Ibu dan Anak
Torsi Ovarium - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Ovarian torsion atau torsi ovarium adalah kondisi kegawatdaruratan medis yang ditandai dengan terpelintirnya ovarium di sekitar ligamen yang menopangnya di dalam tubuh. Kondisi ini bisa menghambat aliran darah ke ovarium dan tuba falopi sehingga kerap menimbulkan beberapa gejala, seperti nyeri perut, mual, muntah, dan sebagainya. Mari simak informasi selengkapnya mengenai ovarian torsion melalui artikel berikut ini.
Apa itu Torsi Ovarium?
Seperti yang telah dijelaskan, torsi ovarium adalah kondisi ketika ovarium terpuntir pada jaringan yang menopangnya. Ovarium atau indung telur sendiri merupakan kelenjar berbentuk oval yang terletak di kedua sisi rahim. Fungsinya adalah untuk memproduksi dan melepaskan sel telur selama usia reproduktif. Selain itu, ovarium juga berperan penting dalam produksi hormon yang bertugas mengontrol siklus menstruasi dan kehamilan.
Ovarian torsion adalah kondisi darurat medis yang perlu segera ditangani dengan tepat. Pasalnya, apabila dibiarkan tanpa mendapatkan penanganan sesegera mungkin, kondisi ini bisa menyebabkan ovarium dan jaringan di sekitarnya mati karena tidak mendapatkan suplai darah.
Penyebab Torsi Ovarium
Ovarian torsion bisa terjadi ketika terdapat sesuatu yang mengganggu jaringan penopang ovarium di dalam panggul, sehingga menyebabkan ovarium berubah posisi dari tempat normalnya. Kondisi ini sering kali terjadi akibat pertumbuhan kista ovarium, terutama jika kista tersebut berukuran besar. Selain itu, sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini adalah:
-
Masih dalam usia reproduktif. Kebanyakan wanita mengalami kondisi ini saat berusia di antara 29–34 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan torsi ovarium juga terjadi pada berbagai kalangan usia, bahkan pada janin sekali pun.
-
Menderita tumor atau kanker di area ovarium.
-
Memiliki ligamen ovarium yang lebih panjang daripada biasanya. Beberapa wanita mungkin dilahirkan dengan kondisi ligamen yang lebih panjang daripada biasanya. Wanita dengan kondisi ini cenderung lebih berisiko mengalami ovarian torsion.
-
Sedang hamil.
-
Sedang menjalani perawatan tertentu untuk meningkatkan kesuburan. Perawatan ini dapat merangsang ovarium untuk melepaskan lebih banyak sel telur guna meningkatkan peluang kehamilan. Namun, hal ini juga bisa meningkatkan risiko berkembanganya kista folikel (kantong abnormal di dalam ovarium) dengan ukuran yang lebih besar.
Gejala Torsi Ovarium
Gejala utama torsi ovarium adalah nyeri perut bagian bawah yang parah, intens, dan tiba-tiba. Namun, sebagian orang mungkin tidak terlalu spesifik memperhatikan nyeri perut sebagai gejala dari ovarian torsion, mengingat gejala tersebut juga kerap terjadi pada kondisi medis lainnya, seperti usus buntu, infeksi saluran kemih, gastroenteritis, dan sebagainya. Selain itu, beberapa gejala yang dapat dialami oleh penderita ovarian torsion meliputi:
-
Mual dan muntah.
-
Nyeri panggul yang intens.
-
Keluarnya cairan atau perdarahan abnormal dari vagina.
-
Demam.
Diagnosis Torsi Ovarium
Dalam menegakkan diagnosis ovarian torsion, dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait dengan gejala yang dialami serta riwayat kesehatan pasien. Pemeriksaan fisik juga perlu dilakukan untuk mengevaluasi gejala-gejala yang dikeluhkan oleh pasien. Kemudian, untuk membantu menegakkan diagnosis ovarian torsion, dokter juga dapat melakukan beberapa pemeriksaan penunjang berikut ini:
-
USG transvaginal dan abdomen, yaitu prosedur pemeriksaan yang menggunakan gelombang suara untuk melihat bagian dalam tubuh. Alat yang memancarkan gelombang tersebut, yaitu transduser, akan dimasukkan melalui vagina (USG transvaginal) atau digerakkan pada bagian luar perut (USG abdomen).
-
CT scan, yaitu tes pencitraan yang menggunakan teknologi komputer dan teknologi sinar-X untuk mendapatkan gambar bagian dalam tubuh yang lebih jelas.
-
MRI, yaitu tes pencitraan yang menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio untuk mendapatkan gambaran bagian dalam tubuh.
-
Tes darah, seperti pemeriksaan darah lengkap untuk memeriksa kadar sel darah putih (leukosit) di dalam tubuh yang biasanya meningkat, dan hemoglobin yang biasanya lebih rendah apabila terjadi perdarahan akibat torsi ovarium.
Pengobatan Torsi Ovarium
Pengobatan torsi ovarium utamanya dilakukan melalui prosedur pembedahan untuk memperbaiki ovarium yang terpelintir. Jika terdapat kista ovarium, dokter akan mengangkat jaringan tersebut terlebih dahulu sebelum memperbaiki posisi ovarium. Terdapat dua metode pembedahan yang umum dilakukan untuk menangani ovarian torsion adalah:
-
Laparoskopi, yaitu prosedur minimal invasif yang dilakukan dengan membuat sayatan kecil di area perut. Kemudian, dokter akan memasukkan laparoskop, yaitu alat berbentuk tabung kecil yang dilengkapi kamera pada bagian ujungnya, serta alat-alat bedah lainnya melalui sayatan kecil tersebut.
-
Laparotomi, yaitu prosedur operasi terbuka yang dilakukan dengan membuat sayatan lebih besar di area perut untuk mengakses ovarium pasien.
Komplikasi Torsi Ovarium
Apabila tidak segera ditangani dengan tepat, ovarian torsion berisiko memicu terjadinya nekrosis, yaitu kematian jaringan karena terputusnya aliran darah. Kondisi ini membuat pasien memerlukan prosedur operasi untuk mengangkat ovarium dan jaringan di sekitarnya. Jika ovarium yang mengalami nekrosis tidak segera diangkat, hal tersebut bisa memicu infeksi di area ovarium dan mungkin saja menyebabkan terbentuknya abses atau peritonitis.
Pencegahan Torsi Ovarium
Pada dasarnya, ovarian torsion merupakan kondisi yang cenderung sulit untuk dicegah. Namun, mengingat ovarian torsion paling sering disebabkan oleh kista ovarium, maka salah satu pencegahan yang dapat dilakukan adalah segera menangani kista ovarium ketika diagnosis telah ditegakkan.
Jika pasien mengalami torsi ovarium yang berulang (recurrent ovarian torsion), dokter dapat menyarankan pasien untuk menjalani prosedur operasi oophoropexy untuk menstabilkan posisi ovarium agar tidak mudah terpelintir kembali.
Penting untuk diketahui bahwa tanda serta gejala yang disebutkan di atas tidak secara spesifik mewakili kondisi torsi ovarium. Artinya, hal tersebut juga bisa serupa dengan kondisi medis atau penyakit lainnya. Maka dari itu sangat penting untuk memperoleh diagnosis yang tepat dan akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Siloam Hospitals terdekat.
Sebagai informasi, setiap tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini bisa berbeda di masing-masing rumah sakit, karena hal tersebut bergantung pada fasilitas kesehatan yang tersedia. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.
Agar lebih praktis, Anda juga bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk mencari informasi jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Yale Medicine. Ovarian Torsion. Diakses pada 2024 | Medical News Today. Ovarian Torsion: Everything You Need to Know. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Ovarian Torsion. Diakses pada 2024 | National Library of Medicine. Ovarian Torsion. Diakses pada 2024 | Tzu Chi Medical Journal. A review of ovary torsion. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Tia Indriana, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Danny Wiguna, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Yogyakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini






