Aneurisma Otak, Kenali Gejala Awal hingga Penanganannya
Kesehatan Tubuh

Aneurisma Otak, Kenali Gejala Awal hingga Penanganannya

15 April 2026 6 menit waktu baca
aneurisma otak

Aneurisma otak adalah kondisi ketika dinding pembuluh darah di otak melemah dan mengalami pelebaran. Kondisi ini tergolong serius dan perlu mendapatkan penanganan dengan cepat karena berisiko mengakibatkan pembuluh darah pecah dan berujung pada perdarahan otak yang mengancam nyawa. Agar lebih waspada, simak tanda-tanda aneurisma otak hingga pengobatannya di bawah ini.

 

Apa Itu Aneurisma Otak?

 

Aneurisma otak adalah jenis aneurisma yang terjadi ketika pembuluh darah di dalam atau di sekitar otak mengalami pelebaran akibat dinding pembuluh yang melemah. Aneurisma terjadi karena tekanan aliran darah terus-menerus mendorong bagian dinding pembuluh yang lemah hingga menonjol keluar.

 

Saat darah terus mengalir ke bagian yang menonjol tersebut, aneurisma bisa semakin meregang. Risiko pecah cenderung meningkat seiring bertambahnya ukuran aneurisma dan penipisan dinding pembuluh darah. Aneurisma otak bisa muncul di bagian otak mana pun, namun paling sering terbentuk di pembuluh darah besar di dasar tengkorak.

 

Aneurisma otak dapat terbentuk lebih dari satu, namun sebagian besar berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala. Gejala biasanya muncul ketika aneurisma membesar dan mulai menekan saraf atau jaringan otak di sekitarnya. Apabila aneurisma pecah, hal ini dapat menimbulkan dampak klinis serius yang mengancam nyawa, seperti:

 

  • Perdarahan di dalam otak atau ruang sekitarnya (stroke perdarahan).

  • Gangguan tekanan darah akibat perdarahan aktif.

  • Penurunan kesadaran hingga koma.

  • Kematian, terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat.

 

Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala aneurisma sejak dini dan segera mencari pertolongan medis bila keluhan muncul.

 

Penyebab Aneurisma Otak

 

Pada beberapa kasus, aneurisma otak sudah terbentuk sejak lahir akibat kelainan pada pembuluh darah. Namun, secara umum, kondisi ini terjadi ketika dinding pembuluh darah di otak menipis dan melemah. Aneurisma paling sering muncul di titik percabangan pembuluh darah otak karena area tersebut mengalami tekanan aliran darah yang lebih besar.

 

Selain faktor bawaan, kondisi ini juga dapat dipengaruhi oleh beberapa gangguan atau penyakit tertentu, seperti:

 

 

Selain faktor medis, terdapat beberapa gaya hidup atau kebiasaan yang bisa meningkatkan risiko terjadinya aneurisma, antara lain:

 

 

Faktor-faktor yang dapat memicu terbentuknya aneurisma otak juga dapat meningkatkan risiko aneurisma tersebut pecah, sehingga menyebabkan perdarahan di dalam otak yang bisa berakibat serius. Di antara berbagai faktor tersebut, tekanan darah tinggi (hipertensi) merupakan penyebab paling umum pecahnya aneurisma.

 

Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dipublikasikan dalam Translational Stroke Research (2022) yang menyebutkan bahwa pasien dengan hipertensi memiliki risiko pecah aneurisma sekitar 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien tanpa hipertensi. Risiko ini akan semakin meningkat pada pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol.

 

Gejala Aneurisma Otak

 

Aneurisma otak yang belum pecah sering kali tidak menimbulkan gejala, terutama jika ukurannya kecil. Kondisi ini kerap ditemukan secara tidak sengaja ketika penderita menjalani pemeriksaan pencitraan otak untuk tujuan lain. Gejala umumnya baru muncul saat aneurisma pecah, bocor, atau berukuran besar hingga menekan jaringan otak dan saraf di sekitarnya.

 

Gejala aneurisma otak yang pecah

 

Pada aneurisma otak yang pecah, gejala paling khas adalah sakit kepala hebat yang muncul secara tiba-tiba. Banyak pasien yang menggambarkannya sebagai sakit kepala terburuk dalam hidup mereka. Selain sakit kepala, beberapa keluhan lain yang bisa muncul meliputi:

 

  • Mual dan muntah.

  • Leher kaku (nuchal rigidity).

  • Penurunan kesadaran, termasuk mengantuk dan kebingungan.

  • Sensitif terhadap cahaya (fotofobia).

  • Penglihatan kabur atau ganda.

  • Kejang.

 

Gejala aneurisma otak yang bocor

 

Pada beberapa kasus, aneurisma bisa mengalami kebocoran kecil dan mengeluarkan darah dalam jumlah sedikit. Kondisi ini biasanya terjadi beberapa hari hingga minggu sebelum aneurisma pecah sepenuhnya. Gejalanya antara lain:

 

  • Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba.

  • Sakit kepala dapat berlangsung selama beberapa hari hingga dua minggu.

  • Kondisi ini sering disebut sentinel headache dan merupakan tanda peringatan penting sebelum terjadinya perdarahan yang lebih besar.

 

Gejala aneurisma otak yang belum pecah

 

Aneurisma otak yang belum pecah umumnya tidak menimbulkan keluhan yang jelas. Namun, ukuran aneurisma yang membesar dapat menekan jaringan otak atau saraf di sekitarnya. Tekanan ini dapat memicu berbagai gangguan saraf, antara lain:

 

  • Sensasi baal atau penurunan rasa pada satu sisi wajah.

  • Rasa nyeri di sekitar mata.

  • Gangguan penglihatan, seperti penglihatan kabur atau melihat ganda.

  • Perubahan ukuran pupil pada salah satu mata.

  • Kejang.

 

Diagnosis Aneurisma Otak

 

Aneurisma otak umumnya tidak menimbulkan gejala pada tahap awal dan sering kali baru terdeteksi saat pasien melakukan pemeriksaan dengan tujuan lain. Jika pasien datang dengan keluhan tertentu, dokter biasanya melakukan anamnesis (wawancara medis) mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik sebelum menegakkan diagnosis.

 

Pada aneurisma otak yang belum pecah, deteksi dini biasanya dilakukan melalui pemeriksaan pencitraan, seperti:

 

  • MRI.

  • CT angiografi.

 

Sementara itu, bila terdapat kecurigaan aneurisma telah pecah, pemeriksaan harus segera dilakukan untuk menilai adanya perdarahan, antara lain:

 

  • CT scan kepala tanpa kontras.

  • Punksi lumbal, bila hasil CT belum menunjukkan perdarahan.

  • Digital subtraction angiography (DSA), bila diperlukan untuk evaluasi lebih lanjut.

 

Pilihan Pengobatan Aneurisma Otak

 

Pengobatan aneurisma otak bertujuan untuk menghentikan atau mengurangi aliran darah ke aneurisma sehingga aneurisma tidak semakin membesar dan risiko pecah dapat dicegah. Pada aneurisma otak yang sudah pecah, metode penanganan utamanya meliputi:

 

  • Operasi, seperti clipping, endovascular coiling, flow diversion stent, dan WEB device.

  • Pemasangan shunt untuk mengalirkan kelebihan cairan akibat perdarahan sehingga tekanan pada otak menurun.

  • Terapi rehabilitasi (fisik, bicara, atau okupasi).

 

Selain itu, dokter dapat mempertimbangkan pemberian obat pada aneurisma otak. Obat yang diberikan ditujukan untuk mengendalikan gejala dan mencegah komplikasi, bukan untuk menghilangkan aneurisma itu sendiri. Jenis obat yang dapat digunakan antara lain:

 

  • Obat antikejang, diberikan apabila penderita mengalami kejang akibat gangguan pada jaringan otak.

  • Calcium channel blocker, seperti nimodipin, yang digunakan pada kasus perdarahan akibat pecahnya aneurisma untuk membantu mencegah penyempitan pembuluh darah otak.

 

Apakah aneurisma yang belum pecah perlu diobati? Jika aneurisma kecil, tidak bergejala, dan risikonya rendah, dokter dapat menyarankan pemantauan rutin dengan pemeriksaan pencitraan. Pasien juga dianjurkan untuk berhenti merokok dan mengontrol tekanan darah.

 

Kapan Harus Segera ke Dokter?

 

Aneurisma otak bisa pecah dalam kondisi apa pun dan menyebabkan perdarahan di otak. Kondisi ini sangat berbahaya dan harus segera ditangani. Segera cari pertolongan medis jika muncul gejala berikut: 

 

  • Sakit kepala mendadak dan sangat hebat.

  • Sakit kepala disertai muntah hebat atau pingsan.

  • Sakit kepala disertai perubahan penglihatan atau kelemahan tubuh.

  • Sakit kepala setelah ada benturan atau trauma kepala.

  • Kejang.

 

Sebagai informasi, tanda serta gejala yang disebutkan di atas ditujukan sebagai edukasi dan tidak dapat menggantikan saran medis profesional. Karenanya, segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Neurologi (Otak dan Saraf) di Siloam Hospitals terdekat jika mengalami gejala seperti sakit kepala hebat, mual, hingga pingsan, agar mendapatkan diagnosis yang akurat.

 

Perlu diingat bahwa setiap detik memiliki arti dalam penanganan aneurisma otak. Karenanya, penting bagi pasien untuk mempertimbangkan pengalaman dokter dan layanan teknologi medis unggulan sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan. Mencari second opinion pun dapat menjadi tindakan yang bijak untuk memastikan bahwa diagnosis serta rencana terapi yang diberikan sudah tepat. 

 

Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin 

berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.

 

Untuk memudahkan Anda mendapatkan pendapat medis kedua, hubungi layanan Siloam Medical Concierge. Anda dapat memperoleh informasi jadwal dokter spesialis dan akses ke fasilitas dan teknologi medis terkini berstandar pelayanan internasional yang diakui secara global.

 

second opinion dokter spesialis

Sumber

National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Cerebral Aneurysms. Diakses pada 2026 | Cleveland Clinic. Brain Aneurysm. Diakses pada 2026 | WebMD. Brain Aneurysms: Causes, Symptoms, and Treatment. Diakses pada 2926 | NHS UK. Brain aneurysm. Diakses pada 2026 | Mayo Clinic. Brain aneurysm. Diakses pada 2026 | Translational Stroke Research. Association Between Regular Blood Pressure Monitoring and the Risk of Intracranial Aneurysm Rupture: a Multicenter Retrospective Study with Propensity Score Matching. Diakses pada 2026 |

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail