Kesehatan Tubuh
Apa itu Schistosomiasis? Penyebab, Gejala, & Pengobatannya

Table of Contents
Snail fever, bilharzia, atau schistosomiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit, tepatnya cacing yang hidup di air tawar. Kondisi ini sering kali ditemukan di benua Afrika, namun tidak sedikit pula kasus schistosomiasis yang terjadi di daerah lainnya, seperti Amerika Selatan, Timur Tengah, serta Asia Tenggara.
Di Indonesia sendiri, parasit ini dapat ditemukan di daerah Sulawesi Tengah. Untuk mengetahui lebih jauh tentang schistosomiasis, termasuk penyebab, gejala, dan pengobatannya, mari simak artikel berikut ini hingga tuntas.
Apa itu Schistosomiasis?
Seperti yang telah dijelaskan, schistosomiasis atau bilharzia adalah kondisi medis yang terjadi akibat infeksi cacing yang hidup di air tawar pada daerah tropis dan subtropis yakni Schistosoma haematobium, Schistosoma japonicum, dan Schistosoma mansoni. Kondisi ini juga disebut sebagai snail fever karena penularannya bisa terjadi melalui larva infektif yang hidup di dalam tubuh siput Oncomelania hupensis lindoensis.
Parasit penyebab schistosomiasis bisa menembus permukaan kulit dan menyebar ke organ tubuh, khususnya ke hati melalui pembuluh darah. Tidak hanya pada manusia, cacing tersebut juga dapat menembus kulit hewan, seperti tikus dan binatang ternak. Hal ini juga menjadikan hewan tersebut sebagai media penyebaran penyakit melalui tinjanya.
Selain dari kulit, Schistosoma juga dapat menyerang usus dan sistem urinaria terlebih dahulu. Namun, karena parasitnya tinggal di dalam darah (cacing trematoda), Schistosoma juga bisa menyerang berbagai organ tubuh lainnya, seperti paru-paru, saraf tulang belakang, hingga otak.
Schistosomiasis adalah kondisi yang bisa bersifat akut maupun kronis. Bila bersifat kronis (terjadi dalam jangka waktu yang lama), schistosomiasis bisa berakibat fatal karena dapat merusak organ dalam tubuh.
Penyebab Schistosomiasis
Penyebab utama schistosomiasis adalah infeksi parasit, yaitu cacing dari genus Schistosoma. Ada 3 jenis utama Schistosoma yang menyerang manusia, yaitu Schistosoma japonicum, S. haematobium, and S. mansoni. Parasit Schistosoma dapat menginfeksi manusia ketika masih berbentuk larva yang dilepaskan oleh siput air tawar. Kemudian, larva ini akan masuk ke dalam kulit ketika seseorang kontak langsung dengan air yang sudah tercemar.
Ketika berada di dalam tubuh, larva Schistosoma akan berkembang menjadi cacing dewasa yang hidup di pembuluh darah. Beberapa telur parasit ini juga dapat keluar dari tubuh melalui feses atau urine untuk melanjutkan siklus hidupnya dan berkembang biak. Sementara itu, parasit yang terperangkap di dalam jaringan tubuh akan memicu reaksi sistem imun dan menyebabkan kerusakan pada organ tubuh.
Di samping itu, beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami schistosomiasis adalah sebagai berikut:
-
Usia anak-anak.
-
Tinggal atau bepergian ke daerah yang sering ditemukan kasus Schistosomiasis. Di Indonesia sendiri, kasus ini hanya ditemukan di Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya di sekitar Lembah Napu di Kabupaten Poso dan di Lembah Lindu di Sigi.
-
Sering beraktivitas dan kontak langsung dengan air tawar dari sungai, kanal, atau danau seperti berenang, berendam, mandi, mencuci, dan lain-lain.
-
Menderita HIV/AIDS.
Gejala Schistosomiasis
Gejala schistosomiasis disebabkan oleh reaksi tubuh terhadap telur yang dihasilkan cacing, bukan oleh cacing itu sendiri. Dalam beberapa hari setelah terinfeksi, penderita mungkin mengalami ruam dan gatal pada kulit. Gejala demam, menggigil, batuk, dan nyeri otot dapat muncul dalam waktu 1–2 bulan setelah terinfeksi.
Ketika terdapat cacing dewasa, telur yang dihasilkan dapat berpindah ke usus, liver, atau kandung kemih, sehingga dapat menyebabkan peradangan atau pembentukan jaringan parut. Anak-anak yang terinfeksi secara berulang kali dapat mengalami anemia, malnutrisi, dan kesulitan belajar.
Setelah bertahun-tahun terinfeksi, parasit ini juga dapat merusak hati, usus, paru-paru, dan kandung kemih. Walaupun jarang terjadi, telur Schistosoma dapat ditemukan di otak atau sumsum tulang belakang sehingga dapat menyebabkan kejang, kelumpuhan, atau peradangan pada sumsum tulang belakang.
Sementara itu, gejala pada fase kronis cenderung beragam, tergantung pada bagian tubuh yang terdampak. Lebih jelasnya, berikut adalah beberapa gejala schistosomiasis berdasarkan bagian tubuh yang terinfeksi.
Sistem pencernaan:
-
Nyeri dan bengkak pada perut.
-
Diare atau konstipasi.
-
BAB berdarah.
-
Gangguan kesehatan pada usus dan liver pada infeksi jangka panjang (kronis).
Sistem urogenital:
-
Urogenital schistosomiasis (UGS) yang dapat menyebabkan kanker kandung kemih.
-
Infeksi kandung kemih (cystitis).
-
Nyeri saat buang air kecil.
-
Sering merasa ingin buang air besar.
-
Urine berdarah (hematuria).
-
Gejala pada wanita:
-
Munculnya lesi pada alat kelamin.
-
Perdarahan pada vagina.
-
Nyeri saat berhubungan seksual.
-
Munculnya bintil pada vulva.
-
Gejala pada pria:
-
Gangguan fungsi vesikula seminalis.
-
Gangguan pada kelenjar prostat.
Jantung dan paru-paru:
-
Batuk yang tidak kunjung hilang.
-
Masalah kesehatan jantung dan paru pada infeksi jangka panjang (kronis).
Sistem saraf dan otak:
-
Pusing.
-
Nyeri kepala.
-
Kelemahan atau mati rasa pada tungkai.
Diagnosis Schistosomiasis
Dalam menegakkan diagnosis schistosomiasis, dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait dengan gejala, riwayat kesehatan, serta riwayat perjalanan pasien. Pemeriksaan fisik juga dapat dilakukan untuk mengevaluasi kondisi pasien secara keseluruhan.
Setelah itu, dokter juga dapat mengarahkan pasien untuk menjalani beberapa pemeriksaan penunjang guna membantu mengonfirmasi diagnosis schistosomiasis. Beberapa pemeriksaan penunjang tersebut, di antaranya:
-
Tes urine dan pemeriksaan feses untuk memeriksa keberadaan telur parasit.
-
Tes darah untuk mendeteksi keberadaan antibodi atau antigen yang terkait dengan infeksi schistosomiasis.
-
Tes fungsi ginjal.
-
Tes fungsi hati.
Pengobatan Schistosomiasis
Penanganan schistosomiasis utamanya dilakukan dengan memberikan obat praziquantel dalam dosis tunggal atau jangka pendek. Obat ini dapat membantu mengatasi infeksi parasit yang menyebabkan schistosomiasis. Selain itu, dokter juga dapat memberikan obat steroid guna membantu meringankan gejala schistosomiasis akut atau gejala yang disebabkan oleh kerusakan pada sistem saraf dan otak.
Pencegahan Schistosomiasis
Pada dasarnya, belum ada vaksin yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya schistosomiasis. Namun, Anda dapat meminimalkan risiko terjadinya kondisi ini dengan menerapkan gaya hidup sehat serta berhati-hati selama bepergian ke daerah yang sering ditemukan kasus schistosomiasis.
Adapun beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya schistosomiasis adalah:
-
Menghindari mendayung, berenang, atau mandi pada sungai maupun danau, terutama di daerah endemik Schistosoma.
-
Menyaring dan merebus air hingga matang sebelum dikonsumsi.
-
Mandi dengan air bersih.
-
Menggunakan celana dan sepatu bot antiair jika Anda harus melewati aliran air tawar atau sungai.
-
Mengeringkan badan menggunakan handuk secara menyeluruh, kuat, dan bersih setelah terkena air tawar yang tercemar Schistosoma dalam waktu singkat dan secara tidak disengaja dapat membantu mencegah parasit Schistosoma menembus kulit.
Dapat disimpulkan bahwa schistosomiasis adalah kondisi yang perlu segera ditangani dengan tepat agar tidak berdampak pada kualitas hidup penderitanya. Jika Anda atau orang-orang terdekat ada yang mengalami gejala-gejala yang mengarah pada kondisi tersebut, segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam.
Siloam Hospitals juga menyediakan aplikasi MySiloam yang dapat memudahkan Anda untuk mengakses layanan kesehatan lebih cepat. Dengan MySiloam, Anda bisa membuat janji temu dengan dokter secara online atau bahkan konsultasi virtual bersama dokter pilihan.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
CRP / Penanda Infeksi Akut
Darah, Infeksi, Jantung
1 Service/Item
Rp185.400
TERPOPULER
Feme Faeces / Feses Lengkap
Feses, Pencernaan
1 Service/Item
Rp144.900
TERPOPULER
Paket Cek Fungsi Ginjal
Darah, Skrining Ginjal
3 Service/Item
Rp189.550
TERPOPULER
Paket Cek Fungsi Hati
Darah, Hati/ Liver, Hepatitis
4 Service/Item
Rp261.000







