Apa itu Disfagia? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Apa itu Disfagia? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

02 Juni 2025 7 menit waktu baca
Disfagia adalah

Disfagia adalah kondisi ketika seseorang kesulitan menelan makanan, minuman, hingga air liur. Kondisi ini bisa dialami oleh berbagai kalangan usia, namun lebih sering terjadi pada orang lanjut usia. Mari pahami lebih lanjut mengenai penyebab, gejala, hingga pengobatan disfagia melalui artikel berikut ini.

 

Apa itu Disfagia?

 

Disfagia adalah istilah medis untuk menyebut kondisi ketika seseorang kesulitan menelan. Istilah disfagia berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys yang berarti kesulitan atau gangguan dan phagia yang berarti makan. Kesulitan menelan dapat terjadi pada semua kelompok usia yang bisa diakibatkan oleh berbagai hal, mulai dari kelainan bawaan (kongenital), kerusakan struktur, atau kondisi medis tertentu.

 

Insiden disfagia lebih umum pada orang berusia lanjut dan pasien stroke, di mana sekitar 51–73% pasien stroke menderita disfagia. Jika disfagia terjadi sesekali, seperti ketika seseorang mengonsumsi makanan terlalu cepat atau tidak mengunyah makanan dengan baik, hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan. 

 

Namun, jika disfagia yang terjadi secara berkelanjutan, hal tersebut bisa menjadi kondisi medis serius yang memerlukan pengobatan.

 

Penyebab Disfagia

 

Secara umum, disfagia dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari gangguan sistem saraf dan otak, gangguan pada otot, serta adanya penyempitan, penyumbatan dan masalah struktural pada kerongkongan. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

Gangguan sistem saraf dan otak:

 

  • Stroke: Pada penderita stroke, biasanya satu atau lebih area pada otak yang seharusnya aktif saat menelan mengalami kerusakan, sehingga dapat mengganggu kemampuan penderitanya untuk menelan.

  • Amyotrophic lateral sclerosis (ALS): Kondisi ketika sel-sel saraf motorik di dalam otak atau sumsum tulang belakang mengalami kerusakan. Kondisi ini bisa memengaruhi fungsi saraf yang mengontrol otot kerongkongan (esofagus).

  • Tumor otak: Kondisi ini bisa mengganggu sinyal saraf yang memerintahkan otot untuk bergerak.

  • Demensia: Kondisi yang dapat memengaruhi kemampuan berpikir dan koordinasi gerakan tubuh.

  • Multiple sclerosis: Penyakit autoimun yang dapat merusak saraf di otak dan sumsum tulang belakang, sehingga berisiko memengaruhi saraf yang berfungsi untuk mengontrol gerakan otot kerongkongan.

  • Penyakit Parkinson: Penurunan fungsi otak yang berfungsi mengontrol gerakan dan koordinasi tubuh.

  • Cerebral palsy: Gangguan perkembangan sejak lahir yang membuat otot sulit digerakkan dan dikoordinasikan.

 

Gangguan pada otot:

 

  • Akalasia: Kondisi ketika otot kerongkongan (esofagus) tidak dapat mendorong makanan atau minuman untuk masuk ke dalam lambung.

  • Kejang krikofaring: Kontraksi abnormal (kejang) yang terjadi ketika otot di bagian atas kerongkongan menekan terlalu keras sehingga bisa menimbulkan sensasi seperti terdapat sesuatu yang tersangkut di tenggorokan.

  • Kejang esofagus: Kondisi ini menyebabkan kontraksi esofagus yang bertekanan tinggi dan tidak terkoordinasi dengan baik yang biasanya terjadi setelah menelan. 

  • Distrofi otot: Kondisi yang dapat menyebabkan otot melemah seiring waktu.

  • Myasthenia gravis: Penyakit autoimun yang dapat mengganggu sinyal yang dikirimkan oleh saraf ke otot, sehingga menyebabkan gerakan otot di kerongkongan sulit dikendalikan.

  • Myositis: Penyakit autoimun yang dapat menyebabkan otot di kerongkongan melemah akibat peradangan.

  • Scleroderma: Penyakit autoimun yang menyerang jaringan ikat sehingga menyebabkan jaringan tersebut menebal dan mengeras. Kondisi ini dapat mengganggu pergerakan pada kerongkongan sehingga menyebabkan kesulitan menelan atau disfagia. 

 

Penyempitan, penyumbatan, dan masalah struktural pada kerongkongan:

 

  • Divertikulum esofagus: Kondisi yang ditandai dengan terbentuknya kantong abnormal pada esofagus. Kondisi ini bisa menyebabkan sisa makanan terkumpul di dalam kantong tersebut sehingga menimbulkan sensasi seperti ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokan.

  • GERD: Kondisi ketika asam lambung naik menuju kerongkongan. Kondisi ini dapat membuat otot kerongkongan mengalami kontraksi mendadak atau kejang, serta menimbulkan jaringan parut yang bisa menyebabkan esofagus menyempit.

  • Tumor dan kanker: Kanker tertentu di area kepala dan leher, seperti kanker esofagus, serta pengobatan kanker seperti radiasi, dapat menyebabkan kesulitan menelan. Tumor yang tumbuh secara terus-menerus juga dapat mempersempit kerongkongan sehingga menyebabkan disfagia.

 

Gejala Disfagia

 

Gejala utama disfagia adalah kesulitan untuk menelan makanan, minuman, atau bahkan air liur sendiri. Selain itu, penderita kondisi ini juga bisa mengalami beberapa keluhan atau gejala lain, seperti nyeri saat menelan hingga sensasi terbakar pada dada (heartburn). 

 

Sebagian orang yang mengalami disfagia tidak menyadarinya, hal ini membuat penyakit tersebut tidak terdiagnosis dan terlambat diobati. Berikut uraian selengkapnya.

 

  • Nyeri saat menelan.

  • Sensasi makanan seperti tersangkut di tenggorokan, dada, atau belakang tulang dada.

  • Produksi air liur berlebihan atau drooling.

  • Suara serak.

  • Makanan atau asam lambung terasa naik ke tenggorokan.

  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.

  • Batuk atau tersedak saat menelan.

  • Sensasi terbakar pada dada (heartburn).

  • Kesulitan mengontrol makanan atau air liur di mulut.

  • Kesulitan memulai proses menelan atau tidak bisa menelan.

  • Pneumonia berulang.

 

Diagnosis Disfagia

 

Dalam menegakkan diagnosis disfagia, dokter dapat melakukan wawancara medis (anamnesis) mengenai keluhan dan riwayat kesehatan pasien. Lalu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan fisik dan beberapa pemeriksaan penunjang lainnya untuk membantu menegakkan diagnosis disfagia. 

 

Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis penyebab yang mendasari disfagia adalah:

 

  • Esofagram: Dilakukan dengan memberi larutan  barium kepada pasien. Lalu, dokter akan menggunakan sinar-X untuk melihat cara kerja kerongkongan saat menelan larutan.

  • Esophagoduodenoscopy (EGD): Dilakukan dengan memasukkan alat menyerupai teropong yang dilengkapi kamera kecil melalui mulut untuk mengambil gambar tenggorokan, kerongkongan, lambung, hingga usus halus.

  • Endoskopi fiberoptik atau flexible endoscopic evaluation of swallowing (FEES): Prosedur dengan memasukkan selang kecil yang dilengkapi kamera ke dalam hidung untuk melihat kotak suara serta bagian atas kerongkongan. Dokter akan mengamati proses menelan dan memeriksa apakah makanan masuk ke saluran napas.

  • Manometri: Prosedur medis dengan memasukkan tabung kecil ke dalam kerongkongan dan dihubungkan ke perekam tekanan untuk mengukur kontraksi otot kerongkongan saat menelan.

  • Tes pencitraan lainnya, seperti CT scan atau MRI untuk melihat gambaran lebih detail dari organ dan jaringan esofagus dan sekitarnya.

 

Pengobatan Disfagia

 

Tujuan utama pengobatan disfagia adalah untuk menjaga asupan nutrisi pasien serta mencegah masuknya makanan ke dalam saluran pernapasan. Adapun beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menangani disfagia adalah sebagai berikut:

 

  • Memodifikasi makanan dengan mengatur tekstur dan kekentalan makanan sesuai dengan kemampuan menelan pasien.

  • Terapi menelan yang dilakukan dengan mengajarkan pasien cara menelan yang baik selama masa penyembuhan.

  • Penggunaan selang makan jika pasien tidak dapat mengonsumsi makanan atau minuman dengan baik.

  • Pemberian obat-obatan tertentu, seperti ranitidin dan omeprazole untuk mengurangi asam lambung, botox untuk melumpuhkan otot kerongkongan yang kaku, serta amlodipine dan nifedipine untuk melemaskan otot kerongkongan bagian bawah.

  • Pelebaran esofagus dengan cara menempatkan endoskopi ke dalam kerongkongan dan menggembungkan balon yang terpasang. Prosedur ini dapat digunakan pada kasus akalasia, striktur esofagus, gangguan motilitas, dan lain-lain. Tabung panjang dan fleksibel dengan diameter yang bervariasi juga dapat dimasukkan melalui mulut ke kerongkongan untuk mengatasi penyempitan.

  • Tindakan operasi untuk memperlebar kerongkongan yang menyempit sehingga makanan bisa masuk dengan lebih mudah. Selain itu, jika disfagia disebabkan oleh kanker, pasien akan dirujuk ke ahli onkologi untuk pengobatan dan mungkin memerlukan tindakan operasi pengangkatan tumor. Terapi bicara dan menelan biasanya disarankan setelah tindakan operasi.

 

Beberapa kondisi disfagia diketahui dapat membaik secara spontan dari waktu ke waktu. Hal ini juga berlaku pada kasus disfagia akibat stroke. Namun, jika sistem yang melibatkan otot lurik tidak digunakan, organ tubuh yang dipakai untuk menelan dapat menjadi lemah.

 

Meskipun kemampuan menelan dapat kembali tanpa terapi, otot menelan akan menjadi semakin melemah selama masa tunggu ini. Oleh karena itu, dokter tidak dapat menunda pengobatan dengan harapan gangguan tersebut bisa sembuh dengan sendirinya.

 

Komplikasi Disfagia

 

Disfagia dapat membuat seseorang tersedak karena makanan yang tertahan di dalam kerongkongan bisa menghambat saluran pernapasan. Bahkan, jika terjadi dalam jangka panjang, disfagia dapat menghambat tubuh untuk mendapatkan nutrisi yang baik sehingga dan  menyebabkan terjadinya sejumlah komplikasi, di antaranya sebagai berikut:

 

 

Pencegahan Disfagia

 

Disfagia adalah kondisi yang cenderung sulit untuk dicegah. Kendati demikian, terdapat beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk membantu meringankan gejala disfagia, mulai dari mengubah kebiasaan makan hingga membatasi konsumsi minuman beralkohol dan kafein. Berikut penjelasan mendetailnya.

 

  • Mengubah pola kebiasaan makan, seperti mengonsumsi makanan dengan porsi kecil dan lebih sering, memotong makanan menjadi potongan yang lebih kecil, serta mengunyah makanan secara perlahan dan menyeluruh.

  • Mencoba makanan dengan tekstur yang berbeda untuk mengetahui apakah disfagia terjadi ketika tekstur makanan tertentu. Bagi sebagian penderita, minuman yang cair, seperti kopi dan jus bisa memicu terjadinya disfagia sehingga perlu ditambahkan bubuk pengental khusus ke dalam minuman tersebut agar lebih mudah ditelan.

  • Duduk dengan posisi tegak saat makan.

  • Tidak merokok.

  • Membatasi konsumsi minuman beralkohol dan kafein. Alkohol dan kafein dapat membuat mulut dan kerongkongan menjadi lebih kering sehingga proses menelan menjadi lebih sulit.

 

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter melalui layanan Telekonsultasi jika Anda mengalami gejala-gejala disfagia seperti ulasan di atas. Anda juga bisa memanfaatkan aplikasi MySiloam yang menyediakan fitur lengkap untuk mengakses layanan kesehatan dengan mudah dan cepat, seperti membuat janji temu dengan dokter Siloam Hospitals terdekat, check in mandiri, hingga antre secara online. Mari percayakan kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

telechat

Dokter Kami
dr-agustinus-sony-yudianto-sptht-kl

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Agustinus Sony Yudianto, SpTHT-KL

Otorinolaringologi (THTBKL)

Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher


Siloam Hospitals Balikpapan

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ropi-affandi-sptht-kl

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ropi Affandi, SpTHT-KL

Otorinolaringologi (THTBKL)

Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-emanuel-q-sptht-kl

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Emanuel Quadarusman, SpTHT-KL

Otorinolaringologi (THTBKL)

Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail