Atelektasis - Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan
Kesehatan Tubuh

Atelektasis - Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan

30 Oktober 2025 6 menit waktu baca
atelektasis adalah

Atelektasis adalah kondisi medis yang terjadi ketika salah satu bagian atau seluruh paru-paru mengalami kolaps atau kehilangan kemampuannya untuk mengembang dengan baik. Kondisi ini terjadi karena udara tidak bisa mencapai bagian paru-paru yang kolaps, sehingga alveolus pada bagian paru-paru tersebut tidak dapat melakukan pertukaran udara sebagaimana mestinya.

 

Gejala atelektasis bisa bervariasi tergantung pada sejauh mana paru-paru terpengaruh dan area mana yang mengalami kolaps. Mari ketahui lebih lanjut tentang atelektasis dalam ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Atelektasis?

 

Atelektasis adalah kondisi ketika bagian paru-paru, tepatnya alveolus mengempis dan tidak terisi udara, sehingga paru-paru tidak dapat mengembang dan kolaps. Alveolus adalah unit struktural terkecil dari paru-paru dan merupakan tempat berlangsungnya pertukaran udara (oksigen dan karbon dioksida) di dalam paru-paru.

 

Pertukaran udara bisa berjalan dengan baik ketika alveolus berisi udara. Pada kondisi atelektasis, pertukaran oksigen dan karbon dioksida tidak terjadi karena alveolus tidak terisi udara. Kondisi ini dapat menyebabkan organ kekurangan oksigen, sehingga perlu mendapatkan penanganan dengan segera.

 

Atelektasis adalah komplikasi yang paling umum terjadi akibat adanya gangguan pada sistem pernapasan, seperti tumor paru-paru, cedera dada, fibrosis kistik, melemahnya otot pernapasan, dan penumpukan cairan dalam paru-paru.

 

Atelektasis juga bisa terjadi apabila terdapat benda asing yang masuk hingga ke dalam paru-paru dan menyebabkan sumbatan. Adapun, tingkat keparahan kondisi ini tergantung dari seberapa luas bagian alveolus yang terdampak serta penyebab/kondisi yang mendasarinya.

 

Penyebab Atelektasis

 

Secara umum, penyebab atelektasis adalah adanya hambatan di kantung paru-paru (alveolus) sehingga tidak dapat mengembang dengan baik. Hal ini bisa disebabkan karena adanya  tekanan yang berasal dari luar paru-paru, penyumbatan, jaringan parut, atau perubahan pada pola pernapasan dan pertukaran udara di paru-paru akibat anestesi. 

 

Atelektasis kerap dialami oleh pasien yang menjalani operasi di bawah general anesthesia (anestesi umum). Pasalnya, general anesthesia dapat menghambat kontraksi diafragma dan mencegah seseorang mengambil napas dalam, sehingga pernapasan pasien perlu ditunjang dengan ventilator mekanik selama operasi berlangsung.

 

Atelektasis juga bisa terjadi karena kekurangan surfaktan di dinding alveolus. Surfaktan adalah zat yang berfungsi untuk menjaga alveoli tetap stabil dan mengembang. Kekurangan surfaktan akan mengakibatkan alveolus mengempis dan tidak bisa mengembang. Kondisi ini juga biasanya dapat ditemukan pada bayi dengan kelahiran prematur.

 

Adapun beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko atelektasis adalah sebagai berikut:

 

  • Cedera atau nyeri yang menyebabkan batuk.

  • Menderita penyakit paru-paru.

  • Memiliki riwayat operasi dada/perut.

  • Lansia (orang lanjut usia).

  • Memiliki berat badan berlebih.

  • Sedang hamil.

  • Konsumsi obat-obatan yang dapat menyebabkan napas pendek (dispnea).

  • Gangguan tidur, seperti sleep apnea.

  • Menderita gangguan saluran pernapasan.

  • Kebiasaan merokok.

  • Memiliki otot-otot pernapasan yang lemah.

  • Mengalami kondisi yang mengharuskan berbaring dalam waktu lama. 

 

Jenis-Jenis Atelektasis

 

Jika dilihat dari penyebabnya, atelektasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu atelektasis obstruktif dan non-obstruktif. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

Atelektasis Obstruktif

 

Atelektasis obstruktif adalah jenis atelektasis yang terjadi karena oksigen dan karbondioksida di alveolus masuk ke dalam aliran darah, namun tidak ada aliran udara baru yang masuk ke dalam alveolus, sehingga akhirnya menyebabkan alveolus kolaps. Sejumlah kondisi yang dapat menyebabkan atelektasis obstruktif, antara lain:

 

  • Benda asing: Kondisi ini sering kali dialami oleh anak-anak. Pasalnya, benda yang tidak sengaja terhirup bisa masuk hingga ke dalam saluran paru-paru dan menyebabkan penyumbatan.

  • Tumor: Atelektasis juga bisa terjadi akibat tumor yang tumbuh di saluran pernapasan, sehingga memicu penyempitan pada saluran pernapasan yang menyebabkan aliran udara terhambat.

  • Penyumbatan lendir: Kondisi ini biasanya terjadi selama atau setelah operasi, karena pasien tidak bisa batuk. Anak penderita asma atau fibrosis kistik juga kerap mengalami penyumbatan lendir.

 

Atelektasis Non-obstruktif

 

Sementara itu, atelektasis non-obstruktif merupakan atelektasis yang terjadi akibat adanya tekanan/desakan dari luar paru-paru. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh:

 

  • Radang paru, seperti pada kasus infeksi paru-paru pneumonia dan penyakit TB.

  • Cedera pada dada: Kondisi ini dapat menyebabkan seseorang kesulitan bernapas akibat rasa nyeri atau tekanan di dada, sehingga terjadi kompresi paru-paru.

  • Efusi pleura: Adanya penumpukan cairan di jaringan pleura yang melindungi paru-paru serta dinding dada.

  • Tumor: Tumor yang tumbuh besar dapat menekan paru-paru, bahkan menghalangi saluran udara.

  • Jaringan parut, biasanya ditimbulkan oleh penyakit paru, cedera, atau operasi.

  • Pneumotoraks (tension pneumothorax): Kebocoran udara di ruang antara dinding dada dan menyebabkan penekanan pada jaringan paru-paru, sehingga sebagian atau seluruh paru-paru mengalami kolaps.

 

Gejala Atelektasis

 

Pada mulanya, atelektasis tidak akan menunjukkan gejala apa pun. Gejala tersebut baru terasa apabila kerusakan pada bagian paru-paru sudah meluas dan organ tubuh mulai kekurangan oksigen. Adapun beberapa gejala atelektasis adalah sebagai berikut:

 

  • Nyeri dada kiri atau kanan, tergantung dari bagian paru-paru yang terdampak.

  • Sianosis (kebiruan pada bibir, kulit, dan ujung jari).

  • Takikardia (peningkatan denyut jantung).

  • Batuk dan mengi.

  • Napas pendek dan cepat.

  • Kesulitan bernapas.

  • Demam, nyeri dada, dan batuk berdahak (apabila atelektasis sudah berkembang menjadi pneumonia).

  • Pengembangan dada yang berkurang atau tidak simetris.

 

Jika berlangsung dalam waktu yang lama, atelektasis dapat menyebabkan hipoksia (menurunnya kadar oksigen dalam tubuh), serta penurunan tekanan darah yang drastis. Apabila bagian paru-paru yang mengalami kerusakan tidak segera diatasi, maka penderita bisa mengalami syok.

 

Diagnosis Atelektasis

 

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis atau wawancara medis terkait gejala dan riwayat kesehatan pasien, termasuk mencari tahu apakah pasien pernah menjalani operasi dada sebelumnya. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara keseluruhan, termasuk menggunakan stetoskop untuk melakukan pemeriksaan dada (thorax).

 

Adapun beberapa pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk membantu diagnosis atelektasis adalah sebagai berikut:

 

  • Tes pemindaian dengan rontgen atau CT scan dada untuk melihat kondisi paru-paru secara jelas.

  • Bronkoskopi, untuk memantau kondisi paru-paru, mengambil sampel jaringan, atau menangani sumbatan pada saluran pernapasan.

  • Biopsi, untuk mendeteksi abnormalitas pada jaringan paru-paru, seperti tumor atau kanker.

  • Tes oksimeter, untuk mengukur kadar oksigen dalam darah.

 

Komplikasi Atelektasis

 

Beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat atelektasis adalah sebagai berikut:

 

  • Pneumonia (peradangan pada jaringan paru-paru akibat infeksi).

  • Hipoksia (kadar oksigen dalam tubuh rendah).

  • Gagal napas (sistem pernapasan tidak mampu menyalurkan dan mengeluarkan gas).

  • Bronkiektasis (Kerusakan, penebalan, dan pelebaran saluran bronkus).

 

Cara Menangani Atelektasis

 

Atelektasis yang sifatnya ringan umumnya akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus. Namun, pada pasien yang mengalami atelektasis berat karena adanya kondisi atau penyakit tertentu, maka dibutuhkan tindakan medis untuk mengatasinya.

 

Beberapa metode pengobatan untuk menangani atelektasis adalah sebagai berikut:

 

1. Fisioterapi Dada

 

Fisioterapi dada biasanya disarankan untuk pasien yang mengalami atelektasis setelah menjalani operasi. Fisioterapi bertujuan untuk membantu paru-paru mengembang dan mengempis dengan normal kembali.

 

2. Bronkoskopi

 

Bronkoskopi merupakan alat yang digunakan untuk mengangkat benda asing di saluran pernapasan. Selain itu, bronkoskopi juga digunakan untuk membantu dokter menyedot lendir/cairan yang menyumbat saluran pernapasan menggunakan selang khusus (suction).

 

3. Operasi

 

Apabila penyebab atelektasis adalah tumor/kanker, maka akan dilakukan operasi untuk mengangkat jaringan abnormal tersebut. Prosedur ini bisa dikombinasikan dengan radioterapi atau kemoterapi tergantung pada diagnosisnya.

 

4. Obat-obatan

 

Sejumlah obat-obatan yang digunakan dalam pengobatan atelektasis adalah sebagai berikut:

 

  • Obat antibiotik, digunakan untuk mengatasi atelektasis yang disebabkan oleh infeksi bakteri.

  • Bronkodilator, untuk melebarkan bronkus dan mendorong keluar lendir yang menyangkut di dalamnya.

  • Mukolitik, untuk mengencerkan lendir di saluran pernapasan agar lebih mudah dikeluarkan saat batuk.

  • Recombinant Human DNase I (dornase alpha) pada pasien dengan cystic fibrosis.

 

Di samping itu, biasanya dokter juga memberikan anjuran mengenai posisi tidur yang tepat bagi penderita, tergantung dari posisi paru-paru yang terdampak. Biasanya, penderita disarankan memiringkan tubuh ke sisi paru-paru sehat untuk membantu paru-paru yang kolaps kembali mengembang.

 

Cara Mencegah Atelektasis

 

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah atelektasi adalah sebagai berikut:

 

  • Menjauhkan benda-benda kecil yang berpotensi terhirup oleh anak-anak.

  • Melakukan latihan pernapasan setelah dibius untuk menjaga fungsi saluran pernapasan.

  • Bagi orang yang harus berbaring lama, disarankan untuk tetap bergerak dan melatih pernapasan untuk menjaga fungsi paru-paru.

  • Menghentikan kebiasaan merokok.

  • Mengurangi berat badan, jika memiliki kondisi berat badan berlebih.


Apabila memiliki kondisi tertentu yang berisiko menyebabkan atelektasis, Anda pun bisa berkonsultasi secara rutin dengan dokter. Dalam hal ini, Anda dapat mengunjungi Siloam Hospitals terdekat. Sebelumnya, buat janji temu terlebih dahulu dengan dokter melalui aplikasi MySiloam atau fitur Cari Dokter. Mari jaga kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Radiology Digital Booking

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail