Kesehatan Tubuh
Mengenal Stres Oksidatif dan Dampaknya bagi Kesehatan

Table of Contents
Stres oksidatif adalah ketidakseimbangan antara molekul radikal bebas dan antioksidan dalam tubuh yang dapat menyebabkan kerusakan sel. Terjadinya stres oksidatif bisa meningkatkan berbagai risiko penyakit, seperti kanker, penyakit jantung, Alzheimer, dan lain sebagainya. Kondisi ini dapat disebabkan oleh racun, seperti asap rokok dan polusi. Simak penjelasan selengkapnya mengenai stres oksidatif di bawah ini.
Apa itu Stres Oksidatif?
Stres oksidatif (oxidative stress) merupakan kondisi ketika terjadi ketidakseimbangan antara molekul radikal bebas dan molekul antioksidan. Pada kondisi stres oksidatif, terdapat molekul radikal bebas yang terlalu banyak di dalam tubuh, sedangkan tubuh tidak memiliki cukup antioksidan untuk melawannya.
Kadar radikal bebas yang berlebihan dalam tubuh bisa menyebabkan kerusakan pada bagian sel dan jaringan, seperti lipid (lemak) dan protein, yaitu bagian yang berperan untuk membuat sel dapat berfungsi secara normal.
Perbedaan Radikal Bebas dan Antioksidan
Radikal bebas dan antioksidan adalah dua molekul yang terlibat dalam terjadinya stres oksidatif. Pada dasarnya, radikal bebas dan antioksidan memiliki peran tertentu bagi cara kerja tubuh. Tubuh membutuhkan keduanya dalam kadar yang cukup agar bisa berfungsi dengan baik.
Efek dari stres oksidatif tidak selalu buruk. Dalam keadaan normal, tubuh memproduksi radikal bebas sebagai hasil dari proses metabolisme. Molekul ini turut mendukung kerja sistem kekebalan tubuh dan proses penting lainnya di tubuh dalam kadar tertentu.
Radikal bebas bisa meningkat ketika tubuh terlalu sering terpapar sinar matahari, stres, dan merokok. Peningkatan radikal bebas ini dapat mencetuskan berbagai penyakit, terlebih bila tidak disertai dengan kadar antioksidan yang cukup untuk melawannya atau menyeimbangkannya.
Antioksidan dapat melindungi tubuh dari radikal bebas dan secara tidak langsung mencegah terjadinya kerusakan sel. Dengan kata lain, peran antioksidan sangat penting dalam mengurangi risiko penyakit yang disebabkan oleh stres oksidatif, seperti penyakit jantung, kanker, dan lainnya.
Penyebab Stres Oksidatif
Segala hal yang dapat meningkatkan kadar radikal bebas dalam tubuh berpotensi menyebabkan stres oksidatif. Secara umum, beberapa faktor yang paling sering mengakibatkan stres oksidatif adalah sebagai berikut:
-
Polusi lingkungan.
-
Merokok atau penggunaan tembakau.
-
Minum alkohol secara berlebihan.
-
Sering terkena paparan sinar matahari.
-
Stres berlebihan.
-
Obat-obatan tertentu.
-
Paparan radiasi.
Gejala Stres Oksidatif
Pada awalnya, stres oksidatif mungkin tidak menimbulkan gejala apa pun. Keluhan atau gejala dialami setiap orang bisa berbeda-beda, tergantung dari bagian tubuh yang terdampak. Misalnya, stres oksidatif akibat paparan sinar matahari berlebihan dapat menyebabkan kerusakan kulit karena radiasi UV dari matahari mengubah deoxyribonucleic acid (DNA) di dalam sel-sel kulit.
Adapun sejumlah gejala lainnya adalah:
-
Garis-garis halus dan kerutan.
-
Sun spots.
-
Spider veins (vena laba-laba).
Pada kasus lain, stres oksidatif dapat menyebabkan gejala yang tidak terlihat. Namun, efeknya akan lebih terasa ketika sudah terjadi kerusakan yang lebih lanjut. Misalnya, stres oksidatif dalam jangka panjang dapat memicu penumpukan plak di pembuluh darah, sehingga dapat menyebabkan gejala dari penyakit kardiovaskular, seperti:
-
Sesak napas.
-
Nyeri dada.
-
Kelelahan.
-
Serangan jantung.
Cara Mengurangi Stres Oksidatif
Langkah utama dalam mengurangi stres oksidatif adalah mengonsumsi berbagai makanan kaya antioksidan. Karena tidak ada satu jenis antioksidan yang bisa dianggap paling hebat atau bisa menghilangkan semua radikal bebas, sebaiknya konsumsilah berbagai jenis makanan yang mengandung antioksidan.
Berikut adalah beberapa jenis antioksidan utama dan contoh makanan yang mengandungnya:
-
Vitamin C: Kiwi, stroberi, melon, paprika merah atau hijau, brokoli, serta buah sitrus, seperti jeruk dan jeruk bali.
-
Vitamin E: Biji bunga matahari, bayam, brokoli, serta kacang-kacangan, seperti almond, kacang tanah, dan hazelnut.
-
Selenium: Telur, nasi cokelat, roti gandum utuh, serta makanan laut, seperti tuna dan salmon.
-
Beta karoten: Wortel, melon, aprikot, mangga, ubi jalar, dan kale.
Dampak Stres Oksidatif bagi Kesehatan
Stres oksidatif dapat memengaruhi berbagai aspek kesehatan. Ketika tidak terjadi keseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan, efeknya cenderung berbahaya dan bertahan lama. Beberapa kondisi medis yang dikaitkan dengan dampak stres oksidatif, di antaranya:
-
Hipertensi (tekanan darah tinggi).
-
Penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).
-
Penyakit saraf, seperti penyakit Alzheimer, amyotrophic lateral sclerosis (ALS), multiple sclerosis, dan kehilangan memori.
-
Asma.
-
Penyakit ginjal.
Perlu dipahami bahwa informasi yang disebutkan hanya untuk tujuan edukasi dan tidak dapat menggantikan diagnosis maupun saran perawatan dari dokter. Penyebab dan gejala yang dijelaskan di atas pun tidak secara spesifik merepresentasikan stres oksidatif, sehingga bisa terjadi pada kondisi medis lainnya.
Apabila mengalami gejala-gejala tidak biasa yang berkaitan dengan kondisi di atas, penting untuk memperoleh diagnosis yang akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat. Bersama Siloam Hospitals, Anda juga dapat memperoleh penanganan lebih lanjut sesuai dengan kondisi tubuh.
Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.
Guna memenuhi kebutuhan antioksidan secara praktis, Untuk itu, Anda dapat memesan paket katering sehat Healthy Catering Homecare melalui layanan Siloam at Home. Paket ini sudah termasuk konsultasi gratis dengan ahli gizi, kunjungan perawat 1x, serta gratis pengantaran untuk jarak rumah maksimal 10 km.
Sumber
Cleveland Clinic. Oxidative Stress. Diakses pada 2024 | WebMD. What Is Oxidative Stress?. Diakses pada 2024 | National Cancer Institute. Oxidative Stress. Diakses pada 2024 | Medical News Today. How does oxidative stress affect the body?. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini







