Pubertas Dini - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya
Ibu dan Anak

Pubertas Dini - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

27 Oktober 2025 6 menit waktu baca
mengenal pubertas dini

Pubertas adalah suatu perubahan, baik dalam kondisi fisik maupun emosional, di mana anak beranjak dewasa dan mampu bereproduksi secara seksual. Umumnya, pubertas dimulai sekitar usia 11 tahun untuk anak laki-laki dan 10 tahun untuk anak perempuan. Namun, pada beberapa kasus, anak dapat mengalami pubertas dini yang dimulai sebelum menginjak usia 8 atau 9 tahun. Lantas, apa penyebab kondisi tersebut?

 

Untuk mengetahuinya, mari simak ulasan lengkap mengenai pubertas dini melalui pembahasan berikut.

 

Penyebab Pubertas Dini

 

Pubertas dini adalah kondisi ketika fase pertumbuhan bentuk dan ukuran tubuh, perkembangan tulang dan otot, serta kematangan sistem reproduksi anak terjadi lebih cepat dari normalnya, yaitu sebelum menginjak usia 8 tahun untuk anak perempuan dan sebelum berusia 9 tahun pada anak laki-laki. Berdasarkan penyebabnya, kondisi ini dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu central precocious puberty dan peripheral precocious puberty.

 

1. Central Precocious Puberty (CPP)

 

Central precocious puberty adalah pubertas dini yang terjadi akibat pelepasan hormon gonadotropin (gonadotropin-dependent) terkait gangguan pada hipotalamus atau kelenjar pituitari di usia yang lebih muda dari seharusnya. Hormon gonadotropin ini memberi sinyal kepada organ reproduksi untuk memproduksi hormon lain (hormon estrogen pada anak perempuan dan testosteron pada anak laki-laki) yang kemudian memulai perkembangan fungsi seksual.

 

Belum diketahui secara pasti apa penyebab terjadinya central precocious puberty. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini dapat dipicu oleh beberapa hal, di antaranya:

  • Riwayat keluarga dengan CPP.

  • Cedera atau tumor pada otak dan sumsum tulang belakang.

  • Hipotiroidisme.

  • Cacat otak saat lahir, seperti hidrosefalus.

  • Terapi radiasi pada otak atau sumsum tulang belakang.

  • Penyakit genetik langka yang memengaruhi tulang dan warna kulit serta menyebabkan masalah hormonal. Kondisi ini disebut sindrom McCune-Albright.

  • Infeksi, seperti tuberkulosis meningitis.

 

2. Peripheral Precocious Puberty

 

Peripheral precocious puberty adalah pubertas dini yang tidak disebabkan oleh pelepasan hormon gonadotropin lebih awal (gonadotropin-independent). Kondisi ini terjadi karena adanya gangguan pada kelenjar adrenal atau pituitari sehingga memicu pelepasan hormon seksual estrogen dan testosteron lebih awal. Terdapat sejumlah faktor yang bisa memicu terjadinya kondisi ini, yaitu:

  • Sindrom McCune-Albright.

  • Tumor pada kelenjar pituitari atau kelenjar adrenal.

  • Terdapat tumor atau kista indung telur pada anak perempuan.

  • Terdapat tumor dalam sel penghasil testosteron atau sperma pada anak laki-laki.

  • Terkena krim atau salep yang mengandung estrogen atau testosteron.



Faktor Risiko Pubertas Dini

 

Selain kondisi medis di atas, sejumlah faktor lainnya yang bisa meningkatkan risiko terjadinya pubertas dini adalah sebagai berikut:

  • Obesitas pada anak.

  • Berjenis kelamin perempuan (anak perempuan lebih berisiko mengalami pubertas dini dibandingkan anak laki-laki).

 

Gejala Pubertas Dini

 

Pada dasarnya, gejala pubertas dini tidak berbeda dengan gejala pubertas normal pada umumnya. Hanya saja, gejala tersebut muncul di usia yang lebih awal daripada seharusnya. Secara umum, gejala dari pubertas dini adalah sebagai berikut:

  • Munculnya jerawat.

  • Tumbuhnya rambut halus pada bagian tubuh tertentu, seperti pada kemaluan atau ketiak.

  • Adanya perubahan suara.

  • Perilaku yang berubah menjadi lebih dewasa.

  • Pertumbuhan tinggi badan cenderung lebih pesat.

  • Memiliki aroma tubuh khas seperti orang dewasa.

 

Di samping itu, gejala pubertas dini juga dapat berbeda pada masing-masing jenis kelamin. Pada anak perempuan, gejala yang muncul adalah:

  • Pertumbuhan payudara lebih awal.

  • Mengalami menstruasi pertama kali (menarche) lebih awal.

 

Di sisi lain, gejala pubertas dini yang dialami oleh anak laki-laki antara lain:

  • Suara cenderung berubah menjadi lebih berat sebelum waktunya.

  • Pembesaran penis dan testis lebih awal.

  • Tumbuhnya rambut halus di sekitar wajah, seperti kumis dan jenggot yang muncul lebih awal.

 

Komplikasi Pubertas Dini

 

Jika tidak segera ditangani dengan tepat, terdapat sejumlah dampak pubertas dini yang perlu diwaspadai, yaitu:

  • Postur tubuh cenderung lebih pendek. Meski masa pertumbuhannya terjadi lebih cepat dibandingkan anak seusianya, kondisi ini dapat menyebabkan anak berhenti tumbuh sebelum waktunya karena proses pematangan tulang yang terjadi terlalu awal.

  • Gangguan sosial dan emosi. Perubahan fisik yang dialami oleh anak saat mengalami pubertas lebih awal dapat membuat ia merasa kebingungan, malu, dan stres karena merasa berbeda dengan teman-teman seusianya. Pada beberapa kasus, kondisi ini juga bisa memicu depresi pada anak.

 

Diagnosis Pubertas Dini

 

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter dapat melakukan anamnesis atau wawancara medis  dengan pasien dan keluarga untuk mengetahui keluhan serta riwayat penyakitnya. Pemeriksaan fisik juga dapat dilakukan untuk memeriksa perubahan fisik pada tubuh anak yang terindikasi mengalami pubertas lebih awal. Dokter juga dapat melakukan tes darah dan tes urine untuk mendeteksi kadar hormon di dalam tubuh anak.

 

Lalu, dokter akan melakukan stimulasi hormon gonadotropin untuk mengetahui jenis pubertas dini yang dialami oleh pasien. Melalui tes ini, dokter akan terlebih dahulu mengambil sampel darah, lalu menyuntikkan hormon GnRH pada tubuh pasien. Setelah itu, dokter akan kembali mengambil sampel darah pasien untuk dibandingkan dengan sampel darah sebelum disuntikkan hormon GnRH.

 

Selain itu, sejumlah pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk mengonfirmasi diagnosis pubertas dini adalah:

  • Rontgen tangan dan pergelangan tangan untuk mengetahui apakah pertumbuhan tulang anak sesuai dengan usianya.

  • Tes hormon tiroid.

  • MRI untuk memeriksa kelainan otak yang dapat memicu pubertas terjadi lebih awal.

  • USG untuk mengamati apakah terdapat kondisi abnormal pada kelenjar adrenal, ovarium pada perempuan, dan testis pada laki-laki.

 

Penanganan Pubertas Dini

 

Awalnya, anak yang mengalami pubertas lebih awal akan tumbuh lebih tinggi daripada anak-anak seusianya. Namun, setelah menginjak usia dewasa, mereka justru akan memiliki tinggi badan yang lebih rendah dari rata-rata.

 

Oleh karenanya, penanganan pubertas dini sesegera mungkin bertujuan agar anak dapat tumbuh dengan normal hingga beranjak dewasa, baik secara fisik maupun emosional.

 

Metode pengobatan yang dilakukan berbeda-beda tergantung pada penyebab dari pubertas dini itu sendiri. Bila anak didiagnosis mengalami central precocious puberty, maka dokter dapat menanganinya dengan terapi analog GnRH. Melalui terapi ini, dokter akan menyuntikkan obat untuk menghambat perkembangan tubuh anak yang mengalami pubertas lebih awal. Suntikan ini akan diberikan setiap bulan sampai anak mencapai usia pubertas normal.

 

Namun, jika pubertas lebih dini disebabkan oleh kondisi medis tertentu, dokter dapat menangani penyebab yang mendasarinya terlebih dahulu. Misalnya, pubertas dini yang disebabkan oleh tumor akan ditindaklanjuti dengan prosedur pembedahan untuk mengangkat massa abnormal tersebut.

 

Pencegahan Pubertas Dini

 

Secara umum, pubertas dini adalah kondisi yang cenderung sulit dicegah terutama jika disebabkan oleh kelainan genetik. Namun, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan:

 

  • Mendorong anak untuk lebih banyak bergerak dan berolahraga secara rutin untuk menjaga berat badan.

  • Menerapkan pola tidur yang sesuai dengan usianya.

  • Membatasi konsumsi makanan berkalori tinggi.

  • Membatasi paparan media, terutama tontonan yang mengandung konten dewasa atau seksual.

  • Menyediakan menu makan sehat dengan gizi seimbang.

  • Menciptakan lingkungan keluarga yang stabil, penuh cinta, dan dukungan emosional untuk membantu mengurangi risiko stres yang dapat memengaruhi keseimbangan hormon.

 

Selain itu, risiko pubertas dini pada anak juga dapat diminimalkan dengan menghindari penggunaan krim, salep, atau obat-obatan yang mungkin memiliki kandungan hormon estrogen atau testosteron pada anak tanpa anjuran dokter.

 

Meski tidak berbahaya, pubertas lebih dini tetap perlu ditangani dengan tepat untuk menghindari gangguan pertumbuhan pada anak. Oleh karenanya, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat apabila Anda menemukan gejala tidak biasa terkait dengan kondisi tubuh si kecil.


Cari informasi jadwal dan reservasi pertemuan Anda dengan dokter melalui fitur Cari Dokter yang juga tersedia pada MySiloam. Atau, manfaatkan juga MySiloam untuk memudahkan Anda dalam melakukan konsultasi dengan dokter secara virtual. Mari percayakan kesehatan Anda dan buah hati #BersamaSiloam!

 

telechat (1)

Dokter Kami
dr-liem-eremius-arifin-spa

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Liem Eremius Arifin, SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ifo-faujiah-sihite-mked-ped-spa

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Jambi

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-anggun-kusumasari-spa-msc

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Balikpapan

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail