Milia - Penyebab, Gejala, Jenis, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Milia - Penyebab, Gejala, Jenis, dan Pengobatannya

30 Oktober 2024 5 menit waktu baca
Milia adalah

Milia adalah benjolan kecil berwarna putih yang biasanya muncul di area wajah. Masalah kulit ini sering kali terjadi pada bayi baru lahir, namun bukan tidak mungkin dialami oleh anak-anak dan orang dewasa. Sebenarnya milia bukan kondisi yang perlu dikhawatirkan karena bisa hilang dengan sendirinya, namun terkadang kondisi ini cukup mengganggu apalagi jika tak kunjung hilang.

 

Lantas, apa yang menyebabkan munculnya milia? Mari simak penjelasan selengkapnya dalam artikel berikut ini. 

 

Apa itu Milia?

 

Milia adalah benjolan atau bintik-bintik kecil berwarna putih yang muncul di area wajah, seperti di bawah mata, hidung, dan pipi. Kondisi ini sering dialami oleh bayi baru lahir, namun umumnya dapat hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu.

 

Meski begitu, milia tetap bisa terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa dan membutuhkan waktu yang lebih lama hingga beberapa bulan untuk menghilang. Milia tumbuh secara berkelompok, bila hanya terdapat satu bintik/benjolan kecil, maka disebut dengan milium.

 

Milia sering dianggap sama dengan miliaria atau biang keringat, padahal kedua kondisi ini berbeda. Miliaria ditandai dengan munculnya ruam kemerahan di kulit dan terasa nyeri atau gatal. Miliaria terjadi karena kelenjar keringat mengalami penyumbatan.

 

Penyebab Milia

 

Belum diketahui secara pasti apa penyebab milia. Namun secara umum, kondisi ini bisa terjadi karena terdapat keratin atau sel kulit mati yang terperangkap di bawah permukaan kulit. Di samping itu, beberapa faktor lain yang dapat memengaruhi munculnya milia pada orang dewasa adalah sebagai berikut:

 

  • Paparan sinar matahari yang berlebihan, sehingga membuat sel-sel kulit mati tidak mengelupas secara normal dan terperangkap di bawah kulit.

  • Produk perawatan kulit yang tidak terserap oleh kulit dengan baik.

  • Pengolesan krim petroleum jelly. Di samping manfaatnya yang bisa membuat kulit lebih lembap dan halus, krim petroleum jelly juga dapat meningkatkan risiko munculnya milia karena berpotensi menyumbat pori-pori kulit.

  • Penggunaan krim steroid dalam jangka panjang.

  • Kerusakan pada kulit akibat trauma kulit, misalnya karena prosedur dermabrasi (prosedur pengelupasan lapisan kulit terluar untuk menghaluskan kulit).

  • Mengidap masalah kulit tertentu, misalnya rosacea, eksim, dan ketombe.

 

Munculnya masalah kulit seperti milia juga bisa dipengaruhi oleh gaya hidup yang kurang sehat, di antaranya:

 

 

Gejala Milia

 

Gejala utama milia adalah munculnya bintik-bintik berwarna putih dan bergerombol di area wajah. Bintik-bintik atau benjolan tersebut berukuran sangat kecil dengan diameter 1–2 mm. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa kurang nyaman, namun tidak terasa nyeri.

 

Milia juga bisa berubah warna menjadi kemerahan apabila mengalami iritasi, misalnya akibat bergesekan dengan pakaian atau sprei yang berbahan kasar. Beberapa area kulit yang paling sering menjadi tempat munculnya milia adalah:

 

  • Rahang.

  • Bagian dalam mulut.

  • Dada.

  • Alat kelamin.

  • Dahi.

  • Kelopak mata.

  • Hidung.

  • Belakang telinga.

  • Pipi.

  • Kulit kepala.

 

Jenis-Jenis Milia

 

Milia terbagi menjadi beberapa jenis, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Neonatal milia: Milia yang terjadi pada bayi baru lahir, biasanya muncul di sekitar hidung.

  • Milia en plaque: Milia yang gejalanya cukup parah dan sering terjadi pada wanita paruh baya, namun belum diketahui secara pasti apa penyebabnya. Tipe milia ini umumnya memiliki ukuran diameter yang cukup besar dan menonjol.

  • Primary milia/milia primer: Milia pada anak-anak dan orang dewasa, biasanya akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu atau bulan.

  • Secondary milia/milia sekunder: Milia yang muncul akibat cedera pada kulit, misalnya luka lepuh atau penggunaan krim kortikosteroid.

  • Multiple eruptive milia: Jenis milia ini umumnya muncul secara berkelompok dan dapat hilang dalam waktu beberapa minggu atau bulan.

 

Diagnosis Milia

 

Dokter biasanya bisa mengenali milia dan mendiagnosisnya melalui karakteristik di wajah, kecuali pada milia en plaque. Milia en plaque memerlukan pemeriksaan penunjang seperti biopsi kulit (pengambilan sampel jaringan kulit) untuk mengonfirmasi diagnosis. Meski milia tidak berbahaya, sebaiknya orang tua segera memeriksakan si kecil ke dokter apabila mengalami gejala milia yang tak kunjung hilang selama lebih dari 3 bulan.

 

Cara Menghilangkan Milia

 

Milia pada bayi umumnya tidak memerlukan perawatan atau prosedur khusus karena bisa hilang dengan sendirinya. Sementara pada orang dewasa, milia biasanya memerlukan waktu hingga beberapa bulan untuk bisa hilang sepenuhnya, sehingga diperlukan prosedur yang bisa mempercepat hilangnya milia.

 

Pilihan prosedur yang biasanya dilakukan sebagai pengobatan milia adalah sebagai berikut:

 

  • Abrasi laser, menghilangkan milia dengan laser.

  • Diathermy, menghilangkan milia menggunakan suhu panas.

  • Chemical peeling, prosedur pengelupasan lapisan kulit paling luar (epidermis) dengan bantuan bahan kimia.

  • Deroofing, mengeluarkan isi milia menggunakan jarum steril.

  • Dermabrasi, prosedur pengelupasan epidermis menggunakan alat khusus.

  • Obat antibiotik oral atau krim isotretinoin, digunakan untuk kasus milia en plaque.

  • Krioterapi, pembekuan dan penghancuran benjolan milia dengan nitrogen cair.

 

Cara Mencegah Milia

 

Pada orang dewasa, kunci utama dalam mencegah milia adalah menjaga kesehatan kulit. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan kulit, di antaranya:

 

  • Menggunakan produk skincare yang sesuai dengan tipe kulit.

  • Mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin B dan E yang bermanfaat bagi kesehatan kulit.

  • Menjaga kebersihan kulit dengan rutin mencuci muka menggunakan sabun wajah.

  • Hindari penggunaan produk skincare yang mengandung kortikosteroid tanpa anjuran dari dokter.

  • Melindungi kulit dari paparan sinar matahari menggunakan sunscreen minimal SPF 30.

 

Itulah penjelasan tentang milia yang perlu diketahui. Penting untuk digarisbawahi bahwa penyebab atau gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi milia. Artinya, penyebab atau gejala tersebut bisa serupa dengan penyakit lainnya. Oleh karena itu, dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut oleh Dokter Spesialis Dermatologi (Kulit) di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh diagnosis yang tepat.

 

Sebagai informasi, tahapan prosedur medis yang Anda jalani terkait dengan kesehatan kulit akan disesuaikan dengan fasilitas kesehatan yang tersedia, sehingga mungkin saja berbeda di setiap rumah sakit. Tenaga medis profesional akan memastikan prosedur medis tersebut sudah sesuai dengan kondisi kesehatan pasien.


Lebih lanjut, Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

telechat

Dokter Kami
dr-marsia-rusfianti-spkk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Marsia Rusfianti, SpKK, M.Kes

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Lippo Cikarang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-armina-haramaini-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Armina Haramaini, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-epi-panjaitan-msc-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Epi Panjaitan, MSc, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail