Kesehatan Tubuh
Apa itu Akathisia? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Akathisia adalah ketidakmampuan seseorang untuk tetap diam. Kondisi ini merupakan gangguan pergerakan yang berkaitan dengan efek samping penggunaan obat tertentu, terutama obat antipsikotik. Untuk mengenal apa itu akathisia selengkapnya, mari simak artikel berikut ini sampai tuntas.
Apa itu Akathisia?
Akathisia adalah gangguan sistem gerak yang membuat seseorang kesulitan untuk tetap diam karena merasa gelisah secara psikis. Kondisi ini dapat menimbulkan keinginan untuk terus bergerak secara tidak terkendali, terutama pada kedua kaki. Misalnya, seseorang akan terus ingin menggerakkan, mengayun, menyilangkan kakinya secara repetitif (berulang).
Akathisia kerap dikaitkan dengan efek samping obat antipsikotik yang biasanya dikonsumsi oleh orang dengan gangguan mental, seperti skizofrenia, gangguan bipolar, dan lain sebagainya. Berdasarkan durasi dan waktu kemunculannya, akathisia dapat dibedakan menjadi dua jenis, di antaranya sebagai berikut:
-
Acute akathisia: Jenis akathisia yang berkembang beberapa minggu setelah seseorang baru mengonsumsi obat-obatan tertentu, sesaat setelah dosis obat tersebut ditingkatkan, ataupun setelah mengurangi dosis obat yang digunakan untuk menangani gejala ekstrapiramidal (kondisi ketika tubuh bergerak secara tidak terkendali).
-
Tardive akathisia: Jenis akathisia yang menetap bahkan setelah penghentian obat antipsikotik dari pasien. Gejala pada akathisia jenis ini muncul secara terlambat dan gejala tersebut berpotensi untuk menetap selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, bahkan saat obat neuroleptik dihentikan atau dosisnya dikurangi.
Penyebab Akathisia
Secara umum, belum diketahui secara pasti apa penyebab seseorang mengalami akathisia. Namun, seperti yang telah dijelaskan, kondisi ini kerap berkaitan dengan konsumsi obat-obatan tertentu yang dapat menghalangi reseptor dopamin di dalam otak. Sebagai informasi, dopamin adalah neurotransmitter yang memiliki berbagai fungsi untuk tubuh, salah satunya mengontrol gerakan. Adapun beberapa jenis obat yang kerap berkaitan dengan akathisia adalah:
-
Obat antipsikotik (neuroleptik), seperti haloperidol dan chlorpromazine. Obat ini biasanya digunakan untuk menangani kondisi neuropsikiatri, seperti:
-
Gangguan perilaku akibat demensia.
-
Gangguan makan (eating disorders).
-
Antidepresan, termasuk selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), monoamine oxidase inhibitors (MAOI), dan antidepresan trisiklik. Obat ini umumnya digunakan untuk menangani:
-
Gangguan bipolar.
-
Nyeri kronis.
-
Post-traumatic stress disorder.
-
Premenstrual dysphoric disorder (PMDD).
-
Obat untuk mual dan muntah, seperti metoclopramide.
-
Obat tekanan darah tinggi, seperti reserpine dan methyldopa.
-
Calcium channel blockers, seperti diltiazem dan cinnarizine.
-
Obat penenang.
-
Obat vertigo.
-
Antibiotik azithromycin.
-
Buspirone (obat anticemas).
Di samping itu, sejumlah kondisi medis yang juga berhubungan dengan faktor risiko terjadinya akathisia adalah sebagai berikut:
Gejala Akathisia
Gejala utama akathisia adalah perasaan gelisah dan dorongan yang kuat untuk menggerakkan anggota tubuh. Kondisi ini biasanya membuat seseorang cenderung ingin menggerakkan kedua kaki. Beberapa gejala umum akathisia adalah sebagai berikut:
-
Menyilangkan dan meluruskan kaki berulang kali.
-
Mengayunkan kaki secara terus-menerus saat duduk.
-
Tidak berhenti menggerakkan tubuh meski sedang duduk.
-
Sering mondar-mandir dari satu tempat ke tempat lain.
Di samping itu, kondisi ini juga dapat membuat seseorang mengalami beberapa gejala berikut ini:
-
Stres.
-
Iritabilitas.
-
Tidak sabar.
-
Panik.
Diagnosis Akathisia
Secara umum, penegakan diagnosis akathisia dapat dilakukan melalui wawancara medis (anamnesis) dan pemeriksaan fisik. Tidak ada tes laboratorium atau tes pencitraan khusus untuk menegakkan diagnosis kondisi tersebut. Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai proses penegakan diagnosis akathisia.
-
Wawancara medis (anamnesis), untuk mengetahui keluhan, riwayat kesehatan, serta jenis obat-obatan yang sedang dikonsumsi pasien. Akathisia umumnya muncul dalam 2 minggu pertama saat mengonsumsi obat antipsikotik. Wawancara medis juga dapat membantu dokter untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi medis lain yang kerap menimbulkan gejala yang menyerupai akathisia, seperti:
-
Tardive dyskinesia.
-
Anxiety disorder atau insomnia.
-
ADHD, agitated depression, mania, atau psikosis.
-
Pemeriksaan fisik. Melalui prosedur ini, dokter akan mengarahkan pasien untuk tetap diam dalam posisi duduk maupun berdiri. Kemudian, dokter akan memantau pasien untuk melihat gejala akathisia. Guna membantu menegakkan diagnosis akathisia dan mengetahui tingkat keparahan gejala, dokter dapat menggunakan Barnes Akathisia-Rating Scale (BARS).
Pengobatan Akathisia
Dalam kebanyakan kasus, jika pasien mengalami akathisia akibat konsumsi obat-obatan tertentu, dokter akan menyesuaikan dosis atau mengganti obat tersebut dengan golongan obat yang lain. Di samping itu, dokter juga dapat meresepkan obat-obatan tertentu untuk membantu meredakan gejala akathisia. Beberapa obat tersebut, di antaranya:
-
Beta-blockers, seperti propranolol.
-
Benzodiazepine.
-
Antikolinergik.
-
Antidepresan tertentu, seperti trazodone atau mirtazapine dengan dosis rendah.
-
Obat untuk penyakit Parkinson, seperti amantadine.
-
Suplemen vitamin B6.
Prognosis akathisia cenderung baik jika kondisinya segera diketahui dan obat yang menjadi penyebabnya segera dihentikan. Namun, jika akathisia tidak diobati, kondisi ini dapat memiliki angka morbiditas tinggi dan bahkan dapat menyebabkan munculnya keinginan bunuh diri pada pasien.
Pencegahan Akathisia
Akathisia adalah kondisi yang cenderung sulit untuk dicegah, mengingat penyebabnya masih belum diketahui secara pasti. Namun, guna meminimalkan risiko terjadinya kondisi ini, sangat penting untuk mengonsumsi obat-obatan sesuai dengan anjuran dokter. Dalam hal ini, dokter mungkin akan memberikan obat antipsikotik dengan dosis rendah pada pasien yang membutuhkan, dan meningkatkan dosisnya secara bertahap jika memungkinkan.
Perlu dipahami bahwa penyebab dan gejala di atas tidak secara secara spesifik memastikan seseorang menderita akathisia. Sebab, penyebab dan gejala tersebut mungkin saja juga terjadi pada kondisi medis lainnya. Oleh karena itu, sangat penting untuk memperoleh diagnosis yang akurat terkait dengan akathisia dari Psikiatri di Siloam Hospitals terdekat.
Tahapan prosedur medis yang dijalani pasien terkait dengan akathisia bisa berbeda, bergantung pada ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan pemeriksaan dan pengobatan tersebut sesuai dengan kondisi pasien.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini







