Mengenal Terapi Perilaku Dialektis, Tujuan, dan Prosedurnya
Kesehatan Mental

Mengenal Terapi Perilaku Dialektis, Tujuan, dan Prosedurnya

10 September 2024 5 menit waktu baca
terapi perilaku dialektis

Terapi perilaku dialektis atau dialectical behavior therapy (DBT) adalah salah satu jenis psikoterapi (talk therapy) untuk seseorang yang merasakan emosi yang sangat intens. Terapi ini kerap dilakukan untuk menangani berbagai gangguan mental, salah satunya adalah borderline personality disorder. Simak pembahasan selengkapnya mengenai terapi perilaku dialektis dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Terapi Perilaku Dialektis?

 

Seperti yang telah dijelaskan, terapi perilaku dialektis adalah salah satu jenis psikoterapi yang dimodifikasi dari terapi perilaku kognitif untuk menangani seseorang dengan emosi yang sangat intens. Sebagai informasi, terapi perilaku kognitif adalah jenis psikoterapi untuk membantu seseorang memahami bagaimana pikiran memengaruhi emosi serta perilaku.

 

Adapun perbedaan yang paling signifikan antara terapi perilaku dialektis dan terapi perilaku kognitif dapat dilihat dari fokus utamanya. Terapi perilaku kognitif berfokus pada membantu seseorang untuk mengubah pola pikir dan perilaku yang tidak baik. 

 

Sementara itu, terapi perilaku dialektis dilakukan dengan mengubah perilaku dan pola pikir yang tidak baik, sekaligus membantu seseorang untuk menerima dirinya sendiri. DBT lebih menekankan pada penerimaan. Seseorang akan diajak untuk menyadari dan menerima apa yang telah terjadi pada dirinya, kemudian dibimbing untuk melakukan perubahan pada hal-hal yang dirasa kurang tepat.

 

Terapi perilaku dialektis secara khusus berfokus pada empat keterampilan utama, yaitu:

 

  • Mindfulness. Mindfulness salah satu praktik yang bertujuan membuat seseorang lebih fokus, memusatkan perhatian terhadap situasi saat ini, menerimanya, serta tidak menghakimi diri sendiri. Keterampilan ini merupakan dasar dari DBT. Mindfulness sangat membantu dalam upaya penurunan emosi negatif yang dirasakan oleh seseorang.

  • Kemampuan menoleransi tekanan (distress tolerance). Kemampuan ini berfungsi untuk menghadapi situasi sulit, mengatasi rasa sakit (coping with pain), serta menjadi lebih percaya diri dan tangguh.

  • Efektivitas interpersonal (interpersonal effectiveness). Keterampilan ini bertujuan untuk membantu seseorang dalam memahami bagaimana cara mereka meminta apa yang dibutuhkan dan diinginkan, belajar untuk menolak dan mengatakan ‘tidak’, mengatasi konflik, membangun pertemanan, serta menetapkan batasan tertentu sambil menjaga rasa hormat terhadap diri sendiri maupun orang lain.

  • Regulasi emosi (emotion regulation). Keterampilan ini membantu seseorang untuk memahami dan memiliki kendali atas emosi yang dirasakan, serta menciptakan emosi positif.

 

Istilah ‘dialektis’ sendiri berarti mencoba memahami bagaimana dua aspek yang terlihat saling bertolak belakang bisa menjadi hal yang benar. Misalnya, menerima diri dan mengubah perilaku yang tidak baik mungkin akan terdengar kontradiktif. Namun, terapi ini mengajarkan bahwa dua tujuan tersebut bisa dicapai secara bersamaan.

 

Tujuan Terapi Perilaku Dialektis

 

DBT berfokus untuk membantu seseorang memahami dan menerima perilaku maupun perasaan sulit mereka. Terapi ini juga dapat membantu mengubah perilaku yang tidak baik serta mengajarkan mereka untuk mengelola perasaan yang intens. Terapi ini umumnya dilakukan untuk menangani berbagai gangguan mental, seperti:

 

  • Borderline personality disorder (BPD). DBT dapat membantu meredakan emosi pasien yang berlebihan dan melatih pasien untuk mejadi lebih toleran terhadap tingkat stres tinggi. DBT juga bisa membantu pasien untuk mengatasi perilaku terkait masalah dalam hubungan, perilaku menyakiti diri sendiri, dan perilaku impulsif.

  • Perilaku self-harm. DBT berfungsi untuk mengajarkan pasien mengenai teknik dalam mengatasi impuls (keinginan kuat) melakukan self-harm (menyakiti diri sendiri) dan mencegah perilaku tidak sehat. 

  • Suicidal thought.

  • Post-traumatic stress disorder (PTSD). DBT dapat membantu pasien dalam memproses peristiwa traumatis dan memberikan teknik dasar untuk mengurangi keparahan gejala PTSD.

  • Gangguan penggunaan zat terlarang. DBT dapat membantu pasien untuk mengurangi keinginan mengonsumsi obat-obatan terlarang, mencegah pasien untuk berada di lingkungan yang memungkinkan pasien memiliki akses terhadap obat-obatan terlarang, dan membantu mengatasi stres. 

  • Gangguan makan, terutama binge eating disorder dan bulimia. DBT bisa membantu mengatasi bulimia dan makan berlebihan dengan mengembangkan toleransi terhadap tekanan dan keterampilan pengaturan emosi.

  • Depresi.

  • Anxiety disorder. DBT dapat membantu pasien yang memiliki keluhan depresi dan kecemasan untuk menyadari dan mengatasi pikiran negatif dan mengalihkannya ke pikiran positif.

  • Gangguan bipolar.

  • Obsessive compulsive disorder (OCD).

  • Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). DBT dapat membantu pasien ADHD untuk meningkatkan pengendalian impuls dan mengembangkan keterampilan dalam mengorganisasi sesuatu.

 

Prosedur Terapi Perilaku Dialektis

 

Prosedur dialectical behavior therapy bisa bervariasi, tergantung pada metode yang digunakan oleh setiap terapis. Namun, secara umum terapi ini akan melibatkan beberapa sesi, yaitu yaitu DBT pre-assessment, individual therapy, group therapy, dan telephone crisis coaching. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

  • DBT pre-assessment: Pada sesi ini, terapis akan menanyakan perasaan dan kondisi pasien secara keseluruhan. Selain itu, terapis juga akan menjelaskan bagaimana cara kerja DBT.

  • Individual therapy: Terapi ini umumnya dilakukan setiap minggu dengan durasi selama 40–60 menit untuk satu kali sesinya. Tujuan dilakukannya individual therapy adalah:

    • Membantu mengurangi suicidal thought dan perilaku self-harm.

    • Membatasi perilaku yang dapat mengganggu sesi terapi lainnya.

    • Membantu meningkatkan kualitas hidup pasien dengan mengatasi hal-hal yang dapat menghambat perkembangan diri.

    • Membantu pasien mempelajari keterampilan baru untuk mengubah perilaku yang tidak baik.

  • Group therapy: Melalui sesi ini, terapis akan mengajari keterampilan tertentu di dalam sekelompok orang. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. 

  • Telephone crisis coaching: Sesi ini dilakukan oleh pasien dengan menelepon terapis pada waktu yang telah disepakati untuk mendapatkan dukungan di luar sesi terapi lainnya. Misalnya, saat pasien memiliki keinginan secara tiba-tiba untuk melakukan self-harm, pasien bisa segera menelepon terapis untuk meminta bantuan.

 

Di samping itu, terapi ini juga dapat dibagi menjadi 4 tahapan, yaitu:

 

  • Tahap 1: Pada tahap awal, terapis akan menangani perilaku yang paling serius dan bisa berdampak negatif pada diri sendiri. Ini termasuk perilaku self-harm (menyakiti diri sendiri) atau suicidal thought (pikiran bunuh diri).

  • Tahap 2: Terapis akan berfokus menangani hal-hal yang bisa memengaruhi kualitas hidup seseorang, seperti keterampilan efektivitas interpersonal, keterampilan mengelola emosi, dan lain sebagainya.

  • Tahap 3: Tahap ini dilakukan dengan menangani isu-isu yang berkaitan dengan harga diri (self-esteem) dan hubungan interpersonal.

  • Tahap 4: Melalui tahap ini, pengobatan akan difokuskan untuk membantu pasien mendapatkan hasil yang maksimal dari kehidupan mereka, seperti menemukan cara untuk memperoleh kebahagiaan yang lebih besar, memperkuat hubungan dengan orang lain, dan lain-lain.

 

Sebagai informasi, terapi perilaku dialektis dapat dilakukan jika diagnosis gangguan mental telah ditegakkan. Dengan kata lain, terapi ini perlu dilakukan di bawah arahan tenaga medis profesional. Maka dari itu, sangat penting untuk melakukan konseling dengan Psikiatri di Siloam Hospitals Lippo Village guna memperoleh evaluasi, diagnosis, dan penanganan yang tepat terkait dengan gangguan mental.

 

Perlu diketahui bahwa setiap tahapan pemeriksaan dan penanganan terkait gangguan mental yang Anda jalani bisa bervariasi di setiap rumah sakit, tergantung pada fasilitas kesehatan yang tersedia di masing-masing rumah sakit tersebut. Namun, tenaga medis profesional akan merencanakan prosedur medis dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien.

 

Anda bisa menggunakan layanan Telekonsultasi untuk melakukan konsultasi langsung dengan dokter secara virtual. Melalui layanan ini, dokter juga bisa memberikan resep obat-obatan tertentu tanpa mengharuskan pasien keluar rumah. Namun, apabila diresepkan obat tertentu, seperti antipsikotik dan antidepresan, pasien wajib mengambilnya secara langsung.

 

telechat

message

ArticleDetail