3 Perbedaan Halusinasi dan Delusi yang Perlu Dipahami
Kesehatan Mental

3 Perbedaan Halusinasi dan Delusi yang Perlu Dipahami

21 Oktober 2025 5 menit waktu baca
perbedaan halusinasi dan delusi

Halusinasi dan delusi adalah dua kondisi yang dipengaruhi oleh cara kerja otak dalam memproses atau merasakan suatu hal yang sebenarnya tidak nyata atau tidak terjadi. Dua kondisi tersebut biasanya dialami oleh seseorang yang mengidap gangguan jiwa. Meski begitu, terdapat perbedaan antara halusinasi dan delusi yang kerap tidak disadari oleh orang awam.

 

Oleh karenanya, mari kenali apa saja perbedaan halusinasi dan delusi melalui pembahasan berikut ini.

 

Mengenal Perbedaan Halusinasi dan Delusi

 

Sebagian individu sering kali keliru dan menganggap bahwa delusi dan halusinasi adalah dua kondisi yang serupa. Meskipun sama-sama dipengaruhi oleh cara kerja otak dalam memproses suatu hal yang sebenarnya tidak nyata, terdapat perbedaan halusinasi dan delusi yang jarang diketahui oleh masyarakat.

 

Pada dasarnya, waham atau delusi adalah kondisi yang membuat seseorang tidak bisa membedakan antara imajinasi dan kenyataan. Orang dengan delusi memiliki keyakinan yang kuat terhadap suatu hal yang tidak sesuai dengan kenyataan, dan keyakinannya tidak bisa diubah walau sudah disajikan dengan fakta-fakta. 

 

Di sisi lain, halusinasi adalah gangguan persepsi yang memengaruhi indra dan membuat seseorang mendengar, mencium, merasa, atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

 

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah sejumlah perbedaan delusi dan halusinasi yang penting untuk dipahami: 

 

1. Penyebab Halusinasi dan Delusi 

 

Perbedaan halusinasi dan delusi yang pertama dapat dilihat dari penyebab yang mendasarinya. Secara umum, belum diketahui pasti apa penyebab delusi. Namun, terdapat dugaan bahwa gangguan mental ini dapat dipicu oleh beberapa faktor, seperti:

 

  • Genetik: Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan delusi cenderung lebih berisiko mengalami kondisi tersebut.

  • Biologis: Para ahli menduga bahwa delusi bisa terjadi karena adanya gangguan pada bagian otak yang berfungsi untuk mengelola proses berpikir (lobus frontal) dan persepsi (lobus parietal).

  • Faktor psikologis dan lingkungan: Gangguan delusi juga bisa dipicu oleh stres berlebih, gangguan jiwa, penyalahgunaan NAPZA, perasaan terisolasi dan kesepian karena mengalami diskriminasi, serta konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.

 

Sementara itu, halusinasi adalah kondisi yang dapat dipicu oleh beberapa hal, di antaranya sebagai berikut.

 

  • Gangguan mental: Halusinasi biasanya dialami oleh seseorang yang menderita gangguan skizofrenia, paranoid, demensia, gangguan bipolar, borderline personality disorder, serta depresi dengan gejala psikosis.

  • Penyalahgunaan obat-obatan: Penyalahgunaan obat-obatan tertentu, seperti obat golongan halusinogen, juga merupakan salah satu penyebab umum halusinasi. Selain itu, kondisi ini juga bisa terjadi akibat mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.

  • Kondisi medis tertentu: Terdapat sejumlah kondisi medis yang bisa memicu terjadinya halusinasi, di antaranya adalah demam tinggi, migrain, epilepsi, penyakit Parkinsongagal ginjal, gagal hati, HIV/AIDS, hingga kanker stadium lanjut.

  • Kurang tidur: Halusinasi lebih berisiko dialami oleh seseorang yang kekurangan waktu tidur selama beberapa hari atau beberapa minggu.

 

2. Gejala Halusinasi dan Delusi 

 

Perbedaan halusinasi dan delusi juga bisa dilihat dari gejalanya. Umumnya, penderita delusi dapat mengalami gejala yang bervariasi tergantung pada jenis gangguan delusi yang dialami, seperti:

 

  • Grandiose: Jenis gangguan delusi yang membuat penderitanya memiliki harga diri yang tinggi dan menganggap bahwa mereka adalah orang berpengaruh, berbakat, dan sangat dibutuhkan oleh orang lain.

  • Erotomania: Jenis gangguan delusi yang menyebabkan seseorang memiliki keyakinan kuat bahwa ada seseorang sedang jatuh cinta padanya, meskipun kenyataannya tidak seperti itu. Jenis delusi ini sering kali disertai dengan perilaku obsesif, menguntit, hingga mengganggu privasi orang yang ada di dalam pikirannya.

  • Persecutory: Jenis gangguan delusi yang menyebabkan penderitanya memercayai bahwa dirinya sedang diperlakukan dengan tidak adil atau merasa ada orang lain yang ingin mencelakainya.

  • Jealous: Jenis gangguan delusi yang membuat seseorang memiliki keyakinan bahwa pasangannya bersikap tidak setia.

  • Somatic: Jenis gangguan delusi yang membuat seseorang memiliki keyakinan jika mereka sedang menderita penyakit tertentu atau memiliki cacat fisik.

  • Bizarre: Jenis gangguan delusi yang membuat seseorang meyakini hal-hal tidak masuk akal. Misalnya, penderita waham bizzare meyakini bahwa dirinya bisa menjadi tembus pandang atau merasa pikirannya dikendalikan oleh alien.

  • Mixed: Jenis gangguan delusi ketika penderitanya memiliki beberapa jenis gangguan delusi sekaligus, namun tidak ada yang lebih umum dari yang lain.

 

Sementara itu, seseorang yang mengalami halusinasi akan menunjukkan gejala berupa perubahan perilaku atau emosi sesuai dengan fungsi indra yang dipengaruhi. Lebih jelasnya, berikut adalah gejala umum dari halusinasi berdasarkan fungsi indra yang terdampak.

 

  • Halusinasi visual: Jenis gangguan halusinasi yang membuat seseorang melihat objek, benda, atau orang lain yang sebenarnya tidak ada.

  • Olfactory hallucination: Jenis gangguan halusinasi yang memengaruhi indra penciuman. Olfactory hallucination biasanya membuat seseorang mencium aroma atau bau-bauan yang tidak sedap pada diri sendiri, orang lain, atau objek tertentu yang sebenarnya tidak ada.

  • Auditory hallucination: Jenis gangguan halusinasi yang umum terjadi. Kondisi ini menyebabkan penderitanya mendengar bisikan atau langkah kaki yang sebenarnya tidak nyata.

  • Gustatory hallucination: Jenis gangguan halusinasi yang memengaruhi indra pengecap sehingga menyebabkan seseorang mengecap sesuatu di lidahnya yang sebenarnya tidak ada. Kondisi ini kerap dialami oleh penderita epilepsi.

  • Tactile hallucination: Jenis gangguan halusinasi yang menyebabkan seseorang merasakan adanya serangga atau tangan orang lain sedang menyentuh tubuh mereka, padahal sebenarnya tidak ada.

 

3. Penanganan Halusinasi dan Delusi 

 

Perbedaan halusinasi dan delusi selanjutnya terletak pada metode penanganannya. Secara umum, gangguan delusi dapat ditangani dengan berbagai terapi kejiwaan, seperti psikoterapi, terapi perilaku kognitif, terapi keluarga, dan lain sebagainya. Tujuan dari terapi kejiwaan ini adalah untuk mengurangi stres serta membantu penderita gangguan delusi agar dapat berinteraksi dan mendekatkan diri dengan keluarga atau orang terdekat.

 

Pengobatan gangguan delusi juga dapat dilakukan dengan memberikan obat antidepresan dan antipsikotik. Obat antipsikotik bekerja dengan menghambat hormon dopamin dan obat antidepresan digunakan untuk menekan penyerapan kembali hormon serotonin ke dalam otak.

 

Di sisi lain, metode penanganan gangguan halusinasi dilakukan sesuai dengan penyebab atau faktor pemicunya. Gangguan halusinasi dapat ditangani dengan pemberian obat-obatan, prosedur pembedahan, terapi perilaku kognitif,  serta konseling kejiwaan yang dapat membantu pasien agar lebih mengerti dan menerima kondisinya.

 

Itu dia sejumlah perbedaan halusinasi dan delusi yang penting untuk diketahui. Perlu diingat, baik gangguan halusinasi maupun delusi tetap memerlukan penanganan yang tepat agar tidak memengaruhi kualitas hidup penderitanya, serta tidak membahayakan diri penderita dan orang lain.

 

Jika memiliki keluhan terkait dengan gangguan mental, segera lakukan konseling dengan psikolog atau psikiater menggunakan fitur Telekonsultasi. Melalui fitur ini, dokter dapat memberikan saran perawatan yang tepat dan sesuai dengan kondisi tubuh pasien, bisa dari mana saja dan kapan saja.

 

Selain itu, fitur ini juga memungkinkan dokter untuk memberikan resep obat-obatan sesuai dengan kondisi pasien, dan pasien pun bisa memperoleh obat tersebut tanpa harus keluar rumah. Namun, terdapat beberapa jenis obat, seperti antipsikotik dan antidepresan yang perlu diambil langsung oleh pasien atau self pick up.

 

Lebih lanjut lagi, manfaatkan juga aplikasi MySiloam yang dapat memudahkan Anda untuk memesan paket kesehatan, check in mandiri, antre secara online, serta membuat janji temu dengan dokter Siloam Hospitals terdekat. Mari, jaga kesehatan fisik dan mental Anda #BersamaSiloam!

 

telechat

message

ArticleDetail