Hiperparatiroidisme - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Hiperparatiroidisme - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

04 Juni 2025 5 menit waktu baca
hiperparatiroidisme adalah

Hiperparatiroidisme merupakan suatu kondisi ketika kelenjar paratiroid memproduksi hormon paratiroid terlalu banyak sehingga membuat kadar kalsium dan fosfat dalam darah menjadi tidak seimbang. Peningkatan kadar hormon tersebut perlu diwaspadai karena berisiko menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Lantas, apa penyebab hiperparatiroidisme? Simak penjelasan selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Hiperparatiroidisme?

 

Hiperparatiroidisme adalah kondisi di mana kadar hormon paratiroid dalam tubuh lebih tinggi dari kadar normal. Kelenjar paratiroid sendiri merupakan kelenjar yang mengeluarkan hormon paratiroid dan bertanggung jawab untuk meregulasi tingkat kalsium, vitamin D, serta fosfor di tulang dan darah. Kelenjar ini terletak di daerah leher, tepatnya di belakang kelenjar tiroid. 

 

Pada kondisi normal, hormon paratiroid akan dilepaskan ketika kadar kalsium dalam darah rendah. Hal ini menyebabkan ginjal dan usus menyerap lebih banyak kalsium, serta menarik kalsium dari tulang untuk memenuhi kebutuhan kalsium di dalam darah. Setelah kadar kalsium normal kembali, hormon tersebut berhenti diproduksi. 

 

Sayangnya, pada kondisi hiperparatiroidisme, produksi hormon paratiroid tidak berhenti meski kadar kalsium maupun fosfat telah normal. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan (homeostasis) tubuh. Namun, tidak semua orang dengan gangguan ini menunjukkan gejala.

 

Penyebab Hiperparatiroidisme

 

Fungsi utama kelenjar paratiroid adalah menjaga kadar kalsium dan fosfat di dalam tubuh tetap stabil. Kelenjar ini bekerja dengan cara melepaskan atau menghentikan keluarnya hormon paratiroid. Namun, pada kondisi hiperparatiroidisme, hormon yang diproduksi terlalu banyak sehingga terjadi hipofosfatemia (kadar fosfat terlalu rendah) dan hiperkalsemia (kadar kalsium terlalu tinggi).

 

Berdasarkan penyebabnya, hiperparatiroidisme terbagi menjadi 3 jenis, yaitu hiperparatiroidisme primer, hiperparatiroidisme sekunder, dan hiperparatiroidisme tersier. Berikut adalah masing-masing penjelasannya.

 

A. Hiperparatiroidisme Primer

 

Hiperparatiroidisme primer adalah kondisi yang disebabkan oleh adanya gangguan pada salah satu atau beberapa kelenjar paratiroid. Pemicunya pun beragam, mulai dari adenoma (tumor jinak), pembesaran pada kelenjar paratiroid, atau tumor ganas (namun jarang terjadi). Adapun beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya adalah:

 

  • Kelainan genetik.

  • Menderita multiple endocrine neoplasia.

  • Paparan radiasi di area leher.

  • Kekurangan kalsium dan vitamin D dalam jangka panjang.

  • Menopause.

  • Konsumsi obat lithium.

 

B. Hiperparatiroidisme Sekunder

 

Jenis hiperparatiroidisme ini disebabkan oleh kondisi medis tertentu yang membuat kadar kalsium dalam tubuh menurun secara abnormal. Hal ini akan mendorong kelenjar paratiroid lebih aktif guna menggantikan kalsium yang hilang. Beberapa kondisi medis tersebut, di antaranya:

 

 

C. Hiperparatiroidisme Tersier

 

Kondisi ini merupakan perkembangan dari hiperparatiroidisme sekunder yang sudah diobati namun hormon paratiroid yang dihasilkan tetap tinggi (di atas normal) dalam jangka waktu lama. Akibatnya, kadar kalsium dalam tubuh tetap tinggi. Kondisi yang paling sering menyebabkan hiperparatiroidisme tersier adalah gagal ginjal stadium lanjut.

 

Gejala Hiperparatiroidisme

 

Pada sebagian besar kasus, hiperparatiroidisme tidak menimbulkan gejala. Namun, gejala bisa muncul ketika terjadi kerusakan pada organ atau jaringan tertentu akibat tingginya kadar kalsium di dalam darah, sedangkan kalsium yang tersimpan dalam tulang justru menurun karena ditarik untuk memenuhi kebutuhan darah. 

 

Berikut adalah beberapa gejala hiperparatiroidisme, mulai dari yang ringan hingga berat.

 

Gejala hiperparatiroidisme ringan:

 

  • Nyeri pada tulang dan sendi.

  • Otot melemah.

  • Mudah lelah.

  • Mudah mengantuk.

  • Kehilangan nafsu makan.

  • Kesulitan berkonsentrasi.

  • Depresi.

 

Gejala hiperparatiroidisme berat:

 

  • Mual dan muntah.

  • Tulang menjadi lebih rapuh dan berisiko patah.

  • Sendi bengkak.

  • Perut kembung.

  • Sembelit.

  • Nyeri pada perut.

  • Mudah merasa haus.

  • Kebingungan.

  • Masalah ingatan.

  • Dehidrasi.

  • Otot menegang.

  • Detak jantung tidak teratur.

  • Tekanan darah tinggi.

  • Munculnya benjolan putih di bawah kulit.

  • Batu ginjal.

  • Buang air kecil berlebihan.

 

Diagnosis Hiperparatiroidisme

 

Hiperparatiroidisme adalah kondisi yang sering kali terdiagnosis secara tidak sengaja saat penderitanya melakukan pemeriksaan atau tes darah untuk alasan lain, misalnya tes darah secara rutin. Dokter dapat melakukan wawanacara medis (anamnesis) terkait gejala yang dan riwayat kesehatan pasien. Selanjutnya, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan fisik secara keseluruhan.

 

Untuk menegakkan diagnosis hiperparatiroidisme, dokter dapat melakukan pemeriksaan penunjang, di antaranya:

 

  • Tes darah untuk melihat kadar hormon paratiroid, kalsium, fosfat, ureum, kreatinin, dan lain-lain.

  • Tes kepadatan mineral tulang.

  • Tes urine.

  • Tes pencitraan, misalnya X-ray atau USG.

  • Biopsi kelenjar paratiroid.

  • Paratiroid scan. Pemeriksaan ini juga disebut sestamibi paratiroid scan, yaitu prosedur medis dengan melakukan pemindaian paratiroid untuk membantu menemukan kelenjar paratiroid mana yang memproduksi terlalu banyak hormon paratiroid. Pemeriksaan ini mungkin dilakukan sebelum operasi untuk menemukan area tertentu yang akan diangkat.

 

Tes-tes di atas dapat menyingkirkan kemungkinan kondisi yang menyebabkan hiperparatiroidisme, mengidentifikasi kemungkinan komplikasi, dan menentukan tingkat keparahan kondisi.

 

Pengobatan Hiperparatiroidisme

 

Pengobatan hiperparatiroidisme akan disesuaikan dengan tingkat keparahan serta penyebab yang mendasarinya. Apabila kondisi ginjal dan kepadatan tulang masih normal serta tidak timbul gejala lain, pasien bisa menjalani rawat jalan dengan memperhatikan beberapa hal berikut ini:

 

  • Memperbanyak asupan air putih untuk mencegah terbentuknya batu ginjal.

  • Olahraga secara rutin.

  • Menghentikan kebiasaan merokok.

  • Menghindari obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar kalsium.

  • Menjaga batasan asupan kalsium dan vitamin D sesuai anjuran dokter.

  • Melakukan pemeriksaan ke dokter secara berkala, seperti cek darah dan memantau kesehatan ginjal serta kadar kalsium tubuh.

 

Sementara itu, pada kasus hiperparatiroidisme primer, dokter umumnya akan merekomendasikan prosedur paratiroidektomi untuk mengangkat kelenjar paratiroid yang membesar atau memiliki tumor. Sebelum menjalani operasi, pasien akan diminta untuk melakukan tes pemindaian paratiroid sestamibi menggunakan radioaktif dan USG.

 

Dokter juga dapat memberikan obat-obatan untuk menangani hiperparatiroidisme. Jenis obat-obatan untuk hiperparatiroidisme adalah:

 

  • Calcimimetics, obat yang meniru cara kerja kalsium dalam darah.

  • Terapi penggantian hormon (hormon replacement therapy), biasanya dilakukan pada wanita yang sudah menopause.

  • Bisphosphonate, untuk mengatasi osteoporosis sekaligus mencegah hilangnya kalsium dalam darah.

 

Komplikasi Hiperparatiroidisme

 

Tanpa mendapatkan penanganan, hiperparatiroidisme dapat menyebabkan kadar kalsium dalam tulang akan semakin rendah. Sebaliknya, kadar kalsium dalam darah semakin tinggi. Kondisi ini bisa memicu sejumlah komplikasi serius. Beberapa komplikasi akibat hiperparatiroidisme adalah:

 

  • Penyakit kardiovaskular, seperti aritmia dan hipertensi.

  • Batu ginjal.

  • Tukak lambung.

  • Penurunan kepadatan tulang (osteoporosis).

  • Pankreatitis (radang pankreas).

  • Hipoparatiroid pada bayi (biasanya terjadi pada ibu hamil yang mengidap hiperparatiroidisme).

  • Kelemahan tulang, patah tulang, dan berkurangnya tinggi badan.

 

Hiperparatiroidisme adalah kondisi yang memerlukan penanganan sesegera mungkin guna mencegah terjadinya komplikasi. Karena itu, jika Anda atau kerabat mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada hiperparatiroidisme, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan ke dokter untuk mencari tahu penyebab pastinya.

 

Dalam hal ini, Anda dapat mengunjungi Dokter Spesialis Penyakit dalam di Siloam Hospitals terdekat. Anda bisa memanfaatkan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga melakukan self check in.

 

Aplikasi My Siloam

 

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail