Apa itu Pseudoseizure? Ini Penyebab, Gejala, & Pengobatannya
Kesehatan Mental

Apa itu Pseudoseizure? Ini Penyebab, Gejala, & Pengobatannya

21 Oktober 2025 3 menit waktu baca
mengenal pseudoseizure adalah

Kejang nonepilepsi psikogenik, psychogenic nonepileptic seizure, hysterical seizure, atau pseudoseizure adalah kondisi yang ditandai dengan terjadinya kejang akibat gangguan kejiwaan. Pada dasarnya, kondisi ini tidak terkait dengan penyakit epilepsi. Namun, pseudoseizure dapat menunjukkan gejala yang serupa dengan epilepsi sehingga sering kali keduanya sulit dibedakan.

 

Mari pahami lebih lanjut mengenai penyebab, gejala, diagnosis, hingga pengobatan pseudoseizure melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Pseudoseizure?

 

Pada dasarnya, kejang merupakan kondisi yang disebabkan oleh gangguan pada pola aktivitas listrik di otak dan terjadi secara tiba-tiba, sehingga menimbulkan gerakan tubuh yang tidak terkendali. Kondisi ini sering kali dialami oleh seseorang yang mengidap penyakit epilepsi.

 

Namun, berbeda dengan kejang pada umumnya, psychogenic nonepileptic seizure (kejang nonepilepsi psikogenik) atau pseudoseizure adalah kondisi yang tidak terkait dengan gangguan aktivitas listrik otak. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh depresi, gangguan cemas, atau penyakit skizofrenia.

 

Penyebab Pseudoseizure

 

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penyebab utama pseudoseizure adalah gangguan kesehatan mental yang tergolong berat. Adapun beberapa jenis gangguan mental yang dapat memicu terjadinya pseudoseizure adalah:

 

 

Selain itu, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya pseudoseizure adalah sebagai berikut.

 

  • Berjenis kelamin wanita.

  • Berusia 20–40 tahun.

  • Pernah mengalami kejadian traumatis, seperti kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga.

  • Pertengkaran dalam keluarga sehingga menimbulkan perasaan stres.

  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

  • Pernah mengalami cedera atau trauma pada kepala.

 

Gejala Pseudoseizure

 

Secara umum, pseudoseizure dapat menimbulkan gejala kejang yang serupa dengan serangan epilepsi. Berikut adalah sejumlah gejala umum dari pseudoseizure.

 

  • Penurunan kesadaran.

  • Gerakan otot yang berulang dan tidak terkendali.

  • Kehilangan fokus.

  • Terjatuh secara tiba-tiba.

  • Otot terasa tegang dan kaku.

  • Pandangan mata kosong.

  • Tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya

 

Di sisi lain, pseudoseizure juga dapat menunjukkan gejala khusus yang berbeda dengan kejang epilepsi, seperti:

 

  • Gerakan kepala ke samping.

  • Menutup mulut dan mata.

  • Memberikan respons terhadap suara keras atau rangsangan dari lingkungan sekitar.

  • Berteriak dan menunjukkan gerakan tubuh seperti meronta-ronta.

  • Tidak mengantuk setelah episode kejang selesai.

 

Kendati demikian, pada dasarnya, pseudoseizure adalah kondisi yang cenderung sulit dibedakan dengan kejang epilepsi. Karena itu, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter guna memperoleh diagnosis yang tepat mengenai kondisi yang menyebabkan kejang tersebut.

 

Diagnosis Pseudoseizure

 

Dalam sebagian kasus, dokter baru mencurigai terjadinya pseudoseizure pada saat pasien kejang tidak menunjukkan perbaikan kondisi meski telah diberikan obat antiepilepsi. Jika terjadi kondisi seperti ini, dokter dapat melakukan pemeriksaan electroencephalogram (EEG) untuk mengetahui apakah kejang pada pasien disebabkan oleh gangguan aktivitas listrik pada otak.

 

Selain itu, dokter spesialis neurologi juga dapat bekerja sama dengan dokter spesialis kejiwaan (psikiater) untuk mengonfirmasi diagnosis penyebab pseudoseizure. Psikiater dapat melakukan observasi dan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui riwayat gangguan mental yang dialami oleh pasien, riwayat konsumsi obat-obatan, dan riwayat kesehatan lainnya secara keseluruhan.

 

Pengobatan Pseudoseizure

 

Jika seseorang mengalami pseudoseizure, obat antiepilepsi cenderung tidak dapat meredakan gejala kejang tersebut. Utamanya, pseudoseizure dapat ditangani dengan terapi psikologis (psikoterapi) yang disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Namun, perlu diketahui bahwa pengobatan pseudoseizure ini bertujuan untuk mengendalikan gejala dan membantu meredakan stres.

 

Adapun sejumlah metode psikoterapi yang umum dilakukan untuk menangani pseudoseizure adalah:

 

  • Konseling pribadi dengan psikolog atau psikiater.

  • Terapi keluarga.

  • Terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT).

  • Terapi relaksasi, seperti terapi musik, meditasi, yoga, dan latihan pernapasan.

  • Eye movement desensitization and reprocessing (EMDR), yaitu metode psikoterapi yang dilakukan untuk meredakan stres dan mengatasi trauma.

 

Selain itu, psikiater juga dapat meresepkan obat-obatan tertentu sesuai dengan gangguan mental yang menyebabkan pseudoseizure, misalnya seperti antidepresan untuk menangani depresi sebagai penyebab terjadinya pseudoseizure.

 

Pseudoseizure adalah kondisi yang disebabkan oleh gangguan kejiwaan yang tergolong berat. Karena itu, segera lakukan konseling dengan psikolog atau psikiater lewat layanan Telekonsultasi untuk mendapatkan penanganan yang tepat terkait dengan gangguan kejiwaan.

 

Dengan layanan telekonsultasi, dokter juga dapat meresepkan obat-obatan sesuai kondisi pasien, dan pasien pun bisa memperoleh obat tersebut tanpa perlu keluar rumah. Kendati demikian, terdapat beberapa jenis obat, seperti antipsikotik dan antidepresan yang perlu diambil secara langsung oleh pasien atau self pick up.

 

Selain itu, manfaatkan juga aplikasi MySiloam yang memungkinkan pasien untuk memesan paket kesehatan, cek hasil pemeriksaan, check in mandiri, serta membuat janji temu dengan dokter sebelum mengunjungi Siloam Hospitals terdekat. Mari jaga selalu kesehatan fisik dan mental Anda #BersamaSiloam!

 

telechat

message

ArticleDetail