Kesehatan Tubuh
Mengenal Apa itu Tonus Otot dan Prosedur Pemeriksaannya

Table of Contents
Tonus otot adalah tingkat ketegangan atau kekencangan otot yang diperlukan agar bisa mendukung pergerakan tubuh. Pada dasarnya, kekuatan otot ini memiliki peran penting dalam sistem muskuloskeletal tubuh. Dokter mengarahkan pasien untuk melakukan pemeriksaan tonus otot guna mengevaluasi berbagai jenis penyakit, salah satunya adalah cerebral palsy. Mari kenali apa itu tonus otot serta prosedur pemeriksaannya dalam artikel berikut ini.
Apa itu Tonus Otot?
Seperti yang telah dijelaskan bahwa muscle tonus atau tonus otot adalah tingkat ketegangan (resistensi) otot dalam keadaan istirahat atau tidak sedang berkontraksi. Menurut definisi Foster sejak tahun 1892, tonus otot didefinisikan sebagai resistensi pada pergerakan pasif (pergerakan yang dilakukan oleh orang lain atau pemeriksa bukan oleh diri sendiri).
Otot yang berada di seluruh bagian tubuh memiliki muscle tone. Fungsinya adalah menjaga postur serta stabilitas sendi agar tubuh bisa berdiri maupun duduk dengan tegak. Selain itu, tonus otot juga berperan penting dalam mengontrol kecepatan serta jumlah gerakan yang dilakukan tubuh.
Secara umum, tingkat ketegangan otot ini dapat dibedakan menjadi dua jenis, di antaranya sebagai berikut:
-
Tonus otot normal: Kondisi ketika otot tidak mengalami kekakuan saat tidak digerakkan.
-
Tonus otot abnormal: Kondisi ketika terjadi perubahan pada kekuatan otot. Kondisi ini dapat dibagi kembali menjadi dua jenis, yaitu:
-
Hipertonia: Tingkat ketegangan otot melebihi batas normal, seperti pada kondisi kram otot.
-
Hipotonia: Tingkat ketegangan otot berada di bawah batas normal, seperti pada kondisi atrofi otot.
Tujuan Pemeriksaan Tonus Otot
Pada dasarnya, dokter dapat melakukan pemeriksaan tonus otot jika pasien menunjukkan tanda atau gejala yang dicurigai berkaitan dengan kelainan sistem motorik, seperti ekstremitas (sistem anggota gerak tubuh) yang terkulai, kesulitan mengangkat bedan, atau gerakan yang cenderung kaku. Tujuan dari pemeriksaan tonus otot adalah membantu menegakkan diagnosis serta menentukan jenis terapi yang tepat untuk menangani beberapa kondisi berikut ini:
-
Cedera medula spinalis (sumsum tulang belakang).
Prosedur Pemeriksaan Tonus Otot
Sebelum melakukan pemeriksaan tonus otot, dokter akan terlebih dahulu menanyakan keluhan yang dialami pasien, riwayat medis pasien, dan riwayat obat-obatan yang dikonsumsi. Kemudian, dokter akan menjelaskan mengenai prosedur pemeriksaan tonus otot kepada pasien.
Secara umum, prosedur pemeriksaan ini cenderung sederhana, tidak menggunakan alat khusus, namun mungkin bisa membuat pasien merasa tidak nyaman. Pasien juga diharapkan untuk rileks, kooperatif, dan tenang selama proses pemeriksaan berlangsung agar hasilnya tidak rancu. Adapun langkah-langkah pemeriksaan tonus otot adalah sebagai berikut:
1. Inspeksi (Pemeriksaan Visual)
Langkah pertama dalam pemeriksaan tonus otot adalah inspeksi. Melalui proses pemeriksaan ini, dokter akan melihat kondisi otot pasien secara visual. Tujuannya untuk mencari tanda-tanda ketegangan yang tidak wajar maupun perubahan bentuk otot yang bisa menjadi indikasi dari kondisi medis tertentu.
Dokter juga dapat melihat apakah terdapat perbedaan ukuran otot pada ekstremitas sebelah kanan dibandingkan dengan ekstremitas sebelah kiri, atau antara otot bagian tubuh yang sakit dengan otot bagian tubuh yang normal.
2. Palpasi (Pemeriksaaan Sentuhan)
Setelah melakukan inspeksi, dokter akan melanjutkan pemeriksaan dengan cara menyentuh dan merasakan respons otot tubuh pasien terhadap tekanan. Prosedur ini bisa membantu dokter dalam mengidentifikasi perbedaan ketegangan otot pada berbagai bagian tubuh.
3. Pemeriksaan Aktif dan Pasif
Pemeriksaan aktif adalah ketika dokter menginstruksikan pasien untuk menggerakkan otot secara mandiri semampu yang pasien bisa. Umumnya, dokter akan memulai pemeriksaan pada bagian yang normal terlebih dahulu, kemudian dibandingkan dengan yang sakit.
Setelah melakukan pemeriksaan pasif, dokter akan melakukan pemeriksaan aktif dengan cara membantu menggerakan otot pasien, baik pada bagian yang sehat ataupun yang sakit. Pemeriksaan pasif dan aktif dilakukan dengan meregangkan atau merentangkan otot bagian atas maupun bawah ke berbagai arah. Tujuannya adalah untuk menilai respons otot terhadap gerakan.
Adapun contoh aplikasi prosedur pemeriksaan ketegangan otot bagian atas secara pasif adalah sebagai berikut:
-
Pasien dapat meletakkan sikunya pada tangan kiri dokter.
-
Tangan kanan dokter memegang tangan pasien seperti sedang berjabat tangan.
-
Kemudian, dokter secara cepat melakukan gerakan supinasi (memutar lengan agar telapak tangan menghadap ke atas) serta pronasi (memutar telapak tangan sehingga posisinya mengarah ke bawah).
-
Dokter dapat mengulangi langkah-langkah tersebut pada sisi lainnya.
Sementara itu, contoh aplikasi pemeriksaan aktif untuk otot tubuh bagian bawah dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini:
-
Dokter akan meletakkan tangan di paha pasien.
-
Kemudian, dokter akan meminta pasien untuk melakukan gerakan mendekati dan menjauhi tungkai kaki yang berlawanan.
4. Pengukuran Rentang Gerak
Melalui hasil pemeriksaan di atas, dokter dapat melanjutkan proses skrining dengan mengukur rentang gerakan sendi (range of motion) serta menilai sejauh mana otot bisa meregang dan berkontraksi. Dengan begitu, dokter bisa mengevaluasi apakah ada masalah yang memengaruhi mobilitas tubuh pasien.
5. Pemeriksaan Refleks Tendon
Pemeriksaan refleks tendon dapat dilakukan dengan cara mengetuk area tendon tertentu di sekitar persendian untuk mengamati respons otot pada bagian tubuh tersebut. Jika otot menunjukkan refleks yang terlalu kuat atau terlalu lemah, maka hal tersebut bisa menjadi indikasi adanya masalah pada muscle tonus atau gangguan saraf.
6. Uji Fungsi Neuromuskular
Dalam kondisi tertentu, dokter dapat melakukan uji saraf atau uji elektromiografi (EMG) dalam prosedur pemeriksaan tonus otot. Hal ini bertujuan untuk mengukur aktivitas otot serta mengidentifikasi gangguan neurologis yang bisa memengaruhi tingkat ketegangan otot.
Pada intinya, pemeriksaan tonus otot dapat dilakukan untuk mendeteksi gangguan kesehatan tertentu, termasuk gangguan pada otot. Jika Anda mengalami gejala-gejala yang berkaitan dengan gangguan otot, sebaiknya segera konsultasikan hal tersebut dengan Dokter Spesialis Ortopedi (Tulang) dari Siloam Hospitals guna mendapatkan diagnosis dan tindakan medis yang tepat.
Selain itu, Siloam Hospitals juga menyediakan paket Fisioterapi dalam layanan Siloam at Home yang memungkinkan pasien untuk memperoleh perawatan dari fisioterapis berpengalaman secara praktis di rumah. Tak perlu khawatir, instruksi pemberian layanan fisioterapi ini dilakukan sesuai dengan hasil konsultasi bersama dokter spesialis rehabilitasi medik dari Siloam Hospitals.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed
Ortopedi (Tulang)
Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini







