Apa itu Atresia Ani? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Apa itu Atresia Ani? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

22 Mei 2025 5 menit waktu baca
atresia ani adalah

Anus imperforata, anal atresia, atau atresia ani adalah kelainan kongenital yang menyebabkan anus bayi tidak terbentuk dengan sempurna. Kondisi ini membuat bayi tidak bisa mengeluarkan feses dengan normal, sehingga berisiko menimbulkan sejumlah komplikasi, seperti konstipasi, infeksi saluran kemih, inkontinensia feses, hingga stenosis anus. Mari simak pembahasan selengkapnya di bawah ini.

 

Apa itu Atresia Ani?

 

Seperti yang telah dijelaskan bahwa anus imperforata, anal atresia, atau atresia ani adalah cacat lahir bawaan yang terjadi ketika anus bayi tidak terbentuk dengan normal. Anus sendiri merupakan lubang yang menjadi tempat keluarnya feses dari tubuh.

 

Atresia ani merupakan kondisi yang sering ditemui pada anak baru lahir dengan angka kejadian 1:5000 kelahiran di Amerika Serikat. Atresia ani lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan. Meski demikian, penting untuk tetap mewaspadai kondisi ini karena berisiko menyebabkan sejumlah komplikasi, salah satunya adalah perforasi usus.

 

Penyebab Atresia Ani

 

Pada dasarnya, atresia ani terjadi sejak bayi masih berkembang di dalam kandungan, tepatnya ketika kehamilan memasuki usia minggu ke-5 hingga ke-7. Selama masa tersebut, anus dan sistem pencernaan janin sedang dalam proses perkembangan. 

 

Namun, belum diketahui secara pasti apa penyebab terjadinya atresia ani. Kendati demikian, terdapat dugaan bahwa kondisi ini dipicu oleh faktor genetik. Penyebab pasti dari atresia ani belum diketahui, namun kondisi ini kemungkinan besar disebabkan oleh multifaktorial.

 

Selain itu, atresia ani biasanya muncul bersamaan dengan kelainan kongenital lain, yaitu sindrom VACTERL. Sindrom ini merupakan sekumpulan kelainan bawaaan yang terjadi pada bayi, di antaranya adalah:

 

  • Kelainan pada tulang belakang (vertebral defects).

  • Kelainan pada anus (anal defects).

  • Kelainan struktur jantung (cardiac defects).

  • Adanya saluran penghubung antara tenggorokan dan kerongkongan (tracheoesophageal fistula).

  • Kelainan pada ginjal (renal anomalies).

  • Kelainan anggota gerak tubuh, seperti tangan dan/atau kaki (limb defects).

 

Di samping sindrom VACTERL, kondisi ini juga dapat disertai dengan kelainan bawaan lainnya, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Kelainan pada saluran pernapasan.

  • Sindrom Down.

  • Penyakit Hirschsprung.

  • Kelainan pada usus halus, seperti atresia duodenal (tidak terbentuknya duodenum).

  • Renal aplasia (tidak terbentuknya organ ginjal).

 

Saat janin mengalami gangguan perkembangan saluran pencernaan, maka kehamilan juga dapat terganggu. Adapun salah satu komplikasi kehamilan yang sering terkait dengan atresia ani adalah polihidramnion.

 

Gejala Atresia Ani

 

Gejala utama atresia ani adalah tidak ditemukannya lubang anus pada bayi. Kondisi ini biasanya ditandai dengan lubang anus yang menyempit, tertutup total, atau berada di lokasi yang salah (terlalu dekat dengan kelamin), rektum tidak terhubung dengan usus besar, serta terbentuknya fistula yang menghubungkan rektum dengan kandung kemih, uretra, vagina, atau pangkal penis.

 

Bayi yang mengalami atresia ani biasanya menunjukkan tanda dan gejala berikut ini:

 

  • Mekonium (feses pertama bayi) tidak keluar dalam jangka waktu 24–48 jam setelah bayi dilahirkan.

  • Feses keluar dari pangkal penis, skrotum, uretra, atau vagina.

  • Perut tampak membesar.

 

Diagnosis Atresia Ani

 

Sesaat setelah bayi lahir, dokter akan melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, termasuk memastikan apakah lubang anus telah terbentuk dengan sempurna. Apabila tidak menemukan lubang anus, dokter akan segera melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan apakah bayi juga mengalami kelainan bawaan lainnya. Beberapa pemeriksaan tersebut, di antaranya:

 

 

Pengobatan Atresia Ani

 

Tujuan dari pengobatan atresia ani adalah untuk memperbaiki bentuk anus bayi agar bisa hidup dengan normal. Sebelum melakukan pengobatan lebih lanjut, dokter dapat memberikan asupan nutrisi dan cairan melalui cairan infus bayi yang tidak memiliki lubang anus.

 

Dokter juga bisa meresepkan obat antibiotik untuk meminimalkan risiko terjadinya infeksi dan sepsis, terutama jika terdapat fistula di saluran kemih, serta memasang selang NGT (nasogastric tube atau feeding tube) untuk mengurangi bengkak pada perut bayi dan mencegah muntah.

 

Atresia ani ini bukanlah suatu kegawatdaruratan, sehingga tidak diperlukan pembedahan segera. Pada 24–36 jam pertama, dokter akan berfokus untuk mengevaluasi kondisi pasien secara lengkap. Lalu, beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan untuk menangani atresia ani adalah sebagai berikut:

 

1. Tindakan Operasi

 

Operasi merupakan tindakan utama yang dapat dilakukan untuk menangani atresia ani. Prosedur ini dilakukan agar saluran pencernaan bisa berfungsi dengan normal. Metode operasi yang dilakukan cenderung beragam, tergantung pada gejala, usia, kondisi kesehatan bayi, serta jenis dan kerumitan bentuk atresia ani. Namun, sejumlah tindakan operasi yang umum dilakukan untuk menangani atresia ani adalah:

 

  • Kolostomi: Tindakan operasi untuk membuat lubang (stoma) pada dinding perut. Lubang tersebut nantinya akan dijadikan sebagai saluran pembuangan sementara. Kotoran yang keluar dari stoma kemudian akan ditampung pada colostomy bag.

  • Pull through: Tindakan operasi untuk menyambungkan bagian anus dan rektum. Tindakan ini biasanya dilakukan beberapa bulan setelah menjalani operasi kolostomi pertama.

  • Penutupan kolostomi: Tindakan pembedahan untuk menutup stoma, biasanya dilakukan setelah pasien sudah menjalani operasi pull through dan dapat membuang kotoran melalui anus.

  • Anoplasti perineum: Tindakan untuk menutup fistula yang terhubung dengan vagina atau saluran kemih. Tujuannya adalah untuk membuat lubang anus berada pada posisi yang seharusnya.

 

2. Perubahan Pola Makan

 

Setelah menjalani tindakan operasi, dokter menganjurkan orang tua pasien untuk menyesuaikan pola makan yang tepat bagi anak dengan atresia ani. Beberapa jenis makanan yang dapat menyebabkan konstipasi, seperti makanan cepat saji dan makanan tinggi gula dianjurkan untuk dibatasi agar terhindar dari risiko sembelit yang bisa memperburuk atresia ani. 

 

Pasien disarankan untuk mengonsumsi makanan tinggi serat guna mencegah sembelit. Jika diperlukan, dokter juga dapat merekomendasikan suplemen serat dan obat pencahar. Namun, konsumsi obat-obatan tersebut harus diawasi oleh dokter.

 

Komplikasi Atresia Ani

 

Secara umum, atresia ani dapat menimbulkan komplikasi akibat kondisi itu sendiri ataupun karena efek samping tindakan operasi yang dilakukan untuk menangani kelainan kongenital ini. Adapun beberapa risiko komplikasi atresia ani adalah sebagai berikut:

 

 

Pencegahan Atresia Ani

 

Karena termasuk kelainan kongenital, atresia ani adalah kondisi yang cenderung sulit untuk dicegah. Meski demikian, terdapat beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh ibu hamil untuk meminimalkan risiko terjadinya atresia ani pada janin. Beberapa cara tersebut, di antaranya:

 

  • Melakukan pemeriksaan genetik ke dokter, terutama jika memiliki riwayat atresia ani atau kelainan bawaan lainnya sebelum mulai merencanakan kehamilan.

  • Mengonsumsi makanan sehat yang mengandung gizi seimbang selama hamil.

  • Menghindari rokok serta tidak mengonsumsi minuman beralkohol dan obat-obatan secara sembarangan di luar anjuran dokter selama hamil.

  • Rutin berolahraga dan istirahat yang cukup selama masa kehamilan.

  • Menjalani pemeriksaan antenatal secara rutin serta mengonsumsi suplemen prenatal sesuai anjuran dokter.

 

Pada dasarnya, atresia ani adalah kondisi yang memerlukan penanganan dari dokter sesegera mungkin agar tidak menurunkan kualitas hidup penderitanya. Oleh sebab itu, segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat terkait kondisi atresia ani.


Anda dapat memanfaatkan aplikasi MySiloam untuk mendapatkan beragam kemudahan, mulai dari melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, melakukan check in secara mandiri, memesan paket kesehatan, dan lain sebagainya.

 

Aplikasi My Siloam (1)

Dokter Kami
dr-liem-eremius-arifin-spa

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Liem Eremius Arifin, SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ifo-faujiah-sihite-mked-ped-spa

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Jambi

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-anggun-kusumasari-spa-msc

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Balikpapan

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail