Perbedaan Kardioversi dan Defibrilasi, Ini Kondisi yang Ditangani
Kesehatan Tubuh

Perbedaan Kardioversi dan Defibrilasi, Ini Kondisi yang Ditangani

01 Juli 2025 4 menit waktu baca
perbedaan kardioversi dan defibrilasi

 

Kardioversi dan defibrilasi adalah prosedur yang biasanya digunakan oleh tenaga medis sebagai pertolongan pertama untuk mengembalikan irama jantung kembali menjadi normal. Meski begitu, terdapat perbedaan kardioversi dan defibrilasi terkait jenis gangguan irama jantung yang ditangani. Mari simak selengkapnya pada artikel berikut ini.

 

Apa Itu Kardioversi?

 

Kardioversi adalah penanganan medis yang menggunakan kejutan listrik berenergi rendah dan cepat untuk mengubah irama jantung abnormal menjadi normal atau sinus. Biasanya, tindakan ini diambil oleh tenaga medis untuk menangani detak jantung tidak teratur (aritmia), khususnya takikardia.

 

Apabila seseorang mengalami gangguan irama jantung yang tidak disertai dengan tanda berbahaya, seperti nyeri dada, tanda syok, hipotensi (tekanan darah rendah), dan pingsan (penurunan kesadaran), dokter dapat melakukan berbagai manuver atau pemberian obat-obatan sesuai dengan gangguan irama jantung yang pasien alami. 

 

Jika pemberian obat-obatan tersebut tidak berhasil atau pasien mengalami aritmia yang disertai dengan tanda bahaya/tidak stabil, dokter akan mempertimbangkan tindakan kardioversi. Pasien akan dipersiapkan sebaik mungkin dan biasanya akan diberi anestesi umum ketika melakukan prosedur kejut listrik. 

 

Di sinilah salah satu letak perbedaan kardioversi dan defibrilasi. Tidak seperti defibrilasi yang digunakan pada pasien henti jantung, kardioversi tersinkronisasi dilakukan pada pasien yang masih memiliki denyut nadi tetapi memiliki hemodinamik yang tidak stabil. Berikut adalah beberapa hal penting yang perlu diketahui seputar kardioversi.

 

A. Kondisi yang Membutuhkan Kardioversi

 

Seperti yang disebutkan sebelumnya, kardioversi bertujuan untuk mengembalikan irama atau detak jantung yang terlalu cepat atau tidak beraturan menjadi normal. Adapun beberapa kondisi medis yang umumnya membutuhkan kardioversi adalah:

 

 

B. Jenis Kardioversi

 

Terdapat dua jenis kardioversi yang utama, yaitu kardioversi listrik dan kardioversi kimiawi. Berikut perbedaannya: 

 

  • Kardioversi kimiawi:

    • Menggunakan obat untuk mengembalikan irama teratur jantung.

    • Membutuhkan waktu lebih lama untuk bekerja daripada kardioversi listrik.

    • Dilakukan tanpa kejutan listrik.

  • Kardioversi listrik:

    • Menggunakan alat kejut listrik yang disebut defibrillator. Alat ini memiliki mesin dan sensor untuk memberikan kejutan listrik berenergi rendah dan cepat ke dada untuk mengubah ritme kembali normal.

    • Efeknya langsung sehingga membantu tenaga medis untuk mengetahui apakah upaya pengobatan bisa memperbaiki detak jantung yang tidak teratur atau tidak.

 

C. Risiko Efek Samping Kardioversi

 

Efek samping kardioversi umumnya jarang terjadi. Kendati demikian, beberapa risiko efek samping kardioversi yang perlu diantisipasi adalah sebagai berikut:

 

  • Komplikasi akibat lepasnya bekuan darah, terutama pada penderita atrial fibrilasi lama. 

  • Munculnya aritmia jenis lain atau henti jantung setelah dilakukan kardioversi. Untuk mengatasinya, dokter akan memberikan obat-obatan tertentu atau kejutan tambahan serta melakukan resusitasi jantung paru apabila pasien mengalami henti jantung.

  • Luka bakar ringan akibat sensor yang ditempatkan di dada selama kardioversi listrik.

 

Apa Itu Defibrilasi?

 

Defibrilasi adalah metode untuk mengembalikan irama jantung menjadi normal dengan menggunakan arus listrik. Penerapannya hanya dilakukan ketika terjadi aritmia yang berpotensi mengancam jiwa serta henti jantung. Metode ini bekerja dengan mengalirkan arus listrik ke seluruh miokardium (otot jantung) untuk memicu depolarisasi otot jantung sehingga irama jantung bisa kembali normal.

 

A. Kondisi yang Membutuhkan Defibrilasi

 

Umumnya, defibrilasi dilakukan saat seseorang menderita aritmia yang mengancam jiwa, seperti fibrilasi ventrikel atau ventrikel takikardi tanpa denyut (pulseless ventricular tachycardia) serta henti jantung (cardiac arrest).

 

B. Jenis Defibrillator

 

Defibrillator dibagi menjadi tiga jenis, yaitu automated external defibrillator (AED), implanted cardioverter defibrillator (ICD), dan wearable cardioverter defibrillator (WCD). Berikut masing-masing kegunaannya:

 

  • Automated external defibrillator (AED): Biasanya ditemukan di tempat umum dan dapat menjadi pertolongan pertama bagi penderita sudden cardiac arrest. Baik orang biasa maupun tenaga medis bisa menggunakan defibrillator ini di saat situasi darurat. 

  • Implanted cardioverter defibrillator (ICD): Perangkat kecil yang dipasang di dada melalui pembedahan. Defibrillator ini diprogram secara otomatis untuk mendeteksi aritmia yang mengancam jiwa atau henti jantung. Beberapa ICD juga berperan sebagai alat pacu jantung dengan cara memberikan pulsa listrik berenergi rendah untuk mengembalikan denyut jantung menjadi normal.

  • Wearable cardioverter defibrillator: Rompi berbaterai yang dapat diisi ulang dan digunakan dalam jangka pendek. Alat ini dapat mendeteksi aritmia yang mengancam jiwa dan mengalirkan muatan listrik untuk membuat iramanya kembali normal.

 

C. Risiko Efek Samping Defibrilasi

 

Defibrilasi hanya perlu diterapkan pada penderita ventrikel takikardi tanpa nadi, fibrilasi ventrikel, atau cardiac arrest. Jika digunakan pada seseorang yang tidak menderita kedua kondisi tersebut, defibrilasi justru mungkin dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel dan sudden cardiac arrest. 

 

Baik kardioversi dan defibrilasi, keduanya menggunakan aliran listrik berenergi rendah untuk mengembalikan irama jantung menjadi normal. Namun, penting untuk dipahami bahwa dokter akan mempertimbangkan kondisi medis pasien terlebih dahulu untuk memastikan pasien telah memenuhi persyaratan dalam menjalani tindakan medis ini.

 

Apabila Anda merasakan gejala yang berkaitan dengan gangguan irama jantung, seperti detak jantung tak beraturan yang berlangsung lama, sebaiknya konsultasikan kondisi tersebut dengan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh penanganan yang tepat.

 

Pemeriksaan dan penanganan setiap pasien yang mengalami gangguan irama jantung atau masalah jantung lainnya akan disesuaikan dengan kondisi medis. Serangkaian tes dan pengobatan pun akan diberikan sesuai dengan fasilitas yang tersedia di masing-masing rumah sakit sehingga tahapannya mungkin berbeda antara satu lokasi dan lainnya.

 

Jika ingin mengetahui kondisi jantung dari waktu ke waktu, Anda bisa memesan paket Skrining Jantung melalui aplikasi MySiloam untuk pemeriksaan rutin. Aplikasi ini juga dapat membantu Anda memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh MySiloam sekarang dan gunakan fitur-fiturnya untuk mempermudah perjalanan kesehatan Anda.

 

Sumber

National Heart, Lung, and Blood Institute. Defibrillators. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Defibrillation. Diakses pada 2024 | Patient.info. Defibrillation and Cardioversion. Diakses pada 2024 | Mayo Clinic. Cardioversion. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Cardioversion. Diakses pada 2024 | AED USA. Defibrillator vs Cardioversion. Diakses pada 2024 | Medlineplus. Cardioversion. Diakses pada 2024 | NCBI. Synchronized Electrical Cardioversion. Diakses pada 2024 | NCBI. Defibrillation. Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-kadek-satrya-kurnia-suratna-spjp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ronald-a-ulaan

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-magma-purnawan-putra-spjp

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K), FIHA, FESC

Kardiologi (Jantung)

Subspesialis Kardiologi Intervensi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail