Kehamilan Postterm: Penyebab, Gejala, dan Penanganannya
Ibu dan Anak

Kehamilan Postterm: Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

03 September 2025 4 menit waktu baca
Kehamilan postterm adalah

Postterm pregnancy, kehamilan serotinus, atau kehamilan postterm adalah kehamilan yang berlangsung hingga melewati usia kehamilan pada umumnya, yaitu lebih dari 42 minggu. Kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa menyebabkan masalah kesehatan pada ibu dan bayi. Mari simak ulasan berikut ini untuk mengetahui apa itu kehamilan postterm beserta gejala dan penanganannya.

 

Apa itu Kehamilan Postterm?

 

Umumnya, kehamilan akan berlangsung selama 39–41 minggu, namun pada kasus kehamilan postterm (postterm pregnancy), kehamilan akan berlangsung selama lebih dari 42 minggu. Adapun kehamilan yang berlangsung selama 41–42 minggu disebut sebagai late-term pregnancy. 

 

Jika usia kehamilan melebihi 42 minggu, dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan keadaan ibu dan janin, karena kondisi tersebut berisiko menimbulkan gangguan kesehatan tertentu pada keduanya.

 

Penyebab Kehamilan Postterm

 

Hingga saat ini, masih belum diketahui secara pasti apa penyebab terjadinya kehamilan postterm. Kesalahan dalam menentukan hari perkiraan lahir (HPL) merupakan penyebab paling umum dari kehamilan postterm. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kesalahan dalam menghitung tanggal hari pertama haid terakhir (HPHT). 

 

Beberapa faktor yang diduga ikut meningkatkan risiko ibu mengalami kehamilan postterm adalah sebagai berikut:

 

  • Kehamilan anak pertama.

  • Pernah mengalami kehamilan postterm sebelumnya.

  • Terdapat keluarga yang memiliki riwayat kondisi serupa.

  • Anak yang dikandung adalah anak laki-laki.

  • Kelainan plasenta.

  • Kelainan hormon dan genetik.

  • Kebiasaan merokok.

  • Obesitas.

 

Gejala Kehamilan Postterm

 

Pada dasarnya, tidak ada gejala khusus yang dirasakan oleh ibu saat mengalami kehamilan postterm. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan bisa menjadi tanda bahaya dari kehamilan postterm, salah satunya adalah perut yang terus membesar. Berikut selengkapnya.

 

  • Gerakan janin menjadi berkurang.

  • Perut terus membesar.

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi).

  • Masalah pada plasenta. Kondisi ini dapat memengaruhi pasokan nutrisi dan oksigen pada janin.

  • Air ketuban semakin berkurang.

  • Air ketuban bercampur dengan kotoran bayi (mekonium).

 

Komplikasi Kehamilan Postterm

 

Kehamilan postterm adalah kondisi yang perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan berbagai komplikasi, baik pada ibu maupun janin. Ada sejumlah komplikasi kehamilan postterm yang mungkin dapat dialami oleh ibu, seperti robekan cedera pada vagina dan infeksi. Berikut selengkapnya.

 

  • Persalinan lama.

  • Robekan cedera pada vagina.

  • Persalinan dengan forceps.

  • Persalinan secara caesar.

  • Infeksi.

  • Perdarahan pascapersalinan.

 

Sementara itu, beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada janin akibat kehamilan postterm adalah:

 

  • Bayi lahir dalam keadaan meninggal.

  • Makrosomia, yaitu kondisi ketika bayi lahir dengan berat badan melebihi 4 kilogram.

  • Aspirasi mekonium, kondisi ketika bayi menghirup mekonium, yaitu feses pertama bayi yang memiliki tekstur kental, lengket, dan berwarna hijau gelap yang biasanya sudah bercampur dengan cairan ketuban.

  • Cairan ketuban berkurang, sehingga dapat menyebabkan tali pusat terjepit dan membatasi aliran oksigen ke janin. 

  • Cedera pada kepala bayi saat dilahirkan karena ukuran bayi yang besar.

  • Masalah pada plasenta.

  • Kadar gula darah rendah pada bayi.

  • Kejang.

 

Diagnosis Kehamilan Postterm

 

Pada dasarnya, diagnosis kehamilan serotinus dapat ditegakkan secara langsung dengan melihat usia kehamilan pasien, apakah sudah melebihi 42 minggu dari hari pertama haid terakhir (HPHT). Dokter juga akan melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait dengan pergerakan janin yang dirasakan oleh ibu pada saat itu.

 

Lalu, pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan memeriksa leher rahim (serviks) untuk melihat apakah sudah ada tanda-tanda persalinan, seperti pembukaan jalan lahir. Di samping itu, beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dokter untuk memastikan diagnosis kehamilan postterm adalah:

 

  • Pemeriksaan ultrasonografi (USG), untuk melihat pertumbuhan janin, kondisi plasenta, dan mengukur jumlah cairan ketuban di dalam kandungan.

  • Cardiotocography (CTG), untuk mendeteksi aktivitas dan denyut jantung janin, serta kontraksi rahim ibu.

 

Penanganan Kehamilan Postterm

 

Apabila keadaan ibu dan janin masih baik, dokter akan terlebih dahulu melakukan observasi dan memantau kondisi pasien secara ketat hingga tahap tertentu sebelum memutuskan tindakan lebih lanjut. Lalu, beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menangani kehamilan postterm adalah:

 

  • Memecahkan air ketuban, untuk merangsang kontraksi rahim dan membuka serviks sehingga bisa memicu persalinan.

  • Induksi persalinan, dengan memberikan oksitosin melalui infus untuk merangsang kontraksi rahim. Cara ini biasanya dilakukan jika air ketuban sudah pecah.

 

Jika sudah berisiko menimbulkan komplikasi, dokter dapat melakukan tindakan seperti melahirkan bayi menggunakan alat forceps atau vacuum. Dokter juga dapat menyarankan pasien untuk menjalani operasi caesar apabila keadaan sudah sangat mengancam atau ketika alat forceps maupun vacuum tidak tersedia.

 

Pencegahan Kehamilan Postterm

 

Secara umum, tidak ada cara pasti yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kehamilan postterm. Namun, ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko terjadinya kehamilan postterm, salah satunya adalah mengingat tanggal HPHT dengan benar. Berikut selengkapnya.

 

  • Melakukan pemeriksaan antenatal secara rutin.

  • Menjaga pola hidup sehat selama masa kehamilan.

  • Mengingat tanggal HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) dengan benar.

  • Memantau pertambahan berat badan yang baik selama kehamilan.

  • Menjaga berat badan ideal sebelum hamil.

 

Dapat disimpulkan bahwa kehamilan postterm adalah kondisi yang perlu diwaspadai karena berisiko menimbulkan komplikasi yang bisa membahayakan ibu maupun janin. Jika Anda mengeluhkan gejala tidak biasa selama masa kehamilan, jangan ragu untuk menggunakan layanan Telekonsultasi agar dapat berkonsultasi dengan dokter secara virtual.

 

Selain itu, Anda juga dapat menggunakan aplikasi MySiloam yang menyediakan fitur lengkap untuk mengakses layanan kesehatan lebih cepat, seperti check in mandiri melalui fitur Self Check In serta antres secara online menggunakan fitur Online Queue. Mari percayakan kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!

 

telechat

Dokter Kami
dr-lenny-khosal-spog

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-tia-indriana-spog

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Tia Indriana, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-danny-wiguna-spog

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Danny Wiguna, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Yogyakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail