Kesehatan Tubuh
Hipoksemia - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Table of Contents
Hipoksemia adalah masalah kesehatan serius yang perlu mendapatkan penanganan medis dengan cepat. Pada kondisi ini, kadar oksigen dalam darah terlalu rendah sehingga tubuh kekurangan oksigen. Akibatnya, fungsi organ tubuh menjadi terganggu. Lantas, bagaimana cara menangani hipoksemia? Mari pahami penjelasan selengkapnya dengan membaca ulasan di bawah ini.
Apa itu Hipoksemia?
Hipoksemia adalah kondisi ketika kadar oksigen di dalam darah berada di bawah normal. Padahal, oksigen berperan penting dalam menjaga fungsi organ dan jaringan tubuh, termasuk otak, jantung, ginjal, dan berbagai organ vital lainnya. Akibatnya, tubuh tidak dapat bekerja dengan baik.
Normalnya, kadar saturasi oksigen di dalam darah yang dinilai dengan menggunakan alat pulse oximetry (SpO2) adalah sekitar 95–100%, meski angka ini mungkin lebih rendah jika seseorang memiliki penyakit paru-paru atau tinggal di dataran tinggi. Namun, jika kadar saturasi oksigen di dalam darah telah berada di bawah 92%, sebaiknya pasien segera memeriksakan diri ke dokter dan mungkin memerlukan terapi bantuan oksigen.
Selain dengan alat pulse oximetry, kadar saturasi oksigen dalam darah juga dapat diukur dari analisa gas darah dengan melihat tekanan parsial oksigen (PaO2). Normal PaO2 adalah 80–100 mmHg dan dikatakan rendah apabila angka PaO2 di bawah 80 mmHg. Hipoksemia dapat terjadi dalam waktu singkat (gagal napas akut) atau berlangsung secara bertahap dalam jangka panjang selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun (gagal napas kronis).
Hipoksemia kerap disalahartikan sebagai hipoksia karena istilah dan kondisinya yang hampir mirip. Seperti yang sudah dijelaskan, hipoksemia adalah kondisi ketika kadar oksigen di dalam darah berada di bawah normal. Sementara itu, hipoksia merupakan kondisi ketika kadar oksigen di dalam jaringan tubuh rendah.
Penyebab Hipoksemia
Hipoksemia adalah kondisi yang terjadi akibat adanya gangguan atau penyakit yang memengaruhi aliran darah atau pernapasan. Selain itu, beberapa jenis obat-obatan juga diketahui dapat memperlambat pernapasan dan memicu hipoksemia. Kondisi lain, seperti sleep apnea, bisa menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun saat tidur sehingga memicu terjadinya hipoksemia nokturnal.
Adapun beberapa masalah kesehatan lainnya yang dapat memicu terjadinya hipoksemia adalah sebagai berikut:
-
Sindrom gangguan pernapasan akut atau acute respiratory distress syndrome (ARDS).
-
Asma.
-
Kolaps paru.
-
Penyakit jantung bawaan.
-
Gagal jantung kongestif.
-
Tinggal atau berada di tempat dataran tinggi.
-
Sedang mengonsumsi obat-obatan yang dapat menekan laju pernapasan, seperti beberapa jenis narkotika dan obat anestesi.
Hipoksemia dapat terjadi dengan berbagai cara. Misalnya, pada PPOK (sekelompok penyakit kronis dimana aliran udara di paru-paru terhambat dan membuat pasien sulit bernapas), rusaknya dinding alveoli (kantong udara) dan pembuluh darah kapiler di sekitarnya dapat menyebabkan masalah pertukaran gas yang selanjutnya bisa memicu hipoksemia.
Sementara pada anemia, penderitanya cenderung memiliki kadar oksigen yang rendah di dalam darahnya sehingga memicu terjadi hipoksemia. Anemia sendiri merupakan suatu kondisi ketika tidak terdapat cukup sel darah merah untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh secara efektif.
Gejala Hipoksemia
Gejala hipoksemia bisa berbeda-beda antara satu orang dan orang lainnya. Tergantung pada tingkat keparahan dan durasinya, hipoksemia dapat menyebabkan gejala ringan atau bahkan kematian. Namun, secara umum, beberapa gejala hipoksemia adalah sebagai berikut:
-
Sakit kepala.
-
Sesak napas (dispnea) atau kesulitan bernapas.
-
Denyut jantung cepat (takikardia).
-
Batuk.
-
Kebingungan.
Diagnosis Hipoksemia
Untuk mendiagnosis hipoksemia, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui tentang gejala yang dialami pasien serta riwayat kesehatannya. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik untuk mendengarkan suara di jantung dan paru-paru. Abnormalitas pada kedua organ tersebut bisa menjadi salah satu tanda bahwa kadar oksigen di dalam darah tidak tercukupi.
Selain melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, dokter biasanya juga akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang guna mengonfirmasi diagnosis. Pemeriksaan penunjang tersebut, di antaranya:
-
Pulse oximetry: Alat berupa sensor yang dipasang di jari untuk mengukur kadar saturasi oksigen di dalam darah.
-
Analisis gas darah: Pengambilan sampel darah dari pembuluh darah arteri menggunakan jarum suntik, kemudian dianalisis di laboratorium untuk mengukur kadar oksigen di dalam darah.
-
Radiologi, seperti X-ray atau CT scan untuk melihat penyebab hipoksemia.
-
Tes spirometri: Pasien akan diminta untuk mengembuskan napas dalam-dalam ke dalam tabung yang terhubung dengan mesin atau komputer guna mengetahui seberapa optimal fungsi pernapasannya.
-
Six-minute walk test (6MWT): Pada pemeriksaan ini, dokter akan melihat seberapa jauh pasien bisa berjalan di permukaan datar dalam waktu 6 menit. Hal tersebut dapat membantu dokter mengevaluasi fungsi paru-paru dan jantung.
Cara Mengatasi Hipoksemia
Tujuan pengobatan hipoksemia adalah meningkatkan kadar oksigen di dalam darah. Namun, langkah pengobatannya sendiri bisa berbeda-beda, tergantung dari penyebab yang mendasari serta tingkat keparahannya. Adapun beberapa pengobatan umum untuk hipoksemia adalah sebagai berikut:
-
Terapi oksigen untuk membantu pasien bernapas dengan baik.Terapi ini dilakukan dengan memasang alat berupa masker (sungkup) oksigen atau selang untuk mengalirkan oksigen ke dalam saluran pernapasan. Namun, jika pasien tidak dapat bernapas sendiri, dokter mungkin perlu melakukan tindakan intubasi.
-
Pemberian obat-obatan. Jenis obat yang diberikan tergantung dari penyebab yang mendasari terjadinya hipoksemia. Apabila disebabkan oleh asma, dokter dapat memberikan obat bronkodilator dan kortikosteroid. Sementara itu, bila diakibatkan oleh infeksi, misalnya pneumonia atau sepsis, maka dokter akan memberikan antibiotik.
Komplikasi Hipoksemia
Jika kadar oksigen dalam darah rendah atau pasien mengalami kekurangan darah (anemia), suplai oksigen untuk menunjang kerja jaringan dan organ dalam tubuh pun tidak cukup, sehingga bisa menyebabkan kegagalan fungsi semua organ tubuh jika berlangsung terus-menerus.
Hipoksemia adalah kondisi yang perlu ditangani dengan cepat untuk mencegah komplikasi di atas. Oleh karena itu, jika Anda mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada hipoksemia, jangan ragu mengunjungi Dokter Spesialis Pulmonologi (Paru) di Siloam Hospitals guna mendapatkan perawatan yang profesional.
Sebagai langkah lebih lanjut dalam menjaga kesehatan paru-paru, Siloam Hospitals juga menyediakan paket Skrining Kesehatan Paru yang meliputi tes darah lengkap, foto rontgen, dan spirometri yang bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya gangguan yang terkait dengan paru-paru.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Tomas Ari Kurniawan Komala, SpAn
Anestesiologi
Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Siloam Hospitals Yogyakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Charles Wijaya Tan, M.Kes, Sp.An-KMN
Anestesiologi
Subspesialis Manajemen Nyeri
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini







