Retensio Plasenta - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Ibu dan Anak

Retensio Plasenta - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

04 September 2025 4 menit waktu baca
mengenal Retensio Plasenta

Retensio plasenta adalah kondisi ketika plasenta tetap berada di dalam rahim dan tidak dapat keluar selama 30 menit setelah proses persalinan selesai. Kondisi ini perlu segera ditangani dengan cepat dan tepat karena berisiko menimbulkan komplikasi tertentu, seperti infeksi dan kehilangan darah dalam jumlah banyak.

 

Lantas, apa penyebab retensio plasenta? Untuk mengetahuinya, mari simak artikel berikut ini hingga tuntas. 

 

Apa itu Retensio Plasenta?

 

Seperti yang sudah dijelaskan, retensio plasenta atau retensi plasenta adalah kondisi ketika plasenta (ari-ari) tidak dapat keluar setelah proses persalinan selesai. Plasenta sendiri merupakan organ yang terbentuk di dalam rahim selama masa kehamilan, yang berfungsi menyediakan nutrisi dan oksigen untuk janin, serta sebagai saluran pembuangan sisa-sisa metabolisme janin.

 

Penyebab Retensio Plasenta

 

Retensio plasenta terjadi ketika terdapat adhesi atau perlengketan yang kuat antara plasenta pada dinding uterus. Berdasarkan penyebabnya, retensio plasenta dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu placenta adherens, plasenta akreta spektrum, dan trapped placenta. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

  • Placenta adherens: Merupakan jenis retensio plasenta yang paling sering terjadi. Kondisi ini terjadi ketika kontraksi rahim tidak cukup kuat untuk mengeluarkan seluruh jaringan plasenta. Placenta adherens biasanya disebabkan oleh kelelahan ibu setelah melahirkan atau atonia uteri.

  • Plasenta akreta spektrum (PAS): Jenis retensio plasenta yang terjadi karena plasenta tumbuh terlalu dalam di dinding rahim. Akibatnya, kontraksi rahim saja tidak cukup untuk mengeluarkan plasenta. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kelainan di lapisan rahim karena efek samping operasi rahim atau operasi caesar pada kehamilan sebelumnya. Berdasarkan kedalamannya, PAS terbagi menjadi tiga, yaitu plasenta akreta, inkreta, dan perkreta.

  • Trapped placenta: Terjadi ketika plasenta sudah terlepas dari dinding rahim, namun masih belum keluar dari rahim. Kondisi ini biasanya terjadi akibat menutupnya serviks sebelum plasenta keluar.

 

Selain itu, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami retensi plasenta adalah sebagai berikut.

 

  • Pernah mengalami retensi plasenta pada kehamilan sebelumnya.

  • Plasenta previa.

  • Riwayat persalinan sesar.

  • Riwayat tindakan kuret berulang.

  • Riwayat multiparitas (punya banyak anak).

  • Kelainan struktur rahim.

  • Infeksi pada rahim.

  • Hamil kembar.

  • Melahirkan bayi yang meninggal di dalam kandungan (stillbirth).

  • Hamil saat berusia di atas 30 tahun.

  • Persalinan prematur.

  • Proses persalinan yang terlalu lama.

  • Hamil dengan metode IVF.

 

Gejala Retensio Plasenta

 

Gejala utama dari retensio plasenta adalah tertahannya sebagian atau seluruh jaringan plasenta di dalam rahim selama lebih dari 30 menit setelah proses persalinan selesai. Di samping itu, kondisi ini juga dapat menimbulkan beberapa gejala tertentu, seperti:

 

  • Perdarahan yang berlebihan pascapersalinan.

  • Nyeri hebat pada perut bagian bawah.

  • Demam.

  • Keputihan atau cairan berbau yang keluar dari area kewanitaan.



Jika menimbulkan komplikasi seperti infeksi, retensi plasenta juga dapat menimbulkan gejala lain, yaitu demam dan menggigil.

 

Komplikasi Retensio Plasenta

 

Apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat, retensi plasenta berisiko menimbulkan sejumlah komplikasi, yaitu membuat pembuluh darah yang menempel pada plasenta akan terus terbuka dan mengeluarkan darah. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya perdarahan pascamelahirkan yang bisa mengancam nyawa. Selain itu, infeksi juga berisiko terjadi ketika plasenta atau sebagian plasenta tetap berada di dalam uterus.

 

Diagnosis Retensio Plasenta

 

Diagnosis retensi plasenta langsung ditegakkan ketika plasenta tidak kunjung keluar dalam 30 menit setelah bayi dilahirkan. Pasien juga dapat dikatakan mengalami kondisi ini jika jaringan plasenta yang keluar dari rahim tidak utuh atau hanya sebagian. Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan USG untuk memastikan keadaan di dalam rahim pasien.

 

Pengobatan Retensio Plasenta

 

Pada dasarnya, penanganan retensio plasenta bertujuan untuk mengeluarkan seluruh jaringan plasenta dari rahim guna menghindari risiko komplikasi. Dalam hal ini, dokter dapat memberikan obat-obatan tertentu, seperti oksitosin atau methylergometrine guna membantu rahim berkontraksi dan melepaskan plasenta.

 

Apabila pasien dalam kondisi stabil, dokter dapat menyarankan pasien untuk buang air kecil lebih sering atau  dipasangkan kateter urine. Pasalnya, kandung kemih yang penuh bisa menghambat keluarnya plasenta dari rahim. Dokter juga dapat mengarahkan pasien untuk segera menyusui guna memicu kontraksi rahim yang dapat membantu proses pengeluaran plasenta. Mengubah posisi menjadi squat dan memijat bagian perut bagian bawah juga dapat membantu.

 

Jika cara di atas tidak berhasil, beberapa tindakan yang dapat dilakukan dokter untuk mengeluarkan seluruh plasenta dari rahim adalah:

 

  • Tindakan manual placenta, yaitu tindakan mengeluarkan plasenta menggunakan tangan.

  • Kuretase.

 

Di sisi lain, jika pasien melahirkan di rumah atau di luar rumah sakit dan mengalami retensio plasenta, hal-hal yang dapat dilakukan keluarga pasien untuk menangani kondisi tersebut adalah sebagai berikut.

 

  • Tetap tenang dan jangan panik.

  • Pastikan untuk memberikan air minum yang cukup atau memasangkan cairan infus jika memungkinkan guna mencegah syok akibat perdarahan.

  • Memantau kesadaran dan tanda vital pasien, seperti denyut jantung, laju pernapasan, tekanan darah, dan suhu tubuh.

  • Segera membawa pasien ke UGD di rumah sakit terdekat.

 

Pencegahan Retensio Plasenta

 

Secara umum, retensio plasenta merupakan kondisi yang cenderung sulit untuk dicegah. Namun, ada beberapa hal yang dapat dilakukan ibu hamil untuk meminimalkan risiko terjadinya kondisi in. Berikut adalah penjelasan selengkapnya.

 

  • Menjalani perawatan prenatal sebaik mungkin guna memperkuat janin agar tidak dilahirkan secara prematur.

  • Menjaga berat badan ideal.

  • Memantau tanda-tanda bahaya selama persalinan hingga pascapersalinan.

 

Sementara itu, langkah antisipasi yang dapat dilakukan dokter untuk meminimalkan risiko terjadinya retensi plasenta adalah:

 

  • Memberikan obat-obatan, seperti oksitosin, sesaat setelah proses persalinan selesai untuk merangsang kontraksi rahim agar plasenta dapat keluar seluruhnya.

  • Menjalani prosedur controlled cord traction (CCT), yaitu prosedur medis dengan cara menjepit dan menarik tali pusat bayi seraya melakukan pijatan ringan pada perut ibu guna merangsang kontraksi rahim.

 

Jika Anda mengalami gangguan kesehatan selama masa kehamilan, gunakan saja layanan Telekonsultasi untuk memudahkan Anda dalam berkonsultasi dengan dokter secara virtual. Layanan ini dapat ditemukan pada aplikasi MySiloam yang bisa diunduh secara gratis pada smartphone Anda. Mari jaga selalu kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!

 

telechat (1)

Dokter Kami
dr-lenny-khosal-spog

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-tia-indriana-spog

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Tia Indriana, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-danny-wiguna-spog

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Danny Wiguna, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Yogyakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail