Bagaimana Pola BAB yang Normal? Begini Penjelasannya!
Kesehatan Tubuh

Bagaimana Pola BAB yang Normal? Begini Penjelasannya!

06 Agustus 2025 5 menit waktu baca
pola bab

 

Seberapa sering seseorang harus BAB (buang air besar)? Setiap orang memiliki pola atau rutinitas buang air besar yang berbeda-beda. Beberapa orang bisa BAB sehari sekali, sedangkan yang lainnya mungkin hanya dapat BAB tiga kali dalam satu minggu. Pola BAB ini dapat memberikan informasi terkait tubuh masing-masing orang. Mari simak lebih jauh tentang pola BAB dan faktor-faktor yang memengaruhinya pada pembahasan ini.

 

Pola BAB yang Normal

 

Secara umum, pola BAB yang normal tidak bisa ditentukan dengan pasti. Hal ini dikarenakan masing-masing orang memiliki frekuensi BAB yang berbeda. Setidaknya seseorang dapat BAB sekali dalam tiga hari atau paling sering tiga kali sehari. Terlepas dari sering tidaknya seseorang BAB, feses idealnya tidak keras dan mudah dikeluarkan dari tubuh.

 

Seperti yang disebutkan sebelumnya, pola BAB dapat menginformasikan kesehatan sistem pencernaan seseorang. BAB secara rutin tanpa rasa tidak nyaman dapat mengindikasikan kebiasaan BAB yang baik. 

 

Sementara itu, feses encer atau berair dapat mengindikasikan bahwa feses tersebut melalui usus besar dengan sangat cepat yang dapat disebabkan oleh iritasi usus karena adanya infeksi ataupun sumber peradangan lainnya. Feses yang encer selama lebih dari 14 hari dapat mengindikasikan kondisi diare kronis. 

 

Di sisi lain, feses yang berukuran kecil dan keras dapat mengindikasikan sembelit atau akibat dari pengosongan usus yang tidak sempurna. Kondisi ini biasanya ditemukan pada seseorang yang buang air besar kurang dari tiga kali seminggu.

 

Adapun jenis feses berdasarkan bentuknya dapat diklasifikasikan menggunakan skala tinja Bristol, yang dibagi menjadi tujuh tipe dan diurutkan berdasarkan tingkat kesulitan mengeluarkan feses. Tipe feses yang dianggap normal adalah tipe 3-4 pada skala tinja Bristol. 

 

Berikut ilustrasi dan penjabarannya:

 

tipe feses

 

  • Tipe 1: Berbentuk butiran keras terpisah, seperti kacang.

  • Tipe 2: Berbentuk seperti sosis dan bergelombang.

  • Tipe 3: Berbentuk seperti sosis dengan retakan pada permukaannya.

  • Tipe 4: Berbentuk seperti sosis atau ular, halus, dan lembut.

  • Tipe 5: Berbentuk gumpalan lunak dengan pinggiran atau tepi yang jelas.

  • Tipe 6: Berbentuk potongan yang lembek dengan pinggiran atau tepi yang tidak rata.

  • Tipe 7: Sepenuhnya cair, tanpa butiran atau potongan yang padat. 

 

Penyebab Perubahan Pola BAB

 

Seseorang dapat mengalami perubahan pola BAB dikarenakan sejumlah faktor, termasuk:

 

  • Gaya hidup: Kurang beraktivitas fisik atau berolahraga dapat menyulitkan feses untuk melalui usus besar atau kolon dengan lancar.

  • Diet: Asupan makanan dapat berdampak pada pola BAB. Maka dari itu, direkomendasikan agar mengonsumsi makanan berserat agar dapat buang air besar rutin dan mencegah sembelit.

  • Asupan cairan: Usus besar menyerap kelebihan air sehingga tubuh yang tidak mendapatkan cukup cairan dapat memproduksi feses yang keras dan membuatnya sulit dikeluarkan.

  • Usia: Sembelit lebih sering terjadi pada orang dewasa meskipun semua orang dapat mengalaminya. Bertambahnya usia biasanya diiringi dengan konsumsi obat-obatan untuk mengatasi kondisi medis tertentu yang dapat menyebabkan sembelit.

  • Hormon: Beberapa hormon, seperti estrogen dan progesteron, diketahui dapat memengaruhi pola BAB. Berdasarkan studi yang diterbitkan pada jurnal BMC Womens Health (2020) yang melibatkan sebanyak 78 wanita berusia 18–35 tahun, diketahui bahwa frekuensi diare dan sembelit sangat bervariasi dan dipengaruhi pada siklus menstruasi.

  • Riwayat medis: Kondisi medis tertentu dapat memengaruhi kesehatan usus dan mengubah pola BAB, termasuk:

  • Faktor sosial: Menahan BAB lebih lama dari seharusnya karena sedang berada di luar. Beberapa penyebab yang sering terjadi seperti ketidaktersediaan toilet umum maupun alasan pribadi, seperti kesulitan BAB di tempat umum atau ketika merasa ada orang lain di dekatnya. Seiring waktu, BAB yang tertahan pun dapat berubah mengeras dan menyebabkan ketidaknyamanan.

 

Seberapa Sering Seseorang Harus BAB?

 

Pola BAB masing-masing individu berbeda-beda. Namun, direkomendasikan untuk segera pergi ke kamar mandi apabila merasa ingin buang air besar maupun kecil. Apabila mengalami masalah BAB, buatlah jurnal untuk mencatat polanya atau gejala-gejala yang dirasakan agar dapat membantu diagnosis dokter. 

 

Pada survei lebih dari 1400 orang dewasa dalam penelitian yang diterbitkan pada jurnal Cell Reports Medicine (2024), frekuensi BAB dikategorikan sebagai:

 

  • Konstipasi (1–2 kali per minggu).

  • Normal rendah (3–6 kali per minggu).

  • Normal tinggi (1–3 kali per hari).

  • Diare (4 kali atau lebih per hari).

 

Sebagai informasi, artikel di jurnal International Journal of Molecular Sciences (2024) menyatakan bahwa frekuensi BAB yang lebih jarang berkaitan dengan jumlah mikroba tinggi di usus. Kelompok yang sering BAB mengalami penurunan tingkat branched-chain amino acid (BCAA), yaitu valin, leusin, dan isoleusin. Sebaliknya, kelompok yang jarang BAB memiliki tingkat asam amino yang tinggi.

 

Temuan tersebut sejalan dengan temuan sebelumnya yang menyatakan hubungan negatif antara kelimpahan Bacteroides dan tingkat p-cresol dan indol, serta hubungan positif dengan Ruminococcus

 

Perlu diketahui bahwa p-cresol dan indol dikenal sebagai racun uremik yang dapat menyebabkan penyakit ginjal kronis serta penyakit kardiovaskular. Maka dari itu, kedua racun uremik tersebut perlu dikeluarkan dari dalam tubuh sehingga frekuensi BAB yang sering lebih baik untuk kesehatan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

 

Kekhawatiran terkait pola BAB dapat dikonsultasikan dengan dokter terkait. Beberapa gejala berikut dapat menjadi indikasi seseorang harus memeriksakan diri ke dokter terkait pola BAB yang tidak normal:

 

  • Feses berwarna hitam.

  • Diare berdarah.

  • Sakit perut yang parah.

  • Perdarahan yang tidak berhenti dari anus.

  • Muntah darah atau zat yang bentuknya menyerupai bubuk kopi.

 

Pada tahap diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui riwayat medis dan gejala-gejala yang dialami penderita. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, terutama pemeriksaan pada bagian abdomen (perut). Penanganan medis akan direkomendasikan berdasarkan hasil diagnosis dokter. Jika mengalami masalah BAB yang diikuti dengan gejala sakit perut parah atau perdarahan, segera konsultasikan kondisi Anda dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterohepatologi di Siloam Hospitals terdekat.

 

Setiap pasien akan menjalani pemeriksaan dan mendapatkan rekomendasi penanganan sesuai dengan kondisi medisnya. Dokter pun juga akan menyesuaikan prosedur pemeriksaan dan perawatan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing lokasi.

 

Jika tes skrining diperlukan, Anda bisa memesan Skrining Sistem Pencernaan Lengkap melalui aplikasi MySiloam. Pada aplikasi ini, Anda juga bisa membuat janji temu dengan dokter hingga mengecek hasil tes kesehatan secara online. Mari unduh MySiloam sekarang untuk memanfaatkan berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Cleveland Clinic. How Often and How Long Should It Take You to Poop?. Diakses pada 2025 | MedicalNewsToday. How often should someone poop each day?. Diakses pada 2025 | Cleveland Clinic. Changes in Bowel Habits. Diakses pada 2025 | Alberta Health Services. How often should someone poop each day?. Diakses pada 2025 | MDPI. Deciphering the Impact of Defecation Frequency on Gut Microbiome Composition and Diversity. Diakses pada 2025 | PubMed Central. Stool frequency and form and gastrointestinal symptoms differ by day of the menstrual cycle in healthy adult women taking oral contraceptives: a prospective observational study. Diakses pada 2025 | Cell Reports Medicine. Aberrant bowel movement frequencies coincide with increased microbe-derived blood metabolites associated with reduced organ function. Diakses pada 2025 |

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail