Kesehatan Tubuh
Fibrosis Paru - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

Table of Contents
Fibrosis paru adalah penyakit paru-paru yang terjadi akibat terbentuknya jaringan parut di paru-paru. Kondisi ini termasuk penyakit kronis yang berlangsung seumur hidup dan bisa semakin memburuk secara perlahan. Fibrosis paru menyebabkan fungsi paru-paru menjadi tidak normal, sehingga menyebabkan penderitanya kerap mengalami sesak napas.
Mari simak pembahasan selengkapnya tentang penyebab, gejala, dan pengobatan fibrosis paru dalam artikel di bawah ini.
Apa itu Fibrosis Paru?
Seperti yang sudah dijelaskan, pulmonary fibrosis atau fibrosis paru adalah gangguan pada sistem pernapasan akibat jaringan parut yang terbentuk di paru-paru. Jaringan parut tersebut dapat menimbulkan bekas luka dan membuat jaringan paru-paru menjadi tebal.
Kondisi ini dapat memengaruhi alveolus serta jaringan ikat di paru-paru. Akibatnya, oksigen tidak bisa masuk ke aliran darah sebagaimana mestinya. Fungsi paru-paru yang tidak normal dapat menyebabkan penderitanya mengalami sesak napas, bahkan saat melakukan aktivitas ringan, seperti berjalan atau hanya sekadar mengenakan pakaian.
Perbedaan Fibrosis Paru dan Cystic Fibrosis
Cystic fibrosis dan fibrosis paru adalah dua kondisi yang sering kali dikaitkan karena memiliki nama yang hampir sama. Padahal, kedua kondisi ini memiliki penyebab, gejala, hingga pengobatan yang berbeda.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa fibrosis paru adalah gangguan pernapasan akibat terbentuknya jaringan parut di paru-paru. Sementara cystic fibrosis adalah kondisi genetik yang dimiliki seseorang sejak lahir.
Kondisi genetik ini ditandai dengan perubahan lendir di dalam tubuh menjadi lebih kental dan lengket, sehingga menyumbat saluran-saluran di dalam tubuh, seperti paru-paru, usus, pankreas, ginjal, dan hati.
Penyebab Fibrosis Paru
Penyebab fibrosis paru sering kali tidak diketahui secara pasti, kondisi ini disebut juga dengan fibrosis paru idiopatik. Fibrosis paru idiopatik merupakan penyakit langka dengan angka kejadian kurang dari 5 per 10.000 orang per tahun, namun memiliki beban penyakit yang tinggi.
Kendati demikian, fibrosis paru juga dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Adapun sejumlah faktor yang dapat menyebabkan fibrosis paru adalah sebagai berikut.
1. Lingkungan Pekerjaan
Paparan senyawa kimia berbahaya yang berasal dari lingkungan pekerjaan atau industri tertentu bisa menjadi salah satu penyebab fibrosis paru, terutama jika paparannya berlangsung lama. Sejumlah racun dan polutan yang umumnya berasal dari lingkungan pekerjaan adalah:
-
Debu logam keras.
-
Serat asbes.
-
Debu batu bara.
-
Debu logam.
-
Debu biji-bijian.
-
Kotoran burung dan hewan.
2. Prosedur Medis
Prosedur medis seperti radioterapi untuk kanker payudara berisiko menyebabkan kerusakan pada paru-paru, terutama jika berlangsung dalam waktu yang lama. Kerusakan organ ini biasanya akan terlihat setelah beberapa bulan atau tahun sejak terpapar radiasi. Tingkat keparahan kerusakan paru-paru berbeda, tergantung dari:
-
Banyaknya bagian paru-paru yang terpapar radiasi.
-
Jumlah total radiasi yang diberikan.
-
Pengobatan tambahan lain yang dilakukan seperti kemoterapi.
-
Penyakit paru yang mendasari.
3. Penyakit Tertentu
Terjadinya fibrosis paru juga bisa disebabkan oleh berbagai kondisi medis tertentu, mulai dari pneumonia hingga penyakit jaringan ikat campuran. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah berbagai kondisi medis yang dimaksud.
-
Dermatomiositis. Kondisi autoimun yang ditandai dengan peradangan kulit dan otot.
-
Polimiositis. Penyakit yang menyebabkan otot teriritasi dan meradang.
-
Systemic lupus erythematosus, penyakit autoimun yang dapat mengenai banyak organ tubuh dengan tampilan klinis yang sangat beragam.
-
Skleroderma, penyakit autoimun yang menyebabkan jaringan ikat dapat menebal dan mengeras.
-
Penyakit jaringan ikat campuran (mixed connective tissue disease).
4. Obat-obatan
Beberapa jenis obat-obatan yang dapat meningkatkan risiko kerusakan jaringan paru-paru dan terjadinya fibrosis paru adalah obat kemoterapi, obat penyakit jantung, antibiotik, serta obat-obatan antiinflamasi.
Pada kondisi fibrosis idiopatik, terdapat dugaan bahwa kondisi tersebut dapat disebabkan oleh paparan asap rokok dan virus. Selain itu, kondisi ini juga bisa diturunkan dari keluarga yang menderita fibrosis paru idiopatik.
Terdapat dugaan lain bawah fibrosis paru juga dipengaruhi oleh penyakit asam lambung atau GERD. Namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut apakah GERD dapat meningkatkan risiko terjadinya fibrosis paru atau dapat memperparah kondisi ini.
Faktor Risiko Fibrosis Paru
Selain beberapa penyebab di atas, terdapat sejumlah faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko fibrosis paru. Adapun sejumlah faktor yang dimaksud adalah sebagai berikut:
-
Berjenis kelamin pria.
-
Berusia 40–70 tahun.
-
Menjalani pengobatan kanker.
-
Faktor genetik.
-
Memiliki kebiasaan merokok.
-
Bekerja di industri yang berisiko menghasilkan senyawa kimia atau polutan yang berbahaya.
Gejala Fibrosis Paru
Gejala fibrosis paru pada setiap orang bisa berbeda-beda. Terkadang gejalanya sama dengan gejala flu biasa atau infeksi saluran pernapasan atas. Adapun beberapa gejala umum fibrosis paru adalah sebagai berikut:
-
Napas pendek (dispnea).
-
Batuk kering yang tak kunjung sembuh.
-
Mudah lelah.
-
Sesak napas terutama selama atau setelah olahraga.
-
Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.
Kemudian, seiring dengan perkembangan penyakit, beberapa orang mungkin akan mengalami:
-
Perburukan gejala yang cepat (eksaserbasi akut) hingga menimbulkan sesak napas yang parah.
-
Perubahan bentuk ruas jari dan kuku tangan atau kaki menjadi lebih lebar dan bulat (clubbing finger).
-
Sianosis akibat kekurangan oksigen dalam darah. Kondisi ini menyebabkan kulit kebiruan pada orang berkulit putih atau kulit abu-abu/putih di sekitar mulut atau mata pada orang berkulit hitam.
Diagnosis Fibrosis Paru
Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) terlebih dahulu mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien serta keluarganya. Kemudian, dilanjutkan dengan memeriksa suara di dalam paru-paru menggunakan stetoskop.
Dokter juga akan melakukan serangkaian tes penunjang untuk membantu memastikan diagnosis fibrosis paru, di antaranya:
-
Tes darah, dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya kondisi lain.
-
Tes pemindaian menggunakan rontgen dada, CT scan, atau MRI untuk melihat struktur dan kondisi paru-paru secara lebih jelas.
-
Tes fungsi paru, pemeriksaan ini dapat dilakukan melalui prosedur spirometri, oksimetri, analisis gas darah, atau tes latihan di atas treadmill. Tujuannya adalah untuk mengukur kadar oksigen dan karbon dioksida di dalam darah dan memeriksa kinerja paru-paru.
-
Biopsi paru, dilakukan dengan mengambil sampel jaringan paru untuk memastikan diagnosis sekaligus menentukan tingkat keparahan fibrosis paru.
-
Tes fungsi organ lain, seperti hati dan ginjal untuk mendeteksi infeksi.
-
EKG dan echo jantung, dilakukan jika gejala fibrosis paru mirip dengan gejala penyakit jantung.
Penanganan Fibrosis Paru
Apakah fibrosis paru bisa sembuh? Kondisi ini tidak bisa disembuhkan secara sepenuhnya, sehingga tujuan dari pengobatan fibrosis paru adalah meredakan gejala dan memperlambat perkembangan penyakit serta membantu menjaga fungsi paru-paru. Adapun sejumlah pengobatan untuk fibrosis paru adalah sebagai berikut:
-
Pemberian obat-obatan: Terdapat dua obat yang biasa digunakan untuk mengatasi fibrosis paru, yaitu pirfenidone dan nintedanib. Keduanya dapat memperlambat perkembangan fibrosis paru.
-
Terapi oksigen: Penggunaan oksigen tidak dapat menghentikan kerusakan paru-paru, namun dapat membantu pernapasan, mencegah atau mengurangi komplikasi paru akibat kadar oksigen darah yang rendah, meningkatkan kualitas tidur, dan lain-lain.
-
Rehabilitasi paru-paru: Terapi ini bertujuan untuk melatih teknik pernapasan dan ketahanan fisik untuk meningkatkan kerja paru-paru.
-
Transplantasi paru: Prosedur ini dilakukan jika kerusakan paru-paru sudah cukup parah hingga metode lain sudah tidak efektif lagi.
Agar hasil pengobatan lebih maksimal, penderita juga disarankan untuk mengubah gaya hidup seperti menghentikan kebiasaan merokok dan menghindari asap rokok. Selain itu, penderita juga dianjurkan:
-
Mengonsumsi makanan tinggi serat.
-
Menghindari makanan tinggi garam.
-
Olahraga secara rutin.
-
Melakukan vaksinasi pneumonia dan flu.
-
Istirahat yang cukup.
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika Anda mengalami beberapa keluhan yang mengarah ke kondisi fibrosis paru. Kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan penanganan secara tepat.
Siloam Hospitals juga menyediakan paket Skrining Kesehatan Paru yang meliputi tes darah lengkap, foto rontgen, dan spirometri. Paket Skrining Kesehatan Paru bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya gangguan yang terkait dengan paru-paru.
Anda bisa memesan paket Skrining Kesehatan Paru melalui aplikasi MySiloam. Aplikasi ini juga dapat digunakan untuk memudahkan Anda dalam mendapatkan berbagai fitur kesehatan yang mudah dan cepat. Segera unduh aplikasinya sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Skrining Kesehatan Paru
Penawaran Spesial
4 Service/Item
Rp650.000
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp650.000
TERPOPULER
Rontgen Dada
Rontgen / X-Ray
Rp191.000
TERPOPULER
Rontgen Dada/Thorax PA + Lateral
Rontgen / X-Ray
Rp382.000
TERPOPULER
CT Thorax Non-CNTRS / CT Scan Dada
CT Scan
Rp2.079.000
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum dan Perawat - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp1.100.000







