebab, gejala, serta pengobatan narkolepsi pada ulasan di bawah ini.
Apa itu Narkolepsi?
Narkolepsi adalah gangguan tidur yang menyebabkan seseorang sangat mengantuk di siang hari sehingga sulit untuk terjaga dalam waktu yang lama. Kondisi ini dapat menyebabkan penderitanya tertidur secara tiba-tiba, alhasil bisa menyebabkan masalah serius dan berdampak pada aktivitas sehari-hari mereka.
Narkolepsi merupakan gangguan tidur pada fase rapid eye movement/REM yang ditandai dengan tidur berlebihan di siang hari (excessive daytime sleepiness/EDS), serangan tidur yang tidak terkendali dan sering, serta fragmentasi tidur dan dapat dikaitkan dengan cataplexy, sleep paralysisr, dan halusinasi hipnagogik.
Cataplexy adalah hilangnya tonus otot secara tiba-tiba. Berdasarkan ada atau tidaknya cataplexy, narkolepsi terbagi menjadi dua jenis, yaitu narkolepsi tipe 1 dan tipe 2. Berikut masing-masing penjelasannya.
-
Narkolepsi tipe 1: Kondisi ini melibatkan cataplexy. Sekitar 20% kasus narkolepsi adalah tipe 1.
-
Narkolepsi tipe 2: Kondisi yang tidak disertai dengan cataplexy. Sebagian besar (80%) kasus narkolepsi merupakan tipe 2.
Penyebab Narkolepsi
Tidak diketahui secara pasti apa penyebab narkolepsi. Penderita narkolepsi 1 memiliki kadar hipokretin (orexin) yang rendah. Hipokretin adalah senyawa kimia otak yang membantu mengendalikan tubuh saat terjaga dan ketika memasuki REM (rapid eye movement) sleep.
Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa yang membuat hipokretin di dalam otak menjadi rendah. Namun, hal ini diduga berkaitan dengan reaksi autoimun, yaitu ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel dalam tubuhnya sendiri. Faktor genetik juga diketahui berperan dalam kondisi ini. Namun, risiko orang tua menurunkan kelainan ini pada anaknya sangat rendah, hanya sekitar 1–2%.
Dilansir dari Mayo Clinic, terdapat penelitian yang juga menunjukkan bahwa pada beberapa kasus, narkolepsi berkaitan dengan paparan virus flu babi (flu H1N1), serta bentuk tertentu dari vaksin H1N1 yang diberikan di Eropa. Di samping itu, beberapa faktor yang diketahui bisa meningkatkan risiko narkolepsi adalah:
-
Usia. Narkolepsi biasanya dimulai antara usia 10 dan 30 tahun.
-
Riwayat keluarga. Orang yang memiliki keluarga dengan riwayat narkolepsi berisiko 20–40 kali lebih tinggi mengalami kondisi ini.
-
Perubahan hormonal yang terjadi saat pubertas atau menopause.
-
Stres psikologis yang besar.
-
Kondisi medis lainnya, termasuk sarkoidosis, stroke, atau cedera kepala.
Gejala Narkolepsi
Narkolepsi memiliki empat gejala utama. Kendati demikian, tidak semua penderita mengalami keempatnya. Secara umum, empat gejala utama narkolepsi adalah sebagai berikut:
-
Rasa kantuk berlebihan di siang hari. Gejala ini dialami oleh semua orang dengan narkolepsi. Gejala ini biasanya disebut juga dengan serangan tidur (sleep attacks).
-
Kelemahan otot tiba-tiba (cataplexy). Gejala ini ditandai dengan bicara cadel atau kelemahan di sebagian besar otot yang bisa berlangsung hingga beberapa menit. Tidak semua orang dengan narkolepsi mengalami gejala ini.
-
Halusinasi yang berhubungan dengan tidur. Halusinasi bisa terjadi saat seseorang sedang tertidur (halusinasi hipnagogik). Halusinasi hipnagogik adalah pengalaman seperti mimpi visual, auditori, atau taktil yang terjadi saat pasien hendak tertidur atau baru bangun. Penderita biasanya dapat melihat wajah manusia atau merasakan seolah-olah ada orang lain di ruangan tersebut.
-
Sleep paralysis. Gejala ini menyebabkan seseorang tidak bisa bergerak atau berbicara, baik saat tidur atau setelah terbangun dari tidur. Sleep paralysis biasanya berlangsung singkat, hanya beberapa detik atau menit. Gejala ini tidak terjadi pada semua penderita narkolepsi.
Gejala lain narkolepsi adalah perubahan mode tidur ke tidur REM lebih cepat. Biasanya, orang baru memasuki fase tidur REM pada 60–90 menit setelah tertidur. Namun, penderita narkolepsi sering kali lebih cepat memasuki mode tidur ini, mungkin 15 menit setelah tertidur.
Di samping itu, orang dengan narkolepsi mungkin juga mengalami gangguan tidur lainnya, seperti obstructive sleep apnea, yaitu kondisi ketika pernapasan berhenti sementara di malam hari. Penderita kondisi ini juga bisa mengalami kesulitan untuk tidur atau insomnia di malam hari.
Diagnosis Narkolepsi
Sebelum menegakkan diagnosis narkolepsi, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien. Dokter biasanya menduga narkolepsi berdasarkan gejala kantuk berlebih di siang hari dan hilangnya tonus otot secara tiba-tiba (cataplexy).
Guna mengonfirmasi diagnosis narkolepsi, dokter mungkin akan meminta pasien menjalani sejumlah pemeriksaan berikut ini:
-
Sleep study (polysomnogram). Rekaman di malam hari untuk mengukur aktivitas otak dan otot, pernapasan, gerakan mata, dan lain-lain. Tes ini dapat membantu menentukan apakah gejala disebabkan oleh kondisi lain, seperti sleep apnea.
-
Multiple sleep latency test (MSLT). Tes yang mengukur seberapa cepat seseorang dapat tertidur di siang hari dan apakah seseorang tersebut memasuki fase tidur REM dengan cepat.
-
Maintenance of wakefulness test.
-
Tes pungsi lumbal. Tes cairan tulang belakang yang dapat mengukur kadar hipokretin.
-
Sleep diary. Catatan harian tidur selama 1–2 minggu untuk melacak tidur dan gejala yang timbul.
Dalam menegakkan diagnosis narkolepsi, dokter dapat menggunakan kriteria dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fifth Edition (DSM-5), yaitu:
-
Gejala terjadi setidaknya tiga kali seminggu selama 3 bulan terakhir.
-
Gejala disertai salah satu dari kondisi lain seperti:
-
Kekurangan hipokretin.
-
Episode katapleksi yang terjadi setidaknya beberapa kali dalam sebulan.
-
Latensi tidur REM kurang dari 15 menit atau dua atau lebih periode REM awal tidur (sleep-onset REM periods/SOREMP) dan latensi tidur rata-rata kurang dari 8 menit.
Komplikasi Narkolepsi
Sejumlah komplikasi yang bisa disebabkan oleh narkolepsi adalah sebagai berikut:
-
Kesalahpahaman masyarakat mengenai kondisi ini. Beberapa orang yang belum memahami tentang narkolepsi bisa mengira bahwa penderita kondisi ini sebagai orang yang malas atau lesu. Pada penderitanya sendiri, kondisi ini dapat menurunkan produktivitasnya di sekolah atau tempat kerja.
-
Efek pada hubungan sosial. Cataplexy, sebagai salah satu gejala narkolepsi, bisa dipicu oleh emosi yang intens, seperti kegembiraan dan kemarahan. Hal ini dapat menyebabkan penderitanya lebih sulit berkomunikasi dan cenderung menarik diri dari interaksi emosional.
-
Gangguan suasana hati (mood) seperti depresi dan kecemasan umum dapat terjadi pada pasien narkolepsi, tetapi belum jelas apakah ini disebabkan oleh patofisiologi penyakit narkolepsi atau dampak narkolepsi terhadap kualitas hidup.
-
Gangguan secara fisik. Penderita narkolepsi bisa tidur secara tiba-tiba, hal ini berpotensi menyebabkan cedera. Misalnya, jika tertidur saat sedang berkendara, penderita bisa mengalami kecelakaan.
-
Obesitas. Orang dengan narkolepsi cenderung memiliki berat badan berlebih, yang mana obesitas sendiri merupakan faktor risiko dari berbagai jenis penyakit.
Pengobatan Narkolepsi
Perlu diketahui bahwa narkolepsi adalah kondisi yang tidak dapat disembuhkan. Tidak ada pengobatan khusus untuk narkolepsi, tetapi penderita dapat mengelola gejalanya dan meminimalkan dampaknya pada kehidupan sehari-hari.
Dokter dapat memberikan obat-obatan untuk mengendalikan gejalanya. Meskipun beberapa stimulan sistem saraf pusat bisa digunakan untuk mengobati narkolepsi, tidak ada obat yang 100% efektif pada semua pasien. Adapun jenis obat-obatan untuk narkolepsi adalah sebagai berikut:
-
Obat agar tetap terjaga (wakefulness medications), seperti modafinil dan armodafinil. Obat ini dapat merangsang sistem saraf untuk mengurangi rasa kantuk di siang hari.
-
Amfetamin dan stimulan yang mirip amfetamin.
-
Antidepresan.
-
Sodium oxybate. Obat ini bisa membantu tidur dan mengurangi frekuensi cataplexy.
-
Obat antagonis reseptor histamin H3.
Selain itu, penderita juga disarankan untuk menerapkan beberapa gaya hidup berikut ini:
-
Membuat jadwal tidur dan mengikutinya secara teratur.
-
Tidur siang singkat selama 20 menit.
-
Menghindari nikotin dan alkohol, terutama di malam hari.
-
Olahraga secara teratur.
-
Konseling kesehatan mental.
Perlu dipahami bahwa informasi yang disebutkan hanya untuk tujuan edukasi dan tidak dapat menggantikan diagnosis maupun saran perawatan dari dokter. Penyebab dan gejala yang dijelaskan di atas pun tidak secara spesifik merepresentasikan narkolepsi, sehingga bisa terjadi pada kondisi medis lainnya.
Apabila mengalami gejala-gejala tidak biasa yang berkaitan dengan kondisi ini, penting untuk memperoleh diagnosis yang akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat. Bersama Siloam Hospitals, Anda juga dapat memperoleh penanganan lebih lanjut sesuai dengan kondisi tubuh.
Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.
Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Mayo Clinic. Narcolepsy. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Narcolepsy. Diakses pada 2024 | National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Diakses pada 2024 | National Heart, Lung, and Blood Institute. Narcolepsy. Diakses pada 2024 | NHS.UK. Narcolepsy. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini






